
~Altheo~
Dia tidak hamil. Berita itu bagai pukulan keras yang ditujukan ke ulu hatiku. Aku berusaha dengan baik, melakukan semua yang dokter sarankan, mengapa aku bisa gagal? Tidak ada satu hari pun yang aku lewati tanpa mênidúri dia sejak kami menikah.
Bukankah wanita normalnya mênstrúasi setiap bulan? Hampir satu bulan berlalu, tetapi aku tidak menemukan satu kali pun pembalut bekas pakai di kamar mandi kami. Apa mungkin sesaat lagi dia akan datang bulan, karena itu hasil tesnya negatif?
Aku benar-benar berharap besar kali ini dia akan hamil, jadi aku bisa fokus mendampingi dia dan calon buah hati kami. Jika aku sudah kembali bekerja, aku tidak akan selalu ada di sisinya. Pekerjaan sudah pasti akan menguras perhatian dan waktuku.
Namun aku belajar untuk menerima kegagalanku itu. Selama satu tahun ini sepertinya aku memang diajarkan untuk belajar dari setiap rencanaku yang hancur berantakan. Aku mengalami kecelakaan, harus fokus memulihkan diri, dan tidak bisa melakukan pekerjaanku dengan lancar.
Karena itu, aku menerima ajakan Ayah dan Nolan untuk mendampingi mereka di tempat kerja. Aku bisa mengalihkan pikiran dari setiap kegagalanku, sekaligus mengasah kemampuanku kembali. Aku belum dekat dengan mereka, tetapi mereka baik sekali kepadaku.
Aku tidak selalu bersama mereka, ada waktunya juga aku berdiskusi dengan Matt secara daring. Dia sangat sabar menjawab setiap pertanyaanku dan membiarkan aku yang menyimpulkan hasil dari laporan harian restoran kami di Amerika maupun divisi yang menjadi tanggung jawabnya.
“Ngomong-ngomong, lo enggak dapat uang lagi dari Papa sejak menikah, bagaimana lo bisa beli kebutuhan lo dan Kak Amarilis?” tanyanya setelah kami selesai diskusi.
“Lo dan dia sama saja. Enggak usah khawatir. Gue akan urus rumah tangga gue dengan baik.” Aku melihat ke arah pintu dan jendela ruang rapat di mana aku berada, memastikan tidak ada yang akan mendengar percakapan kami.
“Maksud gue, biar gue tranfer bagian lo—”
“Enggak, Matt,” kataku, menyela. “Lo jangan macam-macam. Gue enggak butuh rasa kasihan dari lo.”
“Lo bisa anggap ini pinjaman. Kalau lo sudah punya uang, kembalikan sama gue. Mungkin lo bisa bertahan selama beberapa minggu lagi. Bagaimana kalau Kak Amarilis hamil nanti? Lo akan butuh banyak uang, Theo. Gue enggak mau kakak dan calon keponakan gue kurang gizi karena harga diri lo yang enggak pada tempatnya itu,” balasnya.
“Gue enggak akan menikahi dia kalau gue enggak siap, Matt. Tenang saja,” pungkasku.
Matt akhirnya diam, tidak melanjutkan desakannya. Kekhawatirannya beralasan, tetapi itu karena dia tidak tahu. Kalau saja dia tahu semua sumber danaku, dia tidak akan meragukan aku sanggup memenuhi setiap kebutuhan hidup kami. Hanya saja, aku harus merahasiakannya.
Terlalu banyak berpikir, aku merasakan kepalaku sakit. Aku menjauhkan semua gadget dan melihat ke arah luar jendela. Sudah lama aku tidak bermimpi atau mengingat apa pun tentang masa laluku. Hal terakhir yang aku ingat adalah kampus, tetapi hanya potongan adegan demi adegan. Seandainya saja ingatanku sudah utuh, aku tidak akan tersiksa begini.
Nolan mengetuk pintu dan membukanya. Dia mengajak aku makan siang bersama mereka. Waktu yang sangat tepat, karena aku sudah mulai merasa lapar. Kami tidak bertemu dengan siapa pun, jadi aku tenang bisa makan dengannya dan Ayah. Kami pun mengobrol dengan santai.
__ADS_1
Pada pagi harinya, Amarilis menolak untuk joging bersamaku. Mungkin dia kelelahan beraktivitas dengan kedua ibunya, maka aku tidak memaksa. Namun sudah dekat waktunya sarapan, dia masih saja belum mau bangun. Walau ini adalah rumahnya, aku tidak mau dia berbuat sesukanya.
Begitu melihat dia duduk dan tertegun sejenak, aku melihat wajahnya memucat sangat cepat. Apalagi mulutnya mengeluarkan suara mau muntah. Aku segera memeriksa keadaannya. Keningnya tidak panas. Apa dia makan siang di sembarang tempat kemarin?
Tanpa menunggu jawabannya, aku membantu dia ke kamar mandi. Dia benar-benar lemas sampai terduduk di lantai dan menghadap toilet. Namun berapa kali pun dia mual, tidak ada yang keluar dari mulutnya. Keadaannya itu membuat aku panik. Aku tidak pernah mengurus orang sakit.
“Ada apa?” tanya Bunda yang sudah berdiri di depan pintu kamar saat aku membukanya.
“Amarilis sepertinya sakit,” jawabku.
“Sayang?” Bunda segera masuk saat aku membuka lebar pintu. Dia menghampiri putrinya dan memeriksa keningnya. “Tunggu sebentar. Aku akan mengambilkan air hangat.” Dia kembali berjalan ke arahku. “Bantu pijat kepalanya. Katanya, dia pusing. Aku segera kembali.”
