
“Suatu hari nanti, aku mau bekerja di sini.”
Kami berdiri di depan sebuah gedung tinggi yang indah. Aku beruntung pernah masuk, bahkan berada di kebun bunganya yang indah di atapnya. Dua kali. Dari semua perusahaan yang aku amati, perusahaan ini yang terbaik. Pantas saja ahli warisnya menjadi incaran banyak orang.
“Perusahaan makanan ini sangat keren dan moto mereka untuk memproduksi makanan instan yang tetap menjaga nilai gizi dan kalori sangat menyentuh aku. Restoran mereka juga sangat higienis. Mereka bertahan dengan semua kualitas itu walau harga produk mereka tidak murah.”
“Lo enggak sedang menggoda gue, ‘kan?” tanya Theo penuh curiga.
Aku tertawa kecil. “Tidak. Sayangnya, kamu sudah merusak impianku itu.”
“Begitu gue menduduki posisi direktur utama, lo yang jadi asisten gue.” Dia merangkul bahuku.
“Serius?” tanyaku tidak percaya.
“Serius. Siapa lagi yang bisa gue percayai di dunia ini kalau bukan istri gue sendiri?” tuturnya.
Aku tersenyum tipis mendengar nada percaya diri pada suaranya. “Theo, kita tidak akan pernah menikah,” kataku, mengingatkannya.
“Lo pesimis amat, sih? Kayak bukan Katelia saja.” Dia menggandeng tanganku. “Ayo. Gue lapar.”
Setelah berbagi mengenai tempat impian, kami menjalani sisa hari itu dengan santai. Kami makan siang, minum teh dan kopi di sebuah kafe, lalu dilanjut dengan menonton salah satu film laga. Kami sama-sama tidak menyukai film romantis. Malam harinya, dia mengajak aku ke sebuah taman.
Kami sesekali bicara mengenai hal yang acak, tetapi kami tidak bertengkar. Hari yang aneh. Biasanya kami selalu saja meributkan hal yang sepele sekalipun. Dia masih lebih banyak diam dan sering sekali menyentuh aku. Entah itu memegang tangan, memeluk tubuh, atau mencium kepalaku.
Hubungan kami terasa nyata. Dia bukan sekadar pacar rahasia lagi, tetapi calon suami benaran. Aku beberapa kali melihat orang menatap kami dan saling berbisik. Mereka pasti tahu siapa Theo dan gadis yang seharusnya bersamanya. Aku yakin mereka melabeli aku sebagai selingkuhannya.
Walau aku bukan Katelia, aku kembali menjadi pusat perhatian. Rasanya menyenangkan sekali. Aku tidak peduli dengan berita buruk yang mereka sebarkan mengenai aku. Sejak Theo dan Chika resmi bertunangan, media sosial dan daring pasti penuh dengan berita itu. Aku tidak mau terganggu sehingga tidak pernah mencari tahu apa yang orang katakan mengenai aku.
“Terima kasih untuk hari ini,” ucap Theo ketika kami sudah tiba di depan tempat tinggalku.
“Sama-sama.” Aku tersenyum kepadanya.
“Apa aku boleh meminta satu hal lagi?” tanyanya.
Memahami apa yang akan dia minta, aku menggeleng. “Kamu sudah beberapa kali mencuri ciuman tanpa minta izin, tidak lagi.”
“Begitu jawaban lo sama orang yang berulang tahun? Ini alasan gue enggak pernah minta izin. Lo pasti enggak kasih.” Dia memasang wajah sedih, membuat aku merasa tidak enak.
“Ya, sudah. Iya, iya. Kamu boleh cium aku,” kataku, mengalah.
Dia tersenyum bahagia. Saat dia memegang tanganku, aku tidak menolak. Dia meletakkan satu tangannya melingkari pinggangku, lalu membawa tubuhku mendekat kepadanya. Matanya tidak lepas dari bibirku. Jantungku berdebar cepat sekali karena gerakan lambatnya itu.
__ADS_1
Mengapa dia tidak langsung cium seperti biasanya? Membuat aku gugup saja. Aku sampai khawatir dia bisa merasakan detakan jantungku. Karena hanya pakaian yang memberi jarak di antara tubuh kami. Bibirku serasa kering harus menunggu begitu lama.
