
Dia terus saja mengomel mengenai baju pilihanku. Wajar, karena aku memang sengaja memilih yang tidak begitu bagus di badannya. Seharusnya dia tidak mengeluh. Harga pakaian yang aku pilih tidak ada yang murah. Semua orang yang tahu merek itu tetap akan memandangnya dengan kagum.
Aku tahu dia sengaja duduk di kursi sebelah, bukan di depanku untuk menghindari aku. Namun aku tidak mau membiarkan dia menang dan ikut berpindah tempat duduk. Menggoda dia adalah hobi baru yang aku suka. Melihat dia marah dengan wajah merah padam sangat menarik.
Di luar dugaan, ada seorang wanita yang aku kenal yang berjalan mendekati kami. Mengapa mereka ada di tempat ini juga? Padahal aku sengaja memilih tempat yang cukup jauh dari lingkungan orang-orang yang mengenal aku dan keluargaku.
“Apa yang kamu lakukan dengan perempuan miskin ini di sini, Nak?” tanya Tante Winara dengan tatapan tidak suka ke arah Amarilis. “Jangan sampai kamu terjebak dengan keluguannya. Orang seperti dia dekat denganmu hanya mau mengincar harta keluargamu.”
“Aku berniat makan di sini, Tante. Bukan mengincar harta Theo. Lagi pula, dia yang memaksa aku untuk ikut bersamanya. Tolong, jangan main tuduh begitu,” kata Amarilis, membela diri.
“Lebih masuk akal kalau Theo mengajak putriku makan malam daripada anak kampung sepertimu,” protes wanita itu dengan berang.
“Buktinya sudah ada di depan Tante,” balas Amarilis sengit.
Melihat mereka saling berbalas pantun, aku diam dan membiarkan mereka mengatakan apa pun yang ada di kepala mereka. Orang-orang mulai mengarahkan pandangan kepada kami, tetapi aku tidak peduli. Menyaksikan Amarilis marah kepada orang lain selain aku sangat menghibur.
Wanita ini datang tepat waktu. Amarilis punya pelampiasan amarahnya, jadi aku selamat. Lagi pula, dia tidak bisa menentang aku terlalu lama karena aku pun tidak mau kalah. Berbeda dengan wanita ini, dia sepertinya tidak peduli harus membela dirinya dengan ribut di depan umum.
“Kamu lihat itu, Theo? Putriku tidak akan bersikap begini kepada orang yang lebih tua darinya,” ujar wanita itu sambil menatap aku dengan serius.
“Ah, bicara tentang Chika, bagaimana kabar kedua pengawalnya? Apa mereka sudah sembuh?” goda Amarilis dengan wajah tidak bersalah, aku pun tidak perlu menanggapi pertanyaan wanita itu.
Tante Winara tertegun sejenak sebelum matanya membulat. Dia berdehem, kemudian menoleh ke arahku. “Pokoknya, kamu harus hati-hati. Gadis miskin ini pasti mengincar harta keluargamu.”
“Orang yang mengaku berharta juga banyak yang mengincar kekayaan temannya sendiri, Tante,” kata Amarilis tidak mau kalah.
Tante Winara merapatkan bibirnya, lalu pergi meninggalkan kami. Dia tidak menunggu sampai aku memberi respons. Aku tersenyum melihat tingkah Amarilis. Dia benar-benar lupa bahwa dia bukan Katelia, melainkan Amarilis. Namun aku tidak mengingatkan dia mengenai itu.
Karena dia sudah memutuskan untuk menjadi dirinya sendiri tanpa terkekang apakah dia sedang menjadi Amarilis atau Katelia, maka aku menghormati keputusannya tersebut. Bukankah itu tugas seorang pacar yang baik? Selalu mendukung kekasihnya melakukan yang terbaik.
Interupsi itu sangat membantu, karena Amarilis tidak marah lagi kepadaku. Dia bahkan makan dengan lahap, lupa dengan kekesalannya semula. Aku melihat ke arah meja di mana Om dan Tante Winara berada. Mereka hanya makan berdua, tanpa Chika.
