
Sonata adalah orang pertama yang aku curigai melakukan hal itu. Namun sikap panik dan air mata itu bukan sandiwara. Dia benar-benar gugup dan tidak bisa tenang mengetahui tugas yang sudah selesai itu tidak ditemukan pada laptopnya.
Lagi pula, dia tidak bodoh. Jika aku kena masalah, maka dia juga. Walau dia berasal dari keluarga yang berada, dia tidak terlihat sombong seperti Chika dan teman-temannya. Semua yang menempel di badannya bukan barang mahal bermerek yang harganya puluhan hingga ratusan juta.
Jadi, tidak. Aku percaya, dia tidak menghapus berkas itu secara sengaja dari laptopnya.
“Sonata akan terseret juga bila aku kena masalah. Tidak denganmu,” paparku tanpa ragu.
“Semua bukti mengarah kepadanya.” Dia mengangkat kedua bahunya dengan santai. “Hanya dia yang memegang laptop itu selama dua puluh empat jam. Kamu malah percaya tuduhannya bahwa aku pelakunya. Kapan aku punya kesempatan memegangnya?”
Menyadari dia berulang kali menyebut teman satu kelompokku, barulah aku mengerti. Dia sengaja membuat aku curiga terhadap sahabat baruku itu. Aku berulang kali menolak berteman dengannya, bisa jadi dia cemburu aku dekat dengan Sonata.
“Jadi, itu alasan kamu melakukannya, lalu melimpahkan kesalahan kepada temanku?” Aku tertawa terkejut. “Kamu mau aku dan dia tidak berteman lagi. Begitukah?”
“Aku hanya berkata jujur mengenai temanmu, Amarilis.” Dia memasang wajah lugu. “Kamu jangan mencari-cari alasan. Memangnya kamu punya bukti aku yang menghapus dokumen itu?”
“Lalu apa buktinya bukan kamu yang menghapus dokumen itu?” Aku balik bertanya. “Kamu terus menuduh Sonata sebagai pelakunya. Mana buktinya?” Aku mengulurkan tanganku.
Dia berulang kali menyebut bukti, aku tahu alasannya. Aku tidak bodoh dan sudah berusaha untuk mencari bukti sebelum mengonfrontasi dia. Namun rekaman CCTV pada hari itu hilang. Aku yakin dia yang sudah membayar salah satu sekuriti untuk menghapus jejaknya.
Beberapa saat mengenal Sonata, aku tahu dia bukan orang yang licik seperti aku dan ketiga gadis ini. Dia tidak akan mendatangi sekuriti perpustakaan untuk melakukan hal yang melanggar hukum itu. Jadi, aku tahu Rahma pelakunya. Keluarganya dekat dengan banyak orang berpengaruh. Mudah saja baginya untuk lolos dari hukuman jika perbuatannya itu ketahuan pihak kampus.
Lagi pula, aku ingat. Ada satu momen di mana aku dan Sonata tidak ada di tempat dan perempuan ini yang menjaga barang pribadi kami. Aku tidak curiga sama sekali dia akan berbuat serendah itu, makanya kami ke toilet dan menitip tas kami dalam pengawasannya. Dia benar, aku terlalu naif.
“Kamu yang paling cerdas di antara kita berdua. Pikirkan saja sendiri siapa yang lebih pantas jadi pelakunya. Lain kali, sebelum kamu menuduh aku sembarangan lagi, tunjukkan buktinya dahulu.” Dia mendorong tubuhku menjauh, lalu bergegas keluar dari ruangan.
Jantungku berdebar dengan cepat dan napasku memburu karena adrenalin. Ternyata aku bisa juga melakukan hal yang dahulu aku kerjakan: mengancam orang agar bicara jujur. Puas rasanya melihat korbanku tidak bisa membalas lagi.
Namun tidak ada yang tahu bahwa setiap kali menyakiti orang yang tidak aku sukai, aku berdebar-debar tidak karuan. Aku memang selalu menutupinya dengan sikap tenang, karena kalau mereka tahu aku merasa gentar sedikit saja, mereka tidak akan segan lagi melawan. Sensasi yang dahulu sangat aku sukai.
Kali ini, aku justru membencinya. Karena dengan badan sebesar ini, aku selalu ketakutan akan terkena serangan jantung setiap kali organ penting itu berdetak terlalu cepat. Apalagi dadaku terasa sangat sesak, membuat aku tidak nyaman bernapas.
