Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
119|Ketakutan Terbesar


__ADS_3

Aku selalu takut dengan kejadian itu. Amarilis akhirnya pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Ya, Tuhan. Aku tidak pernah setakut ini dalam hidupku. Putus dengannya bukan masalah. Aku selalu bisa mengetahui perkembangannya setiap hari.


Namun jika dia menghilang dan tidak diketahui jejaknya, aku bisa gila. Dia cinta pertamaku, orang yang paling penting dalam hidupku. Aku tidak bisa kehilangan dia. Aku mencoba untuk menghubungi Daisy, tetapi aku tidak menemukan ponselku di saku.


Ini mimpi. Ini hanya mimpi. Aku terus mengatakan di kepalaku. Amarilis tidak akan pergi begitu saja dari hidupku. Dokter sudah memeriksa keadaannya. Dia sehat, tidak punya penyakit apa pun, tidak ditemukan adanya penyakit bawaan, jadi dia akan berumur panjang. Kami berdua dinyatakan sehat.


Iya, ini hanya mimpi. Bangun, Theo. Kamu harus bangun!


Aku membuka mata dan pemandangan di sekitarku gelap. Cahaya lampu dari luar kamar menembus tirai tipis sehingga memberi sedikit sinar. Aku mengulurkan tanganku untuk menyalakan lampu meja. Aku mendesah lega melihat aku berada di kamar.


Aku bergegas turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Suasana apartemen itu sepi dan gelap, tetapi cahaya dari luar membantu aku untuk melihat pintu kamarnya. Aku memutar kenopnya sesenyap mungkin dan mengembuskan napas melihat dia berbaring di ranjangnya.


Syukurlah. Aku hanya bermimpi buruk. Mimpi yang akhir-akhir ini semakin sering mengunjungi aku. Apakah ini pertanda buruk? Tidak, aku harus berpikir positif. Amarilis baik-baik saja dan tidak akan pernah pergi dari sisiku.


Aku duduk di lantai di dekat tempat tidurnya. Dia yang sedang pulas terlihat damai. Aku menahan diri untuk menyentuhnya supaya dia tidak terbangun. Entah pesona apa yang membuat wanita ini berbeda dengan yang lain. Dia mudah saja menawan hatiku hanya untuknya.


Teman-teman menganggap aku gila karena menolak wanita secantik Clara. Seandainya saja mereka tahu, hatiku sudah ada yang memiliki. Sekeras apa pun wanita lain mencoba menarik perhatianku, tidak ada yang seperti Amarilis. Walau aku sedang marah atau jauh darinya, hanya dia yang ada di kepala dan hatiku. Aku tidak tahu ini anugerah atau kutuk.


Satu hal yang pasti, aku bahagia bersamanya. Semua emosi yang aku pikir mustahil untuk aku alami, aku rasakan saat bersamanya. Dia benar-benar sanggup membuat jantungku hidup lagi.


Pada malam penghujung tahun, aku mendapat banyak undangan, tetapi aku lebih memilih untuk merayakannya berdua saja dengan Amarilis. Aku membawanya ke lokasi di mana kami bisa melihat pertunjukan kembang api bersama ribuan masyarakat lainnya.


“Theo, ada apa?” tanyanya.


Aku menoleh ke arahnya. “Ada apa apa?”


“Kamu dari tadi memeluk aku terus. Bagaimana aku bisa makan kalau kamu begini?” Dia melihat ke arah tanganku yang melingkari tubuhnya.


Semua ini gara-gara mimpi burukku. “Memangnya lo enggak kedinginan?”


“Tidak. Pakaian ini cukup hangat.”


Aku membeli roti isi berukuran besar untuk kami nikmati sembari menunggu tahun berganti. Sesaat lagi pertunjukan akan dimulai, tetapi kami sudah lapar. Risiko berada di tempat yang sangat dingin. Kalau sebelumnya dia merasa berat meminum bîr, tidak pada malam ini. Kami membutuhkannya.

__ADS_1


“Apa harapanmu untuk tahun depan?” tanyanya pelan.


“Menikah dengan lo, tetapi lo masih kuliah,” jawabku sekenanya.


Dia menyikut lenganku. “Jawab yang serius.”


“Itu yang paling serius. Menyelesaikan kuliah sudah pasti, memajukan restoran Papa sudah menjadi target gue sejak tahun lalu. Nah, menikahi lo yang belum kesampaian.”


“Aku berharap tahun depan semua orang sehat dan baik-baik saja. Lalu kita tetap bersama.” Dia tersenyum bahagia.


“Bagaimana dengan studi lo?”


“Aku yakin aku bisa menyelesaikannya dengan baik.” Dia terlihat percaya diri.


Kami sudah selesai makan, jadi aku mengumpulkan dan membuang kertas pembungkus bekas pakai ke tempat sampah terdekat. Lalu aku kembali dan duduk di sisinya. Dia mendekatkan tubuhnya kepadaku, maka aku melingkarkan tanganku di bahunya.


Semakin larut, udara semakin menusuk. Namun orang-orang yang berkerumun di dekat kami membantu memberi kehangatan. Apalagi kami sudah mengisi perut dan minum yang hangat. Jadi, kami aman selama merayakan acara.


