Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
102|Ini Aku


__ADS_3

“Apa kalian yakin ini saat yang tepat?” tanya Kak Nolan dengan wajah khawatir.


“Memangnya kita mau menunggu sampai kapan?” ucap Kak Jericho. “Apa enam tahun tidak cukup bagi Mama untuk menangisi putrinya yang tidak pernah mati?”


“Bisakah kalian berhenti bertengkar?” leraiku. “Aku sedang gugup. Kalian bukannya mengurangi kepanikanku, malah menambahnya.”


Kesehatan Mama turun drastis selama satu tahun terakhir sehingga Kakak tarik ulur untuk berterus terang kepadanya. Dokter sudah memeriksa keadaannya, tetapi mereka tidak bisa menemukan apa yang menyebabkan Mama sakit.


Jadi, kami nekat untuk mengatakan yang sejujurnya sekarang. Aku tidak mau Mama pergi sebelum tahu bahwa jiwaku masih ada di dunia ini, hanya ragaku yang membusuk di dalam tanah. Satu hal lain yang memaksa aku untuk bicara sekarang, aku akan pergi jauh.


Aku juga tidak tega membiarkan Mama terus menangisi aku. Lebih baik dia jatuh sakit lagi karena terkejut daripada kesehatannya terus menurun akibat duka yang berkepanjangan. Keduanya sama buruknya bagi Mama.


Pintu diketuk, lalu dibuka. Aku dan kedua kakakku berdiri dari tempat duduk kami. Mama yang pertama masuk, kemudian Papa. Mereka tersenyum melihat Kak Nolan, lalu sama-sama terkejut saat bertemu pandang denganku.


“Apa ini, Nolan?” tanya Mama dengan geram. “Mengapa kamu membawa pembunuh ini ke sini?”


“Saat aku lulus SD, kita mengaku pergi ke Bali. Tetapi Papa dan Kakak tidak tahu kita jalan-jalan ke Paris selama dua minggu. Kita hanya berada di Bali selama satu hari untuk membuat dokumentasi palsu,” kataku, menyebutkan satu dari banyak rahasia kami.


Kak Nolan dan Kak Jericho serentak menoleh ke arahku. “Kamu pergi ke Paris tanpa kami!?”


“Mama pernah curiga Papa selingkuh, jadi kita menguntit Papa satu kali saat persiapan membuka cabang hotel kita di Parapat. Ternyata Papa tidak punya wanita lain.”


“Kat-katelia?” ucap Mama tidak percaya. “Dua hal itu tidak pernah aku ceritakan kepada siapa pun.”


“Aku juga tidak pernah mengatakannya kepada siapa pun, Ma,” ucapku lirih.


Dia menarik napas terkejut sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Matanya berkaca-kaca, menahan tangis. Paramedis yang kami panggil bersiap-siap seandainya Mama kehilangan kesadaran. Namun dia mengejutkan kami dengan tetap tegak berdiri.

__ADS_1


“A-apa yang terjadi? Mengapa kamu ada di tubuh ini? Cara bicaramu juga mirip sekali seperti dia.” Mata menatap aku dari kepala hingga kaki. “Kamu sekarang beda sekali.”


“Duduk, yuk, Ma. Aku akan ceritakan segalanya dari awal,” ajakku.


Papa dan Mama yang masih terguncang pun menurut. Mereka masuk dan duduk di tempat yang tersedia. Kak Nolan mendorong agar aku duduk di samping Mama, maka aku menurutinya. Wanita itu hanya diam menatap aku dan tidak mengulurkan tangannya untuk menyentuh aku.


Aku menunggu sampai semua orang, kecuali keluargaku, keluar dari ruangan. Lalu setiap detail yang terjadi pada hari itu, aku sampaikan tanpa ada satu hal pun yang aku sembunyikan lagi. Papa dan Mama masih diam ketika aku sudah selesai bicara.


Aku menoleh kepada Kakak. Mereka hanya mengangguk pelan, meminta aku untuk bersabar. Aku kembali melihat kedua orang tua kami yang masih diam. Papa mengedip-ngedipkan matanya, lalu melihat aku dengan saksama. Mama yang pertama menyentuh tanganku.


“Oh, Tuhan,” gumam Mama pelan. “Aku sudah memukul kamu berkali-kali, Kat. A-aku juga sudah jahat berteriak kepadamu setiap kali kita bertemu. Aku tidak heran kamu menunggu selama ini untuk bicara denganku. Seharusnya aku yang dahulu tahu ini daripada kedua anakku yang lain.”


“Aku masih tidak percaya ini,” kata Papa.


“Aku juga masih tidak percaya, Pa,” aku Kak Nolan.