“Gue suka lo yang begini.” Terdengar suara seseorang dari arah pintu.
Aku menarik napas panjang, lalu menegakkan tubuhku. Mengapa dia selalu ada di mana aku berada? “Aku tidak butuh pujian darimu,” kataku sambil berjalan melewatinya.
Dia malah menangkap tanganku dan menggandeng aku menyusuri koridor. Spontan saja mata mahasiswa yang masih ada di sekitar kami melihat ke arah kami. Pemandangan yang sudah tidak mengganggu aku lagi.
“Hati-hati, Theo. Jangan sampai kamu jatuh cinta,” godaku.
__ADS_1
“Gue enggak akan jatuh cinta terlebih dahulu, Amarilis,” katanya dengan yakin. Aku mendengus.
Memangnya gadis seperti apa yang dia sukai? Aku tidak pernah memperhatikan dia sebelumnya. Selama kami sekolah, dia hanyalah pengganggu yang suka merusak kesenanganku mengerjai siswa yang bodoh, lambat, dan jelek. Tipe yang tidak seharusnya lahir di dunia ini.
Memiliki tunangan sepertinya menghalangi dia untuk dekat dengan siswa mana pun. Aku tidak ingat pernah melihat dia jalan berduaan atau digosipkan sedang dekat dengan seseorang. Walau dia tidak menonjol, aku ingat dia disukai banyak gadis karena ketampanan dan kecerdasannya.
Apalagi sikap dingin dan misteriusnya itu membuat banyak teman sekolah tertarik kepadanya. Kalau mereka tahu dia juga berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya di ibu kota, aku yakin mereka akan berebut menjadi pacarnya. Hanya satu fakta itu yang tidak kami ketahui sama sekali.
“Turun. Gue masih ada urusan,” katanya begitu kami sampai di pekarangan depan rumahnya.
“Terima kasih sudah mengantar aku ke sini,” ucapku, tidak mau bersikap tidak sopan.
Dia hanya mengangguk, lalu mengendarai sepeda motornya ke arah gerbang. Orang yang aneh, tetapi hatinya baik. Aku belum pernah bertemu orang yang menjengkelkan, sekaligus punya sisi baik seperti dia. Aku sampai bingung sendiri antara membenci atau menyukainya.
Pada saat mengajar Matt, dia tidak lagi bicara tentang masalah pribadi dan fokus dengan pelajaran kami. Keadaannya jauh lebih baik dari malam sebelumnya. Mungkin setelah bicara denganku, dia merasa sedikit lega dan bebannya berkurang.
Theo mengantar aku pulang usai makan malam. Lagi-lagi papanya tidak bergabung bersama kami. Aku penasaran ingin mengenalnya lebih dekat. Apa yang ada padanya yang membuat Papa tidak mau mengumumkan pertunanganku dengan Theo di depan umum?
“Lo? Theo, kamu mau membawa aku ke mana?” tanyaku bingung.
Kami tidak melewati jalan menuju tempat tinggalku. Dia malah terus mengendarai sepeda motornya di jalan utama. Ah, mungkin Tante Ruth memintanya melakukan sesuatu, jadi dia mampir ke suatu tempat dahulu baru mengantar aku pulang.
“Lo punya merek tertentu yang lo sukai?” tanyanya sambil melihat deretan laptop yang dipajang di sebuah konter.
“Sebentar,” ucapku tidak mengerti. Aku melihat dia dan konter itu secara bergantian. “Kamu yang mau membeli laptop, mengapa menanyakan merek kepadaku?”
“Berikan yang ini saja. Gue suka dengan laptop gue, jadi ini pasti cocok untuk dia juga,” pintanya kepada pelayan yang menemani kami.
“Baik. Mohon tunggu sebentar,” ujar karyawan itu dengan mata berbinar-binar.
Pria muda itu menanyakan warna yang dipilih dan program tertentu yang diinginkan untuk dipasang pada laptop tersebut. Aku terlalu terkejut untuk menjawab, jadi Theo yang melakukannya. Aku masih tidak percaya dengan pendengaran dan penglihatanku sendiri.
“Theo,” kataku keberatan.
“Tenang saja.” Dia menjauhkan tanganku dari kartunya, menghalangi dia untuk membayar.
