
“Lo bilang apa tadi?” tanyanya tanpa emosi. “Laki-laki lain? Lo berpakaian seperti ini karena lo mau bersama laki-laki lain?”
Aku memundurkan kepalaku, tetapi sudah menempel di tembok, tidak bisa lebih jauh lagi darinya. “Theo, apa kamu tidak bisa tenang sedikit? Aku hanya becanda.”
“Gue tidak bercanda. Gue serius waktu gue bilang gue pencemburu,” katanya dengan tajam. “Lo beruntung, yang tadi bersama lo adalah Chika. Kalau laki-laki lain, lo akan menyesal seumur hidup.”
“Aku—” kataku berusaha untuk membela diri.
“Gue enggak mau dengar lagi. Kita kembali sekarang.” Dia menggandeng tanganku menuju aula.
Dasar cowok aneh. Dia tadi masih baik-baik saja. Begitu aku menyebut tentang laki-laki lain, tombol emosinya tertekan. Mengapa dia harus semarah ini, sih? Aku jelas hanya bergurau. Memang hanya adiknya yang nyaman untuk diajak berkelakar.
Emosiku mereda melihat penampilan Matt dan rekan-rekannya yang memukau. Aku akhirnya bisa mengetahui sosok pemain biola yang sempat menimbulkan masalah itu. Ketika dia datang, aku tidak sempat bertemu dengannya, hanya mendengar suara meminta maafnya. Penampilannya sempurna dengan gaun hitam, tataan rambut yang rapi, dan mekap minimalis.
Aku sampai mengedipkan mata berkali-kali untuk meyakinkan diri sendiri bahwa aku tidak salah lihat. Dia menyempatkan diri ke salon, tetapi datang terlambat ke acara konsernya sendiri? Apa dia tidak sadar sudah membuat rekan-rekannya susah tadi? Benar dugaanku. Dia berbohong.
Begitu konser selesai, Theo menggandeng tanganku keluar dari aula itu. Aku bahkan belum sempat pamit kepada orang tuanya. Melihat wajahnya terlipat jelek seperti kakek berusia delapan puluh tahun, aku mendesah pelan. Apalagi kesalahanku?
“Bagaimana baju ini bisa ada pada lo?” Itu adalah hal pertama yang dia tanyakan ketika kami berada di sebuah rumah makan.
“Rahasia,” kataku, tidak mau menjawab.
“Amarilis,” ucapnya dengan nada mengancam.
“Kamu mau melakukan apa pun, aku tidak akan menjawab pertanyaanmu itu. Titik,” tuturku tanpa gentar. Memangnya apa yang bisa dia lakukan? Mengambil baju ini kembali?
Dia menatap aku dengan saksama. Kebiasaannya yang tidak lagi mengintimidasi aku. Karena dia tidak juga bicara, maka aku menganggap dia tidak akan bertanya mengenai hal itu. Baguslah. Cukup aku saja yang tahu bagaimana aku bisa mendapatkan semua pakaian ini kembali.
Kami makan dalam diam. Bukan keheningan yang menyesakkan, tetapi menenangkan. Dia memesan camilan sebagai tambahan, aku tidak menolak. Hatiku sedang bahagia dan permainan biola tadi menguras semua energiku. Jadi, aku membutuhkan asupan tenaga lebih dari biasanya.
Merasakan tidak nyaman pada perutku, aku memeriksa tas yang aku bawa. Aku pamit ke kamar mandi dan dugaanku benar. Aku sedang datang bulan. Untung saja, aku segera menyadarinya atau aku akan menyesal sudah mengotori gaun bagus ini.
“Jadi, lo mengambil kuitansi baju lo dari tas gue,” katanya begitu aku kembali ke meja kami.
__ADS_1
Aku tertawa kecil. “Aku ketahuan.”
“Kenapa lo?” tanyanya sambil memperhatikan wajahku. “Muka lo pucat.”
“Tidak apa-apa. Kamu sudah selesai?” Aku melirik piringnya.
“Iya. Gue juga sudah bayar.” Dia mengerutkan keningnya. “Lo yakin tidak apa-apa?” Walaupun dia adalah pacarku, kami belum tiba pada tahap nyaman berbagi informasi pribadi. Jadi, dia tidak perlu tahu apa yang menyebabkan aku terlihat pucat.
“Yakin,” tukasku.
Begitu sampai di kamar, aku merasa sangat lega. Setelah membersihkan diri, maka aku berbaring dan tidur hingga pagi. Hanya itu satu-satunya cara untuk mengatasi rasa lemas saat datang bulan. Aku beruntung karena selalu mengalaminya menjelang malam. Jadi, aktivitas harianku tidak terusik.
Pada pagi harinya, aku bangun dalam keadaan segar. Tubuhku tidak terasa lemas lagi. Aku bersiap ke kampus dan menyempatkan sarapan dengan roti bantal pemberian Theo. Entah mengapa dia suka sekali memberi aku camilan. Sepertinya, dia memang tidak suka aku menurunkan berat badan.
“Oh, ya, ampun!” Aku memekik terkejut melihat dia ada di depan pagar rumah. “Apa yang kamu lakukan pagi-pagi di sini?”
“Lo sudah sarapan?” Dia malah balik bertanya.
Menyadari dia tidak akan menjawab pertanyaanku dan akan diam saja sampai aku menjawab, maka aku mengalah. “Iya, makan roti.”
Mengagetkan saja. Aku tidak menduga dia akan datang menjemput aku pada pagi ini. Mungkin dia khawatir karena aku terlihat kurang sehat pada malam sebelumnya. Dia menghentikan motornya di depan sebuah warung makan. Aku memesan nasi uduk, sedangkan dia hanya makan kue.
