
~Amarilis~
Theo kembali bekerja, maka aku juga bisa fokus mempersiapkan diri. Belum ada respons dari setiap lamaran yang aku kirim. Apa tidak ada yang tertarik untuk menerima aku menjadi karyawannya? Padahal akademikku bagus, pengalaman kerja juga ada. Aku bersama orang tuaku merintis usaha dari nol. Walau itu usaha keluargaku sendiri, tantangannya sama saja.
Mendengar bunyi kendaraan datang, aku berdiri dan keluar dari ruang duduk. Kepala pelayan membuka pintu, lalu Kak Jericho masuk ditemani oleh asistennya. Aku segera mengajaknya untuk bergabung denganku di ruang duduk. Asistennya itu dibawa pelayan ke ruangan lain.
“Tidak bisa, Kak,” ucapku untuk kesekian kalinya.
“Kamu bekerja butuh uang atau apa? Kamu akan segera melahirkan. Apa kamu pikir ada perusahaan yang senang menerima wanita hamil? Belum satu tahun bekerja, kamu sudah ajukan cuti melahirkan yang tetap dapat gaji. Itu merugikan mereka. Menjadi asistenku adalah solusi terbaik,” bujuknya.
“Plus,” dia mengacungkan telunjuknya ketika aku membuka mulut, berniat membalas, “kamu akan bertemu dengan Rahma setidaknya seminggu tiga kali.”
“Rahma? Dia masih berusaha untuk mendekati Kakak?” tanyaku tidak percaya.
“Kamu bisa lihat sendiri bagaimana tingkahnya saat kami bertemu. Dia hanya satu dari banyak wanita yang tidak berhenti terpesona denganku.” Dia menyeka poni panjangnya dengan sombong. “Bagaimana? Bukannya kamu mau melakukan sesuatu dengan ketiga orang itu?”
Ini sudah ketiga kalinya Kakak meminta aku untuk menjadi asistennya. Posisi itu lebih baik daripada bekerja di kantor dengan jamnya yang tidak fleksibel. Aku juga bisa mencari tahu cara terbaik untuk membuat wanita itu merasakan sakitnya penderitaanku. Namun aku tidak suka mempermainkan perasaan orang lain. Apalagi kakakku sendiri.
Tidak, tidak. Aku tidak perlu mempermainkan perasaan orang lain. Cukup biarkan saja dia berpikir dia bisa mendapatkan Kakak. Tidak mungkin pria seperti Kak Jericho mau jatuh cinta kepada orang yang sudah menyakiti adiknya sendiri. Masalahnya, bagaimana membuat dia sakit hati yang parah tanpa menjalin hubungan dengan kakakku?
“Bagaimana dengan asisten Kakak itu? Apa dia berniat mengundurkan diri?” tanyaku bingung.
“Dia adalah asisten yang mengurus semua kebutuhan pribadiku. Kamu tidak. Aku butuh asisten yang bisa mengatur jadwalku bersama agensi. Jadi, kamu tidak harus ikut ke mana aku pergi. Yang penting, semua jadwal harianku diatur dengan baik. Aku mau pelan-pelan mandiri tanpa agensi lagi.”
“Mengapa begitu? Bukankah lebih menguntungkan ada agen yang membantu kita menghubungkan dengan banyak klien baru? Kalau Kakak berusaha mandiri, maka Kakak akan kehilangan pekerjaan.”
“Agensi sudah terlalu padat sehingga mereka sering terlambat memberitahukan tawaran untukku. Kalau begitu terus, klien baru akan berpikir aku sombong, pilih-pilih pekerjaan. Padahal bukan aku yang tidak cepat respons. Puncaknya, baru-baru ini ada perusahaan yang mengundang untuk audisi, tetapi aku terlambat datang.” Kakak mendesah pelan.
“Kapan saja jam kerjaku?”