Melihat kami menjadi perhatian orang-orang, maka aku mengalah. Setelah menerima laptop dalam kotaknya, dia memberikan benda itu kepadaku. Barang itu terasa sangat berat karena harganya yang tidak murah. Dari mana aku bisa mengumpulkan uang sebanyak itu untuk membayarnya?
Dia pun mengantar aku pulang. Untung saja tidak ada pemberlakuan jam malam, karena kami semua memegang kunci untuk membuka gembok pagar dan pintu rumah menuju kamar. Jadi, aku tidak perlu khawatir akan terkunci di luar.
__ADS_1
“Aku akan membayar laptop ini. Uangmu akan aku kembalikan,” kataku dengan tegas. Aku tidak suka berutang budi dengan siapa pun, terutama dia. Bisa-bisa seumur hidup dia akan menyinggung pemberiannya ini di depan kenalan kami nanti.
“Lo punya uang?” ejeknya.
“Aku akan membayarnya begitu mendapatkan beasiswa,” ucapku, menjelaskan. Dia mengangguk mengerti. “Seharusnya kamu beli yang murah saja. Aku hanya butuh untuk mengetik, tidak perlu aplikasi yang tidak ada hubungannya dengan kuliah.”
“Masih ada tiga tahun lagi buat lo untuk menyelesaikan studi, jadi gue memilih laptop yang tahan lama. Sudah, ya. Gue harus pulang.”
“Baik. Terima kasih.” Aku mundur agar dia bisa mengendarai sepeda motornya.
Sonata mengirim pesan memberi tahu bagian yang sudah selesai dia catat, tepat pada bagian tengah tugas kami. Aku mendesah lega. Syukurlah, akhir pekanku tidak terganggu sehingga jatahku mencari uang tidak akan berkurang.
Benar, ‘kan? Cowok arogan itu membuat aku kesulitan memutuskan harus membenci atau menyukai dia. Untuk saat ini, aku menyukai kebaikan hatinya. Bukan, bukan cinta. Ini hanya rasa suka seorang teman kepada temannya, ah, musuhnya, ah, terserahlah. Itu bukan masalah.
Akhir pekanku berjalan dengan lancar, dan uang yang aku terima lebih dari lumayan. Orang tuaku melakukan panggilan video, jadi aku berbincang seadanya dengan mereka. Aku senang mendengar usaha Mama makin sukses, membuatnya sibuk setiap hari.
Papa akhirnya berhenti bekerja agar bisa membantu Mama di toko kue yang baru dibukanya. Ide yang bagus, jadi Mama tidak perlu membayar orang lain dan bisa memberikan gaji kepada Papa yang ujung-ujungnya masuk ke dompet Mama juga.
“Leganya,” ucap Sonata begitu dosen keluar dari ruang kuliah. “Terima kasih banyak, Amarilis. Aku senang sekali memilih teman kelompok yang tepat. Kamu hebat!”
“Sama-sama, Sonata.” Aku berdiri setelah merapikan buku dan alat tulisku.
“Ah, ayo, aku traktir makan!” ajaknya.
“Maaf, tidak bisa.” Aku menoleh ke arah pintu. Theo sudah berdiri di sana, menunggu aku.
“Ah, benar juga. Aku perhatikan dia selalu menunggu kamu pada hari Senin dan Jumat. Apa dia mengancam kamu melakukan sesuatu untuknya?” bisiknya penasaran.
“Sampai nanti.” Aku hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaannya itu.
Theo menggandeng tanganku melewati setiap mahasiswa dan aku menemukan Kakak ada di antara mereka. Dia memicingkan matanya ke arahku, tetapi aku hanya mengabaikannya. Merasakan Theo melepas tanganku, lalu merangkul bahuku, aku tahu dia melihat Kakak juga.
“Bagaimana dengan tugas lo tadi?” tanyanya.
“Sudah beres,” jawabku.
“Bagus.” Dia mencium pelipisku. “Itu baru cewek gue.”
Jantungku berdebar dengan cepat. Apa yang baru saja dia lakukan? Tidak hanya detakan jantungku, sesuatu mengalir dari pelipis ke seluruh tubuhku dengan cepat. Sensasi yang biasanya aku rasakan ketika bertengkar dengan seseorang ini mengapa aku rasakan ketika dia mencium aku?
__ADS_1