
Kedua wanita ini benar-benar lawan yang seimbang. Yang satu tidak bisa dibantah, yang satu lagi tidak mau kalah. Harus ada yang melakukan sesuatu atau mereka akan terus berbalas pantun hingga tengah malam. Amarilis tidak boleh tidur larut.
Namun Ayah maupun Papa hanya bersikap tenang dan santai dengan buah potong mereka. Tidak ada yang berniat untuk melakukan sesuatu. Kalau aku yang melerai, bisa-bisa aku yang dijambak. Mama kalau sudah marah, tidak mengenal putranya lagi. Semuanya jadi musuhnya.
“Sederhana saja. Berita itu hanya akan membuka aibnya. Orang tidak akan peduli dengan prestasi akademiknya. Mereka akan fokus pada etikanya yang nol,” balas Mama dengan sengit.
“Gadis yang kamu hina semena-mena di depanku ini adalah Katelia, putri kandungku,” jawab Bunda.
“Apa?” tanya Mama.
“Kamu bertanya mengapa aku bisa duduk di sisinya tanpa amarah sedikit pun.” Bunda memegang tangan Amarilis. “Itu karena dia adalah putri kandungku. Dia bertukar tubuh dengan Amarilis pada saat mereka tenggelam di danau. Jadi, yang kamu lihat adalah Amarilis, tetapi jiwanya Katelia.”
Ruangan itu menjadi senyap hingga tarikan dan embusan napas semua orang bisa terdengar jelas. Hanya Papa dan Mama yang ada dalam ruangan ini yang tidak tahu-menahu mengenai Katelia. Aku tidak terkejut ketika wajah mereka memucat, tidak bisa bicara.
Mama berdiri dari tempat duduknya. Dia memandang Amarilis dan Bunda secara bergantian dengan wajah semakin putih. Lalu tiba-tiba saja dia menutup mata dan tubuhnya tumbang. Kami bertiga segera mendekat, tetapi Papa yang lebih cepat. Dia memeluk dan menolong Mama untuk duduk.
“Ini, Pa.” Matt memberikan botol wewangian kecil yang dia ambil dari tas Mama.
Papa meletakkan botol itu di bawah lubang hidung Mama agar membantunya siuman. Semua orang terlihat khawatir dengan keadaannya. Padahal itu tidak perlu. Mama memang begitu kalau berita yang dia dengar terlalu mengguncang jiwanya.
Lagi pula, siapa pun yang mendengar ada orang yang bertukar tubuh dengan orang lain pasti akan terguncang sampai kehilangan kesadaran. Papa juga pasti terkejut, tetapi kondisi Mama membantu mengalihkan rasa kagetnya. Apa kira-kira tanggapan mereka mengenai Amarilis?
Karena Mama tidak memungkinkan untuk diajak bicara, kami memutuskan untuk bertemu lagi pada hari selanjutnya. Walau tujuan pertemuan hari ini tidak tercapai, kami tidak kecewa. Kami sudah menduga tidak akan mudah untuk membuka rahasia besar ini kepada orang tuaku.
Aku tersenyum melihat Amarilis langsung tertidur di ranjang begitu dia berbaring. Memasuki minggu kelima belas, mualnya pada pagi hari berkurang. Sebagai gantinya, dia mudah sekali tertidur. Aku tidak khawatir selama dia masih aktif bekerja dan selera makannya bagus.
Masalah kami harus bisa diselesaikan secepatnya agar tidak ada hal yang mengganggu pikirannya lagi. Meskipun dia tidak bilang, aku tahu dia memikirkan pernikahan kami yang belum juga direstui. Apalagi masalah tidak berhenti muncul karena satu fakta itu.
Aku mau orang tuaku juga hadir dalam proses pertumbuhan si kecil sebelum dia lahir. Jadi, saat dia datang ke dunia ini, dia sudah mendapatkan cinta semua orang yang dekat dengannya. Masalah lain dari luar sudah menunggu, maka aku perlu menguatkan ikatan dalam keluargaku.
__ADS_1
“Aku mengerti Azarya dan Ruth dijodohkan oleh kedua kakek mereka. Lalu apa yang membuat Ruth begitu sakit hari dengan Amarilis?” tanya Ayah heran.
Kami sarapan bersama pada pagi harinya. Walau kami memulai hari dengan cara masing-masing, kami selalu makan bersama sebelum memulai aktivitas. Aku tidak terbiasa dengan suasana yang ramai. Namun melihat Amarilis bahagia selama dua hari belakangan, aku ikut senang.
“Azarya diincar banyak perempuan pada masa mudanya. Tidak jauh beda dengan yang Theo alami saat ini. Jadi, mereka yang cemburu menyebarkan banyak gosip untuk menjatuhkan reputasi Ruth.” Bunda mendesah pelan.
“Aku ingat mamanya sakit dan kesehatannya terus menurun karena tidak kuat dengan gunjingan orang saat Ruth masih kecil. Wanita yang malang. Dia tidak bersalah terlahir sebagai anak orang biasa. Ruth pun tumbuh tanpa seorang ibu dan ayahnya memilih untuk menduda.
“Kejadian paling menyakitkan dalam hidupnya itu yang justru dipakai orang untuk menghina dia dan menuduh ibunya bunuh diri. Walau kedengarannya sama, itu dua hal yang berbeda.” Kami semua mengangguk setuju mendengarnya. “Tetapi orang-orang tidak berhenti menghina dia.
