Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
57|Pilihan Mama


__ADS_3

~Altheo~


Aku telah melakukan kesalahan besar. Mama pasti mengetahui hubunganku dengan Amarilis. Entah bagaimana caranya, tetapi apa yang dia lakukan untuk membuat aku dan gadis itu jarang bertemu, bukanlah karena ada yang membisikkan kedekatan kami kepadanya.


Mungkin aku pernah melakukan hal yang berlebihan pada saat kami makan malam bersama. Bisa jadi, aku memberi petunjuk itu ketika mengantar dia pulang usai mengajar Matt. Entahlah. Atau ada tindakan khususku kepada Amarilis pada perayaan keluarga kami yang dihadirinya.


Pertama, Mama sudah memesan ojek daring untuk mengantar Amarilis pulang. Dia sangat peduli dengan keselamatan gadis itu karena membutuhkan dia untuk mengajar Matt. Mengapa dia tidak ragu-ragu memesan jasa orang asing untuk mengantar dia pulang? Kalau Mama tidak suka kami jadi dekat, dia bisa menyuruh sopir kami untuk mengantar Amarilis pulang.


Beberapa hari kemudian, tindakannya semakin ekstrem. Matt pindah belajar di luar rumah. Tindakan Mama itu membuat aku semakin membenci Chika. Karena mamaku yang baik, justru menjadi jahat hanya demi menjauhkan aku dari gadis lain dan mendekatkan aku dengan perempuan pilihannya.


“Nah, yang ditunggu sudah datang!” seru Mama ketika aku memasuki ruang makan.


Papa yang biasanya ada urusan dengan koleganya, mengajak aku makan malam di rumah, ternyata karena Mama sudah mengundang tamu. Tidak ada Matt, jadi mereka sengaja mengatur tempat duduk agar aku dan Chika bersisian.


“Wah! Mereka benar-benar pasangan yang serasi, ya!” puji Tante Winara. “Sayang sekali kita harus menunggu sampai mereka tamat kuliah untuk melihat pernikahan mereka.”


Topik itu lagi. Sepertinya perempuan ini sengaja terus membahasnya agar orang tuaku berubah pikiran. Rencananya untuk memaksa mereka mengumumkan pertunangan kami tanpa diskusi denganku dahulu bisa berhasil. Namun tidak untuk yang berhubungan dengan pendidikan.


“Pendidikan adalah yang terpenting,” kata Om Winara. Kalimat yang aku yakin didengarnya dari papaku. “Mereka masih muda, masih ada banyak waktu untuk bersama kelak. Aku dengar-dengar, Theo akan lanjut studi setelah wisuda sarjana.”


“Benar,” timpal Papa dengan ramah. “Itu adalah waktu yang terbaik agar dia tidak terganggu oleh urusan rumah tangga. Aku dan Ruth juga dahulu begitu. Menikah pada usia dua puluh tujuh atau delapan, bukan masalah.”


“Jangan selama itu, Azarya,” bujuk Tante Winara. “Aku tidak bisa menjamin putriku masih bersedia menunggu kalau Theo tidak menikahinya lewat dari usia dua puluh lima.”


“Ma, dua puluh lima itu usia yang sangat muda bagi seorang laki-laki. Aku tidak ada masalah dengan rencana Theo. Kapan saja dia siap untuk menikah, maka aku pun siap,” kata Chika, menengahi.


“Belum menikah saja sudah satu hati, itu bagus sekali,” sanjung Mama.


Mereka terus saja bicara dan aku hanya menatap makanan yang sudah disajikan di hadapan kami. Aku lapar, tetapi mereka sepertinya sudah kenyang dengan terus memuji Chika dan hubungan kami hanya dari satu ucapan gadis itu.


Papa akhirnya melerai mereka dan memimpin doa makan. Mereka masih melanjutkan percakapan, sedangkan aku makan secepat yang aku bisa untuk meninggalkan ruangan itu. Masakan koki kami yang biasanya lezat, terasa hambar kali ini. Apalagi Chika tidak berhenti melirik ke arahku.


