
Dia memicingkan matanya, lalu menyapukan pandangannya pada wajahku. Bukannya menjawab dia malah semakin intens melihat mukaku. Dia tidak pernah bersikap seaneh ini sebelumnya. Ah, tidak mungkin. Apa dia jatuh cinta kepadaku?
“Mengapa Chika memanggil Kakak dengan Katelia?” tanyanya dengan kening berkerut. Matilah aku. Kapan dia mendengar perempuan jahat itu memanggil aku dengan nama asliku? “Kakak hantu atau manusia? Itukah alasan Theo pacaran dengan Kakak, bukan karena kalian saling sayang?”
Aku berpura-pura tidak mengerti. “Apa maksud kamu? Namaku Amarilis. Siapa itu Katelia?”
“Tunangan Theo yang meninggal karena tenggelam. Bukannya Kakak sekelas dengan Theo di SMU?” Kerutan pada dahinya semakin dalam.
“Oh, Katelia yang itu.” Aku berdehem pelan. “Jangan bicara sembarangan. Dia sudah meninggal.”
“Karena itu, gue heran. Mengapa Chika memanggil Kakak dengan namanya?” Dia mengusap-usap dagunya. “Perasaan Theo untuk Kakak juga masih menjadi misteri. Jika benar Kakak adalah Katelia, maka segalanya masuk akal.”
“Aku tidak suka arah pembicaraan kita. Aku tinggal sendiri, sebaiknya kamu jangan bahas hantu.” Aku menoleh melihat pelayan datang mengantar minuman kami. “Kebetulan sekali, aku sudah haus.”
Matt memang tidak bertanya lagi, tetapi dia tidak berhenti mengamati aku. Apa pun yang aku lakukan, matanya tidak melihat ke arah lain. Dia memperhatikan cara aku makan, minum, sampai menyeka bibir dengan tisu.
Aku baru bisa bernapas dengan lega begitu sampai di kamar. Gawat, kapan dia mendengar Chika memanggil aku Katelia? Apakah dia mendengar saat aku mengancam perempuan jahat itu di koridor kampus beberapa hari yang lalu?
Hanya itu hal terakhir di mana aku dan Chika bersama. Aku tidak ingat, tetapi aku yakin ada satu kali dia memanggil aku dengan nama itu. Matt tidak akan cerita ke sana kemari tentang hal itu, makanya aku tidak khawatir. Yang membuat aku tidak enak adalah aku harus berbohong kepadanya.
Namun semakin sedikit yang tahu, semakin baik. Aku tidak mengenal dia sebaik Theo. Bila dia saja tidak mau memberi tahu adiknya tentang aku, untuk apa aku membuka rahasiaku sendiri? Hidupku akan lebih tenang begini. Cukup saudara dan mantan teman dekat saja yang tahu tentang Katelia.
Akhir pekan itu aku habiskan dengan menyelesaikan bab terakhir skripsiku, lalu menemui dosen untuk konsultasi. Dia meminta waktu untuk mempelajarinya dahulu dan mempersilakan aku untuk datang pada hari berikutnya.
Harap-harap cemas menunggu, mengantri giliranku pada keesokan harinya, aku akhirnya mendapat kabar baik. Skripsiku diterima dan aku sudah siap untuk maju sidang. Aku saat lega mendengarnya. Tinggal satu langkah penting lagi dan aku bisa tamat dari kampus ini.
“Kamu gila,” ucap Sonata yang aku anggap sebagai pujian.
“Terima kasih,” balasku dengan riang.
__ADS_1
“Baru beberapa minggu lalu kamu menghadapi masalah dan hari ini kamu mengurus pendaftaran sidang skripsi. Luar biasa. Aku pikir kamu akan butuh waktu lama untuk memulihkan diri.” Dia ikut berjalan cepat di sisiku.
“Sebentar.” Aku menemui petugas dan menerima instruksi darinya. Setelah semuanya beres, aku menemui Sonata yang duduk bersama senior kami di bangku yang tersedia. “Makan, yuk.”
Kami berpapasan dengan Matt, maka kami makan siang bertiga. Pemuda itu masih menatap aku dengan saksama, tetapi tidak menginterupsi percakapanku dengan Sonata. Kami berdiskusi tentang proposalnya dan mendengar dia curhat mengenai proses yang sudah dia jalani.
Walau aku mengharapkan kehadirannya, aku tidak memberi tahu Theo mengenai jadwal sidangku. Lagi pula, adiknya pasti sudah mengatakannya. Matt masih berharap kami berbaikan dan kembali bersama. Apalagi Theo belum juga mengganti foto profilnya.
Sebuah kejutan menyambut aku ketika melihat Chika juga hadir sebagai peserta sidang. Apa mau gadis ini? Bukankah kami sudah sepakat tidak akan saling mengganggu lagi? Dia mempresentasikan tugas akhirnya bersamaan denganku pasti bukan sebuah kebetulan.
“Jangan memandang aku seperti itu,” katanya. “Kita sama-sama berganti dosen. Jadwal sidangku sudah ditentukan, tetapi harus diundur karena skàndal itu.”
Aku tidak mengatakan apa pun mendengar alasannya itu. Selama dia tidak menyentuh aku atau sengaja menginterupsi giliranku nanti, aku tidak peduli dia ada di sini atau di mana pun. Aku harus konsentrasi, karena ini tahap yang sangat penting dalam studiku.