“Gue ke toilet sebentar, jangan ke mana-mana,” ucapku setelah kami selesai makan.
__ADS_1
Usai dari kamar mandi, aku tidak langsung kembali ke meja. Kebetulan melewati kasir, maka aku sekalian membayar tagihan makanan kami. Melihat roti yang ada di lemari pajang, aku membeli beberapa potong untuk bekal Amarilis. Siapa tahu dia kelaparan pada tengah malam.
Wajahnya jauh lebih segar ketika aku kembali. Hal itu terbukti dengan sikap tenangnya selama kami berada di dalam mobil. Dia diam, tidak mengomel lagi seperti saat kami berangkat tadi. Aku pun bisa mengendarai kendaraanku dengan santai.
Aku mengingatkan dia mengenai waktu kedatanganku agar kami bisa pergi bersama ke konser Matt. Namun dia menolak dan bersikeras lebih baik pergi sendiri. Tidak mau bertengkar lebih lama lagi, aku pun mengalah. Aku hanya mau menolong, kalau dia tidak mau untuk apa dipaksa?
“Tumben lo pulang malam?” tanya Matt heran. Aku duduk di sisinya, ikut menikmati angin sejuk di teras samping rumah. “Biasanya setelah menghadiri undangan langsung pulang.”
Aku tidak menjawab, hanya membuka kantong camilan yang aku bawa, lalu memakan isinya. Dia mengulurkan tangan dan ikut mengambil keripik itu. Dia tidak seperti Mama yang akan terus bicara sampai aku mau buka mulut. Kami para pria Husada memang tidak banyak omong.
Halaman samping rumah kami dipenuhi dengan tanaman berbunga, jadi pemandangannya sangat indah pada saat hari terang dan udaranya sejuk pada hari gelap. Kami lebih suka duduk menunggu kantuk di tempat ini daripada menonton televisi pada akhir pekan.
Pada keesokan harinya, Matt pergi dahulu menuju lokasi konser. Dia akan mengikuti pertemuan singkat sebelum acara dimulai. Kami datang dan tiba tepat waktu. Aku sudah biasa pergi dengan motorku sendiri, jadi orang tuaku berdua saja di mobil mereka.
Ada begitu banyak orang yang hadir, termasuk para kenalan Papa dan Mama. Aku bersyukur tidak perlu berhenti di pintu masuk hanya untuk membalas sapaan semua orang. Aku lebih suka langsung duduk dan menunggu acara dimulai tanpa berbasa-basi dengan yang lain.
“Wah, kalian beruntung sekali mendapat posisi di barisan ini!” seru Chika yang duduk di sisiku tanpa meminta izin terlebih dahulu.
“Sebaiknya lo pergi. Kursi itu sudah ada yang memiliki,” kataku dengan serius.
“Gue dan Matt yang keberatan,” balasku.
Dia tertawa kecil. “Theo, sudah cukup bermain kucing-kucingan begini. Orang tua kita akan segera mengumumkan pertunangan kita. Mengapa kamu masih bersikap begini kepadaku?”
“Pergi,” kataku dengan tegas.
“Memangnya siapa yang duduk di sini? Kamu tidak tahu. Bukankah lebih baik kamu duduk di sisi orang yang mengenal kamu daripada orang asing?” bujuknya, masih berusaha mengubah pikiranku.
Baru duduk beberapa menit saja dia sudah banyak bicara, aku tidak bisa bayangkan bagaimana lagi selama acara nanti? Bisa-bisa aku hanya mendengar suaranya selama pertunjukan berlangsung, bukan bunyi musik yang akan dimainkan.
Karena dia tidak mendengarkan ucapanku, maka aku menyerahkan dia kepada Amarilis saja. Asyik juga melihat pacarku perang mulut dengannya nanti. Setelah kejadian di kampus, aku mau tahu. Apa Chika masih berani mencari masalah dengan mantan teman baiknya itu?
