
Aku sudah mencurigai hal itu. Bukan karena sikap dinginnya kepadaku, tetapi seorang ibu tidak akan bisa aku tipu. Sebaik apa pun aku bersandiwara di depannya, dia pasti tahu ada yang berbeda pada sikap putrinya sendiri. Apalagi cara bicara kami berbeda.
“Kamu pasti punya impian besar. Aku tidak mau kami menjadi penghalang. Jika aku bisa bantu, maka aku akan menolong kamu. Tetapi kamu tidak perlu memikirkan kami lagi. Kamu sudah banyak berkorban untuk kami, Nak,” katanya lirih. “Aku tidak mau mengambil keuntungan terus darimu.”
“Ma, siapa pun aku, aku tetaplah Amarilis. Putri Mama dan Papa, juga kakak Hercules. Jiwaku tidak sama, tetapi darah yang mengalir di tubuhku adalah darah kalian.” Aku menatapnya dengan serius. “Aku kembali ke Medan bukan untuk mengorbankan diri. Aku butuh pengalaman kerja.”
“Pengalaman kerja?” tanyanya bingung.
“Iya. Aku sudah katakan kepada Mama. Aku akan menolong Mama dan Papa mendapatkan toko lagi.” Aku mengalihkan pembicaraan agar kami tidak bersedih membicarakan Amarilis.
Perhatian Mama pun teralihkan dengan membahas keadaan penjualan kuenya. Mereka masih punya pelanggan yang mau memesan kue dalam partai besar untuk sebuah acara. Mama yang menangani langsung setiap pemesanan agar tidak terjadi kecurangan lagi.
Mama sudah punya cukup uang untuk mempekerjakan dua orang untuk membantunya memasak. Papa lebih banyak berurusan dengan pengantaran. Aku senang mendengar usaha mereka sudah mulai naik lagi. Jika selama ini aku hanya bisa membantu lewat promosi di media sosial, maka aku akan terlibat langsung nantinya.
“Jangan salah paham atas ucapanku tadi,” kata Mama, sebelum kami berpisah. Dia membelai pipiku. “Kamu tetap putriku. Kamu akan kami sambut dengan tangan terbuka saat kamu datang nanti. Tapi jangan korbankan dirimu untuk kami. Aku mau kamu bebas meraih impianmu.
“Aku tahu apa yang kamu lakukan kepada putriku walau dia tidak pernah mengadu. Katelia,” bisiknya, “kami memaafkan kamu. Terima kasih sudah menjaga tubuhnya dengan baik. Masa depan kalian ada di tanganmu sekarang. Aku percaya kamu akan memutuskan setiap hal dengan bijak.”
“Maafkan aku,” ucapku lirih.
“Kamu sudah dapat hukumannya, kami tidak akan menambahnya. Jauhi dendam. Itu tidak baik untukmu. Kamu masih muda, jangan sia-siakan waktumu untuk membalas perbuatan orang yang sudah jahat kepada kalian.” Dia memeluk tubuhku. “Kami pergi, ya.”
Aku melingkarkan tanganku di tubuhnya, menarik napas dalam-dalam menghirup aroma khasnya. Padahal dia tidak memasak kue, tetapi aku mencium aroma masakan yang lezat itu. Aku merasa bersalah sudah membuat keluarga ini kehilangan orang yang mereka sayangi.
Jadi, pemberian maaf mereka sangat berarti untukku. Meski begitu, aku tidak bisa menuruti nasihat mama Amarilis. Justru karena aku masih muda, aku harus mempersiapkan diri untuk membalas dosa orang yang sudah jahat kepada putri mereka. Ini bukan hanya tentang aku, tetapi juga Amarilis.
__ADS_1
Aku mampir ke toko untuk membeli sebuah kardus sebelum pulang. Masih ada sisa dua minggu dari masa tinggalku di kamar itu, maka aku akan tinggal sampai masa sewanya habis. Aku menyortir buku milikku dan yang bukan. Buku milik Kakak bisa aku berikan ketika kami bertemu, tetapi milik Theo ….
Matt datang beberapa menit kemudian setelah aku mengirim pesan kepadanya. Dia mengendarai sepeda motor, bukan mobil. Padahal aku sudah bilang buku Theo ada banyak. Dia membawakan makan malam untukku yang tidak aku tolak.
Selesai dengan buku, aku beristirahat dan memutuskan untuk mengerjakan sisanya di lain hari. Aku tidak punya banyak barang pribadi, jadi kepulanganku nanti tidak akan merepotkan. Koper lainnya akan aku titip di apartemen Kak Jericho.
Pada pagi harinya, aku terbangun karena ponselku bergetar. Baru kali ini aku bisa tidur sampai siang, malah ada yang merusak rencanaku. Aku memaksakan diri untuk membuka mata, lalu mengambil gadget itu dan membaca pesan yang baru masuk.
“Apa-apaan—” Ada begitu banyak pesan yang sama yang memenuhi kotak masukku dari satu nomor kontak saja. Gue ada di luar. Cepat mandi dan pakai baju kasual.
Aku terpaksa membalas dahulu agar dia tidak terus mengirim pesan, lalu bersiap-siap. Apa lagi mau cowok yang menjengkelkan itu? Kami sudah lama tidak bertemu dan berkomunikasi, mengapa dia malah datang hari ini, sepagi ini?