“Apa kita tidak perlu ke rumah sakit?” tanyaku khawatir.
“Aku akan menelepon dokter keluarga kami.” Aku mendesah lega mendengarnya.
Aku menuruti perkataannya dengan menolong memijat kening Amarilis dan menemani dia sampai mamanya kembali. Wanita itu memaksanya meminum air yang dia bawa. Aku memindahkan dia ke tempat tidur, lalu ibunya meminta dia meminum air yang berwarna dan roti untuk mengisi perut.
Begitu dokter mereka datang, pria itu memeriksa keadaannya. Kami menunggu dengan harap-harap cemas. Semoga saja Amarilis tidak perlu dirawat inap. Kami harus kembali ke Jakarta dalam waktu dekat. Kami tidak bisa tinggal terlalu lama di rumah orang tuanya.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata dokter itu dengan wajah bahagia. “Justru ada kabar bahagia untuk semua keluarga.”
“Istriku sampai pucat begitu, apanya yang membahagiakan, Dokter?” tanyaku, tersinggung.
Dia tertawa kecil. “Anda pasti suaminya. Istri Anda sedang hamil. Selamat, ya.”
Aku sampai tidak percaya dengan kata yang dia ucapkan. Hamil? Amarilis menggunakan alat tes dan hasilnya katanya negatif. Lalu dokter ini baru minum apa sampai dia mabuk tidak bisa membedakan antara gejala hamil dengan sakit lambung?
“Dokter bercanda, ‘kan?” tanyaku. “Istriku hanya salah makan.”
“Iya, Dok. Apa tidak salah?” Bunda ikut bertanya. “Kami sudah memeriksakan kehamilannya dengan alat tes, tetapi hasilnya negatif.”
__ADS_1
“Ibu pakai berapa alat tes?”
“Hanya satu. Memangnya perlu lebih dari satu, ya?”
Dokter itu tersenyum. “Bisa jadi alat itu rusak atau cara penggunaannya ada yang keliru. Hal yang biasanya sering terjadi, hasilnya baru terlihat setelah lewat dari waktu yang tertera pada petunjuk penggunaan. Saran saya, periksakan kondisi anak Ibu ke dokter kandungan segera.”
Aku tidak menunggu sampai dokter itu selesai bicara dan membopong Amarilis. Dia sudah tidak mengeluh pusing, jadi aku tidak mau menanti lebih lama lagi. Aku perlu tahu kepastiannya. Dia hamil atau tidak. Yang bisa membantu memeriksa keadaannya yang sebenarnya hanya dokter kandungan.
Kami pergi berlima, tetapi jadi bertujuh saat tiba di rumah sakit. Bunda menelepon Mama agar bisa ikut mendengarkan hasil pemeriksaan dokter. Untung saja rumah sakit yang dokter tadi sarankan dekat dari rumah. Karena tidak semua rumah sakit membuka klinik spesialisnya pada pagi hari.
Tidak peduli apa ada antrian atau kami perlu mendaftar, aku membawanya masuk ke ruang praktik, lalu mendudukannya di kursi kosong. Untung saja tidak ada siapa pun dalam ruangan itu selain dokter yang sedang bersiap-siap. Aku tidak mengganggu giliran siapa pun.
“Maafkan saya, Dok,” ucap Suster yang mengikuti kami dengan wajah panik. “Bapak ini langsung masuk tidak bisa saya cegah.”
Pria itu tertawa kecil. “Tidak apa-apa.” Dia menyapukan pandangannya kepada kami semua. “Ng, seharusnya tidak boleh ada banyak orang yang ada di ruangan ini, tetapi baiklah.”
Dokter itu menanyakan banyak hal kepada Amarilis yang dia jawab setelah berpikir dengan serius. Suster tadi menolong dia untuk berbaring di sebuah dipan dan menyiapkan sebuah alat untuk dokter itu gunakan. Jawaban atas pertanyaan kami pun diberikan dengan menunjukkan bagian pada layar serba hitam dengan bîjî kecil yang katanya bayi kami.
Apa dia sedang menghina anakku? Enak saja dia menyebutnya bîjî. Yang sedang tumbuh dalam rahim istriku adalah anak kami. Namun aku tidak sempat protes karena semua orang ribut ingin melihat bayi itu lebih dekat.
“Oh, Kat! Aku sangat bahagia!” seru Bunda sambil membelai pipi Amarilis. Kat? “Kamu akan jadi seorang ibu dan aku jadi nenek.”
Mengapa dia memanggil Amarilis dengan nama Kat? Siapa Kat? Namanya adalah Amarilis Josepha. Melihat Mama juga mendekat dan menyebut namanya dengan benar, aku semakin bingung. Apa yang tidak aku pahami di sini?
Aku ingin bertanya, tetapi sakit kepala yang luar biasa mendadak menyerang. Aku benci setiap kali sakit ini datang. Duniaku berputar sehingga aku terduduk di lantai. Aku tidak tahu apa yang aku pegang, karena terdengar bunyi benda nyaring jatuh di lantai, memekakkan telingaku.
“Theo? Hei, ada apa, Nak?” Terdengar suara Ayah. Itu menjadi hal terakhir yang aku dengar sebelum sekelilingku gelap gulita.
[Berhubung tokohnya bobok, penulisnya juga ikut istirahat. Jadi, bobok bareng Theo, deh. 🤭 Selamat bersiap untuk pekerjaan atau studi besok, teman-teman. I love Monday! Jangan lupa yang masih punya karcis merah gratis, ketuk Vote di akhir bab, ya. Soalnya, akan hangus malam ini.]
__ADS_1