“Lo, Chika?” ucap Mama yang datang bersama Papa. “Mengapa kamu duduk di situ? Kamu tidak duduk bersama orang tuamu?” Dia duduk di sisiku, kemudian Papa di sebelahnya.
__ADS_1
“Aku akan bertukar tempat dengan orang yang duduk di sini, Tante,” jawabnya dengan santai.
“Sayang sekali. Matt sudah memberikan kursi itu kepada orang lain.” Mama tersenyum tipis, merasa tidak enak harus bersikap tegas. “Kamu duduk bersama orang tuamu saja. Matt tidak akan suka melihat bukan gurunya yang duduk di sana.”
“Gurunya?” tanya Chika tidak suka, tetapi dia cepat-cepat memasang senyumnya. “Maksud Tante, Amarilis? Guru privatnya?”
“Iya. Matt memilih barisan ini supaya dia bisa melihat kami berempat dari tempatnya bermain nanti,” jawab Mama dengan antusias. “Maaf, ya. Kursi itu bukan untukmu.”
“Ah, i-iya, Tante,” ucapnya salah tingkah.
Aku sudah memberi tahu, dia malah nekat. Salah sendiri kalau dia harus malu karena diusir mamaku. Dia pun pergi dan tidak lagi bersikap keras kepala seolah-olah dia adalah manusia paling penting bagi keluargaku. Dia kini tahu kalau dia tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari orang tuaku.
“Amarilis!” seru Mama ke arah kiriku.
Aku tidak menoleh dan hanya menatap ke depan, ke arah panggung yang sudah siap dengan kursi podium dan berbagai alat musik yang akan digunakan untuk konser selama dua jam ke depan. Dia pasti mengenakan salah satu gaun jelek yang aku pilih, jadi penampilannya akan biasa saja.
“Wah, kamu cantik sekali!” puji Mama, mengejutkan aku. Cantik sekali? Dia berdiri untuk menjabat tangan Amarilis dan mencium kedua pipinya. “Apa ini baju baru?”
Aku tidak percaya dengan penglihatanku. Apa yang dia pakai itu? Bagaimana bisa baju yang aku tolak malah melekat di badannya? Dia tersenyum puas kepadaku, membuat aku curiga. Gadis ini punya uang dari mana untuk membeli pakaian semahal itu?
“Terima kasih, Tante,” ucapnya dengan tulus. “Iya, ada teman yang baik banget sudah membelikan baju ini untukku.”
“Benar-benar teman yang baik. Ayo, duduk. Acara akan segera dimulai,” ajak Mama.
Amarilis duduk di sisi kiriku, sedangkan Mama di sebelah kananku. Dia tidak berdandan berlebihan, maka aku tahu Richo tidak ikut campur dengan penampilannya pada hari ini. Dia hanya melakukan itu pada peresmian gedung kemarin. Lalu bagaimana dia bisa membeli gaun semahal itu?
Sebelum aku sempat bertanya, ponselku bergetar. Aku mengeluarkannya dari saku jasku dan ada nama Matt pada layar. Karena konser belum dimulai, aku menjawab panggilan masuk tersebut.
“Theo, apa kamu kenal seseorang yang bisa menolong kami?” ucapnya dengan panik.
“Memangnya apa yang terjadi?” tanyaku heran.
“Kami sedang dalam masalah besar! Tidak ada seorang pun yang bisa menolong kami saat ini! Semua orang yang kami kenal sudah kami hubungi dan mereka tidak bisa tiba secepat kilat. Kamu naik sepeda motor, ‘kan? Jemputlah temanmu yang tinggal di dekat sini. Cepat!” mohonnya.
__ADS_1
“Bicara yang jelas, Matt. Orang seperti apa yang kamu butuhkan??” ucapku mulai kesal.
Dia minta tolong, tetapi tidak memberi tahu detail hal yang dia butuhkan. Bagaimana aku bisa membantu? Begitu dia menjawab pertanyaanku, maka hanya ada satu orang yang ada di dalam kepalaku yang bisa menyelamatkan dia.