Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
184|Kebiasaan Lama


__ADS_3

Aku menelan ludah dengan berat melihat dia duduk bersandar di kepala tempat tidur dengan mata menatap tajam. Kedua tangannya disilangkan di depan dadanya. Berusaha untuk bersikap seperti biasanya, aku menyapa lalu mendekat untuk mênciúm bibirnya. Dia tidak membalas.


“Aku mandi sebentar.” Tanpa menunggu responsnya, aku membersihkan diri, berganti pakaian, lalu duduk di sisi ranjang di mana aku biasanya berbaring. “Aku minta maaf.”


“Kenapa lo minta maaf? Memangnya lo melakukan kesalahan?” tanyanya.


“Aku salah tidak memberi tahu kamu aku tidak makan malam di rumah.”


“Oh. Lo tahu itu salah, tetapi tetap dilakukan. Lo ternyata lebih sibuk, ya, dari Richo,” sindirnya.


Aku mau membalas, lalu teringat kalau aku yang salah di sini, jadi aku yang harus bersabar agar kami tidak bertengkar semalaman. “Sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku janji tidak akan mengulangi. Jangan marah lagi.” Aku memeluk pinggangnya dan meletakkan kepalaku di lengannya.


“Apa dia semenarik itu sampai lo lupa sama suami lo?” katanya, masih marah.


“Dia mau membantu aku membalas perbuatan Nisa. Kalau kamu kesal begini, aku akan tunggu besok saja untuk menceritakannya.” Aku melepaskan pelukanku. “Aku harus melakukan sesuatu sebelum tidur. Setelah kamu tenang, temui aku di ruangan sebelah.”


Dia menahan tanganku. “Bantuan apa?” tanyanya, ingin tahu. Aku mengulum senyum.


Aku menceritakan semua yang Bastian sampaikan kepadaku. Dia mendelik tajam ketika tahu pria itu menyukai Katelia saat SMU. Duh, aku salah lagi. Seharusnya aku tidak mengatakan bagian itu. Dia mengangguk setuju setelah aku selesai bicara.


“Sungguh? Kamu akan ikut denganku hari Kamis nanti?” tanyaku penuh harap. Dia mengangguk.


“Gue mau lihat langsung. Lo akan pilih dia atau gue.” Dia memicingkan matanya.


Aku punya kebiasaan baru setiap pagi hari sembari menunggu Theo mandi. Aku memainkan lagu klasik dengan biolaku. Aku tidak tahu persis pada usia berapa si kecil sudah bisa mendengar, tetapi aku mau berlatih dahulu agar nanti semakin terbiasa.


Kami melakukan segalanya yang kami bisa untuk mendukung pertumbuhan si kecil dalam ràhîmku. Minum súsú yang kurang aku suka pun aku turuti asal dia berkembang sempurna. Apalagi hari ini dia memasuki minggu kesepuluh. Dua minggu lagi, maka aku bisa mengumumkan hal ini kepada Sonata.


Dia pasti akan menjadi tante yang baik untuknya, karena dia sudah menjadi sahabat yang sempurna bagiku. Aku tidak perlu memedulikan orang yang tidak menginginkan kami. Semakin sedikit orang yang ada di sekitar kami, maka semakin kecil risiko terluka.


Aku punya tiga sahabat baik saat SMU, ternyata ketiganya tidak tulus berteman denganku. Nora yang menjadi orang pertama yang akrab denganku di kampus justru menjadi musuh dalam selimut. Dia menginginkan orang yang aku sayangi. Karena itu, aku tidak langsung percaya kepada Bastian.


“Wah, rumahnya besar juga!” pujiku melihat rumah yang kami datangi.


“Kalau kecil, mereka tidak mungkin melakukan ini. Musiknya terlalu keras. Ini tidak baik untuk si kecil, sayang.” Theo melihat ke pintu rumah dengan waswas.

__ADS_1


“Hanya sebentar, lalu kita pulang,” janjiku.


