Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
203|Persiapan Acara


__ADS_3

Theo datang pada hari Sabtu pagi, tetapi Mama tidak mau pindah kamar. Dia menyuruh putranya untuk tidur bersama Antonio dan Buddy. Walau suamiku protes keras, dia kalah dengan mamanya. Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, kami tidak tidur satu kamar saat berada di kota yang sama. Bahkan saat beraktivitas, Mama tetap memonopoli aku.


“Ayo, bangun, sayang.” Aku merasakan seseorang menepuk-nepuk lenganku.


Aku membuka mata dan melihat lampu kamar sudah dinyalakan. “Ada apa, Ma? Aku mengantuk.”


“Aku tahu, tetapi kamu harus bangun. Kita tidak boleh melewatkan kesempatan emas ini.” Mama menyibakkan selimutku dan membantu aku untuk duduk.


Dia menyuruh aku untuk mandi seadanya dan mengenakan baju yang dia siapkan. Aku menatap gaun pantai itu dengan heran. Theo dan semua orang sudah menunggu di lobi, maka kami pun keluar. Tiga mobil sudah menunggu untuk mengantar kami entah ke mana.


Mama memberikan sekotak makanan kepadaku. Syukurlah, aku memang sudah lapar. Kami tiba sebelum aku menghabiskan semua makanan itu. Namun Mama tidak mendesak aku, hanya meminta aku keluar dari mobil dan duduk di kursi pantai yang sudah mereka sediakan.


Ide yang bagus. Aku bisa mendengar bunyi air, tetapi aku belum bisa melihat keadaan pantai karena masih gelap gulita. Apa mereka menunggu matahari terbit? Theo menatap aku dengan waswas. Aku menggeleng pelan. Selama aku tidak bisa melihat apa pun, aku akan baik-baik saja.


Setelah rambutku ditata dengan rapi dan wajahku sedikit dirias, Mama menuntun aku ke tempat yang sudah disiapkan. Seorang fotografer dan rekannya sudah siap untuk mengerjakan tugas mereka. Ah, aku mengerti. Aku dengan senang hati berpose dan mengikuti instruksi fotografer itu.


“Apa yang sedang kita lakukan di sini?” tanya Theo bingung saat kami beristirahat sejenak. Mereka menunggu matahari terbit agar dapat pemandangan yang tepat.


“Masa kamu tidak tahu?” godaku.


“Dia laki-laki. Mereka mana mengerti apa gunanya melakukan hal yang tidak akan memberi profit ini.” Mama memberikan segelas air kepadaku.


“Semua laki-laki sama saja, ya,” ucap Bunda yang memberikan air kepada Theo.


“Kalau kerja Mama dan Bunda hanya membuat istri gue melawan gue, sebaiknya kalian tidak pernah dekat-dekat dia lagi,” ancam Theo. Kedua mama kami hanya tertawa geli.


“Sudah saatnya!” seru Meghan yang berada di dekat fotografer, memperhatikan suasana langit.


“Ah, matahari akan terbit!” Bunda ikut memandang ke langit.


Mereka membawa kami ke tempat yang cocok, kemudian meminta kami bersiap-siap. Aku melihat Theo masih khawatir, maka aku tersenyum kepadanya. Hanya sebentar. Aku akan baik-baik saja berada di dekat pantai.


Aku berusaha untuk tetap tenang, mengatur napasku sebaik mungkin, meski jantungku sudah mulai berdebar lebih cepat dari biasanya. Begitu suasana di sekitar kami terang-benderang, Theo menutup mataku dengan telapak tangannya.

__ADS_1


“Jangan buka mata lo sampai gue mengatakan kita sudah ada di tempat yang aman.” Tiba-tiba saja tubuhku diangkat. Aku membalas cîúmannya saat bibirnya menyentuh bibirku. Bagaimana aku tidak semakin jatuh cinta kepada suamiku yang pengertian ini?


