
Dia makan dengan kolega pada malam yang lalu, apakah dengan perempuan itu juga? Jadi, dia bisa berduaan dengan wanita lain, sedangkan aku makan bersama sahabat baikku, seorang wanita, tidak boleh? Dia sampai tega mengikat aku di tempat tidur, ke toilet pun tidak boleh.
Sudah saatnya pulang kerja, dia malah ada di sini, bêrpèlukan dengan perempuan lain. Dasar suami tidak setia. Dialah yang seharusnya dihukum, bukan aku. Pantas saja dia mengikat aku di rumah. Dia mau bersenang-senang di luar tanpa sepengetahuanku.
“Lepaskan—” katanya, tanpa ada niat menjauhkan tubuh wanita itu darinya.
Aku menggenggam rambut perempuan itu, lalu menariknya menjauh dari suamiku. Tidak peduli dengan teriakan kesakitannya, aku menjambaknya sampai dia melepaskan pelukannya. Jadi, aku bisa berdiri berhadapan dengan Theo, walau aku harus mendongak karena perbedaan tinggi kami.
“Kamu mengikat aku di tempat tidur, tidak membiarkan aku makan, minum, bahkan buang air agar kamu bisa bermesraan di sini dengan perempuan lain?” Aku menggeram, menahan rasa amarah.
“Apa yang lo—” Wanita itu berusaha untuk menginterupsi, tetapi aku menutup mukanya dengan tanganku, lalu mendorong dia menjauh lagi.
“Kamu mendekat satu kali lagi, aku bersumpah kamu akan menyesal pernah berurusan denganku,” ancamku dengan serius, karena emosiku sudah sampai ke ubun-ubun. Perempuan itu pun kecut.
“Lo bisa makan, minum, dan buang air,” kata Theo dengan santai. “Yang harus lo lakukan hanyalah menelepon gue. Bukan salah gue lo mengusir pelayan yang berusaha untuk membantu.”
“Menelepon kamu? Apa maksudmu?” Aku memicingkan mata. “Kamu berharap aku memohon? Heh, aku tidak sudi melakukan itu kepada siapa pun.”
“Lo selalu memohon setiap kita bêrcinta.” Seluruh wajah dan leherku memanas mendengar itu. “Gue lapar. Kalau lo masih mau ribut, tuh, sama Matt saja. Gue pulang.”
“Kita belum selesai bicara, Theo.” Aku menghalangi jalannya saat dia mengambil sisi kiriku.
“Kita bicara di kamar, jangan di sini.”
“Aku tidak—” protesku.
Namun aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku itu, karena dia mênciúm aku. Tangannya yang ada di belakang kepalaku, menghalangi aku untuk menjauhkan diri darinya. Menjengkelkan sekali. Aku masih mau marah, tetapi tubuhku meleleh merasakan bujukannya itu.
Tanganku bergerak sendiri melingkari pinggangnya dan bibirku membalas cîúmannya. Mengapa aku mudah saja berubah dari kesal ke sayang kepadanya, aku tidak tahu. Aku bahkan lupa segalanya, namaku, alasan kedatanganku ke kantornya, dan mau apa aku ke sini.
Dia mengakhiri ciuman kami “Cepat pilih. Ikut gue atau Matt.”
Itu pilihan termudah dalam hidupku. Merasakan ada orang lain, aku menoleh dan bertemu pandang dengan Matt yang ternyata ikut keluar dari elevator bersama kakaknya. Venny berdiri di sampingnya dengan mulut menganga. Namun segera bersikap normal, menyadari aku menatapnya.
__ADS_1
“Ya, sudah. Gue pulang sendiri.” Theo melepaskan pelukannya.
“Tidak.” Aku mempererat pelukanku. “Kita pulang.” Aku menoleh ke arah Matt. “Besok, ya.”
“Oke, Kak. Selamat bersenang-senang.” Dia memonyongkan mulutnya.
“Diam kamu!” Pipiku memanas mengingat dia sudah menyaksikan aku dan kakaknya bêrcîuman.
“Hei, tunggu!” seru Venny, mengejar kami dengan cepat. “Urusan kita belum selesai. Enak saja lo pergi tanpa minta maaf sama gue.”
“Maaf? Kamu yang seharusnya meminta maaf kepadaku,” balasku dengan sengit. Theo tidak menghentikan langkahnya, jadi aku tidak bisa berhadapan dengan pengganggu itu. “Theo, tunggu.”
“Kalau lo mau pulang, ya, pulang. Enggak usah ribut di sini,” jawabnya.
“Tetapi dia—” Aku memekik terkejut saat dia mendadak membopong tubuhku.
“Jalan lo lambat banget. Gue sudah bilang, gue lapar.” Kalau tadi dia berjalan pelan, maka dengan aku dalam gendongannya, dia berjalan lebih cepat.
Aku menjulurkan lidahku kepadanya, memanas-manasi dia yang tidak bisa mengejar kecepatan langkah Theo. Dia menggeram kesal sambil menghentakkan kakinya ke lantai. Mau apa dia datang lagi? Theo sedang membutuhkan perhatian, dia minggat. Begitu Theo sehat, dia balik.
Dasar perempuan tidak tahu malu. Apa dia tidak punya harga diri sedikit pun masih berharap balik? Apalagi Theo sekarang sudah menikah denganku. Memangnya mudah memisahkan kami setelah ada ikatan resmi? Dia terlambat. Kami tidak bisa dipisahkan lagi.
Sebentar. Aku belum bisa tenang. Sertifikat pernikahan kami masih diurus di disdukcapil. Kami hanya punya waktu satu tahun sejak hari pernikahan kami di Las Vegas. Lewat dari masa berlaku, maka kami bukan lagi suami istri yang sah secara hukum.
