
“Tidak,” jawab mama Amarilis dengan tegas.
Selama beberapa bulan ini, dia bersikap lebih lembut kepadaku. Jauh berbeda dengan dia yang sangat kasar dan tidak peduli aku hidup atau mati. Namun aku tidak menduga dia akan mengatakan itu saat menanggapi kabar kelulusanku. Ibu penjual lontong itu saja bersorak senang bersamaku.
“Mengapa tidak, Ma? Aku lulus, lalu mengapa aku sia-siakan kesempatan ini?” protesku.
“Aku sudah bilang, tidak ada uang untuk membiayai kuliahmu.” Dia mengingatkan aku mengenai hal itu lagi. “Usaha kue dan rotiku memang sedang bagus, tetapi aku tidak tahu sampai kapan keadaan akan sebaik ini. Jadi, aku tidak bisa memberikan uangku untukmu.”
“Kalau masalahnya itu,” aku meletakkan sebuah buku tabungan di depannya dan suaminya, “aku punya cukup uang untuk membayar biaya kuliahku selama dua semester. Sisanya akan aku usahakan lewat beasiswa dan bekerja sambilan seperti yang aku lakukan di sini.”
Mereka membulatkan mata tidak percaya melihat angka pada halaman buku tabungan tersebut. Mama Amarilis sampai menggunakan telunjuknya untuk menghitung ada berapa jumlah angka nol pada saldonya. Aku tersenyum melihatnya.
“Bagaimana kamu bisa mengumpulkan uang sebanyak ini dalam waktu singkat?” tanya wanita itu.
“Empat belas bulan bukan waktu yang singkat, Ma,” ralatku. “Jadi, aku pamit. Aku mohon Papa dan Mama mendoakan aku selama berada jauh dari rumah. Aku usahakan pulang jika ada uang untuk membeli tiket pesawat. Atau kalian bisa datang ke sana mengunjungi aku.”
“Tidak.” Mama Amarilis meletakkan buku itu ke depanku kembali. “Siapa yang akan menolong usaha kue dan rotiku kalau bukan kamu? Aku bisa saja bangkrut dan tidak punya uang untuk membayar orang lagi. Lalu siapa yang membantu aku membuat kue?”
“Mama tidak akan bangkrut. Siapa yang akan tahan berpuasa terlalu lama tidak menikmati kue enak buatan Mama?” bujukku, setengah menggodanya. “Aku janji akan membantu promosi juga jika aku sudah punya cukup uang untuk membeli laptop.”
Usaha kuenya sangat laris. Orang-orang tidak hanya membeli kue yang disajikan di toko kecilnya, tetapi juga suka memesan kue dan roti darinya untuk acara kecil maupun besar. Jika keadaan terus begini, aku yakin dia bisa membeli toko yang lebih besar dan mempekerjakan lebih banyak orang.
Selama dia rajin melakukan promosi lewat media sosial tokonya, maka pelanggannya akan semakin banyak. Kue adalah usaha yang cukup stabil, karena orang-orang suka menyajikannya pada acara di rumah, kantor, atau sebuah perayaan. Dia tidak akan bangkrut, asal anaknya tidak mencuri uangnya.
“Iya, Ma. Biar saja Riris pergi. Bukankah kita juga yang akan merasa bangga punya putri yang sangat cerdas dan rajin seperti dia? Jika dia yakin dengan pilihannya, maka sebagai orang tua, kita harus mendukungnya.” Papa menyentuh tangan Mama yang ada di atas meja.
“Terima kasih, Pa,” ucapku senang.
Begitu mendengar kata iya dari mama Amarilis, aku segera memeriksa harga tiket pesawat lewat ponsel. Lalu mencari informasi mengenai kamar sewa yang murah yang tidak jauh dari lokasi kampus. Sayang sekali, keluarga Amarilis tidak punya kenalan di sana yang bisa membantu.
Lalu aku teringat dengan dua orang yang aku kenal. Benar juga! Apa yang aku pikirkan? Amarilis tidak ada kenalan, tetapi aku punya. Orangnya bahkan sangat dekat denganku, jadi informasi yang dia berikan pasti benar. Mereka tidak akan mempermainkan aku.
