Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
186|Tetap Kepikiran


__ADS_3

Apa yang terjadi? Bukankah Kakak menolak dia di kamar rias itu? Aku tidak salah dengar. Kakak jelas bilang tidak dan menyuruh Rahma menjauhinya. Lalu mengapa mereka datang bersama ke tempat ini sambil bergandengan tangan? Kakak dan dia berpacaran?


“Kamu terkejut. Aku pikir kamu tahu segalanya tentang kakakmu.” Nisa yang masih berdiri di sisiku tertawa geli. “Aku akui aku juga kaget. Rahma akhirnya berhasil setelah bertahun-tahun mencoba.”


Tidak. Aku tidak boleh percaya begitu saja dengan apa yang aku lihat. Rahma belum berhasil. Aku harus percaya kepada Kakak. Dia pasti punya alasan melakukan ini. Aku tidak percaya dia akan menyerah pada ancaman perempuan jahat itu.


Kakak tahu benar hal ini akan melukai aku dengan dalam. Jadi, Kakak tidak akan berpacaran dengan orang yang sudah ikut serta mencelakai aku. Dia tahu dan mendukung semua rencanaku untuk mereka bertiga sejak lama. Tidak mungkin dia mendadak berpihak pada satu dari mereka.


“Mereka belum menikah, Nisa. Sesuatu bisa terjadi. Jangan lupa dengan kasus Chika dan Venny.” Aku memberinya sebuah petunjuk. “Hal yang sama juga berlaku untukmu. Kamu dan Edrick masih bertunangan. Kalau kamu tidak berhati-hati, bisa saja dia batal menikahi kamu,” bisikku.


Dia tersenyum santai. “Edrick akan menikahi aku. Hubungan kami tidak seperti Chika dan Venny yang dijodohkan dengan Theo. Edrick sendiri yang memilih aku dan kami saling mencintai.”


“Oh, ya?” Aku tersenyum penuh arti. Kepercayaan dirinya itu patut diacungi jempol. “Apa dia masih mencintai kamu jika dia tahu masa lalumu?”


“Dia tahu semuanya.” Dia mengangkat dagunya dengan arogan. “Kamu tidak akan bisa merusak hubungan kami dengan cara yang sama yang kamu lakukan terhadap Chika.”


Aku tidak menyebarkan video Chika yang viral itu, tetapi aku tidak tertarik untuk meralatnya. “Kamu yakin dia tahu semuanya? Kamu tidak menyembunyikan apa pun darinya akhir-akhir ini?”


Dia tertegun sejenak, lalu tertawa gugup. “Aku tidak punya rahasia apa pun yang aku sembunyikan dari tunanganku. Lagi pula, untuk apa kamu mau tahu urusan kami?” Dia mendorong tubuhku agar dia bisa berjalan melewati aku.


Tindakan kecil itu bagai déjà vu. Beginikah cara dia mendorong Amarilis dari dek kapal itu? Theo yang melihat kejadian tadi mengerutkan keningnya. Dia menatap tajam ke arah Nisa yang berjalan mendekati Edrick. Tanpa mengatakan apa pun, dia melangkah ke arahku.


Aku menggeleng pelan, mengisyaratkan agar dia tidak membahasnya sekarang. Kami pun mengisi piring dan mendekati meja yang masih menyediakan kursi kosong. Kami datang ke sini untuk makan malam gratis, maka kami tidak boleh melewatkannya.


Chika dan Nisa bersama pasangan mereka menuju meja yang berbeda. Aku melihat Kak Jericho dan Rahma masih menyapa orang-orang yang dikenal di dekat pintu masuk. Gino tidak ikut bersamanya adalah hal yang langka. Mungkin perempuan itu tidak suka asisten Kakak mengganggu mereka.


Saat pasangan di sebelah Theo pergi, kami saling bertukar pandang. Waktunya juga bagi kami untuk pergi. Perut sudah penuh dan kami terhibur dengan permainan piano yang mengiringi kami makan. Acara ulang tahun yang sangat tenang, tanpa perayaan yang memekakkan telinga.