“Di mana saja yang kamu pilih. Aku yakin kamu akan memilih ibu kota karena di sana perusahaan papamu berada, ‘kan?” jawabnya.


“Iya. Setelah tahun ketiga nanti, restoran akan gue awasi dari jauh. Gue melihat langsung setiap enam bulan sekali untuk memastikan keadaannya sesuai dengan laporannya.”


“Apa kamu akan mengajak aku juga?” tanyanya penuh harap.


“Tentu saja.” Aku mempererat pelukanku. “Istri gue ikut ke mana pun gue pergi. Bos lo enggak akan bisa menghalangi niat gue.”


Dia tertawa kecil. “Benar juga. Aku akan bekerja, tidak bisa mengambil cuti sesukanya.”


Membicarakan masa depan bersamanya tidak terasa menakutkan. Padahal aku belum siap untuk menjalani tanggung jawab yang besar itu. Namun entah mengapa aku yakin bisa jika wanita yang ada di sisiku adalah Amarilis.


Orang-orang di sekitar kami mulai menghitung mundur, aku melirik jam tanganku. Kami berdiri dari bangku taman itu bersama kerumunan dan melihat ke angkasa. Tepat satu detik setelah angka satu disebut beramai-ramai, langit malam berubah terang benderang oleh kembang api yang indah.


Jantungku berdebar dengan kencang melihatnya. Kami berhasil melewati satu tahun dan menuju tahun yang baru. Aku menghela napas panjang, berharap hal yang baik akan terjadi pada tahun ini. Seperti hal baik yang berdiri di sisiku yang diberikan oleh tahun sebelumnya.

__ADS_1


“Selamat Tahun Baru, Theo!” soraknya.


Aku menundukkan kepalaku dan mencium bibirnya. “Selamat Tahun Baru, Kat,” balasku.


Dia menarik kerah jaketku, lalu melirik bibirku. Memahami maksudnya, aku mencium dia lagi. Kami berada di keramaian, jadi tempat ini aman untuk bermesraan dengannya. Walau darah mudaku begitu menggebu-gebu, aku memperlakukan dia dengan lembut.


Liburan berakhir untukku, tetapi tidak bagi Amarilis. Aku kembali bergelut dengan tesis dan dia masih membantu di mana dia bisa. Dia rajin memeriksa keadaanku di kamar. Jika minumanku habis, dia akan mengisi wadah airku. Pada sore hari, dia akan membuatkan kopi dan membawa camilan atau buah. Ketika aku sedang penat, dia menghibur dengan menceritakan lelucon yang baru dibaca.


Kadang-kadang, aku menggoda dia dengan memeluk tubuhnya saat berdiri di sisiku, mengecup pipinya, atau menarik dia untuk duduk di pangkuanku. Wajah memerahnya selalu berhasil mengusir setiap rasa lelahku. Sayangnya, aku tidak bisa mencium bibir lembutnya itu di apartemen.


“Lo tidak harus berada di apartemen seharian kalau bosan. Lo bisa pergi jalan-jalan. Ajak teman lo.” Aku melingkarkan tanganku di tubuhnya agar dia tidak bisa berdiri dari pangkuanku.


Dia melihat ke arah tangannya yang ada di atas pahanya. “Aku hanya mau jalan denganmu. Lagi pula, bagaimana aku bisa bersenang-senang saat kamu sedang susah di sini?”


“Omong kosong. Lo juga akan mengalami ini nanti. Selagi kuliah lo belum padat, jangan sia-siakan satu hari libur pun.” Aku menekan ujung hidungnya dengan telunjukku.


“Kamu bujuk sekeras apa pun, aku tidak mau pergi. Sebaiknya aku keluar sekarang. Kamu harus segera selesaikan tesismu. Jangan lupa, kamu akan bertemu dosenmu besok.”


Karena dia benar, aku membiarkan dia pergi. Buku sudah selesai dibaca, ide muncul dengan lancar, jadi aku bisa mengetik beberapa halaman tadi. Tinggal ke bagian yang sulit, membaca ulang dan memeriksa kesalahan pengetikan. Bagian yang paling memuakkan.


“Apa kamu sudah memeriksa barang bawaanmu? Tidak ada yang tertinggal?” tanyanya ketika aku akan berangkat ke kampus.


“Tidak, sayang.” Aku memakai sepatuku, lalu menoleh ke arahnya. “Aku pergi, ya.”


“Tunggu.” Dia memberi sinyal agar aku mendekat. Aku menurut dan dia mengecup pipiku. “Semoga berhasil.” Aku tersenyum mendengarnya.


Semoga saja dosenku akan menyetujui bab ini, jadi aku bisa ke bab terakhir dan siap untuk sidang tesis. Maka aku hanya punya satu hal saja yang perlu aku fokuskan. Mencari jalan agar aku dan Amarilis bisa menikah begitu dia lulus, tanpa harus dapat restu dari orang tua.



(Go, Theo! Theo, go! You can do it, Theo!)


*Amarilis saat memberi semangat.

__ADS_1


__ADS_2