“Ada apa?” tanya Kak Jericho, kakak keduaku. Dia melihat ke sekeliling kami dengan khawatir. “Kita seharusnya tidak bertemu begini.”
__ADS_1
“Aku sudah sarankan kita bicarakan ini lewat ponsel, Kakak yang memaksa untuk bertemu,” balasku, tidak mau kalah.
“Ya, sudah. Ini informasi yang kamu butuhkan.” Dia memberikan sebuah amplop kepadaku. “Kak Nolan sampai heran aku menanyakan hal ini kepadanya. Gara-gara kamu, aku terpaksa membantu skripsinya pada liburan Natal tahun ini.” Aku tertawa mendengarnya.
“Terima kasih banyak, Kak.” Aku menyentuh tangannya. “Jangan lupa janji Kakak kepadaku.”
“Kamu gila, apa kamu tahu itu? Kamu berhasil mengumpulkan uangmu sendiri untuk kuliah. Catat hal ini. Kamu akan menyesal menunda satu tahun untuk kuliah demi harga diri,” ejeknya.
“Kak, aku bisa belajar dengan giat supaya lulus dalam waktu tiga setengah tahun saja. Jadi, apa yang perlu aku sesali?” tantangku. Aku tertawa melihat dia membulatkan matanya. Masa dia tidak tahu hal sesederhana itu? Terlambat kuliah bukan masalah. Tinggal percepat kelulusannya saja.
Hal pertama yang aku lakukan adalah memesan tiket pesawat. Aku menuju ATM terdekat untuk melakukan pembayaran. Namun saat memeriksa saldo, aku kehilangan begitu banyak uang. Aneh. Aku yakin saat menunjukkan buku ini kepada orang tua Amarilis, jumlahnya masih utuh.
Sial. Aku membutuhkan uang itu untuk kuliah. Setelah susah payah mengumpulkannya selama empat belas bulan malah hilang begitu saja. Aku membayar tiket terlebih dahulu, kemudian menuju bank untuk melaporkan masalah tersebut.
“Menurut laporan pada sistem kami, Adik melakukan transaksi lewat mobile banking.” Wanita dari bagian layanan pelanggan bank menjelaskan sambil melihat layar komputer.
“Pada tanggal berapa saja, Kak?” tanyaku menyiapkan catatanku. Dia menyebutkan tanggal dan waktunya yang segera aku tulis di buku. “Baik. Terima kasih banyak atas bantuannya.”
Aku keluar dari bank itu dan duduk di bangku kosong yang ada di terasnya. Sudah jelas bukan aku yang melakukan ini. Aku membeli ponsel untuk membantu kemudahan komunikasi dengan orang tua Amarilis nanti. Aku malah baru tahu pegawai layanan konsumen mengaktifkan layanan tersebut.
Benar saja, aku menemukan banyak benda baru yang dia beli di atas mejanya. Dia bahkan tidak repot-repot menyembunyikan barang yang dia bayar dengan uang curian. Aku segera membawa video game, jam tangan, dan sepatu mahal yang dia beli itu ke toko.Tidak peduli dengan harga jualnya yang jatuh, aku tetap menerima uangnya. Aku membutuhkan setiap pesernya untuk kuliah.
Kebetulan berada di luar, aku mampir untuk membeli koper murah. Aku akan memerlukannya untuk membawa barang-barangku ke luar kota. Aku menahan diri untuk tidak membeli baju resmi. Nanti saja, aku beli di pasar murah yang ada di Jakarta.
“Aduh!” keluh Hercules ketika aku masuk kamarnya dan langsung duduk di atas tubuhnya.
“Kamu tidak dengar apa yang aku katakan ketika aku menunjukkan tabunganku kepada Papa dan Mama?” kataku, tidak memedulikan seruan kesakitannya.
“Kamu sudah mengambil semua barang itu. Apa lagi maumu!?” Dia mendorong tubuhku agar bergeser dari atas tubuhnya.
“Apa lagi mauku? Heh!” Aku memukul kepalanya. “Minta maaf, bodoh! Kamu sudah mencuri uangku. Apa kamu pikir aku tidak akan menang jika melaporkan perbuatanmu ke polisi?”
“Seorang adik mengambil uang kakaknya itu namanya bukan mencuri!” bantahnya.
