
Aku terpaksa menoleh dan segera siaga melihat dia berdiri tidak jauh dari kami. Aku mendorong Amarilis untuk berdiri di belakangku. Matt ikut berdiri melindungi kakak iparnya. Papa melakukan hal yang sama terhadap Mama. Sial, pengawal kami tidak ada di sini.
“Aku hanya memberi pelajaran kepada Theo, kamu malah berani sekali mengambil seluruh kerja kerasku selama ini.” Clara mênödongkan sênjàtanya kepada Papa. “Berapa yang Meghan tawarkan kepadamu sehingga kamu menyarankan ayahku untuk membuang aku?”
Firasatku ternyata benar. Keadaan kami sangat rapuh tanpa kehadiran pengawal kami. Jarakku dengannya terlalu jauh sehingga aku tidak bisa mendekat untuk merebut sênjàta itu dari tangannya. Mengapa orang-orang di negara ini selalu menyelesaikan masalah dengan pertumpahan dàrah?
“Clara, sayang?” bujuk mamanya dengan lembut.
Namun wanita itu tidak memedulikannya. “Tidak cukup memamerkan menantu pilihan putramu itu di depanku, kamu menoreh harga diriku dengan menyebut aku tidak pantas menggantikan ayahku. Baik. Aku sudah kehilangan segalanya, maka aku tidak mau jatuh sendiri.”
Dia melirik aku. “Theo tidak berguna karena amnesia, aku mau tahu berapa lama dia bisa memimpin perusahaan yang kamu bangga-banggakan itu. Silakan lihat dari liang kubur, dan aku dengan senang hati menyaksikannya dari balik jeruji.” Dia menarik pêlàtuknya dan bersiap untuk menyerang.
Entah bagaimana dia melakukannya, tetapi Amarilis sudah ada di dekat Clara dan memegang kedua tangannya yang menggenggam sênjàta itu. Dia mengarahkannya ke langit-langit sehingga tidak ada seorang pun yang terkena pêlúru menyasar.
Jeritan ketakutan memenuhi ruangan itu mengiringi têmbàkan demi têmbàkan yang Clara lepaskan ke atas kami. Ketiga wanita itu menutup mata dan telinga mereka, tetapi kami para pria membeku melihat kedua wanita muda itu bergelut.
“Lepaskan aku! Tidak ada seorang pun yang bisa merebut hakku dariku!” Clara memberontak.
“Lakukan sesuatu!” seru Amarilis kepada Willis yang berdiri di samping putrinya.
Pria itu memegang pîstöl yang dipegang putrinya, lalu merebut darinya. Dia menguncinya kembali, lalu menampar pipi wanita itu. Bunyinya lebih keras dari têmbàkan yang dilepaskan oleh putrinya tadi, karena memakai peredam. Para wanita menarik napas terkejut.
“Aku sudah memperingatkan kamu mengenai sikapmu terhadap Theo. Aku pikir kamu berhenti berharap dengan bekerja sangat baik di sisiku. Ternyata kamu diam-diam merencanakan hal buruk terjadi kepada putra partner bisnis kita.” Willis mengepalkan tangan, menahan emosinya.
“Aku dari tadi memikirkan cara untuk menyelamatkan posisimu di keluarga kita, tetapi kamu lagi-lagi bertindak tanpa berpikir panjang. Kamu membuktikan kepada Azarya di depan matanya sendiri bahwa semua dugaannya mengenai kamu benar. Aku tidak percaya kamu sebodoh itu.”
__ADS_1
Clara membulatkan matanya. Dia menatap ayahnya dengan pandangan tidak percaya. Lalu tatapan itu berubah sesal. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam dan mulai terisak. Semoga akhirnya dia mengerti bahwa dia sudah melakukan kesalahan dan tidak melampiaskannya lagi kepada orang lain.
Aku segera mendekati Amarilis dan memeriksa tubuhnya. “Aku tidak apa-apa,” katanya.
“Kakak sudah gila!” omel Matt, mendahului aku. “Bagaimana kalau Kakak tadi salah perhitungan lalu kena têmbàk?? Kakak tega membiarkan Theo jadi duda secepat ini!?”
Setelah rasa terkejut semua orang hilang, kedua ibu menangis tersedu-sedu dan para ayah berusaha untuk menenangkan mereka. Kakak beradik itu saling berpelukan, sedangkan aku menarik Amarilis menjauh dari mereka. Lengah sedikit, bisa saja wanita jahat itu menyakiti istriku.
Sisa hari Minggu hanya kami jalani di apartemen. Papa dan Mama kembali ke penginapan mereka. Dia sepakat untuk tidak memperpanjang peristiwa itu dan memberi kesempatan terakhir kepada Clara. Karena tidak ada korban jiwa, kami menyetujui keputusannya itu dengan berat hati.
Karena mereka kelihatannya tidak suka dengan masakanku, maka aku mengalah. Aku meminta pengawalku untuk membeli makanan kesukaan istri dan adikku di restoran milik Antonio. Huh. Ingat dia, aku jadi teringat dengan emosi aneh yang aku rasakan ketika dia memegang tangan Amarilis.
Aku tahu dia bermaksud baik. Mana mungkin Amarilis berubah perasaan dengan jatuh cinta kepada pria renta itu. Namun aku memang tidak bisa mengendalikan diri setiap kali yang ada hubungannya dengan perempuan itu. Sudah pasti dia memelet aku. Mustahil ini alamiah.
Melihat mereka makan dengan lahap, aku memicingkan mata. Ketika menyantap masakan buatanku, mereka makan lama sekali menyamai jalannya keong. Padahal rasanya tidak seburuk itu. Aku hanya belum ahli memperkirakan kadar garam dan mericanya.