“Senin sampai Jumat mulai dari pukul delapan sampai enam sore. Kamu hanya perlu mengurus nomor bisnisku, lalu mengurus dan memberi tahu aku jadwal harian, mingguan, dan bulananku. Kamu tidak boleh mengambil pekerjaan apa pun tanpa bertanya kepadaku dahulu.
“Jam istirahatmu adalah pukul dua belas sampai satu siang, dan pukul empat sampai empat tiga puluh. Jangan terima telepon atau balas pesan pada jam istirahatmu. Kalau kamu nekat, aku tidak mau membayar uang lemburmu.
__ADS_1
“Jangan khawatir, aku membayar kamu harian, tetapi lembur akan dihitung setiap jamnya. Jika kamu bersamaku, uang makan, transportasi, dan akomodasi lainnya, aku yang tanggung. Bila kamu bekerja dari rumah, maka itu tanggung jawabmu. Jadi, kamu bisa bekerja dari mana pun.”
Begitu dia menyebut jumlah gaji dan uang lembur per jam, aku mengangakan mulutku. Apa dia tidak salah menyebut nominalnya? Memangnya berapa gaji seorang model? Aku mulai menghitung di kepalaku. Ada utang besar yang harus aku bayar kepada Theo. Kalau aku bekerja beberapa tahun saja dengan Kakak, aku bisa mencicil biaya perawatan gigiku selama di Amerika.
“Oke. Aku mau jadi asisten Kakak!” Aku mengulurkan tanganku.
Dia tersenyum, lalu menerimanya. “Kuasa hukumku akan menghubungi kamu untuk urusan kontrak. Pada hari tanda tangan baru aku serahkan nomor bisnisku dengan semua gadgetnya.” Kami berjabat tangan sesaat. “Nah, aku lapar. Apa ada makanan?”
Kami membicarakan detail kerja dan jenis produk bahkan perusahaan tertentu yang Kakak inginkan untuk bisa menjadi model atau duta produk populer mereka. Aku mencatat semuanya dalam buku. Ambisinya besar juga. Aku kagum dia tidak main-main dengan pekerjaannya ini.
Aku pikir dia cukup dengan belajar berpose dan berekspresi yang benar pada kamera. Ternyata dia juga perlu tahu memilih klien yang benar untuk menjaga popularitasnya. Aku senang dia tidak mau terlibat dengan produk yang berbahaya untuk kesehatan, yang tidak mau dia pakai, atau perusahaan yang tidak diketahui laporan pajaknya.
Setelah dia pergi, aku pun bersiap-siap. Sonata mengajak aku makan malam dengannya. Kebetulan Theo juga ada janji makan dengan rekan bisnis papanya. Jadi, ini kesempatan yang bagus. Baru saja akan berangkat, ponsel di tasku bergetar.
“Hai, sayang!” sapaku, melihat namanya yang menghiasi layar.
“Lo enggak bilang mau keluar rumah malam ini,” ucapnya tanpa membalas sapaanku.
“Sonata mengajak aku bertemu. Kamu akan pulang terlambat, jadi aku terima ajakannya.” Aku memasuki mobil dan memberi tahu sopir tempat tujuanku.
“Kamu ini ada apa? Aku hanya makan dengan temanku, bukan laki-laki lain.”
“Lo sedang hamil muda. Kembali ke rumah, makan yang sudah disediakan oleh koki, dan tidurlah lebih cepat. Gue memberi tahu gue akan pulang malam supaya lo enggak menunggu gue.”
“Theo, aku sedang hamil, bukan sakit parah.” Aku mulai merasa kesal.
“Kalau lo nekat keluar rumah, gue akan ikat lo di kamar sampai lewat trimester pertama.”
Dia mengakhiri hubungan telepon sebelum aku sempat mengatakan apa pun. Aku menatap ponsel itu tidak percaya. Berani sekali dia main perintah, apalagi menutup komunikasi begitu saja denganku. Huh. Apa dia pikir setelah menjadi suamiku, dia bisa mengatur aku sesukanya? Tidak sudi.
