Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
92|Bersikap Naif


__ADS_3

~Amarilis~


“Itu tidak penting. Kita akan segera mengetahui siapa yang menyuruh dia menyakiti aku. Terima kasih, ya. Kalian sudah berhasil membawa istrinya, jadi kita tidak perlu susah payah menghadapi drama penyangkalannya saat aku mengadukan perbuatannya.” Aku menyentuh tangan mereka.


“Sebagai ucapan terima kasih, Kakak yang traktir, ya,” goda Matt.


“Beres,” jawabku.


“Kira-kira apa yang akan dilakukan kampus terhadap dia?” tanya Sonata.


“Yang pasti, aku mau ganti dosen pembimbing. Aku tidak sudi berada di dekatnya lagi.”


Kabar baik aku terima pada keesokan harinya. Aku diminta untuk datang ke kampus. Melihat pria itu juga ada di ruangan, aku tidak mau masuk. Namun ternyata istrinya hadir, jadi aku memberanikan diri untuk bergabung bersama mereka. Keputusannya, aku akan dibimbing oleh dosen yang lain.


Alangkah leganya hatiku mendengarnya. Setelah menyampaikan hal itu, aku dipersilakan untuk keluar. Walau sedikit heran, aku menurutinya. Tanpa aku sadari, satu per satu mahasiswa putri datang memasuki ruang dosen jurusan kami. Gila. Apa mereka semua adalah korbannya?


“Menurut pengakuan mereka, dosen hidung belang itu tidak sampai meniduri mereka. Baru dicium saja mereka sudah menangis tidak karuan. Skripsi mereka terbengkalai, kampus bukannya mencari tahu malah membiarkan saja. Ngeri, ya,” ucap Matt yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sisiku.


“Kamu mewawancarai mereka?” tanyaku tidak percaya.


“Gue junior kesayangan, makanya mereka gampang saja terbuka sama gue.” Dia membusungkan dadanya. Dasar tukang pamer. “Gue lapar. Makan, yuk, Kak.”


“Aku punya revisi yang harus dikerjakan segera,” tolakku.


“Tetap saja Kakak harus makan siang.” Dia menarik tanganku agar mengikutinya. “Aku traktir.”


“Ng, Amarilis?” panggil seseorang dari arah belakang kami. Aku menoleh dan melihat istri dosen jahat itu sedang berjalan mendekat. “Maaf, mungkin kamu mau tahu informasi ini.”


Aku dan Matt hanya diam. Kami berjalan menuju tempat parkir sepeda motornya. Dia yang biasanya bersikap ramah kepada semua orang, hanya diam saja, sibuk dengan pikirannya sendiri. Aku juga melakukan hal yang sama. Informasi tadi sudah bisa aku tebak, tetapi aku tetap terkejut.


Matt menggandeng tanganku, mengagetkan aku. Melihat dia sedang menatap tajam ke depannya, aku menoleh ke arah yang sama. Ternyata Pak Norman berdiri di dekat mobilnya di sisi gerbang kampus kami. Apa Matt tahu tentang aku dan dia?


“Hai, Amarilis,” sapanya dengan ramah. Seolah aku tidak pernah menolak perasaannya.


“Mundur, Norman. Dia pacar Theo.” Matt menggeram kesal.

__ADS_1


“Mereka sudah menikah saja kamu tidak bisa menghalangi jika aku mau mendekati dia, apalagi cuma pacar.” Pak Norman tertawa geli.


“Kakak mau pergi sama dia atau gue?” tanya Matt. Tentu saja aku lebih memilih dia. “Lo dengar itu?”


“Baik. Aku mengalah hari ini, tetapi aku akan datang lagi.”


Dia serius dengan ucapannya pada hari terakhir aku bekerja. Dia tidak menyerah dan masih datang menemui aku. Jadi, aku yakin dia benar-benar akan datang lagi. Kalau begitu, sudah saatnya untuk bicara yang sejujurnya. Aku sudah muak melihat wajah penuh kepura-puraannya itu.


