Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
24|Gara-gara Kakak


__ADS_3

~Amarilis~


Apa mau laki-laki ini? Aku senang bisa berteman dengannya, apalagi dia sering menolong aku lepas dari Chika dan kedua temannya. Namun menjadi pacarnya jelas tidak ada dalam rencanaku. Untuk apa juga kami menjalin hubungan kalau dirahasiakan dan tidak ada rencana menikah?


Aku baru berumur sembilan belas tahun. Masa depanku masih panjang dan aku tidak pernah terpikir untuk menjalin hubungan asmara. Terlalu banyak drama. Teman-teman sekelasku dahulu banyak yang studinya terancam gara-gara hati.


Namun aku tidak bisa menentangnya lagi. Dia tidak menuntut apa pun dariku hanya sesekali makan siang bersama. Aku tidak mengerti. Apa yang dia inginkan dariku dengan melakukan semua ini? Apa dia punya alasan lain di balik ajakan pacarannya ini?


“Duduk di sini,” katanya, memberi perintah.


“Aku nyaman duduk di sini,” tolakku.


Dia meraih tanganku, lalu menarik aku sampai menuruti permintaannya. Menjengkelkan sekali. Aku terpaksa berdiri, kemudian duduk di sisinya. Karena makananku sudah habis, maka aku hanya perlu menghabiskan minumanku. Dia mendekatkan sepiring dimsum kukus kepadaku.


“Aku sudah kenyang, terima kasih,” tolakku.


“Hanya dua potong. Sayang kalau dibawa pulang,” bujuknya, setengah memaksa.


Aku mendesah pelan, lalu menghabiskan kedua potong dimsum tersebut. Dia mengeluarkan uang kertas berwarna merah ketika pelayan datang membawa tagihan kami. Begitu pelayan itu kembali, dia memintanya untuk merapikan meja kami.


Kak Jericho datang dengan muka bingung. Dia memandang aku dan Theo secara bergantian. Aku hanya melotot agar dia bersikap hati-hati di depan pemuda ini. Aku tidak mau rahasiaku ketahuan. Dia memutar bola matanya, seolah mengatakan ketakutanku itu sangat konyol.


“Nah, dia sudah datang. Gue bisa pergi,” kata Theo dengan santai. “Sampai nanti.”


Aku dan Kak Jericho hanya diam melihat dia pergi menuju pintu. Kakak duduk di kursi di depanku, dan diam menunggu sampai Theo sudah jauh dengan sepeda motornya. Kemudian dia menoleh dan menatap aku dengan kesal.


“Jangan marah kepadaku. Ini semua kesalahan Kakak.” Aku berdiri dan berjalan menuju pintu.


“Aku yang salah?” protesnya sambil mengekori aku.


“Kakak dari mana saja? Kita janji pukul dua belas, Kakak tidak ada di tempat.” Aku memandang ke sekelilingku, mencari sepeda motornya.


Gara-gara Kak Jericho, semua ini terjadi. Kalau saja dia datang tepat waktu, aku dan Theo mungkin tidak akan bertemu di gerbang dan percakapan tadi tidak akan terjadi. Menjengkelkan sekali. Aku tidak mau menjadi pacar orang sombong itu.


“Dosenku masih memberi pengarahan, aku tidak mungkin keluar ruangan sebelum dia, Ris,” katanya, membela diri. “Kamu yang melupakan aku, malah makan enak di sini.”

__ADS_1


“Bagaimana aku bisa memberi tahu Kakak? Kita lupa bertukar nomor telepon dan aku hanya hafal nomor Papa dan Mama.” Aku berhenti di dekat sepeda motornya. “Ayo, kita ke tempat lain saja. Ada banyak mata-mata kampus di sini. Aku tidak nyaman.”


“Bukannya kamu ada kuliah sebentar lagi?” tanyanya bingung.


“Kakak tidak mau aku temani makan?” Aku balik bertanya.