Dia pun keluar dari mobil dan membantu aku. Bastian yang juga baru datang mendekati kami. Dia memperkenalkan dirinya kepada Theo, tetapi pria itu tidak mau menerima uluran tangannya. Teman baruku itu hanya tertawa mengerti. Dia mengajak kami untuk masuk ke rumah.


Bastian meminta kami untuk menunggu di teras sejenak. Dia memasuki rumah itu dan tidak lama kemudian bunyi musiknya berkurang. Barulah dia datang dan mengajak kami masuk. Benar-benar orang yang pengertian. Gendang telingaku bisa pecah kalau musik itu masih keras.


“Kalau tidak ada yang memberi tahu pemusik, mereka pikir semua orang nyaman dengan volume setinggi itu.” Dia menggeleng pelan.


“Mengapa yang lain tidak ada yang keberatan?” tanyaku heran.


“Apa kamu tidak lihat sekitarmu?” Dia melebarkan tangannya. “Mereka sudah màbúk, Amarilis.”


Aku memperhatikan orang-orang yang duduk di sofa, yang berdiri di dekat dinding, yang berdansa di tengah ruangan, barulah aku mengerti. Mereka sudah tidak peduli dengan apa pun yang ada di sekitar mereka. Ya, Tuhan. Nisa kembali ke kebiasaan lamanya yang suka màbúk-màbúkan.


Bastian berhenti di sebuah ruangan di mana ada makanan dan minuman yang disajikan di atas meja berbentuk persegi. Ada bar di sebelahnya di mana ada beberapa bartender yang siap untuk melayani para tamu undangan. Orang lebih banyak mengantri di sana daripada di meja.


“Jadi, kebiasaan buruk Nisa yang kamu maksud adalah minum àlkôhol?” tanyaku, pura-pura terkejut. Dia mengangguk. “Dia selalu normal di sekolah.”


“Tentu saja. Dia tidak mungkin màbúk pada hari sekolah. Memangnya dia sudah gila? Orang tuanya pun tidak tahu dia punya kebiasaan itu.” Bastian tertawa kecil.


“Tunangannya juga tidak tahu hal ini,” tebakku. Bastian menatap aku penuh arti.


Dia sudah memiliki segalanya. Usaha butik yang sukses dan laris, tunangan yang kaya raya serta terpandang, jadi masa depannya cemerlang. Lalu apa yang kurang sehingga dia mencari kepuasan dengan kembali ke àlkôhol dan bersenang-senang di sebuah pesta?


Dia melirik Theo. “Kamu pasti akan bertemu dia dan tunangannya pada satu undangan yang kalian hadiri. Jadi, kalian bisa mulai dengan mengakrabkan diri.”


“Lo menyarankan istri gue untuk selingkuh?” tuduh Theo dengan tajam.


“Dia bilang berteman, Theo, bukan selingkuh,” ralatku.


“Tidak ada bedanya. Laki-laki dan perempuan yang selingkuh itu berawal dari teman.”


“Aku tidak melihat Nisa. Di mana dia?” tanyaku melihat ke sekeliling kami, mencoba mengalihkan pembicaraan. Tujuanku ke sini belum tercapai.


Bastian melirik jam tangannya. “Ah, dia pasti ada di lantai atas sekarang. Ayo. Persiapkan dirimu. Kamu tidak akan suka melihat ini.”

__ADS_1


“Kalau tidak akan suka, untuk apa lo suruh lihat?” protes Theo lagi.


“Kamu mau bantu aku atau tidak?” Aku mulai kesal melihat sikapnya yang menjengkelkan itu.


Dia merapatkan bibirnya, maka aku mempersilakan teman baruku itu untuk menunjukkan jalan kepada kami. Bastian mendekati tangga dan kami mengikutinya. Keadaan di atas lebih buruk dari di bawah. Orang-orang mulai saling bersentuhan terlalu intim. Aku tidak tahu apa mereka berpacaran, suami istri atau kenalan biasa.


