
Aku ingin makan bakso, maka aku menyebut nama makanan itu. Dia mengendarai sepeda motornya menuju kafe yang menjual masakan itu sebagai menu utama mereka. Aku memesan bakso, dia mi ayam. Lumayan, aku bisa mencomot bagiannya juga nanti.
Walau dia dingin dan sulit ditebak, untuk urusan berbagi, dia tidak pelit. Dia santai saja setiap kali aku menyendok makanan dari piring atau mangkuknya. Sepertinya dia bukan tipe cowok kaya yang terlalu steril di mana semua miliknya tidak boleh disentuh oleh orang lain. Mirip Kak Jericho.
Usai makan, aku pamit ke toilet sejenak untuk berganti pembalut. Jadi, aku tidak perlu keluar dari ruang kuliah saat dosen mengajar nanti. Theo mengamati aku dengan saksama ketika aku kembali ke meja kami. Entah apa yang sedang dia cari dari wajahku.
“Kamu kelihatannya sudah sehat,” ucapnya pelan.
“Tentu saja. Aku hanya lemas beberapa saat setelah datang bulan. Begitu aku beristirahat, maka semuanya akan baik-baik saja. Karena itu, aku bilang jangan khawatir,” kataku dengan santai. Aku tidak mau dia khawatir berlebihan, maka aku putuskan untuk jujur saja.
“Aku sudah bayar makanan kita. Ayo, kita kembali ke kampus,” ajaknya. Aku menurut.
Jadi, itu alasan dia datang pagi ini menjemput aku di tempat tinggalku? Pantas saja dia melakukan hal yang tidak biasa itu. Ternyata dia pikir aku masih lemas seperti pada malam sebelumnya. Hm. Cowok menjengkelkan ini ternyata bisa perhatian juga.
Aku tidak heran lagi saat dia menggandeng tanganku menuju ruang kuliahku. Ada-ada saja. Apa dia pikir aku serapuh itu? Dia sudah melihat sendiri aku bisa melumpuhkan kedua pengawal Chika yang bertubuh besar dan bertenaga kuat itu, aku bukan perempuan lemah.
Pada sore harinya, aku mengajar Matt tanpa insiden apa pun. Dia tidak menyiapkan keisengan apa pun, juga tidak terlambat mengikuti les. Namun dia meminta aku untuk menyelesaikan pelajaran kami lebih cepat dari jadwal. Aku awalnya menolak, tetapi terpaksa mengabulkannya kemudian.
“Horeee!!” soraknya senang. Dia memegang tanganku. “Ayo, kita ke atas!”
“Ke atas?” tanyaku bingung, tetapi aku tidak menahan dia untuk membawa aku menuju tangga. “Matt, pelan-pelan.”
Walau aku rajin berolahraga, menaiki tangga tetap hal yang berat untukku. Dia berbelok ke kiri begitu kami tiba di lantai dua. Ada begitu banyak pintu dengan jarak yang berjauhan. Sepertinya ini khusus untuk kamar tidur. Yang mana kamar Theo?
“Nah, ini untuk Kakak.” Matt membuka pintu pertama di sebelah kiri, lalu memberikan sebuah tas biola kepadaku. “Ayo, ambil.”
“Mengapa kamu memberikan ini kepadaku?” tanyaku bingung.
“Kakak butuh biola untuk bermain sama gue,” katanya dengan santai. Dia duduk di kursi di depan piano besar yang memakan banyak tempat itu.
Aku mengangakan mulut melihatnya. Dia punya piano sebesar ini di rumah? Aku menyentuh piano itu dan merasakan permukaannya yang halus sekaligus bebas dari debu. Pelayan mereka pasti membersihkannya setiap hari.
“Kakak bisa main piano juga?” tanyanya ingin tahu.
__ADS_1
Aku mengangguk pelan. Dia memicingkan matanya, tidak percaya dengan ucapanku itu. Maka aku duduk di sisinya dan memainkan sebuah lagu dengan kedua tanganku. Hanya beberapa nada awal “Fur Elise” karya Beethoven.