“Lo tidur atau mati, sih? Lama banget. Ayo, naik.” Itu adalah kalimat pertamanya setelah berbulan-bulan tidak bertemu. Yang benar saja. Namun apa yang bisa aku harapkan dari seorang Theo? Dia selalu bicara apa adanya.
Baru beberapa meter, dia sudah berhenti, mampir di sebuah warung. Dia tidak pernah bertanya, tetapi tahu aku sudah sarapan atau belum. Lontong sayur yang tersedia di warung itu sangat enak, jadi aku tidak menolak ketika dia menambah satu porsi untuk kami santap berdua. Sepertinya dia juga suka dengan masakan mereka.
“Lo menolak sekali lagi, gue beli tali untuk mengikat tangan lo,” ancamnya.
Aku biasanya kesal dan mengumpat sendiri mendengar kalimat arogannya itu. Anehnya, aku malah tersenyum bahagia. Ya, Tuhan. Aku merindukan dia dan kata-kata pedas tak tertandinginya itu. Aku pun mengalah dan memeluk dia dari belakang.
Dia berkendara cukup lama, tetapi aku menikmati pemandangan yang kami lewati. Tempat ini tidak akan aku lihat lagi dalam waktu dekat. Setelah beberapa bulan tinggal di Medan, aku akan pergi jauh untuk melanjutkan studiku. Itu pun kalau aku lulus mendapatkan beasiswa.
Berbeda dengan Katelia. Dia sudah dipastikan akan menikah setelah tamat kuliah, jadi aku tidak pernah merencanakan soal studiku sebaik sekarang. Toh, aku akan sibuk dengan urusan wanita kaya yang sudah menikah pada umumnya: melakukan aksi sosial, ikut perkumpulan, dan mendampingi suami. Aku tidak akan diizinkan bekerja.
Orang-orang berpikir menjadi anak perempuan dari keluarga kaya raya itu enak, padahal dari kecil, aku diajari etika dan cara membawa diri yang benar. Karena tidak ada keluarga terpandang yang mau memilih perempuan serampangan menjadi menantu mereka.
__ADS_1
Itu juga yang membuat aku menggunakan standar yang sama terhadap orang-orang di sekitarku. Aku membenci perempuan jelek yang tidak merawat wajah dan tubuhnya, tidak bersikap elegan, yang berujung perundungan.
Aku kini mengerti. Makan saja susah, apalagi memikirkan untuk sekadar merawat wajah. Katelia lahir di keluarga kaya raya, makanya dia cantik, bersih, dan harum. Teman-teman dari keluarga biasa bisa sekolah saja sudah syukur.
“Lo sedang apa?” tanya Theo, membuyarkan lamunanku. “Turun. Kita sudah sampai.”
“Oh. Iya.” Aku larut dalam pikiranku sendiri sampai tidak sadar kami sudah tiba di tujuan. Aku melihat ke sekelilingku. Mengapa dia membawa aku ke sini?
Kami berjalan santai menyusuri kebun besar itu sambil bergandengan tangan. Walau hari ini hari Senin, ada rombongan anak sekolah yang datang berkunjung. Jadi, suasana kebun itu tidak sepi. Apalagi para orang tua mereka juga ikut mendampingi.
Zaman sekarang memang beda sekali dengan zamanku saat kecil. Papa dan Mama percaya saja kepada pihak sekolah setiap kali ada darmawisata. Mereka tidak ikut mengawasi kami, tetapi memercayakan kami sepenuhnya kepada pihak penyelenggara.
Puas berkeliling, dia mengajak aku makan siang di salah satu warung yang berbaris di pinggir jalan. Dia hanya diam saja saat kami makan, maka aku juga tidak bicara. Sikapnya sangat aneh. Untuk apa kami ke tempat ini berdua jika dia tidak membahas apa pun?
Namun saat malam tiba dan dia membawa aku ke sebuah mal, aku pun mengerti. Dia membawa aku ke tempat yang aku sukai, lalu diakhiri dengan tempat favoritnya. Aku menggeleng pelan mengingat kami berkeliling di kebun tadi dengan pohon melindungi kami dari terik matahari.
Kami menonton film dan makan malam, lalu dia mengantar aku pulang. Hatiku berat mengetahui kami akan berpisah dan tidak tahu kapan akan bertemu lagi. Seolah memahami pikiranku, dia mengantar aku sampai ke depan pagar.
Dia tidak melepaskan genggaman tangannya sehingga aku menoleh, berniat mengatakan sesuatu. Namun dia mendekatkan wajahnya dan mencium aku dengan lembut. Aku seharusnya mendorong tubuhnya menjauh, tetapi aku merindukan ini.
“Jaga dirimu baik-baik,” katanya, mengakhiri ciuman kami begitu saja. Aku mempererat pelukanku, tidak mau membiarkan dia pergi.
“Tidak, Theo. Jangan pergi.” Aku terisak.
“Gue pencemburu berat. Lo tidak akan bahagia bersama gue.” Dia mencium rambutku. “Cari pria lain yang lebih baik dari gue. Lo benar. Kita tidak akan bisa bersama.”
__ADS_1
“Tidak.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “Tidak, Theo. Kita cari jalannya bersama. Pasti ada jalan supaya kita bisa bersama.”
Dia memegang tanganku, memaksa aku untuk melepaskan pelukanku. Air mata semakin deras mengalir membasahi pipiku, tetapi dia tidak peduli. “Selamat tinggal, Katelia.”