
“Sebagai sesama pria dewasa, aku memahami kebutuhanmu. Silakan bersenang-senang dengannya sampai kamu bosan. Kamu juga bisa jadikan dia simpanan, terserah. Tetapi, Altheo, kamu tidak bisa menikah dengannya.” Papa bicara dengan tegas.
Jadi, selama ini Papa tahu aku tinggal bersama Amarilis. Dia bersikap biasa saja dan tidak memberi tanda bahwa dia memperhatikan gerak-gerikku. Apakah Mama juga tahu? Ah, tidak. Papa pasti merahasiakan ini dari Mama. Karena kalau dia tahu, aku sudah dipanggil pulang detik itu juga untuk menikah dengan Venny.
Bodohnya aku, sudah menganggap remeh orang tuaku. Amarilis benar. Mereka punya pengalaman berpuluh tahun lebih banyak dariku. Jika mereka mengatakan aku dan Amarilis tidak akan pernah menikah, maka hal itu tidak akan pernah terjadi. Bagaimana ini?
Jika Papa tahu tentang aku dan Amarilis, maka ada orang yang dia bayar untuk mengawasi kami. Rencanaku menikah diam-diam dengannya bisa gagal. Orang suruhannya itu pasti langsung tahu tujuan kami ketika aku membawa wanitaku untuk menikah nanti.
Aku pikirkan nanti saja. Kepalaku sakit menerima begitu banyak informasi baru dalam waktu yang bersamaan. Kalau perlu, pada hari pernikahan kami nanti, aku bisa menyuruh para pengawalku untuk menghajar atau menutup mulut orang kirimannya itu.
“Amarilis adalah wanita yang gue hormati, Pa. Dia bukan pelampiasan nàfsú gue, juga tidak akan pernah jadi simpanan gue. Dia satu-satunya wanita yang gue inginkan menjadi pendamping hidup gue. Tolong, jangan hina dia serendah itu,” kataku dengan serius.
“Aku tidak menghina dia, tetapi bicara fakta. Untuk apa kalian tinggal bersama kalau benar kamu menghormati dia?” tantang Papa.
“Kami sama-sama orang asing di negeri ini, Pa. Terserah Papa mau berpikir apa tentang gue, tetapi jangan hina Amarilis,” tukasku. “Papa akan segera sampai di kantor, gue pamit.”
Aku membiarkan dia yang mengakhiri hubungan telepon kami. Papa sedang marah, karena itu dia merendahkan Amarilis. Padahal dia cukup menghina aku saja. Dia tahu bukan wanitaku yang punya rencana untuk tinggal bersama selama kami berada di negara ini.
Impiannya untuk membuka cabang restoran di luar negeri sudah terkabul. Kerja sama apa lagi yang Papa butuhkan dari keluarga calon istriku kelak? Memangnya keuntungan apa yang ditawarkan keluarga Venny yang membuat pemegang saham setuju dengan istri pilihan orang tuaku?
Membayangkan setelah menikah aku harus menyediakan penerus keluarga kami, kepalaku langsung terasa sakit. Aku tidak sudi dekat dengan wanita lain, apalagi tidur dengan mereka. Aku bukan orang tuaku yang tidak menaksir lawan jenis sebelum menikah. Aku sudah jatuh cinta kepada Amarilis saat mereka belum menemukan pengganti Katelia.
Sayangnya, wanita itu sedang mengurung diri di kamar dan menganggap hubungan kami sudah putus. Merepotkan sekali. Aku bukan tipe orang yang suka membujuk orang lain yang sedang sedih. Namun bersikap terus terang kepadanya hanya akan memperkeruh suasana.
“Kat.” Aku mengetuk pintu kamarnya. “Sudah waktunya makan. Ayo, keluar.”
Tidak ada sahutan dari dalam. “Kat, gue masak makanan kesukaan lo. Roti isi bakon dan ham.” Aku menunggu. Masih juga tidak ada respons dari dalam kamar.
“Oke, Kat. Buka kamarnya atau gue dobrak.” Aku benar-benar tidak bisa menghadapi orang yang menantang aku dengan lembut. Apa boleh buat, aku memang arogan. Karena dia masih saja diam, aku mengambil ancang-ancang untuk membuka pintu.
__ADS_1
“Gue hitung sampai tiga. Kalau lo enggak keluar juga, gue dobrak pintunya.” Hening. Merepotkan saja. “Satu. Dua. Tiga.”
Setiap kali menyebut angka, aku mundur satu langkah. Masih juga tidak ada respons darinya, maka aku bersiap-siap untuk berlari cepat ke arah pintu. Pengeluaranku akan besar untuk biaya perbaikan, tetapi itu tidak seberapa dibandingkan dia sakit karena tidak mau makan.
“Kamu benar-benar berisik,” katanya, membuka pintu di saat aku melaju ke arahnya. “Aargh!” Dia segera bergerak ke samping sehingga aku jatuh bebas ke atas tempat tidur.
“Merepotkan saja,” keluhku, berbaring sejenak di permukaan yang empuk itu. Untung saja aku jatuh di sini, bukan di lantai yang keras.
