
~Altheo~
Aku tidak suka berteman, jadi aku tidak nyaman melihat pria satu ini rajin menjalin komunikasi denganku. Namun demi misi pribadi istriku, aku mencoba untuk menyampingkan egoku sebagai orang yang terbiasa melakukan segalanya sendiri.
Dia lebih banyak bertanya tentang tahapan membuka usaha di luar negeri. Hal yang sebenarnya lebih dikuasai Papa daripada aku. Jadi, apa yang aku bagikan kepadanya hanya apa yang aku amati dari yang Papa lakukan saat bersamaku.
Karena itu, aku tidak heran dia semakin sering keluar kota untuk melayani rekan bisnis barunya. Dia masih menjajaki siapa yang cocok untuk diajak bekerja sama. Persis seperti yang Papa dan aku lakukan sebelum membuka bisnis kuliner kami di Amerika.
Saat dia mengajak makan malam berempat, aku tidak menolak. Itu adalah kesempatan untuk lebih dekat dengannya agar percaya kepadaku. Informasi yang akan aku sampaikan kepadanya sangat sensitif. Apalagi ini ada hubungannya dengan Nisa yang ternyata sangat dia cintai.
“Theo, Papa memanggil,” tegur Matt, membuyarkan lamunanku.
Aku mengangguk, lalu melirik jam pada laptopku. Ah, sudah waktunya makan siang. Kami merapikan meja seadanya, kemudian keluar dari ruangan bersama. Ruang kerja Papa ada di ujung lain gedung, jadi kami berjalan cukup jauh untuk tiba di sana.
Ternyata ada Mama yang datang membawa makanan untuk kami. Aku bisa melihat Matt melirik ke arahku, tetapi aku mengabaikannya. Kami mengisi tempat duduk yang kosong dan mulai mengisi piring masing-masing. Aku tidak melihat ada pelayan yang menemani Mama datang. Mungkin dia disuruh menunggu di luar atau kantin.
“Putraku sudah pulang dari luar negeri hampir tiga bulan, tetapi satu kali pun dia tidak mau datang makan malam ke rumah orang tuanya sendiri. Jadi, aku yang datang ke sini agar kita bisa makan bersama,” keluh Mama. “Benar kata orang. Menikah membuat anak berubah.”
“Untuk apa Theo datang kalau Mama setiap malam mengundang Keluarga Batari makan di rumah kita? Mama akui atau tidak, Theo sudah menikah.” Matt memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.
“Perempuan itu bukan dan tidak akan pernah menjadi menantuku,” kata Mama dengan tegas. Aku tidak perlu melihat untuk tahu dia sedang menatap aku dengan serius.
“Kamu bilang mau makan siang bersama. Makanlah. Jangan marahi anak kita terus. Kamu bisa bicara nanti setelah dia mengisi perutnya.” Papa memberikan piring bagian Mama kepadanya.
Walau kami tidak satu kata, aku merindukan kebersamaan kami ini. Mama benar. Sejak aku pulang, ini pertama kalinya, kami sekeluarga makan bersama. Namun itu bukan kesalahanku. Mereka tidak mau mengakui status Amarilis sebagai istriku, maka aku lebih memilih dia daripada mereka.
Apalagi saat itu aku belum mengingat apa pun. Jadi, aku berpatok pada kejadian nahas di rumah sakit. Yang benar saja, mereka mengundang orang yang aku saksikan sendiri sudah membuang aku dan menyakiti keluarga kami untuk makan malam di rumah. Amarilis yang sudah berbuat begitu baik kepada mereka malah disia-siakan. Itu sangat tidak adil.
Setelah mengingat segalanya, mataku semakin terbuka. Aku tidak habis pikir. Bagaimana bisa orang tuaku berubah sepicik ini? Hanya karena kami sepakat Venny adalah calon terakhir, mereka menjilat ludah mereka lagi dan memaafkan perbuatan sadis Keluarga Batari semudah itu.
