Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
50|Aku Ditolak


__ADS_3

Darahku mendidih menyadari dia menolak aku. Seorang gadis miskin, tidak sederajat denganku, menolak lamaranku, Altheo Husada yang kelak akan memimpin perusahaan ternama Husada Grup? Pemuda yang tidak hanya diincar oleh satu, tetapi banyak keluarga terpandang di negeri ini bahkan sampai ke luar negeri. Aku ditolak oleh Amarilis?


Berani sekali dia! Aku tidak pernah memohon kepada siapa pun. Aku tidak pernah merendahkan diri hingga memelas kepada seorang pun di dunia ini, termasuk orang tuaku. Namun aku meminta dia dengan penuh harap agar mau menjadi istriku kelak.


Lalu ini balasannya. Dia mengembalikan cincin warisan Nenek secara diam-diam. Apa maksud dari tindakannya ini? Apa dia sedang protes karena hubungan backstreet kami? Dia mau lebih dari bertemu di belakang semua orang, begitukah? Aku sudah bilang, aku butuh waktu.


Papa dan Mama saja tidak tergoyahkan ketika melihat rekaman video Chika yang menyuruh kedua pengawalnya mengeroyok Amarilis tanpa alasan. Bagaimana lagi aku bisa meyakinkan mereka tentang hubungan kami? Aku dan Amarilis tidak sederajat.


“Kamu kemarin dari mana saja?” tanya Chika dengan manja.


Aku tidak terkejut melihat dia ada di lobi kantor papaku. Hari-hari bagai di neraka pun dimulai. Aku yakin dia akan lebih sering datang ke tempat yang tidak seharusnya. Ini tempat kerja, bukan tempat seorang perempuan menuntut perhatian.


Tanpa menjawab pertanyaannya, aku berjalan menuju elevator. Dia mengikuti aku, bahkan berani melingkarkan tangannya di lenganku. Aku segera menepis tangannya itu. Untunglah, dia tidak mencoba lagi untuk menyentuh aku. Karena dia tidak punya tanda pengenal, maka dia tidak bisa melewati gate yang hanya terbuka dengan kartu khusus.


Dia memanggil, tetapi aku tidak memedulikannya, juga mengabaikan tatapan orang di sekitarku. Mau apa dia di tempat ini, mengganggu aku bekerja? Aku menghela napas panjang menenangkan diri di dalam elevator. Tiba di ruang kerja Papa, aku menuju mejaku dan duduk dengan santai.


Papa belum sampai, jadi aku bisa tenang sejenak. Amarilis pasti sedang bersiap-siap untuk bekerja. Gadis itu jauh lebih baik daripada Chika yang malah sibuk mencari perhatian. Itulah sebabnya aku tidak tertarik kepadanya, sedikit pun tidak.


“Syukurlah, hari ini tiba juga,” kata Om Wibowo dengan lega. “Aku senang kita bisa mencapai kata sepakat, Azarya.” Pria itu menatap map berisi surat perjanjian itu dengan senang.


Produk baru yang tidak berhenti mereka uji kelayakan di lapangan pun bisa diterima dengan baik oleh masyarakat. Itu baru namanya kerja sama. Aku tidak terima mereka hanya mau beresnya saja, tidak peduli jika papaku sampai rugi besar.


“Sama-sama, Nathan. Semoga produk ini semakin dikenal luas oleh masyarakat dan lebih sukses dari masa percobaan.” Papa menutup map yang ada di hadapannya.


“Ngomong-ngomong, selamat atas pertunanganmu, Theo,” ucap pria itu kepadaku.


“Terima kasih, Om,” jawabku dengan sopan.

__ADS_1


“Sayang sekali, kita batal menjadi keluarga. Padahal kamu dan Katelia sangat cocok. Kamu pasti akan bangga sekali memiliki dia sebagai istrimu,” lanjut pria itu lagi.


“Bila Om memang sesenang itu, mengapa Om selalu menolak untuk mengumumkan pertunangan kami?” tantangku. Dia berdehem pelan. “Aku beberapa kali datang bersama teman-teman ke rumah Om, tetapi kalian berpura-pura tidak mengenal aku.”


“Pa, kita harus pergi sekarang,” bisik Nolan, menyelamatkan muka papanya. “Kita masih punya banyak janji temu sebelum mengejar penerbangan kembali ke Medan.”


Aku tidak heran mereka selalu menemukan cara untuk menghindar dari pertanyaan itu. Papa tidak terlihat mau tahu dengan diam, tidak ikut mendesak mereka untuk menjawab. Apa hanya aku yang peduli dengan niat di balik sikap rahasia keluarga itu terhadap kami?


“Ah, iya. Maafkan aku harus mengakhiri pertemuan kita hari ini,” kata Om Wibowo.


Kami berdiri dan bergantian menjabat tangan mereka. Aku menyaksikan mereka pergi terburu-buru dengan kuasa hukum dan asisten mereka. Aku berjalan bersama Papa kembali ke ruang kerjanya. Dia tidak mengatakan apa pun, jadi aku ikut diam.


Aku masih kecewa dengan keputusan cerobohnya mengumumkan pertunanganku dengan Chika tanpa berembuk denganku. Apalagi mereka tidak menggubris bukti yang aku berikan tentang siapa gadis itu yang sebenarnya. Entah tawaran apa yang diberikan Om Winara sampai Papa jadi begini.