“Apa yang sudah lo lakukan kepada gue, Amarilis?” bisiknya saat wajah kami sudah dekat.
“Ha?” gumamku bingung.
“Mengapa gue enggak bisa keluarkan lo dari kepala gue?” Dia membelai pipiku, membuat aku tidak bisa berpikir dengan jernih.
Telingaku bisa tuli mendengar detak jantungku yang keras ini. Apa dia bisa mendengarnya dengan jarak sedekat ini? Namun semua pikiran itu buyar saat bibirnya menyentuh bibirku. Dia kali ini tidak mengécup aku seperti biasanya, tetapi ménciúm lebih lama.
Awalnya, aku tidak tahu harus melakukan apa, hanya diam membiarkan dia memberi kecupan demi kecupan. Aku merasakan sesuatu seperti aliran listrik dari bagian wajahku yang diciúmnya menjalar ke seluruh tubuhku. Sensasi asing yang membuat aku takut sekaligus penasaran.
Aku memberanikan diri untuk membalas ciúmannya. Aku hanya meniru apa yang dia lakukan. Aliran listrik itu terasa semakin intens sehingga kakiku melemas. Kalau bukan karena tangannya memeluk aku, mungkin aku sudah mempermalukan diri sendiri dengan jatuh pingsan.
“Selamat malam,” katanya saat aku masih berusaha menenangkan detak jantungku.
“Ma-malam,” balasku, terbata-bata.
“Masuklah, gue tunggu.”
Aku mengangguk dan nyaris tersandung ketika membalikkan badan. Dasar bodoh. Mengapa aku jadi salah tingkah begini? Membuka kunci gembok yang biasanya gampang mendadak sulit aku lakukan. Memalukan sekali. Begitu gemboknya terbuka, aku bergegas masuk dan menguncinya kembali.
Terdengar bunyi mesin sepeda motor Theo menjauh. Oh, Tuhan. Apa yang terjadi kepadaku? Aku tidak pernah segugup ini saat bersamanya. Ditambah lagi aku bersikap sangat bodoh saat membuka gembok. Rasanya aku mau menghilang saja dari dunia ini.
Aku juga bodoh. Mengapa aku membalasnya jika aku tidak mau merasa malu begini? Pipiku semakin memanas. Beginikah rasanya bérciúman? Bagaimana lagi jika kami nanti melakukan hal yang lebih jauh? Apakah rasanya akan lebih mendebarkan?
Pada minggu berikutnya, aku yang berulang tahun. Theo meminta hal yang sama, satu hari hanya untuknya. Karena aku tidak punya kegiatan apa pun, aku mengiyakan ajakannya tersebut. Saat dia menanyakan tujuan, aku tidak tahu harus pergi ke mana. Aku tidak pernah jalan-jalan.
“Ke toko buku, yuk,” usulnya.
Ide yang cemerlang, karena kami sama-sama membutuhkan buku kuliah. Begitu memasuki toko, aroma buku baru itu sangat menggoda. Kami mendatangi koridor yang sama dan memeriksa setiap buku yang tersedia. Benar-benar surga bagi kutu buku seperti kami.
Ketika Theo mempersilakan aku memilih buku mana pun yang aku mau, aku menolak. Aku lebih suka meminjam bukunya seperti biasanya. Dia punya kebiasaan menandai buku yang sangat membantu aku belajar. Beda dengan buku Kak Jericho yang mulus tiada coretan.
“Baiklah, gue akan membawa semuanya besok untuk lo pelajari,” katanya.
“Besok? Apa kamu tidak membutuhkannya lagi untuk mengerjakan skripsi?” tanyaku heran.
“Gue bisa datang ke kamar lo dengan dalih untuk mengulang mata kuliah sebelumnya,” godanya.
Aku tertawa mendengarnya. “Pintar juga kamu.”
__ADS_1
Dia merangkul bahuku, lalu mencium pelipisku. “Bercanda. Gue tidak akan melewati batas.”