“Nah, kita bisa melanjutkan obrolan tadi.” Edrick mengisi kursi kosong di sisi Theo sambil meletakkan sepiring kue di hadapannya.

__ADS_1


Seorang pelayan datang dari sisiku dan menaruh sepiring potongan buah-buahan di depanku dan Theo. “Selamat menikmati, Pak, Bu,” kata wanita itu dengan sopan.


“Aku perhatikan makanan kalian sudah habis, jadi aku meminta mereka menambahnya.” Edrick menjelaskan. Nisa yang duduk di sampingnya merengut.


Ternyata dia dan Theo sedang membahas hal yang ada hubungannya dengan membuka cabang di luar negeri. Ambisinya tinggi juga. Apalagi usaha properti di Amerika termasuk paling diminati. Dia hebat jika mau mencoba untuk mengadu nasib di sana.


Aku menyembunyikan senyum puasku dengan meminum air melihat dia memberikan kartu nama dan menulis nomor ponsel pribadinya kepada Theo. Bukan nomor bisnis, tetapi nomor pribadi. Suamiku memang partner terbaikku dalam menjalani misiku.


Setelah Edrick puas berbincang dan buah di atas piring kami habis tak bersisa, Theo pun pamit. Aku melihat Nisa mendesah lega ketika kami berdiri. Hal yang tidak luput dari perhatianku. Sepertinya kalimatku tadi cukup mengena. Bagus. Aku mau dia tidak tidur tenang malam ini.


Merasakan ada yang memperhatikan, aku mencari sumbernya. Ternyata Venny yang mengikuti kami dengan pandangannya. Ketika mata kami bertemu, aku tersenyum. Dia merapatkan bibirnya, lalu membuang muka. Wanita yang aneh. Untuk apa lagi berharap kepada Theo? Salah sendiri, dia sudah bersikap tidak sabar dengan mencampakkan Theo yang masih pemulihan.


“Aku tidak percaya Nisa melakukan itu terhadap Edrick. Dia tampan sekali,” kataku, begitu kami berada di kamar. Menyadari Theo hanya diam, aku membalikkan badan. Dia menatap aku dengan tajam. Ups. Aku salah bicara.


Aku mendekat dan menolong membuka kancing kemeja batiknya. “Tentu saja. Kamu jauh lebih ganteng darinya. Aku sampai tidak nyaman karena para ibu dan wanita lajang di sana memandang aku dengan sinis. Mereka pasti iri akulah yang dipilih oleh pria paling tampan di aula itu.”


“Lo yakin mau melakukan ini?” Dia memegang tanganku, menghentikan aku membuka kancing berikutnya. “Edrick akan hancur jika dia mengetahui perbuatan Nisa.”


“Ada apa dengan lo dahulu? Kenapa lo berteman dengan orang-orang aneh begitu?” Dia melepas tanganku, lalu membuka kancing kemejanya sendiri. “Jangan khawatir dengan Richo. Gue yakin dia punya rencananya sendiri mau dekat dengan Rahma.”


“Tetap saja aku kepikiran. Tidak seharusnya Kakak bermain api begitu.”


“Daripada memikirkan dia, lebih baik kita buat api sendiri.” Theo membopong tubuhku dan berjalan ke kamar mandi.


Aku tertawa kecil. “Buat api itu di dapur, bukan di kamar mandi.”


Theo membawa kabar baik setiap hari. Edrick sering mengajak dia mengobrol lewat ponsel, dan puncaknya, mereka bertemu lagi sambil makan siang. Percakapan mereka hanya seputar pekerjaan yang membosankan, tetapi itu pertanda baik.


Sebaliknya, aku harus melihat Kakak dan perempuan jahat itu bersikap begitu mesra ketika aku datang ke lokasi kerja. Kalau bukan karena dia adalah atasanku, aku tidak sudi datang dan memberi laporan kepadanya mengenai jadwal terbarunya.

__ADS_1


Gino menatap aku penuh pengertian. Pria yang malang. Apa dia sering menjadi pelampiasan amarah Rahma? Dia pasti diusir keluar ruangan setiap kali perempuan itu datang. Dasar pengganggu. Dia selalu saja datang pada saat Kakak bekerja, lalu memonopoli waktu luangnya juga.