“Lanjutkan,” katanya. “Gue mainkan tangan kiri, Kakak yang kanan.”
Aku menurutinya dan melakukan kesalahan beberapa kali, karena sudah lupa dengan notnya. Dia memberi solusi dengan mengambil buku dan membuka halaman di mana not lengkap “Fur Elise” berada. Kami pun memulainya lagi dari awal hingga menyelesaikannya dengan baik.
“Oke. Itu hanya pemanasan.” Dia melirik ke arah kotak biola tadi. “Ayo, gue mau memainkan lagu semalam lagi bersama Kakak.”
“Kamu mau pamer sama siapa? Gadis yang kamu taksir itu?” godaku.
Dia tertawa kecil. “Bukan. Nanti juga Kakak tahu. Coba untuk tidak melakukan kesalahan, ya.”
“Aku tidak hafal semua notnya. Bagaimana aku bisa bermain kalau tidak ada yang membantu membalik halaman bukunya?” keluhku.
“Kalau begitu, kita mainkan dua halaman, lalu berhenti sebentar untuk mengganti ke halaman berikutnya,” katanya, memberi usul. Kelihatan sekali dia sangat ingin memainkan lagu ini sekarang.
Kami memainkan lagu itu dari awal sampai akhir dengan jeda setiap kali buku not harus diganti. Aku hanya menghafal dua halaman not saja, karena lagu ini bukan lagu favorit saat mengamen. Orang-orang kurang mengapresiasi lagu klasik, jadi aku lebih sering memainkan lagu kontemporer.
Namun lagu itu terdengar sama menariknya dengan adanya jeda tersebut. Tingkat kesulitannya juga tidak berkurang sekalipun kami sempat beristirahat sejenak, justru semakin bertambah. Terdengar tepuk tangan dari belakangku ketika kami menyelesaikan nada terakhir.
“Mama boleh merendahkan orang lain, tetapi tidak dengan orkes gue,” kata Matt, mengangkat dagunya. “Harga diri kami bisa jatuh kalau tampil menggunakan rekaman.”
Aku menatap mereka berdua secara bergantian dengan bingung. Apa maksudnya? Apa Tante Ruth berpikir penampilanku pada malam itu tidak asli tetapi menggunakan rekaman? Ah, sekarang aku mengerti mengapa Matt begitu bersemangat memainkan lagu itu bersamaku.
Dia mau membuktikan kepada mamanya bahwa aku benar-benar memainkan lagu itu dengan kemampuanku sendiri, bukan rekaman. Wajar saja Tante Ruth curiga. Dia tidak pernah melihat aku menyentuh, apalagi memainkan biola. Ditambah lagi, “Moonlight Sonata” adalah lagu yang sulit.
“Oke. Aku setuju dengan usulmu. Amarilis akan duet denganmu di perayaan pernikahan kami pada hari Sabtu ini,” ucap Tante Ruth dengan antusias. Apa?
“Ng, tapi, Tante,” ucapku keberatan.
“Tidak ada tapi, Kak. Gue memaksa Kakak untuk tampil bersama pada hari Sabtu nanti. Siapa pun pacar Kakak, dia harus mengalah tidak malam mingguan pada hari itu.” Matt merangkul bahuku, lalu mengajak aku berjalan bersamanya keluar dari ruangan itu.
Kami bicara detail acara itu sambil makan malam. Theo tidak terlihat terkejut, sepertinya dia juga sudah tahu rencana mama dan adiknya untuk mengundang aku tampil pada acara keluarganya. Aku senang bisa dapat pekerjaan tambahan, tetapi aku dilema memikirkan bonus yang akan diberikan.
__ADS_1
Mereka sudah banyak menolong aku, memberi aku hal yang tidak aku minta. Jadi, aku merasa tidak enak jika harus dibayar sekadar menghibur pada hari besar mereka. Namun Tante dan Matt serentak menyebut aku tidak akan bermain dengan gratis.
