
“Ada apa, Jericho?” tanya Ayah yang berada di puncak tangga.
Kami bertiga sudah berada di lantai bawah. Aku dan Theo hanya menyaksikan mereka saling tarik dan dorong di dekat pintu. Kepala pelayan tidak tahu harus melakukan apa selain menjaga pintu depan tetap terbuka. Kami serentak menoleh ke arah Ayah.
“Pa, lakukan sesuatu. Kak Nolan mau pergi ke Amerika,” adu Kak Jericho. Apa? Ke Amerika?
“Ada apa ini, Nolan? Kamu mau apa di sana?” Ayah menuruni tangga.
“Aku harus melindungi Meghan. Papa tidak bisa menghalangi aku. Segala urusan pekerjaan akan aku pantau dari jauh, Papa jangan khawatir. Tetapi aku harus pergi, Pa,” kata Kak Nolan dengan tegas.
“Bisakah kamu bicara dengan jelas? Apa hubungan kamu dengan Meghan? Keluargamu ada di sini. Orang-orang yang perlu kamu jaga ada di sini. Mengapa kamu mau pergi ke tempat yang jauh?” Ayah sudah tiba di lantai dasar.
“Perang antara Gordon dan Willis pecah, Pa,” kata Kak Jericho. “Kak Nolan tidak bisa pergi dan membahayakan nyawanya sendiri.”
“Kamu juga sama saja. Siapa itu Gordon dan Willis?” Ayah mulai kehilangan kesabaran.
Kak Jericho menjelaskan dengan cepat siapa keluarga yang dimaksud. Aku menoleh ke arah Theo. Bagaimana dengan Om Azarya? Apa mungkin dia akan pergi ke sana untuk melerai temannya? Namun Theo terlihat tenang, sama sekali tidak panik. Semoga saja Om bisa bertindak dengan bijak.
Ternyata perang yang Kak Jericho maksudkan adalah antara keluarga Meghan dan Hillary. Keluarga Willis curiga Keluarga Gordon yang sudah menyuruh orang untuk merekam dan menyebarkan video kejadian di penthouse mereka. Kecurigaannya itu beralasan, karena ayah Hillary pasti tidak terima hanya putrinya yang dipenjara, sedangkan Clara dimaafkan dan hidup bebas.
Seperti dugaan Theo, Om Willis terpaksa melakukan pertemuan dadakan dengan para pemegang saham untuk memberikan penjelasan mengenai insiden tersebut. Aku tidak bisa membayangkan perasaan Meghan saat ini. Dia pasti sangat ketakutan, apalagi kedua keluarga itu tidak segan-segan meletuskan sênjàta mereka ke arah musuh. Jantungku berdebar teringat serangan Hillary.
“Apa Daisy ada di sekitar sini?” bisikku kepada Theo.
“Mereka selalu ada di dekat kita. Jangan takut.” Dia merangkul bahuku.
“Wajar saja aku takut. Tabunganmu tidak banyak lagi. Kita tidak tahu sampai kapan kamu sanggup membayar jasa mereka,” akuku.
“Lo masih ragu gue bisa menjaga lo dengan baik?” tantangnya. Aku pun merapatkan bibirku.
“Papa sudah dengar, ‘kan? Jadi, aku harus pergi, Pa. Nyawa Meghan dalam bahaya dan dia sangat ketakutan. Aku harus ada di sana untuknya,” kata Kak Nolan.
“Kamu mau melakukan apa di sana? Kamu tidak pernah memegang sênjàta seumur hidupmu, kamu mau pakai apa untuk melindungi gadis itu? Aku yakin Meghan bisa menjaga dirinya sendiri, bahkan dia bisa memakai sênàpan seperti kakaknya.” Ayah menatap Kakak dengan serius.
“Ah, itu … Aku bisa membela diri, Pa,” ucap Kakak berkelit.
“Kamu belum sampai ke depan musuh saja sudah mati. Jangan könyôl, Nolan. Kembali ke kamarmu dan biarkan keluarga itu menyelesaikan masalahnya sendiri.”
__ADS_1
“Kalau Papa jadi aku, apa Papa tidak akan melindungi Mama yang ada dalam bahaya?” tanya Kak Nolan, mencoba untuk memberi pengertian.
