
Begitu mengenali benda yang sedang dia lihat, aku segera mendekatinya. “Sayang, aku mau ini, ini … ah, ini juga! Waah, yang ini manis sekali!”
“Lihat pakai ponsel lo sendiri. Panas, Kat.” Dia berbaring menyamping, memunggungi aku.
Tentu saja aku tidak menyerah. Aku mendekat lagi dan melihat ke arah layar ponselnya. Dia masih asyik mengamati foto perlengkapan bayi lewat aplikasi belanja daring. Kandunganku berusia tepat dua puluh delapan minggu. Jadi, sudah waktunya untuk melihat-lihat keperluannya.
Aku berharap dia masih betah tumbuh di dalam tubuhku sampai usianya cukup untuk dilahirkan. Tujuh bulan masih muda sekali. Karena itu, aku sudah tidak sabar untuk pulang. Aku mau melihat bayiku lewat ultrasonografi. Kami tidak bisa melakukannya di sini karena tidak bisa ke mana-mana.
Namun dokter kandungan sudah pernah datang untuk memeriksa keadaanku dan si kecil. Kami berdua baik-baik saja. Dokter itu mengingatkan aku dengan keras agar tidak stres dengan keadaan kami pada saat itu. Nasihat yang aneh. Orang normal pasti stres terkurung di rumah, apalagi hamil.
“Gue hanya lihat-lihat. Kita enggak bisa beli barang-barang ini sekarang,” katanya, mengingatkan.
“Iya. Aku juga hanya lihat-lihat,” ujarku berkelit.
“Banyak juga barang warna merah muda yang bagus,” gumamnya.
“Pas sekali! Anak kita pasti perempuan.”
“Sejak kapan warna pink hanya untuk perempuan? Gue mau anak gue pakai warna apa pun, enggak peduli dengan apa kata orang.” Aku tersenyum mendengar kalimatnya itu.
Walau tidak membeli, kami saling bertukar pikiran mengenai baju, boks, hingga merek popok yang akan kami gunakan. Ada banyak sekali detail perlengkapan bayi yang baru kami ketahui. Aku tidak mau mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk keperluan beberapa bulan.
Jaminan uang yang kami dapatkan setiap bulan dari profit restoran Antonio tidak boleh dihabiskan begitu saja. Theo baru mulai bekerja lagi setelah menggunakan begitu banyak tabungannya untukku. Aku juga tidak akan bisa bekerja beberapa bulan setelah melahirkan. Jadi, kami perlu berhemat.
Anak kami akan membutuhkan banyak hal kelak. Kalau kami tidak menabung dari sekarang, kami yang akan kesulitan jika mengalami krisis keuangan lagi. Antonio juga tidak hidup selamanya. Bisa saja pembeli seluruh asetnya melanggar perjanjian, siapa yang bisa menuntut? Aku dan suamiku tidak akan bisa berbuat apa-apa jika pengiriman profit dihentikan.
Inilah alasan aku mau berkarier dahulu sebelum menikah. Dasar Theo tidak sabaran sehingga kami menikah pada usia yang masih sangat muda. Kami juga sama-sama tidak punya simpanan yang cukup besar usai tamat dari kuliah tingkat master.
“Lo memikirkan apa?” tanyanya, membuyarkan lamunanku.
“Masa depan kita,” akuku.
“Kita akan baik-baik saja. Percaya sama gue. Lo dan anak kita enggak akan kekurangan apa pun.” Dia mengecup ujung hidungku. “Ayo, saatnya untuk tidur atau lo akan terus berpikir buruk.”
__ADS_1
Sidang putusan Clara pun digelar. Dia mendapat hukuman penjara selama tujuh tahun. Jauh lebih lama dari yang kami duga. Kami pikir dia akan mendekam di balik sel sama lamanya dengan Hillary. Ternyata tidak. Dari hukuman penjara maksimal sembilan tahun yang disebut penuntut umum, hakim mengetuk palu pada angka tujuh.
