
Layaknya kebiasaan kami pada hari Sabtu, aku mengawali hari dengan melakukan panggilan video bersama Bunda dan Mama. Kami saling berbagi kabar masing-masing. Aku tidak lupa juga memberi tahu Bunda tentang Kakak yang diancam oleh Rahma.
Bunda tidak pernah mengecewakan aku. Dia marah-marah sendiri seraya menguatkan aku bahwa rahasiaku akan aman. Walau aku terlihat tenang, aku sebenarnya gentar juga di dalam hati. Jika ada orang lain yang mengetahui hal ini, aku bisa saja jadi bahan percobaan mereka.
Aku mengobrol dengan Meghan dan mendengarkan ceritanya yang penuh dengan tantangan. Dia yang kini mendampingi ayahnya ke mana pun pergi. Kasus Clara sudah sampai pada akhir penyidikan, tinggal menunggu tanggal sidang.
Dia dan Kak Nolan sedang bertengkar hebat karena sama-sama salah paham. Aku bisa mengerti. Mereka berdua sibuk dengan pekerjaan masing-masing sehingga komunikasi pun terganggu. Padahal mereka hanya berteman biasa, belum ada yang menyatakan cinta.
Aku dan Theo yang setiap hari bertemu dan bicara saja bisa salah paham dan bertengkar hebat. Apalagi mereka yang jauh dan jarang berbagi cerita. Masalah terbesar kami hanya satu. Sifat Theo yang pencemburu berat. Sampai Bastian yang tulus berteman pun dia curigai.
Chika tidak membuat postingan apa pun sejak pagi, maka aku yang memulai. Teman-teman segera merespons, maka aku menyempatkan membalas komentar mereka sebelum Theo marah kepadaku. Dia sudah melotot dari tadi karena aku abaikan.
“Malam ini dan besok ada undangan, tetapi tidak ada gunanya kita datang. Tunangan Nisa sedang keluar kota, ‘kan?” tanyanya. Aku mengangguk. “Kita lakukan hal yang lebih baik saja.”
“Yang lebih baik? Apa?” tanyaku bingung. Aku memekik pelan ketika dia tiba-tiba membopong tubuhku. “Theo, yang benar saja.”
“Kita sudah puasa satu minggu. Jangan bilang, lo tidak menginginkannya juga.”
Tentu saja aku menginginkannya. Aku selalu menginginkan dia. Tetapi tidak seharian juga berada di tempat tidur. Walau aku menyukai ini, aku memikirkan apa anggapan para pekerja dengan ulah kami yang mengurung diri di kamar. Theo mana mau tahu tentang itu.
Genap satu bulan menjadi asisten Kakak, aku akhirnya menerima pesan berisi bukti transfer dari Kak Jericho. Dia mengirim gajiku. Jantungku berdebar-debar bahagia menerima gaji pertamaku itu. Aku segera mengirim bagian yang sudah aku tetapkan sebagai cicilan kawat gigiku.
Aku menyimpan sisanya sambil memikirkan apa yang sebaiknya aku lakukan dengan itu. Hal pertama yang tebersit di benakku adalah mentraktir suamiku makan malam yang romantis berdua. Kalau diingat-ingat, kami belum pernah kencan begitu sejak resmi bersama.
“Untuk apa membuang uang demi hal yang bisa kita dapatkan secara gratis?” Dia mengangkat kartu undangan yang dia bawa.
Aku mengambil dari tangannya dan membacanya. “Besok malam? Mengapa kamu baru memberi tahu aku sekarang? Aku belum memesan penata rias.”
“Semuanya sudah gue urus. Lo tinggal duduk manis saja.” Dia mengecup pipiku. Aku tersenyum.
Kami menghadiri resepsi pernikahan di sebuah aula hotel, jadi aku tidak bisa tampil biasa saja. Lagi pula, jika Chika dan Venny juga hadir, aku harus tampil sama baiknya dengan mereka. Aku tidak mau orang-orang membandingkan kami dan menilai Theo bernasib sîàl sudah menikah denganku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi sudah tidak ada lagi berita di media mengenai malangnya Venny dan jahatnya aku yang sudah menjadi simpanan Theo. Namun aku belum bisa tenang sampai orang tuanya mau mengakui aku sebagai menantu sah mereka.