Sepulang kerja, Papa tidak mengajak aku ke janji temu. Hal yang jarang terjadi, tetapi aku sangat lega. Aku sedang tidak siap untuk bertemu dengan orang lain. Dia meminta aku untuk segera pulang, aku pun mengerti. Keluarga Winara pasti datang ke rumah untuk makan malam.


Untunglah, aku memakai kendaraanku sendiri sehingga aku tidak perlu pulang bersama Papa. Aku bisa pergi ke mana saja yang aku mau. Biar mereka yang melayani keluarga yang suka memaksakan kehendak itu. Aku tidak sudi memberi waktu kepada Chika untuk terus bersandiwara di depanku.


“Kita perlu bicara,” katanya dengan serius.


Dia kembali masuk ke mobilnya dan tidak lama kemudian, kendaraan itu memasuki tempat parkir sebuah kafe. Aku mengikuti, lalu menggerakkan sepeda motorku ke tempat khusus kendaraan roda dua. Ini pasti ada hubungannya dengan berita yang sedang tayang di berbagai media.


Tempat yang dia pilih termasuk sepi. Dia pasti tidak mau berhadapan dengan para penggemarnya atau wartawan. Padahal penampilannya sudah biasa saja tanpa mekap dan pakaian bermerek, tidak akan bisa dikenali, kecuali oleh orang yang sangat dekat dengannya.


“Kamu janji kamu tidak akan menyakiti Riris,” katanya tanpa basa-basi. Pelayan sudah pergi setelah mencatat pesanan kami.


“Apa lo bertemu dengannya hari ini?” tanyaku acuh tak acuh.

__ADS_1


“Apa hubungannya dengan pertanyaanku?” katanya senewen.


“Karena gue tidak menyakiti dia,” jawabku dengan santai. “Orang tua gue yang menyiapkan acara itu, apa lo masih perlu diberi tahu? Lo tahu sendiri kita sebagai anak tidak punya pilihan ketika orang tua sudah memilihkan calon istri yang akan membawa keuntungan pada perusahaan.”


“Nah, kamu sudah tahu, tetapi kamu tetap mendekati Riris,” tukasnya.


“Sejak kehilangan Katelia, gue tidak mau lagi dijodohkan dengan perempuan yang salah,” kataku, mencoba untuk menjelaskan. “Katelia dan Chika punya sifat yang sama, tetapi Chika lebih parah.”


“Lalu apa bedanya dengan Riris?” tanyanya bingung.


“Katelia dan Amarilis adalah dua orang yang berbeda. Amarilis adalah versi terbaik Katelia,” jawabku dengan bangga. “Apa lo tidak menyadari hal itu? Adik lo bisa jadi orang baik, bahkan lebih.”


Walau jiwa Katelia yang ada dalam tubuh Amarilis, dia bukan lagi Katelia yang aku kenal dahulu. Dia sangat berbeda dalam membawa dirinya, juga saat memperlakukan orang lain. Kerja kerasnya untuk mencapai impiannya di luar prediksiku. Aku tidak pernah menyangka seorang Katelia akan bekerja serendah mengamen demi membayar uang kuliahnya.


Dia pikir aku akan malu melihat dia menjajakan keahliannya bermain biola demi uang. Tentu saja tidak. Aku justru malu kepada diriku sendiri. Sebagai laki-laki, aku kalah dengannya. Aku bisa kuliah dengan santai karena orang tuaku membiayai segalanya. Aku tidak perlu membanting tulang.


Jericho hanya diam. Dia menatap aku dengan dalam seolah sedang memeriksa keseriusan dari setiap kata yang aku ucapkan tadi. Dia tersenyum sambil menggeleng pelan membuat aku bingung. Apa ada yang lucu dari kalimatku tadi?


“Riris tidak sepenuhnya berubah, Theo. Dia akan kembali menjadi gadis egois begitu dia memiliki segalanya. Yang berubah itu kamu.” Dia tertawa kecil.


Meski dia adalah kakaknya, aku tidak suka mendengar dia merendahkan Katelia. Dia bisa berubah dan aku sudah melihatnya sendiri. Aku bahkan punya banyak bukti yang menunjukkan dia tidak akan menjadi Katelia yang lama di dalam tubuh Amarilis.


“Setelah dia merasakan sakitnya jadi korban, apa lo pikir dia masih mau menyakiti orang lagi? Iya, dia tidak sepenuhnya berubah. Tetapi apa lo tahu dia sayang kepada keluarga barunya?” tanyaku. Dia terdiam, berhenti menunjukkan wajah senang tadi.


“Mamanya membuka usaha roti dan kue yang sangat laris, karena dia mengajari mereka berbisnis kecil-kecilan. Dia juga yang memberi tahu cara menggunakan media sosial untuk memperluas jaringan usaha mereka. Om Wibowo berhasil mendidik dia dalam hal itu.


“Lalu dia tidak egois dengan bertahan menjadi gadis yang sering dia sakiti. Dia bisa saja mengaku bahwa dia adalah Katelia, maka masalahnya dengan mamamu teratasi. Tetapi dia menuruti ucapan kakak bodohnya daripada saranku.

__ADS_1


“Lo salah, Richo. Amarilis berubah,” paparku dengan tegas.


“Kamu juga berubah.” Dia tersenyum penuh arti. “Kamu bisa melihat sisi baiknya ini karena satu alasan, dan satu alasan itu saja.”


__ADS_2