“Lihat, ‘kan?” Perempuan tidak tahu malu itu duduk di sisiku saat para kru sedang rapat. “Aku tidak perlu bantuanmu untuk mendapatkan Kak Jericho.”


Memang benar, hobinya hanya mengganggu orang yang sedang bekerja. Apa dia tidak melihat aku sedang sibuk membalas pesan dan menerima panggilan masuk? Namun aku tidak mau membuang kesempatan untuk memberi dia sedikit pelajaran.


“Kamu belum menikah dengannya. Jangan sombong dahulu,” balasku dengan santai, tidak mau terpancing emosi. “Yang sudah bertunangan saja bisa putus, apalagi yang hubungannya tidak jelas.”


“Aku dan Kak Jericho berpacaran. Dia menerima cintaku. Kalau kamu pikir aku akan melepaskan dia setelah ini, bermimpilah terus.” Dia mendengus pelan.


“Kakak tidak bilang cinta juga berarti hubungan kalian belum aman, Rahma,” ejekku. Aku dalam hati merasa lega Kakak hanya berpacaran dengannya dan tidak ada deklarasi cinta.


“Itu hanya masalah waktu, Kat.” Dia sengaja membisikkan namaku agar tidak ada yang mendengar. “Sama seperti statusmu yang hanya masalah waktu sampai semua orang tahu tentang kamu. Aku mau tahu apa yang akan terjadi kepadamu ketika banyak yang tahu jiwamu dan Amarilis tertukar.”


Topik itu lagi, itu lagi. Di antara mereka bertiga, hanya dia yang begitu terobsesi dengan kenyataan jiwa Katelia yang ada di tubuh Amarilis. Chika dan Nisa tidak peduli lagi dengan itu. Apa mungkin dia punya kenalan yang akan menolong dia untuk menahan aku agar diuji coba?


“Aku juga mau tahu apa yang akan terjadi, kalau orang tuamu tahu kamu pernah menggugurkan kandungan.” Aku menoleh kepadanya. “Apa kamu tahu kedaluwarsa penuntutan atas tindak aborsi adalah dua belas tahun? Walau saat itu kamu masih remaja, kamu tetap bisa masuk penjara.”


“Pembunuhan berencana yang kamu lakukan terhadap Katelia juga bisa melempar kamu ke penjara, Amarilis,” katanya dengan pongah. “Kami bertiga adalah saksi dari peristiwa itu.”


Aku tertawa kecil. “Kamu tahu bersumpah palsu adalah tindak pidana, ‘kan? Coba saja kalau kamu mau melakukan trik murahan kalian itu. Aku mau tahu, kalian atau aku yang berakhir di penjara.”


Dia tidak membalas lagi, maka aku menjawab panggilan masuk yang sedari tadi membuat ponsel di genggamanku bergetar. Dia pun pergi dengan mengentak-entakan kakinya di lantai, jauh sekali dari tindakan wanita dewasa yang seharusnya tidak kekanak-kanakan.


“Dia akan berpesta besok malam,” lapor Bastian dengan singkat, lalu mengakhiri hubungan telepon.


Sayangnya, Theo mengatakan Edrick pergi keluar kota. Mengapa aku malah kecewa? Nisa tidak akan mengundang teman ke rumah kerabatnya atau menghadiri pesta kalau tunangannya ada di sisinya. Aku terpaksa menunda rencanaku itu.


“Apa enaknya minum àlkôhol? Apa dia tidak tahu dampak buruk cairan itu bagi tubuhnya?” Aku menutup pintu kamar mandi, lalu berjalan mendekati tempat tidur. “Bangun besok paginya kepala sakit, perut mual, aku saja tidak suka menjalani itu setiap hari.”

__ADS_1


“Sebentar. Lo pikir mereka hanya màbúk-màbúkan di rumah itu?” tanya Theo tidak percaya. Aku mengangguk. “Sayang, mereka melakukan lebih dari itu, makanya lo enggak bisa ke sana tanpa gue.”


__ADS_2