Dia memberi helmnya kepadaku, lalu kami keluar dari tempat itu. Beberapa saat berkeliling, dia memasuki tempat parkir sebuah kafe. Aku hanya memesan air putih dalam botol, tidak sanggup memakan sekadar camilan paling ringan sekalipun.


“Ada hubungan apa antara kamu dengan Theo?” tanya Kakak heran.


“Kakak amnesia? Dia teman sekelasku di SMU,” jawabku, setengah mengejek.


Karena Theo mengatakan hubungan kami rahasia, aku tidak mau memberi tahu Kakak. Lagi pula, kalau dia sampai tahu, dia akan menyuruh kami putus. Dia yang paling tahu bahwa hubungan yang tidak sederajat tidak akan ada gunanya diperjuangkan.


“Kalian berdua musuh bebuyutan, Ris,” katanya. Lalu dia tertegun sejenak menyadari arti tatapanku. “Oh. Aku lupa. Kamu sudah bukan Katelia lagi.”


“Aku sudah bilang, jangan sebut nama itu lagi. Dinding juga punya telinga, Kak,” tegurku sembari meletakkan telunjuk di depan bibirku.


“Kalau begitu, berhentilah bertingkah seperti Kat,” balasnya.


“Aku bersama Kakak, untuk apa menjadi Amarilis,” kataku, tidak mau kalah.


“Aku adalah Amarilis, Kak.”


“Tidak. Amarilis tidak suka menentang ucapan lawan bicaranya. Dia juga tidak akan bisa menatap mata orang yang ada di depannya. Dia selalu gugup dan tidak percaya diri. Kamu adalah kebalikan dari semua itu. Hati-hati, Ris,” kata Kakak, mengejutkan aku.


Benarkah? Itukah yang aku lakukan? Aku bertekad untuk menjadi Amarilis, tetapi aku masih membawa semua kebiasaan Katelia. Aduh, susahnya. Bagaimana aku bisa berakting menjadi seseorang yang bukan diriku? Apalagi aku membenci segalanya yang ada pada gadis ini.


“Sampai nilai akademik pun, apa kamu tidak bisa sedikit berpura-pura?” ucap Kakak tidak percaya. Dia meletakkan tangan di dahinya, lalu menggeleng pelan.


“Aku mau lulus dengan nilai sempurna, Kak. Kalau tidak begitu, aku akan kesulitan mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang bagus,” kataku, membela diri.


“Perusahaan bagus yang mana?” tanya Kakak ingin tahu.


Aku menceritakan segalanya kepadanya, mengenai target kuliahku, perusahaan yang akan aku lamar, begitu juga dengan posisi akhir yang aku incar. Dia hanya mengangguk, entah karena dia setuju atau hanya mendengarkan. Topik ini lebih suka aku bahas dengan Kak Nolan, tetapi dia tidak ada di sini.

__ADS_1


“Rencana kamu bagus, tetapi kamu tidak perlu sampai lanjut kuliah lagi. Sarjana sudah cukup. Untuk apa mengambil gelar master ke luar negeri? Perusahaan hanya akan menilai kamu selanjutnya dari pengalaman kerjamu,” katanya, memberi tahu.


“Aku tetap perlu meningkatkan kemampuanku, Kak. Papa sendiri yang bilang begitu,” tukasku.


“Papa mengatakan itu untuk Kak Nolan, bukan kamu. Perempuan seperti kamu ujung-ujungnya akan menjadi ibu rumah tangga, baik kamu menikah dengan orang biasa atau kaya. Sayang saja, waktumu kamu habiskan untuk belajar. Mending kamu mendekati anak orang kaya,” usulnya.


“Kakak sudah gila, ya? Tidak ada orang kaya yang akan merestui anaknya menikah dengan orang miskin seperti aku,” ujarku dengan serius.


“Benar. Karena itu, kamu fokus kepada CEO muda saja. Jangan yang punya perusahaan keluarga yang sudah dipimpin dari generasi ke generasi. Banyak dramanya. Kamu tidak boleh kerjalah, harus beri anak laki-lakilah, menjaga reputasi keluargalah. Hidupmu tidak akan bebas.”


