Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
145|Membalas Kebaikan


__ADS_3

“Wow! Ini rumah atau gedung apartemen!?” ucapku terpukau.


Kami melewati jalan dengan pohon di sisi kanan dan kirinya sebelum tiba di depan rumah bertingkat tiga yang sangat besar berbentuk huruf L. Dilihat dari depan, ada pohon di bagian belakang rumah. Pekarangan depannya saja sudah luas, aku tidak sabar melihat bagian belakangnya.


“Aku tidak bisa mengajak kamu berkeliling. Tanah ini terlalu luas.” Dia mendekati pintu.


“Selamat datang, Tuan,” sambut seorang pria yang membukakan pintu. Rasanya seperti di film-film Inggris kuno!


Aku dipersilakan masuk dahulu dan ruangan depan itu sangat luas dengan lantai marmer mengilat, dinding yang dihiasi berbagai lukisan yang pasti mahal, dan lampu kristal bergantung di langit-langit. Tempat yang cocok untuk mengadakan pesta dansa.


Dia mengajak aku ke bagian samping dan aku terpukau melihat taman bunganya yang pasti indah pada musim semi. Sayang sekali, sudah menjelang musim gugur, jadi warna daun dan tanaman mulai menguning. Kemudian dia mengajak aku ke bagian belakang rumah. Seperti dugaanku, halamannya sangat luas. Ada rumah dua tingkat di sebelah kiri untuk tempat tinggal para pelayan.


Kami memasuki sebuah ruang duduk dan aroma teh yang harum serta kue yang lezat menyambut kami. Aku duduk di kursi di seberangnya dengan meja berada di antara kami. Ada perapian di dekat kami yang pasti romantis jika membakar kayu pada malam hari.


“Istriku.” Dia melihat ke bagian atas perapian. Aku ikut menatap ke arah yang sama. Ada lukisan seorang wanita bersama pria tua ini pada waktu masih muda. “Dia baru saja meninggal. Segalanya bagiku. Karena itu, aku mengaku tidak punya apa-apa lagi saat bertemu kalian.”


“Maafkan aku. Kalau aku tahu—”


“Keluargaku saja tidak peduli, memangnya kamu akan melakukan apa?”


“Setidaknya, aku dan Theo akan bersikap lebih baik kepadamu.”


“Tidak perlu. Aku justru suka kalian karena bersikap jujur.” Dia tertawa kecil. “Aku tertawa pertama kali sejak dia pergi adalah saat bersama kalian. Orang-orang bersikap baik kepadaku, karena mereka tahu siapa aku. Kalian tidak. Aku rindu diperlakukan layaknya manusia biasa.”


“Lalu mengapa orang sekaya kamu membutuhkan aku untuk mempromosikan makanan restoranmu yang sudah terkenal di seantero benua ini?” tanyaku bingung.


“Aku hanya mencari alasan agar kamu mau datang terus ke tempat usahaku. Itu caraku berterima kasih atas kebaikan kalian kepadaku. Aku bisa melewati masa dukaku berkat bantuan kalian.” Dia tersenyum sangat tulus.


“Terima kasih saja sudah cukup.” Aku tersipu. “Aku minta maaf jika kami terlalu keras kepadamu.”

__ADS_1


Aku mendengarkan dia menceritakan tentang istri dan keluarganya. Dia bahkan tidak segan berbagi rahasia suksesnya. Aku ikut prihatin mendengar anak-anaknya meninggal pada usia masih muda. Satu orang karena peristiwa penembakan di sekolah dan satu lagi karena kelebihan dosis.


Dia dan istrinya pun mengarahkan perhatian mereka sepenuhnya pada bisnis restoran mereka. Untuk memiliki anak lagi, mereka tidak sanggup merasakan kehilangan lagi. Mereka punya banyak anak asuh yang sebagian ingat jasa mereka, sebagian lagi sudah tidak peduli.


Orang tua yang malang. Dia memiliki segalanya, tetapi mengalami banyak kehilangan besar dalam hidupnya. Yang aku alami tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia. Aku hanya kehilangan identitas yang justru mengantar aku untuk bersama keluargaku lagi. Dia kehilangan anak-anak dan istri untuk selamanya.


“Apa kamu percaya sekarang?” godanya.


“Ini tidak bisa dipercaya.” Aku berdecak pelan. “Kamu memiliki segalanya, tetapi mau mati.”


Sayup-sayup terdengar salakan anjing dari arah depan rumah. “Ah, itu pasti Buddy. Dia baru kembali dari salon untuk memotong rambutnya.”


Pintu depan dibuka dan anjing yang aku lihat di kabin itu berlari masuk. Dia mendekati Antonio dan meminta untuk dielus. Menyadari ada bau lain, dia menoleh dan mendekati aku. “Dia pasti teringat dengan sosis yang aku berikan kepadanya.” Kami tertawa bersama.


Aku sangat bersyukur dengan pertemuan itu, karena Antonio bersedia memberikan semua informasi yang aku butuhkan untuk tesisku. Jadi, aku tidak perlu mengajukan proposal ke berbagai perusahaan untuk melakukan riset. Sudah ada orang yang bersedia untuk itu.