Menurut berita, Clara tidak menerima keputusan itu sampai pengacaranya harus menenangkannya. Sayang sekali, persidangan itu berlangsung tertutup. Jadi, tidak ada wartawan yang diizinkan untuk memotret atau merekam apa pun yang terjadi di ruang sidang.
Dia pantas mendapatkan semua hukuman atas perbuatannya itu. Sampai detik-detik persidangannya akan digelar pun, dia tidak juga menunjukkan rasa menyesal. Aku yakin hal itu yang membuat hakim tidak mau memberi dia hukuman yang ringan.
Usianya masih muda saat bebas nanti, jadi Meghan perlu berhati-hati terhadap kakaknya itu. Dia mungkin saja mendapatkan dukungan dari orang tua dan seluruh pemegang saham. Namun dari sikap Clara selama ini, aku yakin dia tidak akan diam saja melihat adiknya yang menjadi CEO.
“Sampai bertemu lain kali, Amarilis. Aku pasti akan berkunjung untuk melihat bayimu.” Meghan memeluk aku dengan erat. Dia datang ke rumah Antonio untuk melepas kepulanganku.
“Sampai bertemu, Meghan. Maaf, keadaannya jadi begini.” Aku mengusap-usap punggungnya.
“Tidak apa-apa. Aku puas menjadi temanmu, walau kita batal menjadi ipar.” Aku juga menyayangkan hal itu, tetapi Antonio benar. Mereka akan menemukan pasangan yang lebih cocok.
Aku melepaskan pelukanku dan memeluk pria tua yang baik hati itu. “Terima kasih untuk segalanya, Antonio. Beri tahu aku jika kamu mau keliling Indonesia lagi.”
“Mungkin tahun depan. Bukan hanya Meghan yang mau melihat anakmu,” candanya.
Setelah memeluk Buddy, aku mengikuti Theo menuju mobil polisi yang sudah siap untuk mengantar kami ke bandara. Akhirnya, kami akan pulang juga setelah dua bulan lebih mendekam di rumah. Aku sudah tidak sabar untuk beraktivitas di luar ruangan lagi.
Kami pulang dan aku sampai memeluk pintu saking rindunya. Keluarga Theo juga ikut bersama kami. Suamiku meminta aku untuk beristirahat di kamar, tetapi aku menolak. Aku sudah tidur sepanjang penerbangan, jadi aku tidak mengantuk sama sekali.
Mama Theo bercerita penuh semangat mengenai pengalaman kami selama berada di Amerika. Kak Nolan berdiri dan keluar dari ruang keluarga, maka aku melakukan hal yang sama. Aku tidak melihat dia di aula, tetapi kepala pelayan melirik ke arah pintu samping. Aku mengangguk berterima kasih.
Kakak berada di teras samping, sedang berdiri sambil menatap ke arah langit. Kakakku yang malang. Dia tidak pernah bicara tentang cinta, tetapi aku tahu Meghan adalah wanita kedua yang berhasil menarik perhatiannya. Sayang sekali, hubungan itu berakhir sebelum dimulai.
“Kalian tidak akan bisa bersama, apalagi sejak sidang putusan kakaknya,” kataku sambil berjalan mendekatinya dari belakang.
Dia mengangguk pelan. “Aku tahu. Kami sudah membahasnya saat bertemu di Medan. Kesalahan fatal Clara tidak akan pernah dimaafkan para pemegang saham. Om Husada adalah rekan bisnis mereka. Siapa yang mau bekerja sama dengan kolega yang mudah saja menôdöngkan sènjàta?”
Aku berdiri di sisinya. “Kalau ada perempuan yang cantik, baik hati, dan pantang menyerah seperti dia, akan aku perkenalkan kepada Kakak.”
Dia menoleh. “Pastikan dia juga punya usaha di bidang yang sama. Papa pasti senang kalau ada hotel lain yang mau merger. Lebih baik lagi kalau perempuan itu anak tunggal.” Dia mengedipkan matanya.
