
~Amarilis~
Suasana hatiku benar-benar buruk karena perempuan sok cantik itu. Ternyata dia mendekati Theo karena orang tua mereka rekan bisnis. Menjengkelkan sekali. Hanya dengan jentik jari, dia bisa jadi asisten manajer di restoran milik Husada. Asisten manajer!
Theo seharusnya memecat wanita tidak tahu diri itu karena dia tidak mengikuti seleksi. Enak saja dia menggunakan kekuasaan ayahnya untuk mendapatkan apa yang dia mau. Namun aku bisa apa? Aku harus akui hal itu lumrah dilakukan para orang tua berduit demi anak mereka.
Perempuan sok cantik itu terlupakan dengan pengalaman Natal dan Tahun Baru bersama Theo yang tidak terlupakan. Dia mengajak aku menikmati suasana Natal di tengah kota yang dihiasi dengan nuansa khas hari besar tersebut. Yang paling aku sukai adalah saat kami mendengar kidung yang dinyanyikan oleh paduan suara yang sangat harmonis.
Kami juga melewatkan malam pergantian tahun bersama orang banyak di luar apartemen. Aku sudah biasa melihat pertunjukan kembang api. Namun rasanya berbeda saat bersama Theo. Aku berharap segalanya akan baik-baik saja pada tahun yang baru.
“Sayang, bangun,” bisik Theo pada pagi itu. “Ayo, bangun. Kita harus pergi.”
“Aku tidak mau olahraga hari ini. Skip. Aku masih mengantuk.”
“Gue enggak mengajak lo lari. Ayo, bangun. Kita perlu merebut tempat yang strategis.” Dia menarik tanganku agar aku duduk. “Mandi sekarang atau gue yang mandikan.”
Dia tidak pernah memberi ancaman kosong, jadi mataku refleks terbuka lebar mendengar kalimat itu. Tanpa menunggu lebih lama, aku duduk, turun dari tempat tidur, dan memasuki kamar mandi. Aku ingin mengomel, tetapi sarapan yang lezat sudah menanti di atas meja.
Setelah sarapan, dia mengajak aku keluar apartemen. Aku tidak tahu dia membawa aku ke mana, tetapi kami menggunakan transportasi publik, lalu berjalan kaki cukup jauh sampai aku melihat kerumunan orang-orang di depan kami. Ternyata para pejalan kaki yang bersama kami juga menuju arah yang sama.
Theo menunjukkan tiket kepada petugas yang berjaga, barulah kami lanjut berjalan. Ternyata jalan raya itu ditutup entah untuk apa. Ada banyak polisi dan petugas yang berjaga. Trotoar dan jalan raya dipisah dengan besi penghalang sehingga kami tidak bisa menyeberang.
“Di sini saja.” Dia menunjuk ke besi penghalang yang belum dikerumuni orang. Kami berdiri paling depan tanpa ada orang yang menghalang.
“Apa yang kita lakukan di sini?” tanyaku bingung.
“Nanti juga lo tahu.” Dia menurunkan topiku agar menutupi dahi dan memasang penutup telinga. Hal yang sama juga dia lakukan pada topinya. Aneh. Apa dia takut ada yang mengenali kami?
Orang-orang mulai memadati tempat di mana kami berada. Sepertinya ini tempat yang strategis, karena masih ada tempat lain yang masih kosong, mereka memilih untuk berdesakan. Sampai ada anak yang digendong di bahu ayahnya berdiri di barisan paling belakang.
__ADS_1
Musik mulai dimainkan, kerumunan itu bersorak sambil bertepuk tangan. Tidak lama kemudian, terdengar suara seorang pria yang memperkenalkan dirinya sebagai pemandu acara. Ketika dia menyebut nama acara itu, aku menoleh ke arah Theo. Parade apa ini?
Di kejauhan ada mobil besar datang dengan panggung di atasnya. Lebih dari belasan orang berdiri di atasnya memakai kostum dengan warna cerah. Wow. Apakah ini festival? Aku mengeluarkan ponsel dan mencari informasi acara tersebut. Ah, parade ini sudah dilakukan sejak tahun seribu sembilan ratus satu. Luar biasa.
Acara itu dimulai dengan orang-orang berkostum di atas panggung tersebut yang menari mengikuti irama marching band. Indah sekali. Aku beruntung berdiri paling depan walau tidak tepat di hadapan pertunjukan itu. Usai penampilan mereka, band lain juga unjuk kebolehan.
Yang membedakan satu penampilan dari penampilan lainnya adalah seragam kostum mereka. Setiap kali selesai tampil, mereka akan berkeliling melewati jalan yang sudah ditutup khusus untuk parade ini. Benar-benar Tahun Baru yang meriah.
“Terima kasih sudah membawa aku ke acara ini, Theo,” ucapku senang. Kami memutuskan untuk kembali setelah dua jam berada di sana. Acara masih akan berlangsung sampai pukul enam sore.
“Sama-sama. Tahun depan kita mungkin tidak bisa menghadirinya. Kamu pasti sibuk dengan tesismu.” Dia merangkul bahuku saat kami berjalan.
“Benar juga.” Aku melihat sebuah truk penjual makanan. “Ayo, kita makan itu.”
Memahami sulitnya mengerjakan sebuah penelitian, aku memberinya semangat setiap hari. Ketika aku sedang pusing dengan materi buku yang kian sulit itu, aku memeriksa keadaannya di kamar. Aku tahu aku harus berhati-hati agar tidak mengganggu konsentrasinya atau memancing hàsratnya.