Usai makan, aku meminta izin untuk mengerjakan tugas. Mereka tidak bisa melarang, terutama karena hari ini adalah hari kuliah. Aku tidak tahu harus menggunakan alasan apa untuk kabur pada akhir pekan nanti. Untungnya, mereka diundang makan selalu pada hari biasa.

__ADS_1


Aku berniat mengajukan proposal pada semester depan. Jadi, aku harus bisa menemukan masalah yang cocok untuk penelitianku nanti. Papa dan Mama sudah memberikan beberapa usul, tetapi aku belum tertarik untuk mengambil ide mereka.


Pintu dibuka, aku mengerutkan kening. Para pelayan tidak akan masuk ke kamarku tanpa mengetuk dahulu. Bahkan keluargaku sendiri tidak pernah selancang itu. Walau aku sedang berpakaian lengkap, sikap itu sangat tidak sopan.


“Wah!! Kamar kamu bagus sekali!” seru Chika sambil menutup pintu kamarku kembali. “Apa kamu yang memilih semua perabotan dan warnanya?”


Aku bisa melihat dari sudut mataku, dia tanpa tahu diri duduk di tepi tempat tidurku. Dia tidak akan bersikap seberani ini kalau bukan Mama yang memberi izin dan memberi tahu lokasi tepat kamarku. Aku tidak percaya mamaku membiarkan seorang gadis melakukan ini. Kami baru saja bertunangan, belum resmi menikah.


“Apa lo enggak lihat gue sedang apa?” tanyaku, menahan emosi.


“Tenang saja. Aku tidak akan mengganggu,” katanya dengan santai, seolah-olah kamar ini miliknya.


Karena tidak ada kata yang bisa aku ucapkan lagi, maka aku menyusun kembali semua buku dan peralatan tulisku dengan perlahan. Semuanya aku susun dengan rapi di atas meja belajarku. Lalu aku berjalan menuju pintu kamar.


“Lo, Theo? Kamu mau ke mana?” tanya Chika yang mengekori aku dari belakang.


Aku tidak menjawab dan melangkah ke tangga. Jika kamar yang sangat privasi bisa dimasuki orang asing sesukanya, maka tidak ada tempat yang bisa jadikan sebagai pelarian lagi. Jadi, aku memilih untuk pergi dari rumah. Aku tak percaya Mama melakukan ini kepadaku. Mengapa dia memilih gadis tidak sopan ini menjadi istriku?


Berkendara tanpa tujuan selama beberapa menit, aku memutuskan untuk melihat keadaan Amarilis. Dia pulang seperti biasanya usai mengajar adikku. Melihat sepeda yang dia gunakan, aku mendesah pelan. Gara-gara Mama, dia harus membuang uang kuliahnya untuk membeli benda itu.


Ikut campur dalam urusan Mama bukanlah hal yang bijak. Apalagi pendidikan Matt adalah tanggung jawab orang tuaku, bukan aku. Jadi, apa yang dia putuskan terhadap pelajaran tambahan adikku dan guru privatnya, aku tidak boleh turun tangan.


Amarilis juga memberi syarat yang berat untuk aku penuhi. Kami tidak bisa bersama lagi. Walau aku ingin berada di dekatnya, aku belum siap mengambil risiko dengan mengumumkan hubungan kami kepada kedua orang tuaku. Perasaanku untuknya belum sebesar itu.


“Kita pergi liburan Natal dan Tahun Baru ke Eropa, yuk. Bagaimana menurut kalian?” tanya Mama dengan antusias.


Kami sedang sarapan bersama pada pagi itu. Papa tersenyum melihat aku dan Matt, sedangkan adikku hanya diam. Aku tidak pernah peduli kegiatan yang mereka pilihkan untuk kami, asal studiku tidak terganggu. Namun liburan ke Eropa pada akhir tahun bukanlah pilihan yang aku suka.


“Sepertinya mereka tidak keberatan,” ucap Papa, memandang aku dan Matt secara bergantian.


“Kalau begitu, aku akan segera pesan tiket kita dan mencari kamar hotel!” sorak Mama yang segera sibuk sendiri dengan ponselnya.