Melihat aku hampir tiba di tujuan, aku menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Aku mau bertemu dengan sahabatku setelah sekian lama dengan wajah bahagia. Urusanku dengan Theo bisa aku lanjutkan nanti.
Kafe itu sudah ramai dengan orang-orang yang berniat makan malam juga. Namun Sonata sudah memesan tempat untuk kami. Aku tinggal menyebut namanya, maka pelayan mengantar aku ke meja kami. Dia datang beberapa menit kemudian.
__ADS_1
Kami berpelukan melepas rindu, lalu memesan makanan sebelum mulai bicara. Aku senang melihat dia bahagia dengan pekerjaannya. Walau masih karyawan biasa dan ada banyak kendala dengan tim, dia menikmati tugasnya karena gajinya lumayan.
Dia sudah tahu segalanya tentang aku selama kuliah di Amerika, tetapi dia tetap bertanya mengenai banyak hal yang sudah pernah aku ceritakan. Aku dengan senang hati bicara tentang kampus, dosen, juga sahabatku, Meghan, kepadanya.
“Lalu bagaimana kalian bisa nekat menikah di sana? Apa kamu tidak takut sedikit pun dengan orang tua Theo? Apa ibu mertuamu baik kepadamu di rumah?” tanyanya bertubi-tubi.
Aku tertawa kecil. “Kami tinggal sendiri. Kamu ingat Antonio, ‘kan?”
“Pria tua yang kalian temukan di hutan. Aku ingat.” Dia menganggukkan kepalanya.
“Nah, dia memberikan sebuah rumah sebagai hadiah pernikahan.” Aku tersipu.
“Wow, Amarilis. Itu hebat sekali. Kamu dan Theo pantas mendapatkannya. Pak Antonio pasti sangat berterima kasih karena kalian sudah menyelamatkan dirinya.” Dia tersenyum senang. “Kalau kita tulus berbuat baik, kadang-kadang dapat balasan yang setimpal, ya.”
“Sebaliknya, jika kita berbuat jahat, ada juga balasan yang setimpal.” Aku teringat dengan semua hal jahat yang sudah aku lakukan di masa lalu. “Oh, iya. Sebelum aku lupa.” Aku menaikkan tas belanja yang aku bawa ke atas meja. “Ini untukmu.”
“Untukku?” Dia menerima dan memeriksa isi di dalamnya. “Wow, Amarilis! Ini banyak sekali!”
“Ada oleh-oleh dari Meghan dan Antonio juga untukmu.”
“Terima kasih banyak! Teman-teman kantorku pasti iri melihat aku memakai semua ini nanti!”
Kami makan dengan riang sambil mendengarkan dia bercerita mengenai rekan kerjanya yang lucu, jahil, juga yang iri kepadanya. Aku jadi tidak sabar untuk segera bekerja dan berinteraksi dengan banyak orang. Pasti menyenangkan bisa bertemu dengan orang yang berbeda-beda sifatnya.
Theo belum pulang saat aku tiba di rumah, jadi aku segera membersihkan diri dan mengenakan baju tidurku. Aman. Dia belum kembali, maka aku bisa tidur lebih dahulu. Lagi pula, aku baru berbaring, kantuk sudah mengambil alih kesadaranku.
“Apa yang lo lakukan semalam sampai selelah ini?” Aku mendengar suara Theo di dekatku. “Gue pamit kerja, ya.” Aku merasakan kecupannya di keningku.
“Ng?” Dia sudah mau berangkat kerja? Jam berapa ini?
Aku membuka mata dan melihat kamar kami sudah terang-benderang. Aku menoleh ke arah datangnya cahaya. Tirai jendela sudah dibuka, mempersilakan sinar matahari masuk. Aku ingin menggeliat, tetapi posisiku sangat aneh. Aku melihat ke arah tubuhku, lalu menarik napas terkejut.
__ADS_1
[Minum kopi, ahh, supaya kuat menghadapi perang dingin pasangan ini. Hahaha .... 😆🤭]