Namun sebaik apa pun aku bersikap, dia tetap saja menggoda aku. Duduk di pangkuannya adalah hal yang paling menakutkan untukku. Posisi itu tidak akan membuat aku hamil, ‘kan? Aku tahu selama kami berpakaian lengkap dan tidak terjadi, ng, itu, maka aku akan baik-baik saja.
Aku masih liburan, tetapi Theo sudah kembali beraktivitas. Dia pergi ke kampus untuk konsultasi dengan profesornya, maka aku bisa belajar sejenak. Pusing membaca kalimat akademik yang rumit itu, aku mengambil camilan di dapur.
Ponselku bergetar, maka aku memeriksanya. Panggilan video dari Matt. Dia segera berteriak menyapa aku begitu aku menjawabnya. Lama-lama telingaku bisa tuli disapa seheboh itu. Dia mengucapkan selamat Tahun Baru kepadaku.
Kami berbincang sejenak mengenai penelitian yang sedang dia kerjakan. Karena bidang kami sama, aku tidak mengalami kesulitan menolong dia dalam menelaah masalah yang dia angkat. Kami begitu serius sampai aku tidak mendengar kepulangan Theo. Tiba-tiba saja dia mencium pipiku.
“Sudah gue duga. Pasti adik gue lagi yang menyita perhatian lo,” keluhnya. Aku tertawa kecil.
“Theo, lo minggir dahulu. Kami sedang diskusi serius,” protes Matt.
“Siapa lo mengatur gue ke sana atau kemari?” balas Theo. Dia merangkul bahuku, lalu menghujani wajahku dengan ciuman. “Dia sudah bukan guru lo lagi. Sana, cari bahannya di perpustakaan. Gue mau bermesraan dengannya.”
__ADS_1
“Theo, lo bisa pacaran nanti. Oi, gue butuh guru gue!” seru Matt, tetapi suaranya mendadak hilang, karena Theo memutuskan hubungan video. Aku hanya tertawa melihat pertengkaran mereka.
Dia memberi aku satu kecupan terakhir di pelipis sebelum menjauhkan dirinya. Aku mengikuti dia dengan mataku saat berjalan untuk memeriksa kabinet atas. Dia menawarkan keripik, aku menolak. Aku baru saja menghabiskan satu bungkus tadi.
“Bagaimana? Dosenmu masih meminta revisi atau kamu bisa lanjut ke bab terakhir?” tanyaku ingin tahu. Sikapnya aneh sekali.
Dia mendesah pelan. Aku pun tahu dia membawa kabar buruk. “Masih ada waktu untuk mengejar wisuda tahun ini. Kamu harus semangat.”
“Hm.” Dia memasukkan sepotong keripik ke mulutnya.
Aku memeluk pinggangnya dan meletakkan kepalaku di lengannya. “Semuanya akan baik-baik saja, sayang. Jangan sedih begitu.”
Dia tertawa kecil. “Lo mudah banget, ya, dikerjai,” ejeknya.
Mendengar itu, aku mencubit tangannya sampai dia mengaduh kesakitan. “Enggak lucu.”
Dia tersenyum tipis. “Gue sudah bisa lanjut ke bab terakhir. Jadi, siap-siap, sayang. Kita akan segera menikah.” Dia mendekatkan wajahnya, menggoda aku.
“Tidak.” Aku menatapnya dengan serius. “Jangan lupa. Kita menikah setelah aku tamat. Aku tidak mau konsentrasiku saat mengerjakan tesis terbagi.”
“Orang tua gue bisa saja memanggil gue pulang. Kita tidak akan bisa menikah kalau tidak di sini.” Dia mencoba untuk membujuk aku.
Dia tidak serius. Aku tahu itu. Kami sudah sepakat akan memikirkan jalannya setelah aku tamat nanti. Pendidikan adalah segalanya bagi kami berdua. Jadi, aku diam, tidak mau terpancing untuk berdebat dengannya. Dia pun tertawa dan berhenti menggoda aku.
“Jangan dekat dengan laki-laki mana pun. Apa lo mengerti?” ucapnya, mendadak serius.
“Iya. Aku akan jaga kepercayaanmu. Hal yang sama juga berlaku untukmu. Jangan dekat dengan perempuan lain, walau dia karyawan di restoranmu.”
Tidak sampai satu bulan kemudian, Theo pun maju sidang tesis. Dia begitu gugup sejak malam hari. Aku tidak diizinkan menghadiri acara itu atau menemani dia di kampus. Aku mengalah agar dia bisa konsentrasi mempertanggungjawabkan penelitiannya di hadapan penguji.
__ADS_1
Aku menunggu dengan cemas di apartemen sampai tidak bisa membaca satu kalimat pun pada buku kuliahku. Aku tidak bisa fokus memikirkan dia masih berjuang di kampus. Seandainya ini di Indonesia, aku tidak khawatir. Karena kami tidak akan terbentur dengan keterbatasan bahasa. Kuliah di luar negeri lebih menantang karena salah memilih kata, bisa berbeda artinya.
Mendengar pintu apartemen dibuka, aku berdiri dan menunggu. Dia datang dengan wajah tanpa emosinya. Jantungku semakin berdebar tidak menentu, jadi aku segera mendekatinya. “Bagaimana?”