Aku pikir kami hanya pergi berempat. Tidak pernah tebersit dalam pikiranku, Keluarga Winara juga akan berlibur bersama kami. Papa dan Mama senang dengan perjalanan itu, kecuali aku dan Matt. Kami merasa ditipu, karena mereka membiarkan kami berpikir kami hanya berlibur sekeluarga.

__ADS_1


Namun kami tidak memasang wajah cemberut selama liburan itu. Kami tetap menghargai kedua orang tua kami dengan bersikap sopan. Aku juga tidak protes saat duduk di samping Chika, baik dalam penerbangan maupun kereta api dari satu kota ke kota lain selama di Eropa.


Musim dingin bukanlah waktu terbaik untuk berjalan-jalan ke negeri ini, karena aku harus memakai baju berlapis. Aku lebih suka datang pada musim semi atau panas, yang tetap terasa sejuk. Namun aku bisa mengenakan baju dua lapis saja.


Katelia sering berlibur ke Eropa bersama keluarganya. Apa dia yang sekarang merindukan perjalanan seperti ini? Yang aku tahu, dia hanya bekerja setiap kali tidak kuliah. Kalau bukan karena menjaga agar harga dirinya tidak terluka, aku sudah membantu membayar uang kuliahnya.


Dari semua beasiswa yang dia lamar, perusahaan mana yang berbaik hati menolongnya? Aku tidak tahu kabar selanjutnya, karena kami sudah tidak bersama. Aku juga terlalu sibuk mendampingi Papa sampai lupa menanyakan hal itu kepadanya.


“Apa yang sedang lo pikirkan?” tanya Matt, menutup pintu kamar dan duduk di balkon bersamaku. Dia meletakkan dua kantong keripik di atas meja. “Kita sudah satu minggu berkeliling dan lo sibuk dengan pikiran lo. Ada cewek yang lo suka?” Dia memain-mainkan kedua alisnya, menggoda aku.


“Lo fokus persiapan UN saja. Enggak usah bahas cewek,” balasku, menyerang dengan telak.


Dia mendengus dengan keras. “Bisa, enggak, empati sedikit sama gue? Masa sedang liburan lo malah bahas itu, sih?”


“Biar gue enggak makan hati sendirian di negeri indah ini.” Aku mengambil satu kantong keripik, lalu membukanya. Aku mendadak lapar membahas hal ini.


Dia menepuk bahuku. “Gue turut prihatin, Bro. Enggak terbayang rasanya punya calon istri seperti dia. Sebaiknya lo bicara serius dengan Papa. Mama enggak akan mudah ditaklukkan.”


“Lalu lo pikir Papa enggak akan luluh dengan air mata Mama?” tantangku.


Dia mendesah keras. “Gue enggak mau punya kakak ipar seperti dia. Mending lo sama Kak Amarilis.”


“Lo enggak sopan sama gue. Dia dipanggil Kak, kenapa gue enggak?”


“Memangnya lo guru gue?” ejeknya. Aku pun mengacak-acak rambutnya.


Sarapan terakhir di hotel, kami tidak terburu-buru seperti biasanya. Kami makan dengan santai dan mereka tidak berhenti mengobrol. Hanya aku dan Matt yang diam saja, tetapi kami makan dengan cepat agar bisa kembali ke kamar untuk berkemas.


Alasan yang sengaja kami buat supaya tidak duduk lama dengan mereka. Sialnya, Chika juga ikut kembali ke kamarnya bersama kami. Segalanya berjalan dengan lancar, sampai dia terkilir di lantai tujuan kami. Aku terpaksa menolong dia, karena dia menolak tangan Matt.


Dia dan orang tuanya menyewa sebuah suite dengan dua kamar, jadi kami mengantarnya ke sana. Aku berniat meninggalkan dia di ruang depan, tetapi dia meminta dipapah ke kamarnya. Perempuan yang sangat merepotkan.


Ketika kami sudah berada di dekat ranjang dan aku menolong dia untuk duduk, tiba-tiba saja dia menarik kerah kemejaku dan mendekatkan wajahku kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2