Akhir pekanku pun terasa menyenangkan. Aku selalu datang berkunjung ke rumah makan itu pada hari Minggu. Kadang aku bertemu dengan Antonio dan Buddy, kadang juga tidak. Walau tidak ada Theo, aku punya keluarga baru di negeri asing ini.


“Hai, Kak!” seru Hercules dengan wajah bahagia.


“Ciiee, yang sudah sarjana,” godaku, melihat dia sudah memakai toganya. “Selamat, adikku. Semoga acara hari ini berjalan lancar, ya.”


“Terima kasih, Kak. Sayang sekali Kakak tidak ada di sini.” Dia cemberut.


“Iya, aku juga baru ujian tengah semester, tidak mungkin pulang,” sesalku.


Kami mengobrol sesaat sebelum Mama mengambil alih dan memonopoli pembicaraan. Padahal kami baru melakukan panggilan video pada akhir pekan. Aku hanya mendengarkan dia mengeluh tentang Papa dan Hercules yang susah diajak foto bersama sebelum berangkat.


Waktu berjalan cepat sekali. Matt dan Hercules sudah menjadi alumni kampus, aku pun akan segera tamat dari lanjut studiku. Tidak sabar rasanya mau pulang dan memulai semua rencanaku untuk Chika, Nisa, dan Rahma. Mereka pasti hidup tenang, tidak ingat sudah berbuat kesalahan besar.

__ADS_1


“Setelah berbulan-bulan menemui dokter ahli gizi dan belum ada perkembangan apa pun, aku hari ini senang sekali, Amarilis!” Meghan memeluk aku dengan erat.


Aku baru saja datang dan dia mendekati aku untuk mengatakan itu. “Ada apa?”


“Apa kamu tidak melihat ada yang berbeda?” Dia melepaskan pelukannya dan memutar tubuhnya.


“Wow, Meghan. Berat badan kamu berkurang?” tanyaku senang. Dia mengangguk dengan cepat.


“Sejak latihan fisik dengan instrukturmu, beratku berkurang lima kilo!” Dia melompat bahagia. “Kita tidak boleh terlambat latihan nanti. Jadi, jangan diskusi terlalu lama. Aku senang melihat wajah terkejut Clara pagi tadi. Dia tidak percaya akhirnya usahaku berhasil juga!”


Aku ikut senang melihat sahabatku bahagia. Lima kilo itu cukup banyak untuk waktu tiga bulan sejak kami berlatih bela diri bersama. Dia juga terlihat semakin cantik karena rasa percaya dirinya semakin pulih. Walau dia tidak berambut pirang dan bermata biru seperti kakaknya, rambut cokelat dan mata abu-abu juga tidak kalah cantiknya.


Theo memang berlebihan. Tidak semua temanku adalah orang yang salah. Sampai detik ini, aku tidak salah memilih Sonata dan Meghan. Mereka baik di depan juga di belakangku. Kami juga sama-sama saling mendukung dalam segala hal, baik studi maupun cita-cita kami ke depan.


Mengingat Theo, aku tidak tahan lagi menunggu. Biar saja kami ketahuan mama atau papanya. Aku sangat khawatir tidak mendengarkan kabar apa pun darinya. Matt juga tidak membantu sama sekali. Dia selalu menghindar jika aku mulai menyinggung tentang kakaknya itu.


Aneh. Sampai deringnya habis, Theo tidak menjawab panggilan dariku. Aku mencoba lagi dan kali ini, memeriksa layar. Ternyata aplikasi menunjukkan nomor itu tidak terhubung. Mengapa ponsel Theo tidak aktif? Untuk memastikannya, aku menelepon menggunakan sambungan internasional.


“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.” Kalimat yang diucapkan rekaman itu mengejutkan aku.


Theo tidak pernah mematikan nomornya, kecuali dalam penerbangan. Dia tidak akan pulang tanpa memberi tahu aku. Jadi, mengapa nomor ponselnya tidak aktif? Apakah telah terjadi sesuatu? Oh, Tuhan. Semoga saja aku salah.


Aku segera menghubungi Matt. Dia menjawab cukup lama, tetapi aku lega bisa melihat wajahnya. Dia menatap aku dengan mata sayu tanpa cahaya. “Hai, Kak.”


“Matt? Ada apa denganmu? Apa kamu sakit?” tanyaku khawatir. Aku tidak pernah melihat wajahnya seperti itu setiap kali kami melakukan panggilan video.


“Tolong, jangan menghindar lagi. A-aku mencoba menghubungi Theo dan nomornya tidak aktif. Apa dia baik-baik saja? Apa dia dan perempuan itu menikah, makanya dia tidak mau bicara denganku lagi?” tanyaku tanpa menutupi kepanikanku.


“Maafkan gue, Kak. Gue tidak mengatakan apa pun karena kami juga dalam keadaan tidak pasti.” Dia mengusap wajah dengan tangannya. “Ada kabar buruk dan gue harap Kakak duduk dahulu.”

__ADS_1


Jantungku nyaris berhenti mendengarnya. Ada kabar buruk? Oh, Tuhan. Seluruh tubuhku gemetar dan aku susah payah menuruti permintaannya untuk duduk. Apa yang telah terjadi kepada Theo?



__ADS_2