__ADS_1
Benar saja. Saat kami tiba di aula hotel, undangan lain melihat kami dan menatap aku dengan sinis. Terutama kaum wanita yang entah iri Theo tidak memilih putri mereka atau cemburu karena Theo menikahi aku yang tidak lebih cantik dari mereka.
Chika, Pak Norman, Venny, dan akhirnya, Nisa. Sayang sekali, Rahma tidak ada di tempat ini. Dia pasti lebih suka berada di tempat di mana Kak Jericho hadir. Bila dia juga datang, maka semua orang yang ingin aku beri pelajaran ada di satu tempat yang sama.
“Wah, wah, aku tidak percaya dengan mataku sendiri.” Nisa melihat aku dari kepala hingga kaki. “Aku tahu kamu olahraga mati-matian demi menguruskan badan, tetapi wajah dan gigimu … Kamu operasi plastik di Amerika?” ejeknya.
“Sayang,” tegur tunangannya dengan sopan.
Nisa tertawa kecil. “Aku hanya berkata jujur. Kamu harus lihat fotonya dahulu. Dia berubah drastis.”
“Hai, Altheo,” sapa pria itu sambil mengulurkan tangannya kepada suamiku.
“Hai, Edrick,” balas Theo yang menjabat tangannya. “Perkenalkan, istri gue, Amarilis.”
“Hai, Amarilis.” Dia mengulurkan tangannya kepadaku, tetapi Theo menghalanginya.
“Tidak perlu menyentuhnya. Cukup perkenalkan diri lo,” ucap Theo dengan serius. Aku sampai malu melihat tingkahnya sehingga tidak bisa membalas perkenalan dari pria itu.
Ya, Tuhan. Pria ini benar-benar sayang kepada tunangannya dari caranya menatap Nisa. Dia jauh lebih tampan dilihat langsung daripada fotonya di media sosial. Wanita bodoh ini tidak bersyukur memiliki pria yang aku yakin diinginkan oleh banyak wanita lain yang ada di aula ini.
“Rasanya seperti reuni, ya?” ucap Chika yang datang bergabung bersama kami. Pak Norman juga ikut bersamanya. “Sayang, ini Nisa, temanku di SMU.”
“Lucu, ya. Kita tinggal satu kota bertahun-tahun, tetapi baru kali ini saling menyapa ketika bertemu,” sindir Nisa yang melirik aku penuh arti.
“Lo? Istri Norman juga teman sekolah kamu, sayang?” tanya Edrick. “Kebetulan sekali. Lalu mengapa kamu tidak datang pada acara pernikahan mereka?”
“Chika tidak mengundang aku. Mana mungkin aku datang ke hotel mewah itu tanpanya. Bisa-bisa aku diusir penerima tamu.” Nisa melirik Chika.
“Edrick, Theo, aku pinjam istri kalian, ya.” Chika meraih tanganku dan Nisa. “Kalian para suami bisa membahas pekerjaan. Bukankah itu topik kesukaan kalian?”
Theo menatap aku dengan khawatir, tetapi aku menggeleng pelan. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Apa yang bisa seorang Chika lakukan di tempat seramai ini terhadap aku? Mantan temanku itu membawa kami mendekati meja saji untuk mengambil minuman.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanyanya dengan serius. “Kita sepakat kita tidak saling mengenal lagi. Kita tidak saling menegur di mana pun kita bertemu.”
__ADS_1
“Jangan salahkan aku,” kata Nisa berkelit. “Aku penasaran dengan penampilan Amarilis yang sangat berbeda. Foto di media sosial bisa menipu, jadi aku tidak menyangka dia aslinya memang berubah drastis.” Dia menoleh ke arahku. “Katakan, kamu operasi plastik di klinik mana? Biasanya orang lebih memilih untuk melakukannya di Asia. Mengapa kamu malah ke Amerika?”