Jantungku berdebar dengan cepat mendengar janjinya itu. Atau karena ciumannya? Entahlah. Yang pasti, aku lebih sering gugup daripada tenang ketika bersamanya akhir-akhir ini. Apa semua orang yang sedang berpacaran mengalami hal yang sama?
Sedang asyik makan siang, lagu yang diputar restoran kebetulan lagu ulang tahun. Aku tertawa kecil. Mungkin ada staf yang sedang bertambah usia, sama seperti aku pada hari ini. Itu yang semula aku pikirkan. Karena itu, aku terkejut melihat pelayan datang membawa kue tar dengan lilin menyala di atasnya, lalu diletakkan di depanku.
“Selamat ulang tahun, sayang,” ucap Theo.
“Terima kasih.” Aku merasakan mataku memanas.
Sudah lama ulang tahunku tidak dirayakan. Hari ini bukan tanggal lahirku yang sebenarnya, tetapi orang tua Amarilis pun tidak mengingatnya. Hanya Theo. Karena itu, aku tidak terlalu memikirkan tentang ulang tahun lagi. Naik tingkat, tambah umur. Cuma itu yang aku jadikan patokan.
Jadi, aku sangat terharu mendengar lagu itu ditujukan kepadaku. Selamat ulang tahun, Amarilis. Ah, tidak. Hari ini adalah hari ulang tahun kami berdua. Yang paling istimewa, dia menyebut aku sayang.
Ponselku yang ada di atas meja bergetar, menarik perhatian kami. Aku belum sempat memeriksa, Theo mengambil dan menjawab panggilan tersebut. Aku tahu mengapa Matt melakukannya. Ada satu pengumuman penting yang pasti ingin diberitahukannya kepadaku.
“Gue sudah bilang, jangan ganggu Amarilis hari ini,” omel Theo. “Gue enggak peduli. Telepon dia besok.” Dia memutuskan hubungan telepon, lalu menonaktifkan ponselku tersebut tanpa izin.
“Apa yang kamu lakukan?” protesku.
“Gue enggak mau diinterupsi oleh siapa pun hari ini,” jawabnya sambil mengembalikan ponselku.
“Dia pasti mau memberi tahu hasil pengumuman SBMPTN. Kamu ini usil sekali dengan adikmu.”
“Dia lulus pilihan pertama, apalagi yang mau lo dengar?” katanya acuh tak acuh.
“Dari mana kamu tahu?”
Dia memberikan ponselnya kepadaku. “Lo gurunya, masa lo enggak tahu cara ceknya?”
Aku menerima gadgetnya itu sambil mengumpat kesal tanpa suara. Cowok menjengkelkan. Layar ponselnya itu berisi angka, nama, dan, ah, iya! Matt lulus di jurusan dan kampus yang dia inginkan. Begitu. Ternyata dia sibuk sendiri dengan ponselnya karena mencari nama adiknya.
“Mengapa kamu tidak bilang kalau kamu sudah lihat pengumumannya?”
“Lo punya ponsel canggih dari Matt apa tidak ada kuotanya? Gue mengirimi lo pulsa, apa lo tidak pernah menggunakannya?” Dia menatap ponselku penuh selidik.
“Kita sedang kencan, makanya aku tidak melihatnya. Bukannya kamu tidak suka aku membagi perhatian dengan laki-laki lain saat bersama kamu?”
“Gadis pintar.” Dia mengusap-usap rambutku.
Jantungku nyaris berhenti berdetak merasakan sentuhannya. Hal yang sudah terjadi berulang kali. Ada apa denganku? Seperti orang yang sedang menonton film horor saja. Tidur tidak tenang setiap mengingat ciumannya. Lalu jantungku berdebar-debar kencang ketika dia menyentuh aku di luar kebiasaannya. Apa aku menderita penyakit tertentu?
__ADS_1
“Apa ada hal yang sangat lo inginkan saat ini? Benda, seseorang, pergi ke suatu tempat, apa saja yang lo mau,” tanyanya setelah membayar tagihan makanan kami.
Aku menatapnya sejenak. “Kamu mau memberi aku kado?” tanyaku, memahami maksudnya. Dia mengangguk pelan. “Aku boleh meminta apa saja yang aku inginkan?”