
Aku tahu dia serius sejak pengakuan pertamanya, jadi dia tidak perlu mengatakannya dua kali. Sayangnya, aku tidak merasakan apa pun mendengar dia menyukai aku. Berbeda dengan yang aku rasakan bersama Theo. Aku merasa tidak percaya sekaligus berharap kalimat itu benar.
Apalagi jantungku berdebar begitu cepat, menunjukkan aku juga punya perasaan yang sama. Namun bukan Katelia namanya kalau aku langsung mengakui perasaan sayangku kepadanya. Aku ingin jadi lebih baik demi dia. Aku yang egois ini rela membiarkan orang memerintah aku sesukanya.
Hal itu tidak aku rasakan dengan Mas Norman. Walau dia jauh lebih baik dari Theo dengan sifatnya yang lembut dan sabar kepadaku, hanya Theo yang aku mau jadi pacarku. Aku sama sekali tidak tergoda dengan posisinya sebagai direktur utama dan ahli waris tunggal Keluarga Wiryawan. Rasa sayangku sudah untuk pemuda arogan nan menjengkelkan itu.
“Terima kasih banyak, Mas.” Aku menunggu sampai kami selesai makan untuk memberi respons. “Saya sangat menghargai perasaan Mas untuk saya, tetapi saya sudah punya pacar. Mas sudah tahu siapa orangnya. Hubungan kami serius meski bagi semua orang bukan saya calon resminya.”
Aku tersenyum mengingat hal yang sangat penting. “Mas bisa periksa akun media sosialnya untuk tahu siapa wanita yang dia pilih. Walau saya tidak dilamar di depan kamera, saya adalah tunangan Theo yang sebenarnya. Pasti ada wanita untuk Mas di luar sana, tetapi maaf, dia bukan saya.”
Dadaku rasanya sangat lapang setelah mengucapkan kalimat itu. Beban yang berat seolah diangkat dari pundakku yang aku pikul sejak pengakuan pertamanya. Rasa sayangku kepada Theo bertambah beberapa kali lipat mengetahui aku ternyata layak disukai. Keadaan fisikku bukanlah penghalang.
Kami pulang mengambil jalan masing-masing. Mas Norman menuju tempat parkir, sedangkan aku berjalan ke halte. Dia membujuk untuk mengantar aku kembali, tetapi aku menolak. Setelah aku menjawab tidak, rasanya tidak etis dia yang mengantar aku ke rumah.
“Oh!”
Sampai di kamar, aku baru sempat memeriksa ponsel dan menemukan ada banyak panggilan tidak terjawab dari Theo. Aku menghubunginya, tetapi dia tidak menjawab. Beberapa kali mencoba, aku akhirnya menyerah. Mungkin dia sudah sibuk lagi.
Berangkat kerja pada hari Senin, aku tidak menemukan Theo menunggu aku di depan pagar. Sudah lama juga dia tidak datang lagi. Aku justru menemukan kejutan di atas meja kerjaku. Ada tumpukan tinggi berkas yang menunggu untuk aku kerjakan.
Sekretaris direktur utama berbeda dengan sekretaris sebelumnya, jadi aku belum akrab dengannya. Namun aku belajar bahwa aku tidak boleh bertanya dan hanya patuh mengerjakan tugasku. Jadi, aku menarik napas panjang, duduk di kursi, dan mulai memeriksa semua berkas tersebut.
Tumpukan hampir habis, seorang pria muda datang mengantar tumpukan map berikutnya. Aku mengangakan mulut melihatnya. Itu bukan antaran pertama, karena dua jam kemudian, pria yang sama datang lagi mengirim setumpuk berkas lainnya.
Akibatnya, aku pulang dua jam lebih lama dari biasanya. Sisi baiknya, aku tidak perlu berpapasan dengan karyawan hotel lain yang kerjanya hanya menggosipkan aku. Tidak apa-apa. Waktunya di tempat ini hanya tinggal dua minggu lagi. Lalu aku bisa kembali ke kampus.
Melihat mobil yang aku kenal berhenti di depan lobi, jantungku berdebar bahagia. Kaca jendela depan terbuka, membuktikan tebakanku. Pria muda itu menggerakkan kepalanya, memberi sinyal agar aku masuk ke mobil. Tentu saja aku melakukannya.
“Lo mau makan apa?” tanyanya begitu aku selesai memasang sabuk pengaman.
“Nasi goreng! Aku lapar sekali,” jawabku dengan antusias.
__ADS_1
“Siapa yang enggak lapar punya badan kurus begitu?” ejeknya. Aku mencibir mendengarnya.
Dia tidak menggandeng tangan atau merangkul bahuku saat kami berjalan dari mobil ke restoran, maka aku yang melingkarkan tanganku di lengannya. Tempat makan itu sudah sepi karena jam makan malam sudah lewat. Jadi, aku dan Theo serasa memiliki ruangan besar itu hanya untuk kami.
“Apa kamu masih sibuk dengan rencana membuka cabang baru di luar negeri?” tanyaku membuka percakapan kami.
Hanya itu yang aku ketahui mengenai proyek baru mereka. Theo tidak pernah menyebut secara detail di negara mana. Mungkin mereka sengaja merahasiakannya agar saingan bisnis mereka tidak mengganggu kelancaran proyek besar tersebut.
“Iya. Papa mengundang banyak orang luar untuk berdiskusi mengenai rencananya itu. Gue baru tahu untuk membuka sebuah restoran saja kami harus mengeluarkan begitu banyak uang. Gue harap rencana Papa ini bisa terwujud atau kami akan rugi besar,” jawabnya.