“Ada apa? Ada yang mau kamu ubah dari wajahmu?” ejekku. “Chika benar. Kita tidak seharusnya saling menyapa. Kita sudah sepakat. Sayangku tidak suka jauh terlalu lama dariku. Sampai nanti.”
Chika menahan aku dengan memegang lenganku. “Hentikan apa yang kamu lakukan.” Dia menatap aku dengan tajam.
Aku menelengkan kepalaku. “Apa maksudmu, Chika? Bicara yang jelas. Apa kamu menyuruh aku untuk tidak dekat-dekat dengan suamiku sendiri?”
Nisa tertawa kecil. “Tunggu, tunggu. Jangan bilang, kamu masih mencintai Theo?” ejeknya.
“Aku tidak peduli dengan Theo.” Dia melepaskan tanganku dengan kasar. “Aku mencintai suamiku. Aku hanya tidak suka dia mendadak aktif di medsos dan sengaja menarik perhatian orang.”
“Oohh. Kamu akhirnya dapat saingan berat juga.” Nisa sengaja memanas-manasi Chika. “Begini saja. Aku akan memberi reaksi pada semua postinganmu supaya kamu tidak kalah tenar.”
Chika menoleh ke arahnya. “Apa kamu sedang màbúk? Dari tadi bicaramu melantur. Kamu jangan sapa Amarilis, Rahma, atau aku lagi. Ingat, kita berempat sepakat kita tidak saling mengenal.”
Dia pergi, kembali kepada suaminya. Sesuatu telah terjadi. Aku tidak tahu apa. Mungkinkah dia tidak mau dekat dengan kami karena keluarga suaminya? Memang agak aneh keluarga Wiryawan mau menerima dia menjadi menantu mereka.
Apalagi setelah skandal video dia menyuruh orang memukul aku di kampus pernah viral. Semua yang pernah menjadi korbannya, Katelia, Rahma, dan Nisa berlomba membuka kejahatannya di postingan mereka atau kolom komentar berbagai media. Serangan yang luar biasa.
Theo memang mengerikan kalau dia sudah marah. Dia tidak pikir panjang lagi menyebarkan video itu demi membatalkan pernikahannya dengan Chika. Karena itu, aku penasaran. Apa yang sudah dia lakukan sehingga Venny tidak berusaha untuk mendekati dia lagi?
Wanita itu berdiri jauh dari Theo juga aku. Padahal dia sebelumnya tidak segan untuk bicara sok akrab dengan Theo atau menunjukkan seolah mereka masih bersama. Tempat ini cukup strategis untuk membenarkan atau menepis gosip.
“Kamu dengan Theo, Chika dengan Norman, dan aku dengan Edrick. Rahma sepertinya tidak juga berubah haluan untuk mengejar kakakmu.” Nisa tertawa geli. “Akhirnya, aku juga yang menang.”
Aku menoleh kepadanya. “Kamu yang menang?”
Dia mengangguk sambil tersenyum bangga. “Aku yang punya pasangan paling kaya di antara kita berempat. Kamu tunggu saja. Pernikahan kami akan lebih megah dari Chika atau pertunangan Theo yang terakhir. Kamu bodoh tidak meminta acara yang mewah, sedangkan kakakmu—”
Dia melihat ke arah belakangku. “Ah, dia panjang umur. Aku yakin dia tidak akan membuat resepsi yang besar karena gajinya sebagai model tidak lebih banyak dari Edrick. Rahma hanya perempuan. Aku tidak yakin orang tuanya mau mengeluarkan uang ratusan juta untuknya.”
Apa katanya? Rahma? Aku menoleh ke arah yang dia lihat. Kakak tidak bilang dia akan datang ke pesta ini. Jadwalnya hanya makan malam dengan rekan modelnya. Jadi, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Kakak bukan hanya datang bersama Rahma, tetapi juga bergandengan tangan.
__ADS_1