“Tidak perlu, Pak,” ucapku, membuka suara. “Saya sudah tahu rencana Bapak, jadi cukup sampai di sini. Apa Bapak tega melibatkan perasaan ibu kandung Bapak sendiri demi sebuah sandiwara?”


“Sandiwara?” Dia terdengar tersinggung. “Kamu menyebut perasaanku kepadamu ini sandiwara? Amarilis, aku serius menyukai kamu. Ibuku juga sungguh ingin kamu menjadi menantunya.”


“Chika pasti menawarkan hal yang menggiurkan sampai Bapak mau mengikuti rencananya.” Matt yang berdiri di sisiku menarik napas terkejut. “Saya tidak perlu berkaca setiap hari untuk tahu saya bukan tipe wanita kesukaan Bapak. Jadi, sudah cukup, Pak.


“Tante berpikir Bapak serius dengan perasaan Bapak sampai dia membujuk saya untuk memberi Anda sebuah kesempatan. Saya tidak mau terlibat dalam rencana jahat kalian. Apalagi sampai mempermainkan perasaan seorang ibu,” kataku dengan tegas.


“Ayo, Matt. Kita pergi.” Aku mendorong tubuhnya agar melanjutkan langkahnya.


“Aku salah sudah meremehkan kamu,” ucap Pak Norman, tetapi aku mengabaikannya saja.


Dia berhasil. Aku dan Theo sudah berakhir. Dia pasti tidak mau berhenti sampai di situ, makanya dia melibatkan Pak Norman. Jika aku masih sendiri, Theo bisa saja kembali lagi kepadaku. Sebaliknya, bila aku sudah terikat dengan seorang pria, Theo sudah tidak punya harapan lagi.


“Theo memang salah karena sudah bersikap emosional. Kakak juga salah sudah bersikap naif. Enggak ada orang yang benar-benar tulus dengan kita dalam waktu singkat, Kak. Semuanya butuh proses. Masa Kakak lebih membela Norman daripada Theo? Gue saja tersinggung, apalagi Theo,” kata Matt setelah aku menceritakan segalanya.


“Kalau bukan karena Chika ikut campur, percayalah, Pak Norman itu orang baik. Dia menolong aku mendapat pekerjaan untuk tampil di acara-acara besar dengan bayaran bagus. Dia juga satu-satunya pemilik perusahaan yang mau memberikan data sênsitifnya kepadaku untuk tugas akhirku.” Aku menjelaskan alasan sikap naifku.


“Awas saja kalau gue bertemu dengan Chika nanti. Gue akan cekik lehernya,” geramnya.


“Jangan ikut campur. Ini urusanku dengan dia.”


“Gue enggak ikut campur. Dia sudah membuat Theo susah, maka gue harus buat perhitungan. Dia juga hampir membuat Kakak trauma akibat perbuatan dosen itu.”


“Ya, sudah. Cepat habiskan makanmu. Aku harus pulang dan mengerjakan revisi skripsiku.”


“Kakak enggak akan mengadukan perbuatan dosen itu ke polisi?” tanyanya kemudian.

__ADS_1


“Tidak,” jawabku dengan cepat.


“Karena dia tidak melakukan itu atas inisiatif pribadi?” tebaknya. Aku mengangguk. “Kak, ini saat yang tepat untuk menjebloskan Chika dalam penjara. Theo akan bebas darinya, karena Papa dan Mama akhirnya mau memutuskan pertunangan mereka.”


“Kamu lupa, ya? Uang bisa meloloskan Chika dari jeratan hukum. Untuk menyakiti orang seperti kalian, caranya hanya satu, Matt, merusak reputasi. Itu pun harus hati-hati agar target tidak bisa berkelit. Orang tua kamu saja tidak percaya dengan bukti video dari putra mereka sendiri. Apalagi ucapan seorang dosen.” Aku tersenyum melihat dia membulatkan matanya.