Aku bersandar dan menyilangkan kedua tanganku di depan dada. “Kakak tidak berpendapat begini mengenai aku dan tunanganku.” Aku memicingkan mataku kepadanya.


“Karena Katelia sudah disiapkan dari kecil untuk menjalani semua itu. Memangnya kamu terpikir untuk mengambil gelar master? Tidak, ‘kan? Itu baru kamu rencanakan setelah menjadi Amarilis.” Dia meletakkan tangannya di atas meja.


“Tenang saja. Aku punya banyak kenalan. Jika sudah tiba waktunya, aku akan memperkenalkan kamu kepada laki-laki kaya dan setia.” Wajahnya berubah serius. “Tetapi pertama-tama, kamu harus belajar akting lebih baik menjadi Amarilis. Setidaknya, selama satu atau dua tahun ini.”


Aku mendesah pelan. “Baiklah. Aku akan berusaha, tetapi Kakak juga harus menjaga jarak denganku.”


“Untuk apa?” katanya dengan santai. “Aku bisa berakting dengan sempurna. Tiga kurcaci Kat saja sampai tidak bisa berkata-kata dengan kalimat andalanku.”


Tante Ruth menyambut aku dengan ramah di rumahnya. Matt sudah menunggu di ruangan, jadi aku langsung menemuinya dan memulai belajar kami. Aku mengingat semua ucapan Kakak dan berhati-hati saat berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dengannya.


Ketika kami makan malam, aku menyadari sebuah kesalahan besar. Aku memilih alat makan yang pas setiap kali hidangan demi hidangan disajikan. Itu bukanlah kebiasaan Amarilis. Aku melihat ke sekelilingku. Tidak ada yang memperhatikan, maka aku mengubah strategiku.


Aku menunggu mereka mengambil peralatan makan mereka, baru meniru dan mulai makan. Bodoh sekali. Bagaimana bisa hal sebesar itu aku lupakan? Kalau mereka menyadarinya, maka mereka akan bertanya dan aku tidak bisa menjawab.


“Nah, begitu, dong. Kalau ada yang mengantar kamu pulang, aku bisa lebih tenang,” kata Tante Ruth ketika aku tidak menolak diantar oleh Theo.


“Iya, Tante,” ucapku dengan kepala tertunduk. Seandainya saja dia tahu, aku terpaksa melakukan ini.


“Pegangan,” kata Theo.


Namun sebelum aku sempat melakukannya, dia menjalankan sepeda motornya. Aku sampai sedikit terdorong ke belakang karena belum siap. Aku segera memeluk tubuhnya dengan erat. Akibatnya, jantungku berdebar begitu kencang, takut akan jatuh.


Mengingat Amarilis tidak akan berani marah atau menentang siapa pun, maka aku menahan diri untuk tidak memarahinya. Gara-gara Kakak, aku tidak bisa hidup dengan tenang seperti sebelumnya. Satu setengah tahun berada di tubuh ini, aku layaknya tidak belajar apa pun mengenai pemiliknya.

__ADS_1


Aku yakin keluarga Amarilis sudah terlebih dahulu tahu aku bukanlah orang yang mereka kenal. Memasak kue dan roti tidak becus, mendadak mau repot-repot kuliah dan mengumpulkan uangnya sendiri, berani mengungkapkan pendapat … Oh, Tuhan. Semakin aku memikirkannya, semakin aku menyadari aku sudah banyak berbuat kebodohan. Aku sendiri yang membongkar rahasiaku.


Sampai di depan tempat tinggalku, Theo menolong aku turun. Aku membuka helm dan berniat untuk mengembalikan kepadanya, tetapi dia melingkarkan tangannya di pinggangku. Dia mendekatkan wajahnya sehingga aku membeku. Apa dia akan melakukan adegan seperti dalam film itu?


__ADS_2