Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
156|Sang Prövokàtor


__ADS_3

Merasakan sentuhan pada punggungku, aku membuka mata. Ternyata ruangan itu sudah terang. Aku mendengar suara Amarilis menanyakan keadaanku. Begitu dia menyebut tentang obat, aku menggelengkan kepalaku yang nyeri itu. Aku tidak mau kalah dengan rasa sakit ini.


Namun melihat dia sudah bangun, sebuah ide terlintas di kepalaku. Mengapa tidak? Patut untuk dicoba. Aku berusaha untuk mengabaikan rasa sakit itu dan mendekati dia. Walau aku mau cepat mendapatkan keinginanku, aku bersabar terhadapnya.


Rasa sakit itu pun pergi bersama bayangan yang membuat kepalaku pusing. Aku tidak membutuhkan obat. Sudah ada pereda rasa sakit yang natural, tanpa bahan kimia yang aku benci itu. Satu tahun, dia tidak boleh beranjak dari sisiku selama satu tahun ke depan.


“Theo, kamu baik-baik saja?” tanyanya. Aku mengangguk. “Bagaimana dengan kepalamu?”


Tangannya menyentuh kepalaku, maka aku memegangnya dan mencium telapak tangannya itu. “Sudah lo obati.” Aku melihat wajahnya bersemu merah karena pujian itu.


Merasakan bagian penting tubuhku memberi reaksi, aku menahan diri. Aku tidak bisa melakukan ini terus kepadanya. Dia bisa saja kabur karena tidak tahan lagi. Aku juga tidak mau dia berpikir aku menderita hîpêrsèksúal, karena aku pria normal.


“Theo, kita tidak bisa terus melakukan ini.” Dia menarik tangannya dariku.


“Kenapa?” Aku mengerutkan kening mendengarnya. Aku pikir dia menyukai aktivitas ranjang kami.


“Kita belum siap untuk punya anak.”


“Kita atau lo yang belum siap?”


“Kamu sedang pemulihan, bagaimana bisa kamu berharap ada anak di antara kita sekarang? Belum lagi orang tuamu tidak akan setuju dengan pernikahan kita.”


“Biar gue yang urus mengenai anak dan orang tua gue. Gue sudah bilang, gua enggak akan menikahi lo kalau gue tidak siap menanggung semua peran gue sebagai suami.” Aku mengecup keningnya. “Tidur. Besok kita harus menghadapi hal yang melelahkan.”


Dugaanku benar. Papa dan Mama datang menjemput kami untuk menghadiri undangan makan siang di rumah Willis. Wanita itu masih berusaha untuk menghalangi aku membawa Amarilis. Namun suaminya meminta dia untuk tidak berkomentar.


Penthouse itu berada di sebuah gedung apartemen mewah di kota ini. Apa masalah perempuan itu? Dia bisa mendapatkan pria lajang mana pun, mengapa mengusik aku yang sudah punya calon istri? Aku tidak tahu bagaimana interaksi kami selama kuliah, tetapi aku yakin aku tidak pernah memberi dia harapan sedikit pun.


Menyadari tidak ada seorang pengawal pun yang ikut bersama kami sampai ke lantai teratas, aku merasa tidak tenang. Sejak kejadian pênèmbakan yang dilakukan oleh Hillary, aku tidak pernah pergi ke mana pun tanpa perlindungan mereka.


Seorang pria yang tampan dan wanita yang sangat cantik menyambut kami dengan ramah. Seorang wanita muda berambut cokelat cerah menyusul di belakang mereka. Dia melambaikan tangannya ke arah Amarilis. Aku lupa siapa namanya. Barulah wanita muda lainnya berambut pirang datang. Tidak seperti ketiga orang itu, dia terlihat tegang.


Dia pasti sudah tahu tujuan kedatangan kami ke rumah mereka. Kami duduk santai di ruang depan itu dengan jendela besar di depan kami. Suasana kota menjelang malam hari terlihat sangat indah. Aku sampai harus menarik tangan Amarilis yang terpukau dengan pemandangan itu.

__ADS_1


Tampaknya, aku bersikap berlebihan. Hanya ada empat orang sebagai tuan rumah di tempat ini. Beberapa pelayan yang datang juga tidak terlihat berbahaya. Semuanya bersikap ramah dan sopan. Mungkin aku berpikir berlebihan, karena masih trauma dengan insiden itu.


“Aku tidak enak kamu dan Ruth harus bermalam di hotel, Azarya. Tinggallah di sini atau rumah kami. Ada banyak kamar yang bisa aku siapkan untuk kalian selama berada di sini,” ucap Willis.


“Tidak, Willis. Terima kasih. Aku tidak mau merepotkan siapa pun. Kami hanya sebentar di sini. Kamu tahu aku tidak bisa meninggalkan perusahaanku terlalu lama di tangan orang lain,” kata Papa.


“Aku lega melihat Theo, Matt, dan teman mereka baik-baik saja. Kejadian itu diberitakan sampai hari ini. Aku tidak percaya Hillary tega melakukan itu.”


“Kebetulan kamu menyinggungnya,” Papa meletakkan cangkir kopi yang diminumnya kembali ke tatakannya, “aku mau mendengar penjelasan putrimu, Clara.”


“Clara? Ada apa dengan dia?” Willis melihat ke arah perempuan itu.


“Dia dan Hillary berteman baik. Wanita itu sudah mengakui perbuatannya, aku mau mendengar cerita dari versi putrimu,” tukas Papa.


“Aku tahu Clara berteman dengan Hillary, tetapi dia tidak mungkin ada kaitannya dengan kejadian itu, Azarya.” Willis menggelengkan kepalanya.