“Kamu benar-benar akan mendobrak pintu ini?” serunya panik.
“Sejak kapan gue enggak serius dengan ucapan gue?” Aku duduk dan menunggu beberapa saat.
“Kamu sudah gila. Apa kamu tidak cari tahu berapa harga perbaikan pintu atau bingkainya kalau sampai rusak?” omelnya.
“Gue lapar.” Aku berdiri, lalu menggandeng tangannya menuju dapur. Aroma lezat makanan yang masih hangat itu membuat perut semakin keroncongan.
“Hari Kemerdekaan semakin dekat. Ada banyak event mulai awal bulan depan. Kita lihat kembang api lusa nanti, kamu mau?” tanyaku berhati-hati.
“Yang di tepi sungai, ‘kan?” Dia menyeka bibirnya dengan serbet. Aku mengangguk. “Oke.”
“Oke?” tanyaku agak terkejut. Aku pikir aku perlu membujuknya dahulu.
“Lalu tepat pada Hari Kemerdekaan, aku mau kita ke rumah Meghan. Orang tua mereka akan keluar kota dan Clara mengadakan pesta. Meghan butuh teman agar dia tidak sendirian.” Ooo. Jadi itu alasan dia setuju saja dengan ideku. Ajakan dibalas dengan ajakan.
“Mereka akan mengadakan pesta berarti ada banyak tamu yang datang. Bagaimana bisa teman lo itu lo sebut sendirian?” sindirku.
“Karena yang datang adalah undangan kakaknya.”
“Dia bisa pergi entah ke mana kalau dia tidak mau menghadiri pesta itu.”
__ADS_1
“Mereka tinggal di gedung apartemen mewah. Apa kamu tidak tahu mereka tinggal di penthouse? Di mana lagi kamu bisa melihat pesta kembang api dengan pemandangan indah kalau tidak dari tempat yang tinggi?” katanya bersikeras.
“Melihat pertunjukan kembang api terbaik itu dari bawah, bukan dari atas,” sanggahku.
“Ya, sudah. Kalau kamu tidak mau ikut, aku bisa pergi sendiri.”
“Oke, oke. Aku ikut.” Aku terpaksa mengalah. Lebih baik aku bersamanya daripada dia berdua saja dengan temannya itu saat Clara ada di dekat mereka.
Dia cemberut saat kami pergi ke restoran tepi sungai untuk makan malam. Aku sudah memesan tempat, jadi kami tidak perlu khawatir tidak bisa duduk. Angin yang sejuk dari arah sungai mampu mengurangi rasa gerah akibat musim panas.
Begitu makanan dan minuman pesanan kami diantar, dia mulai lebih rileks. Kami bicara dengan santai mengenai masakan yang lezat itu. Aku senang melihat dia sudah tersenyum lagi. Begitu kami selesai makan makanan utama, aku memesan beberapa makanan ringan.
Masih ada banyak waktu sampai pertunjukan kembang api dimulai. Benar saja. Restoran itu ramai dengan pengunjung, baik yang datang dengan kekasih, keluarga, maupun teman dan rekan kerja. Aku sengaja duduk di posisi yang baik untuk melihat pertunjukan itu.
Kembang api pertama meluncur ke udara dan meledak membentuk bunga api yang indah. Amarilis yang harus membalikkan badan untuk melihatnya terpaksa berpindah duduk di sisiku. Aku menahan senyum agar dia tidak tersinggung.
Setelah dia duduk di dekatku, maka aku memeluknya dengan erat. Awalnya, dia hanya terdiam kaku, lalu dia perlahan luluh dan membalas pelukanku. Kami menyaksikan satu per satu kembang api meluncur dan bercahaya di udara. Indah sekali.
“Percaya sama gue. Kita pasti akan menikah,” bisikku, memanfaatkan situasi itu.
“Apa gunanya kalau orang tuamu marah, Theo? Terlalu banyak yang harus kita korbankan. Salah satunya hubunganmu dengan orang tuamu.”
“Setiap perjuangan pasti ada pengorbanan. Apa ada negara yang merdeka yang tidak merenggut banyak nyawa?” Aku mencium pelipisnya. “Gue rela mengorbankan segalanya demi lo.”
“Aku tidak akan membiarkan kamu tidak dianggap anak lagi oleh mereka, Theo. Kamu tidak mengerti. Kehilangan keluarga itu adalah hal yang menyakitkan.” Dia pasti teringat dengan masa-masa awal dia harus menjadi Amarilis dan merelakan identitasnya sebagai Katelia.
“Sebagai gantinya, gue mendapatkan lo. Apa lo pikir setelah menikah kita akan banyak berinteraksi dengan keluarga? Tidak. Dunia akan menjadi milik kita berdua saja.” Aku tersenyum teringat hal penting lainnya. “Juga anak-anak setelah mereka hadir di dunia.”
“Bagaimana kalau aku mandul?” tanyanya tiba-tiba. “Ahli waris adalah segalanya bagi keluargamu. Bagaimana kalau aku tidak bisa memberikan anak untukmu? Apa kamu akan membuang aku dan akhirnya setuju untuk menikah dengan wanita pilihan orang tuamu?”
__ADS_1