Dia pasti sudah sarapan bersama keluarganya. Air liurku terbit membayangkan rasa masakan yang mereka nikmati pagi tadi. Aku sudah bisa menebak enaknya menu makanan mereka, tidak jauh berbeda rasanya dengan makan malam.
Usai sarapan, kami pun ke kampus. Dia bertingkah aneh dengan menggandeng tanganku sampai tiba di ruang kuliahku. Tidak seperti sebelumnya, dia tidak memeluk atau mencium aku saat akan pergi. Benar-benar cowok yang tidak bisa aku prediksi.
“Kamu lihat itu?” tanya seorang perempuan di belakangku. “Apa yang Theo lakukan? Hari ini dia bersama si gendut itu, kemarin dengan Chika. Apa dia selingkuh?”
“Kamu seperti tidak tahu orang kaya saja. Sudah biasa mereka punya lebih dari satu perempuan. Aku juga kalau jadi dia akan menerima semua gadis cantik untuk menghangatkan ranjangku.” Terdengar suara seorang pemuda juga dari belakangku.
“Aku salah menilai Theo. Dia tidak lebih dari laki-laki kurang ajar yang suka mempermainkan hati perempuan. Kaya tetapi tidak bermoral,” dengus perempuan tadi.
“Apa katamu?” Aku tidak tahan lagi dan menoleh ke arah mereka. Ternyata tidak hanya dua, tetapi ada tiga orang yang berdiri bergosip di belakangku. “Theo kaya tetapi tidak bermoral?”
__ADS_1
“Apalagi sebutannya untuk orang kaya yang punya banyak pacar?” tantang gadis itu, sama sekali tidak gentar sudah menuduh orang sembarangan.
“Apa semua perempuan yang dekat dengan pemuda kaya berarti pacarnya? Apa mereka tidak boleh lagi punya teman? Kamu cemburu, ya, karena Theo tidak pernah mau berteman denganmu, tetapi dengan perempuan gemuk dan jelek seperti aku?” omelku.
“Selamat pagi, Amarilis,” sapa Sonata yang segera berdiri di antara aku dan perempuan itu. “Kuliah hampir dimulai. Ayo, kita cari tempat duduk.”
“Jaga bicaramu. Kalau aku mendengar kamu menghina Theo lagi, aku tindih badan kurusmu itu!” ancamku sebelum Sonata berhasil mendorong aku masuk ke ruang kuliah.
Sonata tertawa kecil, lalu duduk di kursi favoritnya. Aku mendesah kesal saat meletakkan tasku di atas meja kursiku. Menyadari berat badanku masih jauh dari ideal, aku duduk dengan hati-hati agar kursi itu tidak rusak. Padahal emosiku masih meledak-ledak.
“Beradu mulut dengan senior tidak akan baik untukmu, Amarilis,” hibur Sonata. “Kamu hanya punya aku. Jadi, kita kalah jumlah andai mereka memutuskan untuk mengeroyok kamu.”
“Mereka tidak akan berani,” kataku dengan yakin.
“Jangan coba-coba. Solidaritas senior kita sangat kuat. Lagi pula, mereka bertiga adalah anak orang kaya. Kamu tidak akan bisa menang melawan mereka,” katanya dengan serius.
Anak orang kaya. Kata yang sangat menjengkelkan, tetapi dia benar. Mereka bukanlah lawanku. Kalau mereka hanya pengecut seperti Chika, aku bisa menghadapinya. Apalagi aku tahu semua kelemahannya. Namun aku tidak tahu siapa orang tua ketiga senior itu. Bisa jadi mereka orang yang sangat disegani di kota ini.
Jadi, ini yang dirasakan oleh teman-teman yang sering aku sakiti. Mereka mau melawan, tetapi tidak berdaya. Orang tuaku adalah orang yang sangat disegani di Medan, bahkan Sumatera Utara. Orang tua Chika saja tidak berani macam-macam. Padahal mereka lebih kaya dari kami.
Kalau ada yang coba-coba menantang kami, maka bukan hanya nama mereka tercoreng, tetapi Papa sanggup membuat mereka kehilangan kolega dan rekan bisnis. Satu hal yang bisa membuat usaha sebesar apa pun perlahan bangkrut.
Aku tidak punya orang tua yang kaya raya, tetapi Mama akan sangat sedih jika usaha kue dan rotinya tutup gara-gara ulahku. Walau mereka bukan orang tua kandungku, aku merasa punya kewajiban moral untuk melindungi mereka. Apalagi aku juga ikut menyebabkan kematian putri mereka.
“Jangan buat janji dengan siapa pun besok, ya,” kata Sonata begitu mata kuliah pagi kami usai. “Kita makan siang bersama.” Dia melirik pintu.
Aku menoleh dan melihat Theo sudah berdiri di sana. “Oke. Kita makan siang bareng besok.”
Sama seperti pada pagi tadi, Theo menggandeng tanganku dari ruang kuliah sampai tempat parkir. Aku tersenyum senang melihat para mahasiswa sirik itu memandang aku dengan sinis. Cih, kalau Chika yang jalan bareng Theo, mereka memuja keserasian mereka. Berbeda jika aku yang berjalan di sisinya, mereka langsung iri.
“Lo mau makan apa?” tanya Theo yang memasangkan helm di kepalaku. Ada apa dengannya? Tidak biasanya dia bersikap baik begini?
“Apa saja,” jawabku sambil menjauh dan memasang sendiri tali helm itu.
__ADS_1
“Mau makan batu?” tanyanya dengan kesal. Dia ini tersambar apa, sih? Sedetik yang lalu manisnya minta ampun, sedetik kemudian berubah menjengkelkan.