“Dia adalah istriku, tentu saja aku akan melakukan segalanya untuk melindungi dia.” Ayah menatap Kakak dengan heran. “Wanita itu bukan siapa-siapa bagimu. Aku saja akan menghalangi Amarilis pergi, jika dia nekat menantang bahaya demi suaminya, apalagi kamu.”
“Itu tidak adil, Pa. Aku akan menikahi dia suatu hari nanti.” Kakak sepertinya sangat bertekad.
“Maka lindungi dia ketika kalian sudah menikah. Kamu tidak bisa pergi ke mana pun sekarang,” kata Bunda yang sudah berada di belakang kami. “Lagi pula, kamu hanya bisa melindungi orang lain, jika kamu bisa menjaga dirimu sendiri. Kalau tidak, kamu hanya akan menjadi beban bagi orang yang kamu jaga tersebut. Bawa kopermu itu kembali ke kamarmu.”
“Bunda—” lawan Kak Nolan.
“Sekarang, Nolan. Mereka bisa melindungi keluarga mereka sendiri. Mereka tidak butuh kamu ada di sana menambah tugas mereka. Aku kenal Meghan, jadi aku tahu dia bukan gadis yang lemah,” kata Bunda dengan nada tidak boleh dibantah.
Kakak memandang Ayah dan Bunda dengan kesal, tetapi dia mengalah. Saat melirik Kak Jericho, dia memberinya tatapan tajam yang menusuk. Kami melihat dia menaiki tangga menuju kamarnya. Aku mendesah lega. Ayah dan Bunda benar. Dia hanya menambah beban keluarga Meghan jika dia nekat pergi. Keluarga itu sudah biasa berurusan dengan sênjàta àpî, tidak dengan Kak Nolan.
Bunda kembali ke kamar, mengeluhkan kepalanya sakit. Ayah mengikutinya, sedangkan Kak Jericho berjalan menuju ruang olahraga. Aku dan Theo saling bertukar pandang. Kami memutuskan untuk kembali ke kamar. Aku perlu bicara dengan Meghan.
Dia menjawab ponselnya dengan cepat, sepertinya dia sedang menggunakannya saat aku hubungi. Tidak seperti ucapan Kak Nolan, Meghan tidak terdengar ketakutan. Dia khawatir dengan keadaan kesehatan orang tuanya akibat pecahnya perang.
“Aku harus mencari tahu apa yang terjadi supaya masalah ini bisa diselesaikan.” Dia mendesah pelan.
“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.
“Jadi, video itu ada hubungannya dengan orang di rumah kalian?”
"Iya. Cara mencari sumber pertama video itu gampang. Tim IT gedung kami masih berusaha untuk mencari tahu. Walau aku sayang kepada papaku, aku tidak mau punya masalah dengan Keluarga Gordon. Apalagi mereka sudah berulang kali menyangkal tidak membuat video itu.”
“Baik, Meghan. Semoga semuanya bisa segera diatasi.”
“Terima kasih, Amarilis. Sampaikan salamku kepada Theo.”
“Dia ada di sini.” Aku memutar sedikit ponselku agar kami berdua muat di dalam layar.
“Hai, Meghan,” sapa Theo.
Sahabatku membalas sapaannya sebelum kami mengakhiri panggilan video tersebut. Kak Nolan sangat berlebihan. Aku yakin Meghan juga melarang dia untuk datang. Walau suasananya genting, dia tidak seharusnya bertindak tanpa berpikir. Ayah benar. Memangnya dia bisa apa dengan ilmu bela dirinya yang tidak seberapa itu di depan pêlúru yang super cepat?
Kakak sudah terlihat lebih tenang pada keesokan paginya. Sepertinya dia dan Meghan sudah bicara lagi mengenai situasi di sana. Dia pergi bersama Papa dan Theo ke kantor dengan wajah lebih tenang. Kak Jericho pamit kembali ke ibu kota. Dia punya jadwal pekerjaan yang padat yang tidak bisa terus diundur. Akhirnya, hanya ada aku dan Bunda di rumah.