Mendapat giliran pertama, aku sangat lega sekaligus ketakutan setengah mati. Aku begitu gugup, tetapi setidaknya aku tidak menderita menunggu giliranku tiba. Jantungku berdebar begitu keras sampai aku kesulitan mendengar instruksi maupun pertanyaan dari dosen penguji.
“Lihat saja giliran kalian nanti. Aku akan tertawa puas mengejek kalian yang gugup,” balasku.
“Kakak pasti lapar. Aku bawa roti dan kue kesukaan Kakak. Makanlah.” Matt memberikan sebuah kotak berlabel toko kue dan sebotol air mineral.
Aku berterima kasih dan melahapnya. Dia benar. Aku lapar. Satu jam berada di ruangan itu menyita habis energi yang aku dapatkan dari sarapanku. Semoga saja jawabanku memuaskan semua dosen penguji. Aku tidak mau mendapatkan nilai yang lebih rendah dari Theo atau Kak Jericho.
Chika duduk tidak jauh dariku. Dia mendapatkan giliran terakhir. Aku tidak mau membayangkan apa yang sedang dia rasakan saat ini. Melihat dia berulang kali menoleh ke arah pintu masuk, aku tahu siapa yang dia nantikan. Gadis yang malang. Kapan dia menerima kenyataan Theo tidak suka dia?
“Selamat, Kak!” seru Matt gembira.
“Selamat, Amarilis!” kata Sonata terharu.
Aku tersenyum bahagia bersama mereka. Aku berhasil mendapatkan nilai sempurna untuk skripsiku. Tinggal satu langkah mudah, tetapi sulit mengerjakannya. Setelah mengumpulkan revisi tugas akhir, maka tugasku sebagai mahasiswa pun selesai.
__ADS_1
Demi menghemat uang, aku tidak pulang ke Medan pada hari raya. Apalagi kami akan butuh banyak uang untuk membayar tiket pesawat dan penginapan untuk keluargaku nanti. Mereka segan datang pada hari wisuda, namun aku memaksa.
Setelah mengambil toga dan segala keperluan lainnya, aku menjemput keluargaku dari bandara. Mama memeluk aku begitu erat, terharu dengan prestasiku. Papa dan Hercules hanya menjabat tanganku. Keluarga ini memang kaku. Papa dan kedua kakakku tidak akan segan memeluk aku.
Kami mengobrol sambil makan malam di penginapan. Karena Hercules sudah besar, aku memesan dua kamar untuk mereka. Papa dan Mama satu kamar, sedangkan adikku itu tidur sendiri. Biayanya lebih mahal, tetapi aku tidak keberatan.
Aku berdiri dengan bangga di depan semua orang pada hari wisuda sebagai orang pertama yang dipanggil naik ke panggung. Aku mendapat predikat mahasiswa terbaik summa cum laude. Walau aku tidak bisa melihat dari tempatku berdiri, aku tahu Papa dan Mama bangga menatap aku.
Kita berhasil, Amarilis. Satu langkah penting sudah kita lewati. Kita sudah bisa memulai pembalasan kita terhadap orang yang sudah mêmbunuh kamu dan menyakiti aku. Chika ada di ruangan ini, begitu juga dengan orang tuanya. Mereka lihat sendiri anak miskin ini bukan lawan yang mudah.
Aku tidak sedih, apalagi cemburu melihat dia dikelilingi orang tua Theo setelah kami keluar dari auditorium. Hanya perempuan bodoh yang menunda kelulusannya demi menunjukkan siapa yang mendapat restu. Theo dan keluarganya memang menghadiri acara syukurannya, tetapi aku tahu. Hati Theo hanya tertuju kepada Amarilis.
Matt tidak datang ke acara syukuran yang aku adakan. Orang tuanya pasti menahan dia. Hanya ada Sonata selain keluargaku yang ikut makan malam bersama. Keadaan yang justru aku syukuri, karena aku tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam.
“Apa rencana kamu selanjutnya?” tanya Mama.
Aku mengantar mereka ke bandara pada keesokan harinya. Mereka tidak bisa tinggal lebih lama, karena Hercules harus masuk kuliah pada hari Senin. Mama yang biasanya menolak diantar hanya tersenyum saat aku ikut bersama mereka.
“Setelah urusanku di tempat ini selesai, aku akan pulang.” Kami duduk bersebelahan di dalam bus, sedangkan Papa dan Hercules duduk di kursi di sebelah kiri kami.
“Pulang? Ke Medan?” tanyanya terkejut. Aku mengangguk pelan. “Mengapa kamu tidak cari kerja di Jakarta saja? Peluangmu untuk maju lebih besar di kota ini.”
“Aku mau membantu Mama dan Papa mendapatkan toko kalian lagi,” kataku, menjelaskan. Mereka tidak perlu tahu alasanku yang sebenarnya.
“Tidak, Amarilis.” Dia memegang tanganku dan menatap aku dengan serius. Aku mengerutkan kening melihatnya. “Aku tidak bisa lagi menerima semua kebaikanmu. Sudah saatnya kamu pergi bebas melakukan apa yang kamu mau. Aku tidak mau kami jadi bebanmu lagi.”
“Mengapa Mama bicara begitu?” tanyaku, merasa tidak enak.
“Karena aku tahu segalanya sejak awal.” Jantungku berdebar lebih cepat mendengar kalimat itu. “Aku tahu kamu bukanlah Amarilis, putriku.”
__ADS_1