Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
13|Bukan Pencuri


__ADS_3

Buku catatan, buku kuliah, tas kecil tempat alat tulis, dan botol minuman berjatuhan di lantai. Dia tidak menyerah dan membuka semua ritsleting dan kancing yang ada pada ranselku itu. Sebuah benda yang tidak aku kenal pun bergabung dengan barang-barang milikku.


“Ini dia!” pekik Chika senang. Dia mengambilnya, lalu memeluknya dengan erat seolah barang itu adalah nyawanya. Dia mendekatkan benda itu ke muka Theo. “Ini buktinya, mengapa perempuan ini tidak pantas kamu bela. Gadis miskin seperti dia suatu hari nanti juga bisa mencuri darimu!”


Badanku gemetar dengan hebat. Aku tidak mencuri dompet itu darinya. Bagaimana benda itu bisa ada dalam tasku? Aku sampai tidak bisa bicara untuk membela diri karena emosi yang memuncak, tetapi aku harus menahan amarah sekuat tenaga.


“Dasar pencuri! Orang miskin untuk apa kuliah di sini!? Kalau tidak punya uang, pulang sana ke rumah orang tuamu! Kamu hanya akan mencoreng nama kampus saja!” amuk Chika.


“Chika, cepat periksa. Berapa uangmu yang dia curi?” ucap Rahma tanpa tahu malu.


“Ah, iya. Aku tadi mengambil uang dari ATM.” Dia segera membuka dompet mahalnya itu dan memeriksa setiap lacinya dengan saksama.


“Kalian dengar itu? Dia mencuri dompet senior kita,” kata salah seorang mahasiswa yang kebetulan lewat dan menyaksikan peristiwa itu.


“Kita harus hati-hati. Jaga milik kita, jangan sampai dia curi juga,” timpal yang lain.


“Ayo, kita masuk kelas saja. Aku tidak mau dapat tempat duduk di dekatnya,” ajak yang lain sambil menarik tangan teman di sisinya.


Aku memilih untuk berlutut dan merapikan isi tasku kembali. Ini sangat memalukan. Mereka sengaja melakukan ini di depan orang banyak. Tanganku bergetar, tetapi aku mengabaikannya. Aku tidak punya bukti yang bisa menunjukkan aku tidak melakukan hal itu. Seharusnya aku yang berhati-hati.


“Ke mana uang lima ratus ribu yang ada di dompetku!?” pekik Chika panik, tetapi aku tahu dia hanya bersandiwara. “Cepat, kalian periksa dompetnya!”


Rahma dan Nisa kembali mengobrak-abrik tas dan dompetku, mencari benda yang tidak akan mereka temukan. Aku tidak membawa uang tunai terlalu banyak, apalagi kartu ATM. Pemalakan yang dilakukan oleh preman tengil itu memberi aku pelajaran berharga.


Semua uangku tersimpan di bank, sedangkan uang untuk keadaan darurat tersembunyi di tubuhku. Kartu berharga aku tinggalkan di kamarku, di tempat yang tidak akan diduga-duga orang. Jadi, yang ada di dompetku hanya kartu identitas dan uang transportasi secukupnya.


“Pencuri! Kembalikan uangku! Kamu pakai untuk apa uang itu! Cepat, kembalikan!” tuduhnya tanpa rasa malu sambil mendorong tubuhku hingga aku terduduk di lantai.


“Ada apa ini?” tanya sebuah suara yang penuh karisma.


“Maaf, Pak. Ini ada orang yang mencuri dompet saya, Pak,” adu Chika.

__ADS_1


Aku selesai merapikan semua barangku dan menutup ranselku kembali, maka aku berdiri. “Saya tidak mencuri dompetnya, Pak,” kataku, membela diri. “Kalau benar dia kehilangan uang lima ratus ribu, saya butuh bukti bahwa memang uang itu ada di sana sebelum dompetnya hilang.”


“Apa katamu!? Kamu yang sudah mengambilnya, kamu juga yang menuntut bukti?” protes Chika.


“Dari dahulu kamu memang tidak tahu malu!” Rahma mendorong bahuku dengan keras.


“Dia ada benarnya. Apa kamu punya bukti ada uang sebesar itu dalam dompetmu? Lagi pula, untuk apa kamu bawa uang sebanyak itu ke kampus?” tanya dosen itu dengan bijak.


“Kami mau membeli buku yang ditugaskan dosen, Pak. Itu uang kami bertiga, karena teman-teman menitipkan uang mereka kepada saya,” ucap Chika dengan mulus dalam berbohong.


Pria itu memandang mereka bertiga, lalu menoleh kepadaku. Dia kembali menatap Chika. “Kalian masuk ke kelas, temui saya setelah perkuliahan selesai,” kata pria itu.


Aku tidak melihat Sonata maupun Theo berdiri di dekatku. Baru saja mendapat teman, aku harus kehilangan dia. Ketiga orang ini sudah sangat keterlaluan. Aku tidak mengambil dompet itu. Lebih baik aku menyetujui tawaran Kak Jericho daripada mencuri. Aku juga punya harga diri.


Namun aku tidak bisa berkata apa-apa saat kami berada di ruang dosen. Tiga saksi melawan satu orang, aku jelas kalah jumlah. Mereka menggunakan cara yang sama yang pernah aku lakukan kepada siswa lain di sekolah. Menaruh dompet di tasnya, lalu menuduhnya mencuri.


Dosen itu memutuskan agar aku menyerahkan uang yang telah aku curi itu. Aku dengan berat hati pulang untuk mengambil kartu itu. Dia bahkan mengawal kami menuju ATM terdekat. Aku terpaksa menurut. Mereka menunggu di luar bilik ketika aku dengan berat hati menarik lima ratus ribu dari rekeningku. Uang yang aku kumpulkan dengan susah payah untuk kuliah.