“Mengapa harus sekarang, sih?” protes Matt. “Gue hanya duduk sebentar, baru cuci piring. Bukan mau lari dari tugas.”
“Cewek lo menelepon.” Aku menatap layar ponselnya yang menunjukkan ada panggilan video. “Eits. Selesaikan dahulu tugas lo.” Aku menjauhkan benda itu dari jangkauannya.
“Sadis lo. Kalau gue diputusi, lo harus tanggung jawab.” Matt mencuci piring secepat mungkin.
“Makanya, kerjakan tugas lo dari tadi, baru duduk.” Aku melirik Amarilis yang hanya diam. “Kenapa dengan lidah lo, Amarilis? Tergigit?”
Dia mendelik tajam ke arahku. “Matt benar. Kami hanya duduk sebentar karena kekenyangan. Kamu tidak perlu bersikap menjengkelkan begitu.”
__ADS_1
“Berani juga lo melawan gue. Baru berhadapan dengan sênjàta api, lo merasa hebat? Jangan senang dahulu. Urusan kita belum selesai tentang itu,” balasku. Aku memasang headphone, jadi mereka tidak mengganggu aku lagi dengan bantahan mereka.
Meghan menelepon bertepatan dengan Amarilis selesai mencuci piring. Kedua orang itu pun masuk ke kamar masing-masing untuk bicara dengan orang yang mereka sayang. Tidak tertarik mendengar percakapan perempuan, aku menunggu di ruang depan sambil mencoba membaca laporan harian restoran yang masuk ke surel kerjaku.
Kepalaku mulai bisa menoleransi beratnya angka dan huruf yang aku baca. Aku memanfaatkan hal itu dengan terus memeriksa laporan itu. Mungkin masalahnya bukan pada kepalaku, tetapi media yang aku gunakan. Aku akan coba meminta mereka untuk mencetaknya dan membaca lewat kertas.
Aku mendesah keras melihat Amarilis sudah pulas di tempat tidur. Layar ponselnya padam, pertanda panggilan video mereka sudah berakhir. Aku melirik jam tangan. Ah, pantas saja. Ternyata sudah lewat tengah malam. Aku keasyikan membaca laporan.
Sebuah ide melintas di kepalaku, maka aku melakukannya. Perempuan ini melakukan hal gila yang sulit aku maafkan. Yang benar saja dia diam-diam mendekati Clara dan mengarahkan tangannya ke langit-langit. Walau dia berhasil mengatasi keadaan genting itu, aku tidak bisa mengampuni dia.
“Ng?” Dia menggumam pelan setelah aku selesai mengurusnya. Aku pikir dia akan bangun, ternyata dia lanjut tidur. Bagus. Kami tidak akan ribut sampai pagi tiba.
Hal pertama yang aku lakukan pada pagi hari adalah bicara dengan kedua pengawal Amarilis. Aku terkejut wanita itu belajar bela diri sejak aku pulang ke Indonesia. Pantas saja dia bisa seberani itu. Namun Daisy tidak tahu alasan dia memintanya mengajarinya hal itu, selain untuk perlindungan diri.
Apa yang terjadi kepadanya ketika aku tidak ada? Menurut Daisy, dia bisa menjaga dirinya sendiri. Lalu untuk apa dia belajar lagi? Apa ini ada hubungannya dengan gadis yang aku panggil Kat? Apa wanita itu juga sama gilanya seperti Hillary dan Clara?
Aku mau bertanya kepada mereka, tetapi aku mengurung niatku itu. Kalau Amarilis sampai tahu aku memikirkan wanita lain, dia bisa salah paham. Walau Daisy bekerja untukku, bisa saja dia keceplosan menyebut nama Kat di depan istriku.
“Theeooo!!!” Teriakannya itu menyambut aku saat membuka pintu. Matt yang baru keluar dari kamarnya sampai tersandung kakinya sendiri. “Apa kamu sudah gila!? Apa yang kamu lakukan!?”
“Wow, Theo.” Matt mengintip lewat bahuku. “Kalau gue jadi lo, gue akan mencari perlindungan. Pukulan Kak Amarilis sakit.” Aku mendelik ke arahnya. “Ah, oke. Gue enggak akan ikut campur.”
Aku memasuki kamar, lalu menutup pintu. Melihat dia berguling-guling mencoba untuk melepaskan dirinya sangat lucu. Dia berteriak minta dilepaskan sambil mengancam aku, tetapi aku membiarkan dia menjalani hukuman itu beberapa menit lagi.
Badanku gerah usai berolahraga, maka aku mandi sejenak. Jeritannya bagai musik yang menghibur di telingaku. Biar dia tahu rasanya. Itu akibatnya bila dia bertindak sok pahlawan, tetapi abai dengan keselamatannya sendiri. Aku melihat bayanganku untuk terakhir kalinya di cermin, lalu memegang kenop pintu. Saatnya untuk membebaskan istriku.
__ADS_1
Rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba menyerang kepalaku lagi. Sial. Apa ini? Bayangan samar yang sepertinya kenangan demi kenangan yang tersimpan di memori kepalaku bermain dengan cepat. Nyerinya semakin menjadi sehingga aku menyerah dan berlutut di lantai.
Aku melirik kotak obat yang ada di atas wastafel. Pasti ada obat pereda rasa nyeri di sana. Obat naturalku ada di kamar tidur dan aku tidak yakin cukup kuat untuk menyeret badanku ke sana. Aku mencoba untuk mengabaikan rasa sakit. Namun aku kalah dan gelap mengambil alih kesadaranku.