“Kamu sebentar lagi berulang tahun,” kata Mama sambil merapikan peralatan makan kami yang sudah kosong. “Kami menyiapkan perayaan kecil-kecilan di aula kantor, sekalian bersyukur untuk kesembuhanmu. Hanya sebentar setelah jam kerja usai.”
Hanya sebentar seusai kerja. Itu artinya Amarilis tidak diundang. Namun mereka pasti mengundang orang-orang penting kenalan mereka atau sanak kami. Tidak masalah. Aku justru menunggu waktu ini untuk melaksanakan misiku. Amarilis tidak perlu hadir agar dia tidak menghalangi niatku.
__ADS_1
“Hanya perayaan dan syukuran?” sindir Matt. “Tidak ada pengumuman dadakan, Theo bertunangan dengan Venny, misalnya?”
“Giliranmu juga akan tiba. Jangan kamu pikir kami tidak tahu kamu sedang main gila,” omel Mama. “Perempuan itu sudah punya tunangan dan mereka akan menikah akhir tahun ini. Jangan ikuti jejak kakakmu dengan melakukan hal yang memalukan keluarga.”
“Apa kita sudah selesai makan?” tanyaku, menyela. “Kalau sudah, gue masih punya banyak kerjaan. Gue perlu kembali ke ruangan.”
“Kamu baru—” protes Mama, tetapi Papa menyentuh tangannya agar dia tidak lanjut bicara.
“Kamu boleh kembali ke ruang kerjamu,” kata Papa. Dia mengabaikan protes Mama lewat gerakan matanya. “Dia benar. Dia sedang banyak tugas dan aku tidak mau urusan pekerjaan jadi berantakan karena persoalan pribadi.”
“Kalau begitu, gue juga kembali sekarang,” kata Matt yang ikut kabur dari omelan Mama.
Aku punya janji makan malam. Itu adalah alasan utama aku tidak bisa lembur malam ini. Urusan di kantor ini harus aku selesaikan agar aku bisa memeriksa laporan dari restoran di Amerika sebelum tidur. Aku tidak menumpuk pekerjaan agar bagian hari ini tidak menambah pekerjaan esok hari.
Amarilis terlihat gugup saat kami berjalan menuju restoran. Terlalu akrab dengan target memang bisa membuat kita ragu dengan niat kita semula. Edrick terlalu baik untuk disakiti. Dia memang berubah drastis. Padahal Katelia yang lama tidak pernah peduli dengan perasaan orang lain.
Kami memesan makanan masing-masing, tetapi aku menambah beberapa camilan mendengar porsi yang disebut istriku kurang banyak. Dia mendelik, menyatakan protesnya. Aku mengabaikannya. Dia pasti akan menghabiskan semua makanan yang ada di hadapannya.
“Edrick jauh lebih memahami aku daripada kamu,” sindir Amarilis.
“Lo mentraktir kami makan, maka gue tidak akan menyia-nyiakan kesempatan menghemat uang belanja.” Aku merangkul bahu Amarilis. “Dia berolahraga setiap pagi. Jadi, yang dia makan malam ini akan dibakar esok hari. Lagi pula, gue lebih suka wanita gue sedikit berisi daripada kurus kering.”
“Kamu bukan sedang menghina aku, ‘kan, Theo?” ucap Nisa, tersinggung.
Edrick tertawa. “Kamu tidak akan kurus selamanya, jadi tenang saja, sayang. Tetapi Theo benar. Kami laki-laki suka bila wanita kami sedikit berisi. Kamu akan paham setelah kita menikah nanti.”
Tangan Amarilis yang ada di pahaku meremas kain celanaku, memberi sinyal. Dia pasti menahan diri untuk tidak keceplosan mengatakan yang sebenarnya kepada pria itu. Aku memegang tangannya itu dan mengusap-usap punggungnya.