“Iya, Pak. Dompet seniornya saja berani dia curi, bagaimana lagi dengan dompet teman sekelasnya atau Bapak?” tambah Rahma, memanas-manasi.


“Kamu sudah menerima uangmu kembali, itu cukup. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Beri dia kesempatan untuk berubah,” kata pria itu dengan bijak.


Aku mengepalkan tanganku melihat Chika kurang ajar itu membawa uang hasil keringatku sendiri. Baik. Dia yang meminta semua ini. Merekalah yang memulai perang, maka aku akan menerimanya dengan senang hati. Untuk apa menjadi teman baik kalau tidak tahu semua kelemahan mereka?


Bila aku dihukum karena melakukan kesalahan, akan aku terima. Namun diperas atas tuduhan palsu, aku jelas tidak akan tinggal diam. Aku harus mengambil kembali uangku itu dari tangannya.


Tante Ruth menyambut kedatanganku pada sore itu dengan ramah. Aku terkejut ketika Theo masuk ke ruang perpustakaan itu juga. Dia hanya membaca buku di sudut sofa, jauh dariku, tetapi aku merasa tidak nyaman. Apalagi dia sering berdehem, mengganggu konsentrasi aku dan adiknya.


Mamanya sampai datang mendengar teriakan protes adiknya. Theo pun berjanji akan bersikap tenang dan tidak mengganggu kami belajar. Dia memenuhi ucapannya itu sehingga Matt tidak lagi mengeluh dengan sikap atau dehemannya.


“Selamat pagi, Sonata,” sapaku pada pagi itu. Aku tidak terkejut dia memalingkan wajah dariku.

__ADS_1


Teman-teman memenuhi kursi bagian depan, hanya kursi bagian belakang yang dibiarkan kosong. Aku menganggap mereka hanya tidak mau pandangan mereka terganggu karena tubuh besarku. Hanya dengan begitu, aku bisa duduk jauh dari mereka dan tetap konsentrasi kuliah.


“Hati-hati. Pegang dompetmu dengan erat. Jangan sampai dia curi,” kata seorang gadis ketika aku memasuki rumah makan langgananku.


“Memangnya ada apa?” tanya temannya, tidak mengerti.


“Dia mencuri dompet seniornya di FEB. Apa jadinya kampus ini ada pencuri di dalamnya?” bisik perempuan pertama, tetapi cukup keras untuk aku dengar.


Setelah menerima jatah makan siangku dari pemilik warung, aku pergi dari tempat itu. Aku memilih untuk berada di kamar sewa sampai jam kuliah berikutnya. Sembari menunggu, aku bisa belajar dengan tenang tanpa ada yang kasak-kusuk di dekatku.


Lagi pula, aku juga harus menghindari si berisik Chika, Rahma, dan Nisa yang harus aku beri pelajaran itu. Namun aku perlu menunggu waktu yang tepat. Aku harus berhati-hati atau mereka akan tahu bahwa aku adalah Katelia.


Theo masih bersikap sama dengan ikut berada di ruang perpustakaan ketika aku dan Matt bersama. Pemuda itu kesal dengan ulah kakaknya, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Mamanya mengizinkan putra sulungnya itu berada di sana bersama kami.


“Kamu seperti tidak kenal aku saja.” Aku tidak menahan diri untuk bicara dengannya saat Matt keluar untuk menggunakan toilet. “Aku tidak mengambil dompet Chika. Kamu tahu sendiri itu gaya khas mereka menjebak teman-teman di sekolah kita.”


Dia hanya diam dan tetap fokus membaca bukunya. Wajahnya yang semula terlihat tampan itu berubah menjengkelkan. Bagaimana dia bisa semudah itu percaya kepada tiga perempuan nakal yang suka merundung orang lemah dan tak berdaya itu?


Tante Ruth mencoba untuk bicara, tetapi aku sudah melesat pergi lagi. Dia hanya tertawa melihat aku kabur agar tidak perlu diantar pulang. Begitu jauh dari rumah mereka, aku memperlambat langkahku. Berat sekali membawa badan gendut ini beraktivitas.


Aku baru merasa nyaman ketika berada di dalam bus kota. Ruangannya sejuk karena AC, tidak seperti ruang kerja di rumah Theo. Ada pendinginnya, tetapi ruangan itu terasa panas karena kehadirannya. Belum lagi matanya tidak berhenti mengawasi gerak-gerikku. Memangnya apa yang bisa aku curi dari perpustakaan itu? Buku klasik? Pena mahal?


“Apa ini?” Chika menerima sesuatu dari seorang anak yang aku utus. “Hei!” Anak kecil itu menuruti petunjukku dengan langsung pergi menjauh setelah memberikan titipanku kepadanya.


“Wah, jangan-jangan dari pengagum rahasia kamu,” goda Nisa, melihat kotak yang dibungkus indah tersebut. “Ayo, cepat buka.”


“Iya, Chika. Cepat, buka!” desak Rahma tidak sabar.


Gadis malang itu tersenyum bahagia, berpikir bahwa apa yang teman-temannya pikirkan mungkin ada benarnya. Aku jadi bertanya-tanya, apa ada pemuda yang dia taksir sehingga dia sebahagia itu? Wah, menarik. Dia bukan tipe perempuan yang mudah jatuh cinta.


“Apa ini!?” Dia melempar kotak itu begitu memahami isinya. Kedua temannya itu penasaran dan segera mendekati kotak itu. “Jangan! Jangan coba-coba kalian sentuh!” Chika segera mengambilnya, lalu melihat ke sekitarnya dengan mata ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2