“Sebaiknya lo tidak menentang mereka, karena lo sudah pasti kalah,” kata Theo, melerai.
Aku pun mengalah. Matt memberikan daftar lagu yang perlu aku pelajari. Biola yang dia berikan itu menjadi milikku. Aku menolak, dia tetap bersikeras. Padahal aku sudah punya biola sendiri yang tidak kalah bagusnya. Punya lebih dari satu tidak ada gunanya, karena aku hanya bisa memakai satu dan menyimpan yang lain. Pemborosan yang baru aku sadari ketika aku miskin.
“Lo benar-benar tidak ingat, ya, hari ini hari apa?” tanya Theo dengan muka kesal. Kami baru saja tiba di depan tempat tinggalku.
“Hari Senin,” ujarku bingung. “Apa istimewanya?”
Dia mendesah keras, kelihatan sekali sedang berusaha mengendalikan emosinya. “Hari ini kita genap pacaran selama satu bulan. Masa itu saja lo lupa?”
Ooo. Jadi, itu alasan dia menjemput aku pada pagi ini dan menghabiskan waktu di luar jam kuliah bersamaku. Karena hari ini kami genap satu bulan menjalin hubungan yang aneh, bukan karena aku kurang sehat. Ada-ada saja. Mana aku tahu kalau dia tidak bilang. Apalagi kami bersikap layaknya sahabat baik, tidak lebih.
“Bagaimana aku bisa mengingatnya? Kita tidak terasa seperti orang yang pacaran,” ejekku. Sebelum dia sempat melakukan apa pun, aku berlari masuk ke pekarangan rumah itu.
“Amarilis! Awas, ya!” teriaknya kesal.
Latihan bersama Matt dimulai pada hari berikutnya. Aku pulang tepat waktu seperti biasanya, hanya les yang dikurangi setengah jam sehingga kami bisa berlatih bersama. Mereka sangat percaya pada kemampuanku, bahkan saat aku berulang kali melakukan kesalahan.
Om dan Tante Husada sangat menyukai lagu klasik, jadi mereka memberi daftar lagu yang ingin mereka dengar selama acara tersebut. Aku tidak akan punya pendamping selama memainkan biola, jadi not setiap lagu itu harus bisa aku hafal dengan baik.
Makan siang bersama Sonata dan Kak Jericho berlalu begitu saja, karena kepalaku dipenuhi dengan not demi not lagu klasik tersebut. Aku sangat menyukai lagu klasik, tetapi otak Amarilis yang tidak terlatih ini berbeda kualitasnya dengan otak Katelia. Dia mudah sekali lelah.
“Waahh!! Kamu cantik sekali!” puji Tante Ruth ketika aku selesai didandani oleh penata rias yang diundangnya datang ke rumahnya. “Aku tidak salah memilih gaun. Baju ini cocok untukmu!”
Dia mengajak aku untuk keluar dari ruangan itu menuju pintu depan. Para pria sudah menunggu dengan sabar di dalam mobil. Tante Ruth bersama Om Azarya, sedangkan aku satu mobil dengan Matt dan Theo. Muridku itu memuji penampilanku, sedangkan kakaknya cemberut.
Ada begitu banyak orang yang memenuhi kebun hotel sehingga aku mendadak gugup. Walau aku tidak mengenal mereka selain keluarga Theo, aku tetap tidak tenang menantikan penampilanku bersama Matt. Piano besar sudah berada di bagian depan di dekat panggung kecil.
“Lo enggak apa-apa?” tanya Theo. Aku menoleh dan menggeleng pelan. “Muka lo pucat banget. Gue yakin lo akan pingsan sebentar lagi. Lo masih bisa mundur.”
“Aku tidak akan mundur,” kataku dengan tegas.
__ADS_1
Aku menghela napas panjang, berusaha untuk menenangkan diri. Aku memalingkan wajah melihat senyum nakal Theo. Namun melihat sosok yang ada di antara para tamu yang baru datang, semua not yang sudah aku hafal mendadak lenyap dari ingatanku.