“Apa itu benar, Clara? Kamu tidak ada sangkut pautnya dengan pênèmbakan terhadap putraku?” tanya Papa kepada wanita itu.


Dia hanya diam, menundukkan kepalanya. Papa menunggu dengan sabar, sedangkan Willis dan istrinya mulai terlihat tidak tenang. Theo memang beruntung punya penampilan fisik yang menarik, sekaligus sial karena menjadi korban pembalasan wanita yang ditolaknya.


“A-aku,” ucap wanita itu gugup. “Aku tidak menduga semuanya akan berakibat sejauh ini. Aku hanya mau memberi Theo pelajaran karena sudah menolak cintaku.”


“Clara!!” seru Willis emosi.


“Aku tidak pernah mengajari kamu menjadi wanita serendah itu,” timpal mamanya.


“Ma-maafkan aku.” Clara menundukkan kepalanya kepada kami. “Aku hanya ingin Theo merasakan sakit karena penolakannya. Apalagi dia lebih memilih wanita yang jauh di bawahku untuk menjadi kekasihnya. Kalau aku tahu semuanya akan jadi begini ….”


“Willis.” Papa melihat ke arah temannya itu.


“Tidak, Azarya. Aku tahu nada bicaramu itu, tetapi jawabannya tidak. Putriku bisa kamu hukum sesuai hukum yang berlaku, hanya jangan akhiri kerja sama kita. Aku akan merasa bersalah jika kamu harus mencari partner baru. Beri aku kesempatan lain,” mohon Willis.


Papa terdiam. Dia tidak serius mengakhiri kerja sama bisnis mereka. Terlalu mahal harga yang harus dibayar untuk mencari rekan baru. Lagi pula, Willis benar. Yang melakukan kesalahan adalah Clara, bukan dia atau karyawannya yang mengusik bisnis mereka.

__ADS_1


“Baik. Dengan satu syarat. Aku tidak mau putri pertamamu itu yang menjadi penggantimu. Aku tidak mau putraku harus berinteraksi dengan orang yang sudah jahat kepadanya ketika dia menjadi dirut perusahaan kami. Kalau syarat ini berat bagimu, kita akhiri kerja sama kita sekarang.”


Luar biasa percaya dirinya pria ini. Pantas saja dia bisa memimpin perusahaan keluarga kami dengan baik selama puluhan tahun. Willis tidak akan kuasa menolak. Namun aku tidak tahu apa dia cukup percaya pada kemampuan putri keduanya untuk menjadi pengganti posisinya kelak.


“Aku berjanji tidak akan menyakiti Theo lagi, Om. Tetapi aku mohon, jangan ambil hakku dariku. Aku sudah mempersiapkan diri untuk menggantikan ayahku. Hukum saja aku, berapa lama pun akan aku jalani. Perusahaan itu adalah hakku,” kata Clara memohon.


“Dengan reputasimu, hanya menunggu waktu sampai pemegang saham menolak kamu, Clara. Aku hanya membantu agar kalian tidak perlu susah payah memberi penjelasan kepada mereka. Apa kamu pikir masih ada orang yang percaya pada kemampuanmu jika hatimu sepicik itu?


“Putraku bukan orang asing bagi keluargamu, tetapi ahli waris dari kolega bisnis ayahmu. Apa kamu tidak pernah memikirkan itu sebelum bertindak? Lalu orang yang berpikir pendek seperti kamu mau meneruskan bisnis besar papamu? Usaha itu bisa bangkrut di tanganmu,” kata Papa, masuk akal.


Wanita itu akhirnya diam. Aku melirik Amarilis yang duduk di sisiku. Keningnya berkerut sangat dalam. Apa yang sedang dia pikirkan sampai seserius itu? Aku memegang tangannya yang ada di pangkuannya, barulah dia berhenti berpikir dan menoleh ke arahku.


Kami makan malam dalam diam, sampai akhirnya Papa berusaha untuk mencairkan suasana. Para orang dewasa bicara dengan santai, tetapi anak-anak tetap diam. Melihat makanan Amarilis hampir habis, aku mendekatkan selada dan ayam panggang ke sisi piringnya.


Pasangan Willis beberapa kali menoleh ke arahku dan Amarilis, tetapi mereka tidak mengatakan apa pun. Tingkat kesopanan orang di negara ini memang patut diacungi jempol. Mereka tidak iseng mau tahu urusan pribadi orang lain. Padahal aku tahu, mereka penasaran siapa Amarilis.


Usai mengobrol sejenak menikmati pai apel sehabis makan, Papa pun pamit. Mereka berjanji akan bertemu lagi hanya antara orang tua. Syukurlah, kami tidak perlu mengikuti mereka. Kepalaku sakit harus mendengar percakapan yang serius mengenai bisnis mereka.


“Aku tidak bisa membiarkan kamu melakukan ini kepadaku, Om,” kata Clara ketika kami berjalan menuju elevator untuk keluar dari penthouse mereka.


“Clara?” pekik adiknya, menarik perhatian kami. “Apa yang kamu lakukan?”


___


~Author's Note~


Para pembaca yang baik hati, terima kasih masih setia mengikuti cerita Amarilis dan Altheo. 🙏🏻❤ Aku tahu kadang-kadang keasyikan membaca buat kita lupa menyentuh si jempol yang ada di akhir setiap bab. Mohon dukung novel ini lewat jempolnya, ya. Aku kasi visual Theo, deh, sebagai sögôkan. 🤭😉


 



Salam sayang,

__ADS_1


Meina H.


__ADS_2