Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
38|Bukan Jodoh


__ADS_3

Dia langsung datang dengan sepeda motornya. Tanpa banyak tanya, dia memahami apa yang aku katakan dan membawa aku ke kantor agensinya. Walau aku bingung dengan pilihannya, aku pasrah ketika dua orang mendekatkan aku ke meja rias.


Kurang dari satu jam, aku sudah cantik dengan tataan rambut yang sederhana, mekap minimalis, lengkap dengan baju terusan yang cocok untuk tubuh berisiku, sepatu berhak pendek, dan tas yang serasi dengan warna pakaianku.


“Aku sudah bilang, kamu butuh beberapa baju. Kamu tidak percaya, sih.” Kak Jericho menyapukan pandangannya ke seluruh tubuhku. “Tampilan ini cocok untukmu. Memangnya ada acara apa?”


“Akan aku jelaskan di jalan. Kita harus pergi sekarang.” Aku melirik jam tanganku dengan resah.


“Beres!” Dia meraih tanganku dan menarik aku keluar dari ruangan itu.


Dalam waktu setengah jam, kami tiba di tempat tujuan. Aku segera mengusirnya pergi, tidak mau membuat dia terlambat dengan urusannya sendiri. Wanita yang menelepon aku segera mendekat dan mengajak aku untuk bersiap-siap.


Acara itu ternyata dihadiri oleh wali kota dan gubernur juga, tetapi aku tidak gugup tampil di depan mereka semua. Apalagi setiap lagu yang aku bawakan bersama rekan band yang mereka undang sudah aku kuasai dengan baik. Peresmian gedung itu berjalan dengan baik dan peranku pun selesai.


Mereka tidak membutuhkan aku dalam acara hiburan. Hal yang sangat aku syukuri, karena Theo akan marah kalau aku tidak memenuhi permintaannya. Walau aku bingung bagaimana cara tiba tepat waktu di tempat tinggalku sebelum dia datang.


Aku berterima kasih setelah perempuan itu menunjukkan bukti transfer bayaranku, lalu pamit. Mereka sangat murah hati memberi aku uang sebanyak itu. Aku mengangkat kepala melihat ke arah pintu keluar, tetapi aku malah berhadapan dengan wajah merah orang yang tidak aku duga.


Aku tidak percaya dengan jodoh, tetapi aku mulai meragukan keyakinanku itu. Tempat di mana aku tidak seharusnya bertemu dengannya, malah berjumpa. Apa semua perusahaan dan orang kaya yang ada di kota ini mengenal mereka?


Pertama, dia menghadiri acara ulang tahun pernikahan orang tua Wiryawan. Sekarang, dia datang ke acara peresmian gedung baru milik salah satu pengusaha sukses di negeri ini. Hanya saat mengamen, aku tidak bertemu dengannya.


“Siapa yang bayar semua yang menempel di badan lo itu?” tanyanya kesal.


Oh. Ini yang membuat dia marah. Aku pikir dia tersinggung melihat pacarnya mencari uang dengan tampil di tempat ini. Aduh, dia menjengkelkan kalau sedang mengamuk. Lebih baik aku diam saja dan tidak menyebut nama Kakak. Biar dia tebak sendiri.


“Aku harus pergi. Urusanku sudah selesai di sini.” Aku berjalan melewatinya, tetapi dia menangkap tanganku. “Aku sudah ada janji dengan pacar rahasiaku.”


“Tidak lucu.” Dia mengertakkan gigi. “Siapa yang membayar semua ini?”


“Aku serius. Pacarku menyeramkan saat marah, jadi kamu sebaiknya lepaskan tanganku,” kataku lagi, melihat tangannya yang memegang tanganku.


“Richo.” Dia membaca merek di belakang leherku. Gila. Dia bisa tahu dari satu petunjuk itu saja? “Gue bisa memberi baju yang lebih baik dari ini.”

__ADS_1


“Aku—” ujarku, mencoba untuk menjelaskan, tetapi dia meletakkan telunjuknya di depan bibirku.