Pelayan datang menyajikan makanan yang sudah kami pesan. Kami pun makan dengan lahap. Rasa cemas yang dari tadi menguasai kami benar-benar menguras sisa energi yang kami punya. Kak Nolan dan Kak Jericho sesekali bertengkar memperebutkan potongan makanan yang tinggal satu.


Malu melihat tingkah kedua kakakku, maka aku memesan satu porsi lagi. Papa dan Mama hanya diam, tetapi tangan dan mulut mereka tidak berhenti bergerak. Aku jadi merasa tidak enak sudah membuat mereka terguncang.


“Jadi, Ma, Pa,” kata Kak Jericho. “Selama ini, Amarilis tinggal bersama keluarganya di Medan. Lalu dia kuliah selama tiga setengah tahun di Depok. Papa dan Mama tidak akan percaya, dia berhasil lulus dengan summa cum laude, bahkan mendapat acara khusus dari rektor.”


“Aku masih tidak percaya dia bisa lebih pintar dariku. Aku gagal meraih summa cum laude.” Kak Nolan cemberut.


Aku menoleh ke arahnya. “Bedalah. Kakak belajar sambil bekerja, jadi fokusnya terbagi,” hiburku. Dia tersenyum senang.


“Kamu juga bekerja. Kalian tidak ada bedanya,” sanggah Kak Jericho.

__ADS_1


“Ada apa denganmu? Kamu tidak suka mendengar dia memuji aku?” omel Kak Nolan.


“Nah, ada kabar baik lainnya,” ucap Kak Jericho, mengabaikan protes Kakak. “Amarilis mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi. Dia akan berangkat ke Amerika bulan Mei nanti.”


“Apa??” Mama akhirnya memberi respons. “Secepat itu?”


“Kamu mau ke mana baru selesai sarjana sudah lanjut kuliah lagi?” timpal Papa. “Bukankah lebih baik bekerja beberapa tahun baru ambil gelar master?”


“Ng, itu, aku sudah punya rencana sendiri, Pa,” jawabku.


Mereka mengangguk pelan, lalu kembali menyantap makanan mereka dalam diam. Aku dan kedua kakakku saling bertukar pandang. Sepertinya mereka masih butuh waktu untuk bisa menerima kabar mengejutkan yang kami sampaikan.


Usai makan malam, Kak Nolan pulang bersama orang tua kami, sedangkan Kak Jericho mengantar aku pulang. Kami kekenyangan, jadi kami lebih banyak diam. Lagi pula, kami sudah bicara setiap hari demi merencanakan pertemuan hari ini. Sayangnya, segalanya berjalan di luar dugaan.


“Aku harus kembali ke Jakarta besok. Jaga dirimu baik-baik.” Dia mengusap kepalaku.


“Iya, Kak. Kita jumpa lagi bulan depan. Aku akan berangkat lewat Jakarta. Jadi, sisihkan waktu Kakak selama satu hari untukku.”


“Beres.”


Aku memeluk tubuhnya sebelum keluar dari mobil. Dia menunggu sampai aku masuk, lalu pergi. Suasana rumah sudah sepi, jadi aku membersihkan diri di kamar mandi dan menaiki tangga dengan hati-hati. Aku akan merindukan rumah ini nanti.


Setelah berganti pakaian, aku duduk di tepi tempat tidur. Pasti sulit bagi Papa dan Mama untuk bisa menerima kenyataan bahwa dalam tubuh ini ada jiwaku. Aku juga kadang-kadang lupa kalau aku bukanlah Katelia. Jadi, aku bisa memahami reaksi mereka.


Mataku melirik koper besar yang ada di sudut kamarku. Pemberian Mama atas kelulusanku diterima di kampus incaranku di luar negeri. Entah bagaimana mereka bisa tahu aku membutuhkan beasiswa, tetapi mereka menawarkan untuk membiayai kuliahku secara penuh. Yang paling mengharukan, mereka memberi tahu ada donatur yang mau menanggung biaya hidupku selama dua tahun.


Apa yang Mama katakan benar. Tuhan hanya mau menguji sekeras apa aku berusaha untuk meraih impianku. Aku tidak memenangkan beasiswa dari pemerintah, tetapi kampus memberi jalan keluar. Aku bahkan tidak perlu meminta lewat proposal. Khawatir harus kuliah sambil bekerja, ada donatur yang mau membantu biaya lainnya.

__ADS_1


Aku satu langkah lebih dekat pada rencanaku. Bagaimana dengan Theo? Apa dia baik-baik saja di luar negeri sana? Aku tidak tahu dia kuliah di mana, juga mengambil program satu atau dua tahun. Namun satu hal yang pasti, foto profil media sosialnya masih sama. Sayang, apa aku boleh berharap, kamu masih menyukai aku?


__ADS_2