Kami lebih banyak membicarakan pekerjaan dan para wanita tidak keberatan. Amarilis dan Nisa tidak mencoba untuk bicara, menepati kesepakatan mereka di kampus dahulu. Karena Edrick tidak terganggu dengan itu, maka aku menanggapi setiap kali dia meminta pendapatku.
Makanan habis, pria itu mengajak kami untuk bertemu lagi lain hari. Aku dan Amarilis sama-sama setuju. Nisa yang dari tadi resah karena ponselnya bergetar, akhirnya pamit. Dia juga sekalian mau ke toilet. Aku dan istriku saling bertukar pandang, melihat sebuah kesempatan datang.
“Aku berniat mengajak dia menikah akhir tahun ini. Kami sudah bertunangan sejak awal tahun dan menurutku, satu tahun adalah waktu yang cukup untuk mengenal lebih dalam,” kata Edrick dengan serius, mendadak saja membicarakan hal yang privasi.
__ADS_1
Dia menoleh ke arah istriku. “Apa ada hal mengenai dia yang perlu aku ketahui lagi? Theo pasti tidak tahu sebanyak yang sesama perempuan ketahui tentang teman lamanya. Ah, maafkan aku. Kamu dan Nisa tidak berteman. Apa yang aku pikirkan?” Pria itu menggaruk kepalanya, merasa bersalah.
“Tidak apa-apa, Edrick. Aku mengerti.” Amarilis tersenyum. “Kami memang tidak berteman saat SMU. Dia adalah anggota kelompok yang suka merundung aku.”
“Jadi, apa kalian tidak bicara karena belum saling memaafkan?” tanya Edrick ingin tahu.
“Nisa tidak pernah meminta maaf kepadaku. Kami hanya sepakat untuk tidak saling mengenal lagi demi ketenangan bersama,” aku Amarilis.
“Oh.” Edrick terlihat terkejut. “Dia bilang, kalian sudah bicara dan saling memaafkan masa lalu.”
Memaafkan masa lalu? Pria ini tidak tahu yang sebenarnya terjadi. Kalau dia tahu Amarilis bukanlah Amarilis, maka dia bisa kena serangan jantung. Karena itu, yang istriku tuntut bukan permintaan maaf yang ada hubungannya dengan perundungan yang mereka lakukan, tetapi jatuhnya mereka ke danau. Seandainya dia tahu, tunangannya sudah membunuh seorang gadis.
“Itu hanya satu dari banyak hal yang dia sembunyikan darimu,” tambah Amarilis.
“Ada lagi?” tanya Edrick tidak percaya. “Katakan, apa lagi yang dia sembunyikan dariku?”
Amarilis tersenyum kecut. “Tidak, Edrick. Kamu tidak akan percaya dengan informasi yang satu ini.”
Pria itu menatap aku dan istriku secara bergantian. “Biar aku yang putuskan informasi itu layak untuk aku percaya atau tidak. Apa yang Nisa lakukan yang aku tidak ketahui?”
~Author's Note~
Huuwwaaa!! Bab 190! Terima kasih banyak, teman-teman, atas dukungannya kepada Amarilis dan Altheo sampai bab ini. Popularitas novel ini tembus 55K padahal pembacanya tidak banyak. Setiap hari juga tidak sampai 100, apalagi 50 orang yang membaca. Namun pop-nya bisa setinggi itu.
Terima kasih atas komentar, jempol, vote, gift (ini yang paling banyak), iklan, bahkan tip yang teman-teman berikan untuk kedua tokoh kita. Semua ini yang membuat popularitas buku ini tinggi. Terharuuu .... Semoga saja kami bisa terus berikan yang terbaik juga agar tidak mengecewakan para pembaca.
Tidak lupa, aku mengucapkan Selamat Hari Raya Iduladha 1444 H bagi yang merayakan. Selamat berlibur dan hati-hati di jalan bagi yang keluar kota.
Salam sayang,
Meina H.
__ADS_1