
“Sudah, diam. Aku tidak mau mendengar keluhanmu lagi,” tegur Tante Winara. “Jangan sampai kamu kalah cantik dengan pencuri itu. Semua orang menatap kagum kepadanya. Padahal mereka tahu perempuan itu sudah mencuri Theo darimu.”
“Itu yang tidak bisa aku terima, Ma,” protes Chika. “Dia sudah merebut Theo dariku, apa dia harus bertingkah layaknya pengantin pada hari bahagiaku? Apa Mama tidak lihat perhatian semua orang kepadanya? Mereka makan makananku, mendengar musik yang aku bayar, berteduh di tempat yang aku sewa, tetapi yang mereka bahas justru dia lagi, dia lagi!”
“Kalau begitu, tersenyumlah! Tidak ada yang suka melihat perempuan cemberut. Hanya dengan begitu kamu bisa menarik perhatian semua orang lagi!” kata mamanya dengan serius. “Kamu sudah membuat kami malu. Aku tidak tahu apa kata Nancy nanti ketika kita berkumpul di rumah.”
“Bagaimana aku bisa tersenyum? Bahkan di media sosial pun, dia yang dibahas, bukan aku.” Ooo. Jadi, itu masalahnya. Aneh. Jika mereka membahas aku, lalu mengapa di toilet tadi tidak ada yang mengenali aku? Apa Chika sedang berbohong?
Mendengar bunyi langkah kaki mendekat, aku memandang ke sekitarku. Untung saja ada tanaman di dekatku. Aku berusaha melangkah sesenyap mungkin dengan sepatu hak tinggiku. Saat mama Chika keluar dengan wajah merah padam, aku sudah berada di balik pot tersebut.
Putrinya tidak ikut bersamanya. Mungkin dia sedang merapikan diri di ruangan itu. Yang terjadi hari ini belum seberapa, bahkan di luar rencanaku. Yang akan dia alami akan lebih parah dari ini. Aku tidak akan membiarkan Amarilis mati sia-sia di tangan mereka.
“Maaf, kamu Amarilis, ya?” tanya seorang perempuan yang aku kenal sebagai teman sekolahku. Dia dan wanita di sisinya adalah orang yang dahulu hanya diam saat aku dirundung.
“Iya, benar.” Aku tersenyum lebar memamerkan gigi rapiku.
“Wow.” Mereka berdua terpukau melihat senyum sempurnaku. “Ini keajaiban.” Mereka melihat aku dari kepala hingga kaki sambil berdecak kagum.
“Bagaimana bisa badan kamu jadi ramping begini? Jerawat kamu juga sudah tidak ada dan wajahmu sangat sehat. Sampai gigimu yang berantakan jadi rapi begini. Kamu operasi plastik?” tanya wanita yang menegur aku itu.
“Orang miskin seperti kamu dapat uang dari mana untuk melakukan semua ini? Apa kamu pinjam uang secara daring?” lanjut temannya penasaran.
“Kalau kalian tahu rahasianya, kalian mau apa?” ucap Chika dengan ketus dari belakangku. “Apa kalian pikir laki-laki kaya di luar sana mau menikah dengan kalian kalau kalian ubah penampilan?”
“Apa salahnya kami bertanya?” balas wanita pertama.
“Kamu menikah dengan pria yang tidak lebih kaya dari Theo, padahal kamu orang kaya. Amarilis jauh lebih baik darimu, walau dia berasal dari keluarga miskin. Wajar kami bertanya tentang rahasianya,” ucap wanita yang kedua dengan dagu terangkat.
“Kalian—” ucap Chika geram.
“Ibu Jessica,” panggil seseorang dari ambang pintu aula. Kami serentak menoleh ke arahnya. “Ibu dibutuhkan di pelaminan.”
“Aku datang,” sahut Chika. Dia melihat kepada kami. “Kalian lihat saja. Norman bisa lebih kaya dari Theo begitu mereka sama-sama sudah jadi dirut.” Dia membuang muka dan berjalan dengan dagu terangkat menuju aula.
__ADS_1
Kak Jericho melambaikan tangannya kepadaku tidak jauh dari pintu itu. Aku pun pamit kepada kedua wanita dan mendekatinya. Ternyata keluarga kami sudah bersiap untuk pamit. Untung saja mereka sudah berbaris di depan, jadi kami tidak menunggu lama di belakang.
“Pasti keras,” ucap Theo, tidak peduli dengan Kak Jericho yang berdiri di belakangnya.
“Tutup mulutmu.” Aku merasakan pipiku memanas menyadari apa yang dia maksud.
“Apa lagi alasannya lo betah lama-lama di toilet?” ejeknya.
Kak Jericho dan Mama tertawa kecil. Mereka pasti mendengar kalimatnya itu. Menjengkelkan sekali. Apa dia harus membahas semua hal yang aku lakukan sekarang, di depan semua orang? Mengapa tidak menunggu sampai kami berdua saja untuk menghina aku?
Namun semua kekesalanku itu terobati saat melihat Chika menatap aku dengan tajam. Apalagi dia tidak menyembunyikan rasa tidak sukanya melihat tangan Theo yang berada di pinggangku. Dasar pembohong. Dia sedih karena masih mencintai Theo, bukan karena iri dengan perhatian semua orang kepadaku. Dia pasti tidak mau mamanya tahu alasan yang sebenarnya.
Sikapnya itu memunculkan ide cemerlang di kepalaku. Benar juga. Mengapa aku tidak menggunakan cara itu untuk membuat hidupnya sengsara? Aku tidak tahu apa alasan dia menikah dengan Pak Norman, tetapi aku yakin bukan cinta.
