
~Amarilis~
Aku hamil. Aku masih tidak percaya ada yang tumbuh dalam tubuhku. Setelah aku menertawakan Bunda dan Mama, lalu lega masih bisa fokus pada rencanaku ke depan, anak ini datang sekarang. Apa dia juga sedang mengejek aku dengan bermain petak umpet?
Bukannya aku tidak menginginkan dia, tetapi aku perlu melakukan sesuatu sebelum mengabdikan seluruh waktuku untuk seorang anak. Theo memang sudah gila. Kalau saja dia tidak terus melakukan itu, aku pasti sempat membeli alat pencegah kehamilan.
Tiba-tiba saja terdengar bunyi benda jatuh dan Ayah menyebut nama Theo. Aku segera panik, tetapi Bunda dan Mama menenangkan aku. Melihat dia terduduk dengan tangan berada di kepalanya, aku pun tahu dia diserang sakit kepala yang hebat lagi.
Dasar bodoh. Gara-gara tidak mau minum obat, dia harus mengalami hal itu berulang kali. Melihat dia tidak sadarkan diri, semua orang semakin panik. Biasanya aku santai saja menyaksikan hal itu, tetapi dokter dan suster juga ikut khawatir. Jantungku mulai berdebar kencang.
Dokter memeriksa keadaannya, sedangkan suster keluar entah melakukan apa. Aku hanya bisa duduk di dipan menyaksikan dokter itu menolong suamiku. Para pria diminta untuk keluar dan dua orang pria memasuki ruangan. Mereka membopong Theo dengan hati-hati, lalu membawanya keluar. Aku mengikuti mereka dengan rasa khawatir. Ternyata di luar sudah ada brankar.
Kami menyelesaikan urusan dengan dokter kandungan, Ayah dan Kakak yang mengikuti Theo. Aku menerima resep dari dokter dan berusaha mendengar saran darinya, walau kepalaku tetap tertuju kepada suamiku. Begitu dia mempersilakan aku pergi, kami menuju ruang gawat darurat.
“Ibu adalah istrinya?” tanya wanita berjubah putih itu. Aku mengangguk. “Ibu, mohon jaga suami Ibu dengan baik. Kondisinya sangat buruk. Dokter meresepkan obat itu tidak main-main. Semuanya sudah atas pertimbangan demi kesembuhan pasien. Saya perhatikan suami Ibu tidak meminum obat secara teratur. Bila ini diteruskan—”
“Tunggu sebentar, Dok,” sela Bunda. “Putri saya sedang kurang sehat. Dia baru mengetahui dirinya hamil. Kalau mau marah, marahi suaminya saja ketika sadar. Jangan putri saya. Karena dia alasan kami datang ke rumah sakit. Jangan sampai dia keguguran akibat banyak pikiran.”
“Oh.” Dokter itu melihat aku dan orang tuaku secara bergantian. “Maafkan saya. Saya tidak punya maksud jahat. Mengenai suami Ibu, kami akan lihat perkembangannya. Setelah dia bangun, kami akan lakukan pemeriksaan lagi.”
Kami meninggalkan Theo agar dia bisa beristirahat. Kedua papaku dan Kakak berangkat ke tempat kerja mereka, sedangkan aku dan kedua ibuku duduk di ruang tunggu. Seharusnya kami hanya sebentar di sini. Mengapa Theo malah jatuh sakit sekarang? Apa karena dia terlalu bahagia?
Menjelang siang, Theo belum bangun juga, maka kami mendesak Mama untuk pergi ke toko. Papa tidak mungkin mengurus segalanya di sana seorang diri. Apalagi toko masih ramai pada jam sekolah, terutama pulang kerja. Papa pasti butuh tenaga bantuan.
Ketika Ayah dan Kakak datang, Theo belum juga bangun. Aku pun panik. Dokter yang memeriksa mengatakan bahwa dia merespons, tidak koma. Jadi, mereka juga bingung mengapa dia belum sadar. Aku menguatkan diri untuk tidak menangis atau membiarkan emosi menguasai aku. Ada anak yang perlu aku jaga di tubuhku.
“Apa mungkin dia kelelahan sehingga tidur lama begitu? Dia setiap hari ikut bekerja bersama kami. Padahal aku sudah tahu dia sedang dalam masa pemulihan.” Ayah merasa bersalah.
“Tidak, Ayah.” Aku memegang tangannya. “Ini bukan salah siapa-siapa selain Theo. Dia yang bandel tidak mau minum obat. Dokter bilang, dia baik-baik saja. Kita biarkan dia beristirahat.”
__ADS_1
“Iya, Pa. Kalau dokter berkata begitu, maka kita tenang saja.” Kakak menepuk bahu Ayah.
Aku menolak pulang dan ingin ada di sisi Theo sampai dia bangun. Maka Ayah meminta dia dipindah ke kamar rawat. Pilihan yang tepat karena dia bisa tenang beristirahat di satu kamar tanpa ada orang lain di sekitarnya, juga tidak ada teriakan intruksi setiap kali ada pasien baru yang masuk.
Ayah dan Bunda pulang sehingga hanya aku dan Kakak yang berjaga di kamar. Obat yang aku terima dari dokter menolong aku tidur pada malam itu. Walau aku mengkhawatirkan keadaan Theo, aku tidak bisa abai dengan kesehatanku sendiri. Kakak berjanji akan membangunkan aku jika dia sadar.
Ternyata sampai pagi tiba, dia masih tidur. Aku tidak percaya dia melakukan ini kepadaku. Kami baru saja mendapat kabar baik. Anak yang dia idam-idamkan tumbuh dalam rahimku, tetapi begini cara dia menyambut kedatangan buah hati kami. Aku tidak tahan lagi.