“Tenang saja. Paling cepat, hari Jumat ini sudah terbit. Paling lama, Selasa dua minggu depan. Papa tidak akan menghalang-halangi penerbitan akta kawin kita.” Theo menyeka bibirnya dengan serbet.
Dia memang serius lapar. Dia makan cepat sekali, tidak mau bicara atau menanggapi aku. Maka aku menunggu sampai dia selesai untuk menanyakan hal itu. Aku masih menambah nasi goreng dan ayam, karena perutku belum kenyang.
“Mengapa kamu yakin sekali?” Aku menatapnya dengan curiga.
“Karena gue tahu kelemahannya. Jadi, lo jangan khawatir.” Dia melirik piringku. “Cepat, habiskan makanan lo, biar tidur di kamar.”
“Aku belum mengantuk.”
__ADS_1
Dia menghela napas panjang, lalu mengembusnya perlahan. Mengapa dia bersikap begitu? Aku tidak mengantuk, untuk apa langsung ke kamar setelah makan? Dia pasti mau bêrcînta denganku. Enak saja. Setelah dia asyik bêrpèlukan dengan perempuan itu, aku tidak sudi meladeni dia malam ini.
Aku memilih untuk menonton di ruang keluarga. Dia membiarkan aku memilih saluran yang aku mau. Melihat dia menggunakan televisi berlangganan, aku memintanya untuk menonaktifkannya. Kami sama-sama sibuk, tidak akan ada yang menonton semua siaran itu nanti.
Namun dia tidak menanggapi, hanya sibuk dengan tabletnya. Aku mengintip layarnya dan melihat tabel ciri khas restoran di Amerika. Ah, iya. Di sini sudah malam, di sana baru pagi hari. Itu pasti laporan dari manajer. Kasihan Theo. Dia harus mengerjakan dua tanggung jawab. Dia pasti lelah.
Aku tidak ingat apa yang terjadi, tetapi saat membuka mata, aku sudah berbaring di tempat tidur. Aku menoleh ke kananku dan melihat Theo sedang duduk bersandar di kepala ranjang dengan tablet di pangkuannya. Apa aku tertidur?
“Gue bilang juga apa? Ayo, ke kamar, lo enggak mau. Lo ketiduran, ‘kan?” ejeknya. Aku mencibir.
Ternyata hari sudah pagi, jadi kami mengawalinya dengan berolahraga. Aku tidak perlu mengikuti Kakak sehingga bisa bekerja dari rumah. Theo mempersilakan aku menggunakan ruang kerja yang ada di lantai dasar. Rumah ini memang luar biasa besar. Padahal kami hanya berdua.
Entah bagaimana Theo membayar semua pekerja di rumah kami. Petugas keamanan, tukang kebun, koki, pelayan, sampai sopir tersedia lengkap. Belum lagi para pengawal kami yang jumlahnya tidak sedikit. Apa dua pekerjaan yang dia lakukan itu bisa membiayai semua ini? Besar juga papanya memberi gaji. Bisa jadi, pendapatan Theo lebih besar dari Kak Jericho.
Menjadi manajer Kakak sangat melelahkan. Aku tidak hanya menerima telepon dan membalas pesan, tetapi juga harus bisa menyisipkan acara di sela-sela jadwalnya yang padat. Pantas saja dia butuh dua manajer. Kakak benar mengenai satu hal, agensi tidak selalu menelepon dia.
Karena itu menjelang akhir jam kerja, aku yang menghubungi mereka untuk mencari tahu jika saja ada tawaran pekerjaan untuk Kakak. Sudah dua hari, jawaban mereka selalu tidak. Mungkin klien lebih suka menelepon nomor Kakak dan berhenti menghubungi agen tersebut.
Pada hari Jumat malam, Theo pulang tanpa membawa akta kawin kami. Katanya, masih diproses. Melihat dia bersikap tenang, maka aku juga tidak mau panik. Namanya juga birokrasi. Bukan hal yang aneh lagi jika urusan dokumen selesai hingga berminggu-minggu lamanya.
“Jalan-jalan, yuk,” ajak Theo pada hari Sabtu pagi itu.
Tentu saja aku menerimanya. Karena dia berpakaian santai, aku juga mengenakan baju senada. Aku melakukan panggilan video dengan Bunda dan Mama selama di dalam perjalanan. Setelah bicara dengan Meghan, barulah aku tidak kuasa menahan kantuk.
“Sayang, kita sudah sampai.” Aku merasakan tanganku diguncang-guncang.
Aku membuka mata dan melihat ke sekeliling kami. Kami sudah berhenti dan mobil tidak bergerak lagi. Akhirnya, kemacetan itu terlewati juga. Aku keluar dari mobil, lalu mengendurkan otot-ototku. Melihat petunjuk tempat tidak jauh dari lokasi aku berdiri, jantungku mulai berdebar dengan cepat.
Oh, tidak. Aku tidak mau ke tempat ini. Theo mendekati aku, lalu menggandeng tanganku, tetapi aku menggeleng pelan. Tempat dengan jumlah yang kecil dan sedikit, aku tidak punya masalah. Namun tidak dengan tempat seperti ini. Aku belum siap untuk melihatnya lagi.
[Teman-teman, mohon maaf, ya. 🙏🏻 Bab 173 tertahan lama di review. Aku unggah kemarin sore dan baru lolos pagi tadi. Mari kita tunggu. Bab ini lolosnya lama atau cepat. 🤔]
__ADS_1