“Jangan buat gue tambah marah. Gue kecewa sama lo.” Dia menjauhkan jarinya, lalu menggandeng tanganku mendekati meja saji. “Kita makan, baru pergi.”


Mengapa aku merasa hubungan kami lebih dari pacar? Orang tua dan saudaraku tidak pernah begini. Dia justru bersikap lebih dari cara mereka menyayangi aku. Seharusnya dia marah kalau aku tidak pakai baju, bukan saat mengenakan pakaian dari orang lain.


Untuk menolong aku mengatasi kesal, aku menyantap makanan itu tanpa melihat ke arahnya. Ini tidak boleh, itu tidak boleh. Lama-lama, aku bernapas pun tidak boleh. Mengapa tidak suruh aku meninggalkan dunia ini saja sekalian? Biar dia puas.


Selesai makan, dia mengajak aku keluar dari tempat itu. Kami menuju sebuah butik yang desain pakaiannya lumayan bagus, dan yang menarik, mereka menyediakan ukuran untuk perempuan bertubuh besar seperti aku.


“Tidak. Ganti yang lain,” katanya, menolak baju kelima yang sangat bagus di badanku.


“Apa maksudmu?” protesku, tidak setuju dengan pendapatnya itu. “Baju ini bagus. Warnanya sesuai dengan kulitku dan modelnya cocok dengan lekuk tubuhku.”


“Siapa yang bayar? Gue. Jadi, gue yang menentukan baju mana yang cocok untuk lo,” katanya dengan serius. Dia melihat ke arah pelayan di sisiku. “Tunjukkan koleksi kalian yang lain.”


“Aku sudah mencoba lima pakaian, Theo. Semuanya bagus dan cocok. Mereka memilih yang pas untuk bentuk tubuhku. Koleksi mereka yang lain hasilnya akan sama saja kalau kelima ini kamu tolak,” kataku, mencoba untuk menjelaskan.


Dia diam dan kembali sibuk dengan ponselnya. Aku menggeram kesal, tetapi menuruti ajakan pelayan itu untuk mencoba pakaian lain yang mereka miliki. Dugaanku benar. Koleksi demi koleksi mereka keluarkan dan pasang di badanku, tetapi tidak ada yang dia terima.


Dua karyawan butik itu tertawa kecil melihat aku cemberut atas semua pilihan pakaian Theo. Aku tidak bisa bayangkan apa reaksi orang nanti saat aku mengenakannya di depan umum. Mungkin mereka juga akan tertawa seperti kedua perempuan ini.


“Tolong, berikan dua sepatu dan tas yang cocok dengan semua baju tadi,” katanya kepada pelayan setelah puas memilih pakaian untukku.


“Baik, Mas. Mari, Mbak, lewat sini,” ajak wanita itu dengan sopan.


Theo membayar semua barang yang dia pilih, lalu membawa kantong itu sendiri ke mobilnya. Dia pasti sengaja mengemudikan mobil, bukan mengendarai sepeda motornya, karena berjjanji akan membawa aku membeli pakaian. Dengan begitu, tas belanja bisa ditaruh di jok belakang.


“Kamu pasti sengaja memilih semua baju itu supaya aku terlihat seperti badut,” kataku kesal.


“Gue lapar. Kita makan, baru pulang.” Dia melihat-lihat ke arah restoran di sebelah kiri jalan.


“Aku tidak lapar. Antar aku, baru kamu makan,” tolakku.

__ADS_1


“Kita makan di sini saja. Ikan filet mereka sangat enak dan cocok untuk meredakan emosi lo.” Dia membelokkan mobilnya memasuki areal parkir sebuah gedung.


Menjengkelkan sekali. Aku tidak butuh makan untuk meredakan emosiku, tetapi pulang dan mandi. Hanya air dingin yang bisa membantu kepalaku tidak panas lagi melihat mukanya yang arogan itu. Aku tidak bisa bayangkan respons Tante dan Matt besok melihat baju baruku.


