Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
116|Perayaan Syukur


__ADS_3

Ah, tidak. Itu pasti hanya imajinasiku saja. Dia jelas mengatakan dia trauma dengan pernikahan orang tuanya sehingga tidak tertarik dengan asmara. Iya, benar. Nora tidak mungkin jatuh cinta kepada Theo. Aku mengajak dia untuk keluar dari dapur, maka dia mengalihkan pandangannya.


Dia membawa aku ke ruang depan, bergabung dengan kakaknya. Kami menonton salah satu film koleksi mereka. Aku hanya tersenyum melihat kedua saudara itu berebut menonton film kesukaan mereka masing-masing. Aku tidak melerai, karena mereka membutuhkannya.


Aku dan Hercules juga tidak berhenti bertengkar setiap hari, sampai Papa dan Mama naik darah. Padahal dia bukan saudara kandungku. Berbeda sekali rasanya menjadi kakak dengan adik. Aku tidak pernah berdebat sesering itu dengan kedua kakakku. Mereka lebih sering mengalah.


Theo masih membantu ibu Nora ketika aku masuk ke kamar. Aku tidak tahu kapan dia datang, tetapi dia sudah tidak ada di kamar saat aku bangun. Ingat dengan kebiasaanku pada pagi hari, aku bersiap dan keluar dari kamar. Ternyata dia ada di ruang depan sendirian.


“Pagi,” sapanya.


“Pagi,” jawabku pelan. Tidak mau membangunkan seisi rumah.


Dia berdiri dan mendekati aku, siap untuk olahraga bersama. Aku tersenyum saat menerima uluran tangannya. Udara di luar sangat dingin menjelang masuknya bulan Desember. Namun dengan baju berlapis dan beberapa saat berlari, rasa dingin itu pun bisa diatasi.


Kami berpapasan dengan orang-orang yang menyapa kami dengan ramah walau tidak saling kenal. Kami membalas sapaan mereka tanpa mengurangi atau menghentikan lari kami. Setelah tiga puluh menit terlampaui, kami pun kembali ke rumah Nora.


Keluarga itu membersihkan rumah, kami ikut membantu. Apalagi ibu Nora menghadiahi kami semua dengan pai yang enak dan cokelat hangat dengan banyak marshmallow. Mereka bercanda gurau, aku dan Theo hanya menyimak.


Yang paling ditunggu adalah makan malam besar dengan menu utama kalkun panggang. Theo tidak bohong. Dagingnya sangat enak dan empuk. Pantas saja mereka memasaknya sejak semalam. Aku tidak menyesal sudah menerima ajakan Nora untuk datang berkunjung.


Syukuran itu mengingatkan aku untuk berterima kasih atas nyawaku yang selamat dari peristiwa nahas itu. Walau kami berdua jatuh ke danau, aku berhasil selamat. Aku tidak tahu ada rencana apa untuk hidup keduaku ini, tetapi aku berjanji akan menjalaninya dengan baik. Tidak hanya untuk aku, tetapi juga untuk Amarilis.


Aku juga bersyukur bisa bertemu dengan Theo dan kembali bersama. Dia adalah kejutan terbaik yang aku dapatkan saat pertama kali menginjakkan kaki di negeri asing ini. Semoga saja kami tidak akan terpisah lagi. Masih ada waktu untuk menemukan jalan agar mendapat restu orang tuanya.


“Menjelang akhir musim gugur sudah sedingin ini, aku tidak bisa membayangkan suhu pada musim dingin nanti.” Aku menaikkan selimut sampai menutupi leherku.


“Lo enggak akan sanggup, tetapi gue siap memeluk lo kapan saja.” Dia membaringkan tubuhnya di lantai, beralaskan beberapa lapis selimut tebal.

__ADS_1


“Yakin kamu tidak akan tergoda untuk melewati batas?” balasku.


“Gue sudah mengantuk. Selamat malam,” tutupnya. Aku tertawa kecil.


Aku dan Theo pamit untuk kembali dahulu pada hari Jumat pagi. Kami segan tinggal sampai akhir pekan berakhir. Biar bagaimana pun, Thanksgiving adalah hari berkumpul bersama keluarga bagi warga negara asli di sini. Kami tidak mau menginterupsi acara temu kangen mereka lebih lama.


“Terima kasih sudah berteman dengan Nora. Dia suka membicarakan kamu setiap kali kami saling bertukar kabar atau menelepon. Dia jarang mau membuka diri untuk orang lain, jadi aku sangat menghargai kamu mau jadi temannya,” ucap ibu Nora sambil mengusap-usap punggungku.


“Aku juga senang berteman dengannya, Tante.” Aku melepaskan pelukanku.


“Kapan saja kalian sempat, berkunjunglah. Aku akan dengan senang hati memasakkan makanan yang enak untuk kalian,” undangnya. Aku dan Theo serentak menjawab iya.


Perjalanan lima jam tiga puluh menit itu kami tempuh hanya berhenti satu kali untuk makan di luar pengisian bahan bakar. Betapa senangnya aku ketika kami tiba di apartemen. Aku sampai berbaring di atas sofa melepas rindu.