“Aku dengar, nenek Theo sempat tidak merestui pernikahan mereka karena statusnya tidak murni. Ayahnya memang seorang dari kalangan atas, tetapi ibunya tidak. Azarya berhasil meyakinkan dia dan mereka pun menikah. Aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga Tante Husada kemudian berubah sikap terhadap Ruth.” Bunda mengangkat bahunya.
Memang tidak ada yang tahu. Hanya keluarga kami dan terbatas pada orang tertentu saja. Keluarga besar kami tidak tahu-menahu mengenai itu. Jika sampai bocor keluar, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepada kami semua. Bisa-bisa statusku sebagai ahli waris akan terus dipertanyakan orang.
“Jadi, aku mengerti mengapa dia berat Theo tetap bersama Amarilis. Orang tidak akan berhenti menganggap putriku sebagai orang miskin yang tidak pantas bersanding dengan suaminya.” Bunda membelai kepala Amarilis. Kami hanya diam mendengarkan.
Pintu ruanganku diketuk, lalu pintu dibuka. Mama menyembulkan kepalanya dan tersenyum kepada kami berdua. “Aku membawa makan siang.” Dia membuka pintu lebih lebar agar pelayan kami yang datang bersamanya bisa masuk.
“Kita tidak makan di ruang kerja Papa?” tanyaku heran.
“Dia menemani Nathan dan Nolan makan siang di restoran kita.” Mama duduk dan mulai membagi kotak makanan yang dia bawa kepada kami.
“Mama baik-baik saja?” Aku duduk di sofa dan melihat keadaannya baik-baik.
“Aku rasanya sedang bermimpi, tetapi, iya, aku baik.” Dia menoleh ke arah Matt. “Pimpin doa.”
Kami serentak menyantap makanan kami usai berdoa bersama. Matt menendang kakiku, tetapi aku mengabaikannya. Kalau dia mau bicara, dia saja yang buka mulut. Mengapa dia menyuruh aku untuk mencari topik pembicaraan? Lagi pula, aku lebih suka keheningan.
“Apa kalian membenci aku?” tanya Mama tiba-tiba.
__ADS_1
Kami saling bertukar pandang. “Tidak, Ma,” jawabku dan Matt kompak.
Mama tersenyum sedih. “Kalian tahu tentang Katelia. Karena itu, kalian tidak terkejut mendengar pengakuan Delilah semalam.” Mama memandang kami secara bergantian.
“Gue enggak akan menikah dengan perempuan biasa, Ma. Keajaiban yang Amarilis alami gue syukuri. Karena dia bukan Katelia yang punya banyak masalah di sekolah. Sebagai Amarilis, dia hanya kurang dalam hal status. Tetapi dia tidak punya skandal pada masa lalunya,” kataku, menjelaskan.
Mama mengangguk. “Benar. Aku sampai heran mengapa Delilah dan Nathan membiarkan putri mereka melakukan hal itu. Apa mereka tidak khawatir reputasi mereka ikut hancur? Lalu Tuhan berkehendak lain. Katelia meninggal. Aku tidak tahu kalau dia—”
Mama menoleh kepadaku. “Pantas saja kamu tidak mau melepaskan Amarilis tidak peduli apa pun yang terjadi. Ternyata ada jiwa lain dalam tubuhnya. Kamu dari dahulu terobsesi dengan Katelia.”
“Gue enggak terobsesi dengan Katelia,” bantahku.
“Oh, ya? Laki-laki mana yang sampai masuk sekolah yang sama dengan gadis yang tidak tahu dia adalah jodohnya? Laki-laki mana juga yang tidak berhenti menguntit dan mengikuti apa saja yang dilakukan oleh jodohnya? Hanya kamu.” Mama tersenyum penuh arti.
“Apa kamu pikir sebagai ibu, aku tidak tahu apa-apa tentang anak-anakku? Kamu tidak sadar kamu menyukai dia, Theo. Karena kamu tidak memahami perasaanmu sendiri. Aku yang tahu ciri-ciri orang yang jatuh cinta sangat dalam mengetahuinya.”
Apa? Itu tidak benar. Aku terobsesi dengan Katelia sejak kami SMU? Aku belajar di sekolah yang sama dengannya untuk mencari tahu tentang dia, bukan karena aku punya perasaan tertentu. “Aku tidak terobsesi dengan Katelia,” bantahku lagi.
“Mengatakannya berulang kali tidak akan mengubah kenyataan, sayang.” Mama mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, menggoda aku. Matt tertawa geli. “Kita lupakan sejenak tentang itu. Ada hal penting yang perlu aku katakan kepada kalian berdua.”
Huuwwaa ...! Sudah bab 200! 🥳🥳🥳 Semoga belum bosan, ya, teman-teman. Terima kasih banyak masih setia mengikuti cerita Altheo dan Amarilis. Terima kasih juga untuk dukungan teman-teman lewat jempol, hadiah, vote, komentar, review, dan tipnya. 😍🥰❤
Hari Senin hari tiket merah gratis, jangan lupa ketuk Vote, ya. Terima kasih sudah membaca. Bab lanjutannya semoga bisa aku tayangkan malam ini. 🙏🏻
Salam sayang,
Meina H.
__ADS_1