“Ayo,” katanya sambil mengulurkan tangannya. Dia membukakan pintu di sisiku, karena aku tidak mau keluar. “Atau lo lebih suka gue menggendong lo?”


Aku mengangakan mulut sambil menatapnya tidak percaya. “Kamu tidak akan kuat.” Dia melihat aku sesaat, lalu menundukkan badan dan meletakkan satu tangannya di punggungku. “Oke, oke. Aku akan keluar sekarang.”


“Begitu, dong, dari tadi.” Dia berdiri tegak, memberikan ruang bagiku untuk keluar dari mobil.


Oh, Tuhan. Mengapa ada orang yang menjengkelkan begini? Apa dia tidak tahu aku harus mencuci pakaian yang dia berikan agar bisa aku kenakan pada konser esok? Untuk apa aku makan kalau aku sedang marah begini? Ikan, ikan apa yang bisa meredakan emosi kalau sumbernya ada di dekatku?


Restoran yang dia pilih tidak main-main. Makanan di sini pasti mahal. Melihat pakaian yang aku kenakan, untung saja penampilanku pantas untuk berada di tempat ini. Seandainya aku mengenakan salah satu baju pilihannya, pelayan tentu tidak mengizinkan aku masuk.


Dia membawa aku ke sebuah meja kosong di sudut ruang makan. Baguslah. Kami tidak memasuki satu ruangan privat yang tersedia. Aku sedang malas melihat mukanya saja di dekatku. Agar aku tidak perlu bertemu pandang dengannya, aku duduk di kursi di dekat dinding. Dengan begitu, aku berhadapan dengan tasnya.


“Kami pesan paket filet ikan dua, jus lemon satu, kopi hitam satu, dan dua gelas air putih. Untuk menu tambahannya,” dia membalik halaman buku di depannya, “brokoli panggang, potato wedges, dan buah potong.”


“Baik, Mas,” ucap pelayan, mencatat pesanannya. “Bagaimana dengan Mbak—”


“Tidak. Itu pesanan untuk kami berdua,” potong Theo, tidak mengizinkan aku memesan makanan yang aku mau.


“Baik. Mohon tunggu sebentar. Makanan akan kami antar paling lama lima belas menit.” Wanita itu mengambil buku menu dari kami berdua.


“Aku bisa pesan makananku sendiri,” protesku begitu perempuan itu sudah jauh dari kami.


“Gue tahu,” balasnya dengan santai. Dia mengambil tasnya yang ada di kursi di sampingnya, lalu berpindah duduk agar kami bisa berhadapan. “Begini lebih baik.”


“Kembali ke tempat dudukmu semula,” kataku dengan kesal.


Dia memang tampannya minta ampun, tetapi aku tidak tertarik melihatnya. Gadis lain mungkin suka menatapnya lama-lama. Aku tidak. Sejak kami pertama mengenal di SMU juga tidak. Apalagi setelah mengenal sifatnya yang hanya membuat aku kesal.


“Lo mau datang bulan, ya? Sudah beberapa hari ini lo senewen.” Dia menatap aku dengan saksama. Dia masih bertanya? Dialah sumber masalahku, bukan hormonku.

__ADS_1


Aku tidak menjawab, hanya berpindah lagi ke kursi yang dekat gang dan meletakkan tas sandangku ke kursi yang semula aku duduki. Dia melakukan hal yang sama sehingga kami saling berhadapan lagi. Emosiku sampai naik ke ubun-ubun melihat dia hanya bersikap acuh tak acuh, sengaja memancing amarahku. Berniat pindah ke sudut lagi, dia pasti akan meniru. Menjengkelkan sekali.


“Hai, Theo!” Terdengar sapaan berasal dari belakangku. Oh, tidak. Aku mengenal pemilik suara itu. Mengapa dia ada di sini? “Siapa gadis yang datang bersamamu ini? Lo, kamu??”


__ADS_2