“Jangan lupa satu hal yang paling penting. Dalam kasus seperti ini, korban juga ikut terseret. Apa kamu mau melihat aku dan korban lainnya jadi bulan-bulanan media dan warganet? Mengingat hal itu saja sudah buat aku mual, apalagi kalau dibahas terus. Chika yang untung.”


“Mengapa gue tidak berpikir sampai ke sana?”


“Sebentar lagi kamu akan paham. Itu sebabnya Theo sangat berhati-hati dan tidak gegabah lagi. Walau aku dan dia sudah berakhir, dia tidak akan menikahi Chika.” Aku tersenyum. “Jadi, kamu jangan khawatir akan punya kakak ipar yang jahat.”


“Gue mau Kakak yang jadi kakak ipar gue. Theo sayang banget sama Kakak.”


“Matt, kamu harus menerima kenyataan. Aku dan kalian tidak sederajat.”


Aku memahami sikapnya, karena dia masih muda dan tidak pernah melihat dunia luar seperti aku dan Theo. Mataku juga baru terbuka ketika aku ada di dalam tubuh Amarilis. Hal yang sebelumnya tidak menjadi masalah bagi Katelia justru jadi persoalan pelik untuk Amarilis.


Tidak apa-apa jika aku dan Theo tidak bisa bersama. Aku sudah cukup bahagia pernah dicintai oleh pria yang baik hati nan menjengkelkan. Perasaan indah yang tidak pernah aku duga akan aku rasakan sebagai Amarilis. Andai aku tidak akan pernah menikah pun, asal pembalasanku untuk perbuatan jahat ketiga gadis nakal itu terbayar, aku sudah bahagia.


“Hai, Ma.” Aku menyempatkan untuk menanyakan keadaan keluargaku di Medan. Sudah beberapa hari terakhir, aku tidak tahu perkembangan mereka. “Bagaimana kabar di sana?”


“Berkat bantuan kamu, kami bisa bertahan.” Wajah wanita itu terlihat lebih ceria. “Pesanan kue sudah bertambah lagi, tetapi aku yang menangani semuanya sendiri.”


“Itu Kak Riris?” Terdengar suara Hercules. Mama mengiyakan, lalu wajah pemuda itu memenuhi layar. “Kak, sekali lagi terima kasih, ya. Aku bisa lanjut kuliah karena Kakak.” Dia menangis.


“Lo? Mengapa kamu malah menangis?” godaku. “Jangan lupa lamar beasiswa itu. Kamu sudah kumpulkan berkas yang kamu butuhkan? Semua perusahaan itu sangat baik, jadi kalau kamu dapat, mereka akan bantu biaya kuliahmu sampai wisuda.”


“Sudah. Aku mau pergi ke kampus untuk menggunakan internet gratis. Jadi, aku bisa kirim berkasnya ke mereka.” Dia mengusap-usap mata dengan lengannya.


“Ya, sudah. Pergilah. Hati-hati mengisi data. Jangan sampai salah nomor telepon.” Aku geli sendiri mengingat kebodohan yang aku lakukan dua tahun yang lalu.


Hercules pamit pergi, maka aku dan Mama melanjutkan percakapan kami. Aku lega juga khawatir mengetahui keadaan mereka. Karena aku tahu, semua ini hanya sementara. Tante Ruth pasti akan merusak kebahagiaan ini lagi selama dia berpikir aku dan Theo masih bersama.


Jika dia yang sudah menyebabkan toko Mama bangkrut dan semua tabungan lenyap, mungkinkah dia juga yang menyebarkan gosip jahat pada liburan Natal dua tahun lalu? Ah, tidak. Saat itu, aku dan Theo sedang jauh. Lalu siapa pelakunya? Apa mungkin Chika lagi orangnya?

__ADS_1


__ADS_2