Bastian berhenti, lalu memberi sinyal dengan anggukan kepalanya. Aku melihat arah pandangannya dan menemukan wanita yang aku cari. Nisa bêrpèlukan sambil bêrciúman bibir dengan seorang pria yang aku tahu bukanlah tunangannya. Dilihat dari gerak-geriknya, dia sudah màbúk berat.


Aku melihat ke sekitarku. Gila. Mungkinkah semua orang ini tidak punya hubungan apa pun, tetapi saling menikmati tubuh satu sama lain? Pesta apa ini? Aku tahu Nisa kecanduan àlkôhol saat sekolah. Namun dia sudah bertobat dan berjanji tidak akan menyentuhnya lagi.


Lalu apa yang sedang terjadi di sini? Pantas saja Bastian melarang aku membawa Kak Jericho. Kalau hal ini sampai tercium media saat Kakak ada di sini, bukan hanya reputasi, kariernya pun hancur. Siapa orang-orang ini? Apa mereka tidak takut ada yang tahu perbuatan mereka di sini?


“Kamu bilang, kamu punya reputasi yang harus dijaga. Lalu mengapa Kak Jericho tidak boleh ke sini, sedangkan kamu tidak apa-apa?” tanyaku bingung. “Apa kamu tidak takut orang tahu kamu juga ikut màbúk-màbúkan seperti mereka?”


Dia tertawa kecil. “Ini rumah salah satu kerabat kami. Aku kadang-kadang tinggal di sini saat mereka keluar kota. Untuk apa aku dan Nisa ada di tempat yang sama kalau ini bukan rumah keluarga?”


Ini gampang sekali. Aku hanya perlu menunjukkan kepada tunangannya apa yang Nisa lakukan di belakangnya, maka hubungan mereka akan hancur. Namun aku perlu tahu dahulu apa perempuan itu memang sayang kepada calon suaminya. Kalau tidak, rencana ini sia-sia belaka.


Karena dia kelihatannya bahagia bisa bermesraan dengan laki-laki di rumah tadi. Aku tidak melihat tanda-tanda tidak nyaman atau penolakan. Walau dia dalam pengaruh àlkôhol, dia tidak akan lupa dengan perasaannya sendiri, ‘kan? Hm. Aku harus cari tahu informasi sebanyak mungkin mengenai efek minuman keras.


“Sepertinya lo senang bisa bertemu dengan selingkuhan lo itu.” Theo menutup pintu kamar kami.


Aku membalikkan badan agar bisa bicara sambil berhadapan dengannya. “Sayang, cukup. Kami hanya berteman.”


“Berteman? Apa lo tidak merasakan sesuatu mendengar dia mengatakan pernah suka sama lo?” Dia menatap aku tanpa emosi. “Lo berdebar-debar? Berbung-bunga, mungkin?”


“Aku tidak merasakan apa pun. Hanya kamu yang bisa membuat aku berdebar-debar.”


“Oh, ya?” Dia selangkah mendekat. “Lo hanya merasakan sesuatu dengan gue?” Dia berhenti di depanku. Aku mengangguk. “Lo naif, Kat. Lo pikir semua orang setulus apa yang matanya tunjukkan kepada lo.” Dia membelai pipiku. “Hati-hati. Pria itu tidak bisa dipercaya.”


“Apa maksudmu?” tanyaku bingung. “Kakak sudah mengonfirmasi semua ceritanya. Bastian orang yang baik, sayang. Dia tidak punya tujuan buruk.”


“Kalian berdua sama-sama naif.” Dia menatap aku dengan serius. “Bastian tidak jujur kepada kalian.”


__ADS_1


[Kat (jinjit setinggi mungkin): Aku mau dicium, bukan diomeli terus.]


[Theo (cubit pipi dengan gemas sambil tersenyum licik): Cium Bastian saja. Lo, ‘kan, senang waktu tahu dia suka sama lo.]


__ADS_2