__ADS_1
“Jadi apa namanya kalau bukan mencuri!?” Aku memukul kepalanya lagi. “Uang itu untuk biaya kuliahku, bukan untuk bersenang-senang!”
“Bangun, Gendut! Aku bisa mati kalau ditindih terus!” Dia memberontak sekuat tenaga.
“Biar saja mati. Biar berkurang satu pencuri dari dunia ini.” Dia membuka mulutnya lebar-lebar yang aku yakin berniat memanggil mamanya. “Kamu berani memanggil Mama, maka aku tidak akan memberi ampun. Aku pasti laporkan perbuatanmu kepada polisi!”
Dia merapatkan bibirnya dan tidak berani bicara lagi. Aku menunggu dengan sabar. “Oke. Aku minta maaf. Aku salah sudah menggunakan uang itu tanpa izinmu.”
“Kakak,” kataku dengan serius.
“Apa? Kamu mimpi kalau kamu berharap aku akan memanggil kamu dengan kata itu.” Dia kembali mencoba untuk mendorong tubuhku dari badannya. Aku bergeming. “Oke. Kakak.”
“Bagus. Ingat, aku tidak akan tinggal diam lagi melihat tingkah laku kurang ajarmu. Aku memaafkan kamu, tetapi kalau aku mendengar Papa atau Mama kehilangan uang mereka ….” Aku mengepalkan tanganku. “Kamu akan berurusan denganku.”
Empat belas bulan dia mengerjai juga menghina aku dan selalu tertawa puas, tidak gentar kepadaku, wajahnya berubah pucat untuk pertama kalinya. Bagus. Ternyata dia bisa juga merasa takut kepada kakaknya. Mulai dari hari ini, aku akan tunjukkan siapa yang lebih berkuasa di antara kami.
“Mengapa kamu sangat berbeda? Kamu tidak seperti Riris yang aku kenal,” gumamnya.
“Ini namanya menjadi dewasa. Aku akan tinggal di kota lain seorang diri. Kalau aku tetap lemah dan membiarkan orang menginjak-injak aku, maka aku akan jadi keset kaki selamanya.”
Benar kata orang. Keluarga adalah orang yang tidak bisa dibohongi. Mereka tahu siapa kita yang sebenarnya. Kita bisa bersandiwara di depan orang lain, tetapi tidak di depan keluarga. Mungkinkah mama Amarilis tahu bahwa aku bukan putrinya? Itukah sebabnya dia sinis kepadaku?
Sudah saatnya aku memutuskan segalanya. Mama Amarilis adalah orang tuaku yang sebenarnya sekarang. Mama kandungku hanya mengenal aku sebagai pembunuh putrinya. Hubungan kami sudah tidak mungkin aku perbaiki lagi. Kalau aku nekat, aku bisa dicap gila. Kak Jericho menerima keadaanku, belum tentu Kak Nolan juga orang tuaku bisa mengerti.
Nama pada KTP dan tiket pesawat, juga ijazah yang ada di dalam ranselku, bukan Katelia Wulan, melainkan Amarilis Josepha. Bagi semua orang, Katelia sudah pergi untuk selamanya. Sudah saatnya juga bagiku untuk melepaskan identitas itu. Dadaku sesak membuat keputusan itu.
Ini bukanlah tubuhku, Amarilis bukanlah namaku, keluarga ini juga bukan orang yang bersamaku sejak aku masih kecil, tetapi aku harus melepaskan diriku yang sebenarnya dan menerima identitas baruku. Mungkinkah ini hukuman dari Tuhan atas semua keusilanku?
“Boleh aku masuk?” tanya mama Amarilis dari balik pintu.
“Masuk saja, Ma,” kataku setelah berhasil menenangkan emosiku.
Pintu terbuka dan wanita itu masuk dengan wajah datar. Sikap yang berbeda sekali dengan saat dia menjemput aku di rumah sakit pada hari nahas itu. Mungkinkah dia sudah tahu bahwa aku bukanlah putrinya? Namun aku tidak berani bertanya, aku tidak siap dengan responsnya.
__ADS_1
“Ada hal penting yang perlu aku beri tahukan kepadamu.” Dia mendekat lalu duduk di tepi tempat tidurku. “Apa aku boleh mengatakan sesuatu sebagai seorang ibu?”