__ADS_1
Melihat wajah sedihnya, aku memeluk dia dari belakang. Barulah dia tersenyum dan mengusap-usap lenganku. Kami baru menikah selama satu bulan, terlalu cepat untuk bersedih karena aku belum hamil. Masih ada banyak waktu untuk mencoba lagi.
Kami ke toko roti kepunyaan Mama dan makan siang bersama mereka. Aku senang melihat ada banyak orang yang datang pada jam istirahat makan siang. Syukurlah, ekonomi keluarga mereka bisa terjaga dengan baik. Hercules sudah bekerja, jadi mereka sudah tidak punya tanggungan lagi.
Aku tidak melewatkan kesempatan itu untuk memotret satu kue baru di toko Mama dan membuat postingan baru untuk mempromosikannya di media sosialku. Senang rasanya bisa sesekali menolong orang tuaku memperkenalkan produk mereka ke lebih banyak orang.
Tanpa kami duga, orang-orang yang berteman denganku di media sosial berdatangan mulai dari sore hari. Aku dan Bunda sampai ikut membantu melayani mereka. Sayangnya, kue yang aku posting tadi tidak tersisa banyak, jadi beberapa mengeluh karena tidak kebagian. Namun Mama berjanji akan membuatkan lebih banyak untuk mereka yang memesannya.
Dia tersenyum puas melihat banyak yang memesan kue yang sama. Itu akan memudahkan dalam membuatnya dalam jumlah besar, karena hanya butuh satu adonan. Mereka pun bisa menutup toko lebih cepat karena semua kue dan roti yang ada telah ludes diborong teman-temanku.
“Menjadi istri Theo memang ada keuntungannya tersendiri, ya?” goda Bunda.
“Semua ini karena ide anehmu agar kita semua berpakaian layaknya menghadiri pernikahan putri dan menantu kita.” Mama tertawa kecil. “Amarilis sekarang sangat cantik, karena itu mereka semua terpesona dan kini, mau menjadi temannya.”
“Sayangnya, itu benar. Orang-orang akan mendekat jika kita menarik dan menjauh saat kita jelek. Andai aku miskin, aku yakin tidak semua kenalanku masih mau dekat denganku,” kata Bunda.
“Kalian sedang apa?” tegur Papa yang sudah selesai menutup toko. “Ayo, kita makan buah potong sepuasnya. Aku yang traktir.”
Kami bersorak senang mendengar ajakan Papa. Mereka memasuki mobil mereka, aku mengikuti Bunda. Kami menuju rumah makan yang cukup terkenal dengan buah segarnya yang disajikan dengan berbagai menu tambahan pilihan. Ada es krim, sirup, bahkan bumbu rujak.
Liburan itu aku nikmati bersama orang tuaku, sedangkan Theo ikut bersama Ayah dan Kak Nolan ke hotel. Aku tidak tahu apa saja yang mereka lakukan, tetapi aku senang melihat dia bahagia setiap kali kami bertemu pada malam harinya.
“Amarilis, bangun. Giliran kamu yang mandi.” Theo menepuk-nepuk lenganku.
“Sebentar lagi.” Entah mengapa badanku terasa lemas membuat aku malas bangun.
“Lo enggak joging tadi. Bangun. Kita bisa terlambat sarapan bersama keluarga lo,” desak Theo.
“Aku masih mengantuk.” Aku menarik selimut agar menutup sampai ke kepalaku.
“Malas itu jangan dituruti. Cepat, bangun.” Dia menyibak selimutku lagi.
Aku terpaksa menurut dan segera duduk. Mendadak keadaan di sekitarku berputar-putar membuat kepalaku pusing. Aku menggunakan tangan untuk menahan tubuhku agar tidak jatuh terbaring. Lalu perutku tiba-tiba bergejolak, memaksa aku untuk muntah. Aneh. Apa yang terjadi pada tubuhku? Apa aku semalam salah makan?
“Sayang, ada apa?” Theo duduk di sisiku. “Muka lo pucat sekali.”
__ADS_1
[Aku suka banget dengan HJ-STORY. Kebetulan yang sakit sama-sama yang perempuan, aku pasang gambar ini sebagai selingan. Terima kasih sudah membaca, teman-teman.]