“Altheo Gunawan Husada,” bisikku di telinganya. “Kalau kamu tidak buka matamu sekarang juga, aku bersumpah kamu akan menyesal. Tidurmu sudah cukup lama.”
Kak Nolan menatap aku penuh protes, tetapi aku mengabaikannya. Dia yang sudah memancing rasa kesalku. Yang benar saja. Dokter mengatakan dia baik-baik saja, maka sudah seharusnya dia bangun. Aku tidak percaya dia benar-benar sakit.
“Altheo—” kataku lagi.
“Iya, gue dengar,” selanya.
“Dasar bodoh!” Aku segera memukul dadanya, tidak peduli dengan teriakan kesakitannya.
“Apa yang kamu lakukan?” Kak Nolan memeluk aku dari belakang dan menjauhkan aku dari tempat tidur. “Dia sedang sakit. Mengapa kamu memukul dia?”
“Karena dia sudah membuat semua orang khawatir!” Aku memberontak ingin lepas, tetapi Kakak tidak mau melonggarkan pelukannya. “Lepaskan aku, Kak!”
“Kamu tenang, baru aku lepaskan,” balasnya.
“Nolan, hati-hati. Dia sedang hamil!” seru Theo yang berusaha untuk duduk.
“Oh. Jadi, kamu ingat aku sedang hamil? Lalu mengapa kamu malah enak-enakan tidur dari kemarin sampai pagi ini? Mengapa tidak mati saja sekalian!?” umpatku kesal.
Pintu kamar diketuk, lalu dibuka. Kami serentak melihat ke arahnya. Ayah dan Bunda yang datang. Mereka menatap kami dengan heran. Merasakan perutku lapar, aku menoleh ke arah kedua tangan mereka. Para koki pasti sudah menyiapkan sarapan untuk kami.
__ADS_1
“Apa yang terjadi di sini?” tanya Bunda.
Benar saja. Ayah membawa tas besar yang aku yakin berisi makanan. “Baguslah, Ayah membawa makanan. Aku sudah lapar.”
Aku menerima tas itu dan membawanya ke sofa. Aku dan Kakak mengambil jatah kami, lalu segera menyantapnya. Bunda dan Ayah mendekati sisi tempat tidur untuk melihat keadaan Theo. Dasar pembuat onar. Dia sama sekali tidak peduli aku bermalam di rumah sakit dalam keadaan begini.
Sebagai hukumannya, aku tidak memberikan sedikit pun makanan yang Bunda bawa. Dia bisa makan yang disediakan oleh rumah sakit. Kakak mengurus administrasi, sedangkan aku membantu Bunda berkemas untuk pulang. Theo membersihkan diri dan berganti pakaian di kamar mandi.
Ketika dia akan menggandeng tanganku, aku mengelak. Aku lebih memilih berjalan bersama Bunda. Aku juga tidak mau duduk di sisinya dalam perjalanan pulang. Bunda duduk di antara kami. Kalau dia pikir aku akan memaafkan dia begitu saja atas dramanya itu, dia harus pikir ulang.
“Sayang.” Dia mencoba untuk membujuk aku saat kami sudah berdua saja di kamar.
“Tidak usah sayang-sayang. Kamu rapikan bajumu, aku mau mandi.” Aku memasuki kamar mandi, menutup pintu, dan menguncinya. Enak saja dia mau mendapatkan maaf secepat itu.
Usai mandi, keadaanku lebih tenang. Mau marah juga tidak ada gunanya, hanya akan menyakiti diriku sendiri dan janinku. Teringat dia, aku melihat bayanganku di cermin. Usianya enam minggu. Belum kelihatan ada tonjolan perutku. Mataku memanas.
Jika bukan karena aku ada di tubuh Amarilis, mungkin aku tidak akan bisa hamil. Bunda bilang, aku sudah kehilangan kesempatan itu ketika dokter memberi vonis. Aku tidak akan bisa menikah. Mana ada keluarga terpandang yang mau menerima perempuan mandul.
Keturunan adalah segalanya bagi keluarga yang terpandang. Mereka membutuhkan penerus yang akan melanjutkan pucuk pimpinan dalam keluarga mereka, khususnya usaha keluarga. Sama seperti Ayah, Om Azarya juga begitu. Namun Amarilis memberi jalan keluar lewat tubuhnya.
Bunda benar. Amarilis adalah malaikat penolongku. Tubuhnya telah membantu aku meraih banyak hal, termasuk Theo. Dia tidak cantik, tetapi dengan olahraga, disiplin, dan materi, wajahnya berubah total. Aku kini punya banyak teman, bahkan orang-orang mulai menanyakan rahasiaku bisa memiliki wajah dan tubuh ini. Hal yang dahulu aku alami sebagai Katelia.
Sudah dimulai, Amarilis. Satu orang jahat itu sudah mulai merasakan akibat dari menyakiti kita. Aku berhasil mengambil, bahkan menikahi pemuda yang sampai sekarang masih dia sayangi. Kita hanya perlu meneteskan asam ke luka segarnya itu. Jadi, dia akan selalu ingat kejahatannya kepadamu.
Siapa selanjutnya? Nisa atau Rahma?
“Jangan marah lagi, sayang,” bujuk Theo saat aku keluar dari kamar mandi.
“Kita baru saja mendapatkan kabar bahagia dan kamu melakukan itu. Apa kamu tidak tahu betapa khawatirnya aku?” omelku. “Jangan mendekat atau sentuh aku!” Aku menghindari tangannya.
__ADS_1
“Gue punya alasan melakukan itu.” Dia berdiri di depanku, menghalangi jalanku, tidak memedulikan protesku. “Apa lo enggak mau dengar kabar baik lainnya?”