__ADS_1
Aku tertawa geli. “Aku pikir Kakak masih patah hati. Ternyata cepat juga pulihnya, ya,” godaku.
“Menangis dan menyesal tidak akan mengubah keadaan. Untuk apa aku membuang waktuku yang berharga? Lebih baik aku tetap maju dan fokus bekerja. Aku yakin Meghan juga bersikap sama.”
Jadi itu alasannya. Aku sempat heran melihat betapa tegarnya sahabatku menjalani kenyataan dia dan Kakak tidak bisa bersama. Ternyata mereka sudah bicara sampai sejauh itu. Benar juga. Keadaan tidak akan bisa diubah dengan menyesali nasib. Yang bisa mereka lakukan adalah melanjutkan hidup dan mencari orang yang cocok.
Kakakku benar-benar sudah dewasa. Semoga saja pengorbanannya dan Meghan untuk keluarga akan membuahkan hasil yang baik. Entah itu lewat kepemimpinan mereka yang hebat atau calon pasangan hidup yang saling mendukung.
Kami menemui dokter kandungan pada keesokan harinya. Seluruh keluarga kami senang melihat si kecil, bahkan mendengar detak jantungnya. Aku menolak untuk mengetahui jenis kelaminnya, tetapi tidak melarang orang tua kami jika bertanya kepada dokter. Selama mereka merahasiakannya.
Mereka menjaga rahasia itu dengan baik lewat pilihan warna perlengkapan bayi yang mereka beli. Tidak ada warna yang dominan sehingga aku dan Theo tidak bisa menebak anak kami laki-laki atau perempuan. Dia yakin buah hati kami laki-laki, tetapi aku mau perempuan.
“Lo sadar kalau anak kita perempuan, maka lo harus hamil lagi, ‘kan?” Dia memicingkan matanya.
“Proses membuatnya enak, jadi aku tidak keberatan.” Aku mengangkat kedua bahuku dengan santai.
“Proses hamil dan melahirkannya tidak enak, sayang,” katanya, mengingatkan.
“Itu risiko yang rela aku jalani.” Aku mengecup pipinya.
Selama satu minggu, aku hanya di rumah, sedangkan Theo langsung bekerja ke kantor. Gino sangat lega bisa kembali bekerja seperti biasanya. Dia senang gajinya naik beberapa kali lipat, tetapi dia lebih suka bekerja dengan santai. Aku memberinya oleh-oleh sebagai ucapan terima kasih.
Karena aku masih diizinkan terbang, maka aku memanfaatkannya sebaik mungkin. Ada beberapa hal lagi yang perlu aku selesaikan. Bila sebelumnya aku datang ke medan berdua Theo, maka mertuaku tidak mau ketinggalan. Mereka ikut bersama kami ke rumah orang tuaku.
Pada Sabtu pagi itu, kami pergi bersama. Theo yang duduk di sisiku tidak mau melepaskan tanganku sama sekali. Bunda yang duduk di sisi kananku juga begitu. Keberanian yang semula aku rasakan malah surut, tetapi aku menguatkan diriku.
Kami mampir ke sebuah toko untuk membeli bunga segar, lalu melanjutkan perjalanan. Saat tiba di tujuan, aku menelan ludah dengan berat. Ternyata melakukannya tidak semudah mengucapkannya. Pantas saja Theo dan Bunda tidak lepas memegang tanganku.
“Lo yakin bisa melakukan ini sekarang?” tanya Theo. “Kita bisa kembali lain hari kalau lo belum kuat.”
Aku hanya bisa berdiri setelah keluar dari mobil, tidak sanggup melangkahkan kaki. “Tidak. Aku harus melakukannya hari ini.” Aku membulatkan tekadku. “Aku harus menepati janjiku.”
__ADS_1
[Amarilis: Theo, jangan lupa ingatkan pembaca untuk Vote novel kita hari ini. Cepat. Lihat baju bayinya bisa dilanjutkan nanti.]