Theo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat menuju kamar. Huh. Padahal dia juga senang bisa kembali ke apartemen ini lagi. Puas berbaring, aku melihat isi dalam kabinet atas di dapur. Pilihanku jatuh pada sekantong keripik jagung, lalu membawanya ke kamar.


Aku tidak lupa menelepon Mama dan Bunda pada akhir pekan agar mereka tidak protes. Mereka berebut bercerita mengenai persiapan Natal di rumah. Benar juga. Sebentar lagi ada hari besar. Namun aku dan Theo tidak punya rencana apa pun pada hari itu. Apalagi dia sedang sibuk-sibuknya kencan dengan tesisnya.


Bukan hanya Theo, aku pun bergelut dengan persiapan menghadapi ujian di perpustakaan dan kamar tidur. Kami bertemu pada saat olahraga, sarapan, dan makan malam. Selebihnya, kami sibuk dengan buku masing-masing.


Diskusi grup pun berakhir, aku tidak perlu berhadapan lagi dengan pria tukang drama itu. Kami semua berharap tidak akan satu kelompok dengannya pada semester depan. Aku tahu mereka bukan khawatir dengan sikapnya, tetapi kemampuan sihirnya. Hal yang semoga hanya bualan.


Musim dingin benar-benar seperti dugaanku. Syukurlah, kampus sudah libur, jadi aku tidak perlu keluar dari apartemen. Theo memberikan semua buku yang dia gunakan pada semester dua agar bisa aku pelajari dahulu. Materinya semakin hari semakin rumit.


“Sayang.” Aku mengetuk pintu kamarnya. Dia mempersilakan masuk, maka aku membukanya. “Apa kamu masih sibuk?”


“Gue sudah bilang, gue akan begini sampai hari pemberian ijazah nanti.” Dia tidak mengalihkan pandangannya dari buku tebal yang dia baca.

__ADS_1


Aku duduk di tepi tempat tidurnya. “Aku bosan. Apa ada yang bisa aku bantu?”


“Pertanyaan yang menggoda. Bagaimana kalau lo pijat pundak gue?” Dia menepuk bahunya dengan jemarinya. “Nanti gue masakkan porsi burger yang lebih besar untuk lo.”


“Setuju!” Aku berdiri dan mendekatinya.


Aku tidak tahu bagaimana caranya, tetapi aku menekan, mencubit, dan memukul-mukul bahunya. Dia tidak protes, maka aku anggap aku melakukan hal yang benar. Aku mengintip apa yang sedang dia baca dengan serius. Baru satu paragraf, mataku sudah berkunang-kunang. Oh, Tuhan. Semakin hari aku semakin membenci bahasa Inggris, terutama bahasa akademiknya.


Walau hasil semester belum diumumkan, aku sudah bisa membayangkan aku tidak akan mendapat nilai yang sempurna seperti saat kuliah sarjana. Membaca, mendengar, dan menulis dalam bahasa asing itu tiga hal yang berbeda. Aku tidak percaya diri sudah menulis dengan baik selama ujian.


Kasihan Theo. Pantas saja dia mengurung diri di kamar semenjak mengerjakan tesisnya. Pasti berat sekali memahami sebuah masalah dalam bahasa asing, lalu melakukan penelitian, dan mengetik hasilnya dalam bahasa asing juga.


“Kat,” panggilnya, membuyarkan lamunanku.


“Ya?” jawabku.


“Gue minta dipijat, bukan dipeluk.”


Aku melihat apa yang sedang aku lakukan. Ternyata tanganku sudah berada di depan dadanya dan dia benar. Aku sedang memeluk dia dari belakang. Mengingat kami hanya berdua di kamar ini, aku pun menjauh. Dia malah menahan tanganku tetap berada di depan tubuhnya.


“Ada apa? Lo memikirkan rumah?” tanyanya. “Apa perlu gue belikan tiket untuk pulang?”


“Tidak.” Dia salah paham. “Aku kasihan melihat kamu sampai sesibuk ini mengerjakan tesis.”


“Jangan khawatir.” Dia meraih rambutku dan mengusapnya. “Gue baik-baik saja. Tetapi gue akan kehilangan kendali kalau dada lo menempel terus di kepala gue.”


“Theo!” teriakku panik. “Kamu yang menahan tanganku! Aku tadi sudah melepaskan pelukanku!”

__ADS_1


Terdengar bunyi bel, tanda ada tamu menunggu di lobi. Aku mencegah dia berdiri dan menawarkan diri untuk memeriksa siapa yang datang. Syukurlah, ada juga alasan untuk kabur dari kamarnya. Dia hanya tertawa puas. Menjengkelkan sekali.


Aku mendekati layar di tembok dekat pintu. Yang datang seorang wanita, tetapi aku tidak bisa melihat mukanya karena dia menunduk. Ketika dia mengangkat kepalanya, aku segera mengenalinya. Apa yang perempuan ini inginkan dengan datang menemui Theo?


__ADS_2