“Kalian pasti berhasil. Kalian menjamu kolega begitu baik, tidak mungkin mereka tidak tertarik untuk bekerja sama dengan kalian,” hiburku.
Ponselnya bergetar, dia pamit untuk menjawab panggilan masuk itu. Sudah di luar jam kerja pun, dia masih sibuk. Aku sedikit banyak tahu proses proyek sebesar membuka cabang sangat menyita uang dan waktu. Karena itu, Papa hanya hanya sanggup membuka satu cabang hotel di Parapat. Justru penginapan itu lebih laris daripada yang ada di Medan.
Om Azarya termasuk sangat berambisi berniat membuka cabang restorannya di luar negeri. Jadi, aku tidak heran Theo selalu bekerja pada akhir pekan. Keanehannya hanya satu. Mengapa sekarang? Theo baru saja wisuda, mengapa tidak menunggu sampai dia cukup berpengalaman atau studi masternya selesai?
“Maaf,” ucapnya saat kembali duduk di depanku. “Ini yang terakhir. Mereka tidak akan menelpon lagi.” Dia meletakkan ponselnya di atas meja.
Makanan datang, kami lebih banyak diam menyantapnya. Namun aku bahagia bisa melihat dia berada di dekatku. Rasa rinduku pun terpuaskan. Setelah malam ini berapa lama kami sibuk dengan urusan masing-masing sebelum aku bisa melihat dia lagi?
Wajahnya terlihat lesu, dia pasti kurang tidur. Bahunya juga terkulai, apa dia lelah dengan pekerjaan yang menumpuk? Pantas saja kami sulit berkomunikasi dan dia lama tidak datang menemui aku. Waktunya pasti habis untuk persiapan membuka cabang baru tersebut.
“Ada apa?” tanyanya membuyarkan lamunanku.
“Tidak apa-apa.” Aku tersenyum.
“Ayo, pulang.” Dia berdiri, maka aku segera mengikutinya.
Firasatku tidak enak saat dia tidak menggandeng tangan atau merangkul tubuhku begitu aku berada di sisinya. Jika pada waktu datang tadi dia melakukannya, itu hal biasa. Namun dua kali melupakan kebiasaannya, maka ini sebuah kesengajaan.
Aku memegang tangannya, mencoba untuk bersikap biasa. Dia tidak menepis tanganku, mungkin dia hanya lelah saja, bukan tidak mau menyentuh aku lagi. Dia diam dalam perjalanan menuju tempat tinggalku, maka aku juga tidak mengajaknya bicara.
__ADS_1
“Terima kasih untuk malam ini,” kataku sesampainya kami di depan indekosku.
“Apa lo enggak anggap gue calon suami lo lagi?” tanyanya, mengejutkan aku.
“Apa maksud kamu?”
“Gue sudah bilang, jangan dekat dengan laki-laki lain.”
“Aku tidak dekat dengan laki-laki lain, Theo.”
“Apa lo pikir gue enggak tahu lo diantar pulang oleh bos lo dan besoknya mamanya mengundang lo makan siang bareng? Dan hari Sabtu lalu, kalian makan siang berdua. Lo menantang gue?”
“Aku hanya bersikap sopan, Theo. Mas Norman—” Aku berusaha untuk menjelaskan.
“Mas, mas!” Dia berteriak, mengejutkan aku. “Panggil dia pak. Dia bukan pacarmu!”
“Oke. Pak Norman—” Jantungku berdebar cepat karena rasa terkejut, tetapi aku berhasil bicara dengan tenang.
“Gue enggak mau tahu lo melakukan apa dengan dia. Pertanyaan gue, lo menantang gue? Lo pikir gue enggak serius dengan ucapan gue? Jangan dekat dengan pria lain. Apa susahnya, sih? Apa lo mau tunjukkan kepada semua orang kalau lo sekarang penakluk cowok kaya, begitu?”
“Theo.” Aku menarik napas terkejut.
“Gue paham lo bertemu Nolan dan Richo, karena mereka kakak lo. Norman, apa alasan lo bersama Norman dua kali, tanpa kehadiran orang lain? Hah? Mamanya sampai datangi lo, dia pasti melamar lo jadi menantunya, ‘kan? Ayo, jawab!”
“Iya! Tante Wiryawan meminta aku menjadi pacar anaknya. Kamu benar.” Aku tidak tahan lagi mendengar tuduhannya.
“Puas lo sekarang menyakiti gue? Puas lo buat gue enggak bisa tidur karena memikirkan lo bersama pria lain berdua saja? Puas lo dapat restu dari orang tua pria lain saat gue berjuang untuk membujuk orang tua gue? Kalau lo memang suka dia, ya, sudah, lo sama dia saja.”
“Mengapa kamu bicara begitu?”
“Karena lo enggak bisa melakukan satu permintaan simpel gue. Kalau lo enggak bisa menerima gue apa adanya, lalu untuk apa kita bersama?”
__ADS_1
“Apa bedanya kamu dengan aku? Kamu juga tidak bisa menerima aku apa adanya. Aku sudah bilang, aku hanya menganggap dia sebagai atasanku.”
“Aku cowok, jadi aku tahu apa yang ada dalam kepala cowok. Tetapi kamu benar. Kita sama-sama tidak bisa saling menerima apa adanya.” Rahangnya mengeras, membuat aku waswas. “Lebih baik kita putus, jadi lo bisa bebas berbuat sesuka lo.”