“Tunggu!” seru Kak Jericho. “Lihat, tempat ini bagus sekali!” Dia menunjuk ke arah bagian lobi hotel yang terang benderang dengan lampu dan ada sofa, meja, bufet, serta pot berisi tanaman.
“Memangnya ada apa dengan tempat ini?” tanya Kak Nolan heran.
Walau bingung dengan ajakannya, aku dan Theo menurut. Mama dan Bunda justru antusias bisa berfoto bersama lagi. Ada-ada saja. Apa belum puas satu jam lebih berfoto di rumah sebelum kami berangkat ke gereja? Selain berfoto bersama, mereka juga mendorong kami untuk berpose berdua.
Aku dan Theo sama-sama langsung pulas ketika kami selesai membersihkan diri dan berganti baju. Hari yang menyenangkan. Kedatangan kami ke kota ini sangat tepat waktu. Keluarga tidak semarah yang aku duga, lalu kami bisa memenuhi undangan pernikahan Chika. Dia pasti menyesal sudah memberikan undangan itu kepadaku di bandara.
Masih mengantuk, aku mendengar pintu kamarku diketuk dengan tidak sabar. Hanya ada satu orang yang akan melakukan itu di rumah ini. Seandainya tidak ada Theo, Bunda pasti sudah masuk dan mengguncang tubuhku sampai aku bangun.
Namun mendengar nada suaranya yang mendesak aku untuk bangun, maka aku membuka mata dan segera duduk. Aku cepat-cepat merapikan penampilanku. Mengapa hanya aku yang dipanggil? Apa mereka tidak butuh Theo juga?
Ketika Theo menebak aku mungkin telah melakukan kesalahan pada acara resepsi, aku teringat dengan perbuatanku yang mencuri dengar percakapan Chika dan mamanya. Apa iya mereka tahu aku melakukan itu? Gawat, apa mungkin Tante Winara mengadukan hal itu kepada Bunda?
“Sebentar, lo belum jawab pertanyaan gue.” Dia menahan tanganku saat aku akan membuka pintu.
“Aku tidak melakukan kesalahan apa pun,” kataku berkelit.
“Bohong. Lo jelas-jelas tadi terlihat pucat.” Dia tidak mau melepaskan tanganku.
__ADS_1
Namun dia mengalah saat ketukan pada pintu semakin tidak sabar. Aku mencium pipinya dan bergegas membuka pintu. Aku belum mengatakan apa pun, Bunda menggandeng tanganku, menyapa Theo, lalu menarik aku ke kamar mandi di lantai ini.
Kami berdesakan memasuki ruangan itu, lalu Mama menguncinya. Aku menatap mereka berdua dengan bingung. Apa yang akan kami lakukan di tempat ini? Mandi bersama? Bunda memberikan sebuah kotak dan gelas plastik kepadaku. Aku melihat kemasannya baik-baik.
“Cepat gunakan. Kami tunggu.” Bunda berdiri di sisi Mama membelakangi pintu. Apa mereka pikir aku akan kabur sampai berjaga begitu?
“Bunda, ini tidak lucu.” Aku melambaikan kotak itu kepadanya.
“Siapa yang sedang melucu?” tanya Bunda tersinggung. “Ayo, cepat. Baca kemasannya dan segera lakukan sesuasi petunjuk. Kamu cerdas, jadi kamu pasti mengerti cara pakainya.”
Aku melihat ke sekeliling kami. “Aku tidak mengerti. Apa Bunda dan Mama akan ada di sini juga saat aku melakukannya?” tanyaku tidak percaya.” Mereka serentak mengangguk. “Tidak mau.”
“Ayo, cepat lakukan. Aku bisa mati penasaran kalau harus menunggu satu menit lagi,” desak Bunda.
Aku mendesah keras, lalu menuruti kemauannya. Mereka menghormati aku dengan tidak menatap aku ketika menggunakan toilet. Aku membaca petunjuk penggunaan alat itu, lalu menunggu hasilnya. Mereka berdua segera mendekat sampai aku tersingkir.
“Ya, ampun, Bunda, Mama.” Aku tertawa geli. “Kami baru saja menikah. Tidak mungkinlah aku sudah hamil. Apalagi aku selalu teratur datang bulan.”
“Oh, ya?” Bunda mengangkat kedua alisnya. “Lalu, kapan kamu datang bulan terakhir kali?”
“A—” Mendadak aku baru menyadarinya.
Kapan terakhir kali aku datang bulan? Aku tidak ingat. Tunggu. Setelah Theo datang, aku datang bulan satu kali, ‘kan? Kami langsung menikah di Las Vegas, lalu bulan madu, pulang ke apartemen, oh, Tuhan … kembali ke Indonesia, di rumah saja …. Kapan aku datang bulan terakhir, ya?
“Sudah aku duga. Kalian masih muda. Saat berdua saja pasti tidak sedingin saat kalian di depan kami. Aku yakin Theo tidak membiarkan kamu turun dari tempat tidur selama beberapa hari pertama kalian sebagai suami istri.” Bunda tersenyum penuh arti.
Mama tertawa geli. “Laki-laki di mana-mana sama saja, ya.” Bunda mengangguk setuju. “Ah, lihat! Sudah mulai muncul!” pekik Mama senang.
Oh, Tuhan. Jantungku berdebar dengan cepat. Kami menatap garis yang samar-samar muncul pada alat tes itu tanpa berkedip. Kumohon, jangan. Cukup satu garis saja.
[Menikah dengan orang yang tepat itu indah, ya .... Selamat malam Minggu, teman-teman.]
__ADS_1