“Ada apa? Apa dia kelelahan?” tanya Mama dengan nada khawatir.


“Tidak, Ma. Gue cuma mau romantis-romantisan saja,” jawabnya sekenanya. Aku tertawa kecil. Ketiga mama kami ikut tertawa geli.


Kami menggunakan hari Minggu itu untuk berfoto di tempat-tempat yang indah di Bali. Sayang sekali kami ada di Labuan Bajo pada hari kerja, jadi Theo tidak bersama kami. Namun aku sudah bahagia bisa melakukannya di Raja Ampat. Lokasi objek wisatanya tidak kalah indahnya.


Hal berikutnya yang rumit adalah memilih foto yang cocok di antara yang bagus. Kami membiarkan para ibu yang memilih. Hal itu akan mengakrabkan mereka. Jadi, aku bisa fokus dengan ketiga tamu kehormatanku. Antonio dan Meghan mengajak kami berjalan mengelilingi pekarangan hotel.


“Aku sangat berterima kasih kepadamu karena sudah memperkenalkan aku dengan Antonio,” kata Meghan dengan wajah bahagia kepadaku. “Dia sangat membantu aku menjadi calon pemimpin yang baik.” Dia tersenyum penuh arti kepada pria itu.


“Kamu adalah murid yang cerdas dan mau belajar. Semua itu bukan karena jasaku,” ucap Antonio, merendah. “Orang seperti kamu sangat langka. Orang muda zaman sekarang lebih suka hal yang instan daripada belajar perlahan dari nol untuk mencapai sukses.”


“Terima kasih, Guru,” goda Meghan. Kami tertawa mendengarnya.


“Clara dituntut hukuman maksimal. Apa ayahmu sudah pikirkan apa yang akan dia lakukan ketika putrinya bebas?” tanya Antonio. Kami duduk di salah satu kursi yang tersedia di taman.


“Semuanya tergantung kepada pemegang saham. Jika mereka masih mau menerima dia, maka Clara yang akan menjadi CEO menggantikan ayahku. Bila mereka tidak mau, aku harus siap andai aku yang ditunjuk,” jawab Meghan.


Meghan terdiam cukup lama. Itu memang pertanyaan yang sulit dijawab. Seandainya saja Clara tidak melakukan kesalahan besar itu, semua ini tidak akan terjadi. Bukannya berterima kasih karena Papa melepaskan dia, malah berniat untuk mênghàbisinya di depan kami semua. Perempuan bodoh.


“Sebelum semuanya terlambat, kamu harus pikirkan baik-baik mengenai hubunganmu dengan pria itu. Pernikahan jarak jauh terlalu berat untuk dijalani.” Antonio mengusap kepala Meghan.


Aku menoleh ke arah Theo. Dia sedang sibuk dengan gadgetnya. Aku tidak bisa bayangkan berada jauh darinya setelah menjadi istrinya. Berpisah beberapa hari selama aku berlibur menemani ketiga temanku saja, aku sudah merasa tidak betah. Bagaimana lagi kalau kami terpisah negara?


Meghan melanjutkan penerbangan ke Medan bersama Bunda, sedangkan kami kembali ke rumah. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Kak Nolan. Kedua mamaku bekerja sama melanjutkan segala persiapan. Ketiga tamuku setuju untuk tinggal seminggu lebih lama untuk menghadiri acara besar kami. Aku berdebar-debar tidak sabar.


“Ide kamu boleh juga, Ruth.” Mama menatap bayanganku di cermin penuh haru. “Perutnya belum besar, jadi dia cocok sekali memakai gaun ini.”


“Itu salah satu alasan aku tidak mau menundanya.” Mama Theo tersenyum kepadaku, lalu menoleh ke arah karyawan butik yang melayani kami. “Gaunnya sudah pas, terima kasih. Tolong dibungkus.”


“Baik, Bu. Mohon tunggu di kasir.” Perempuan itu mengajak aku kembali ke ruang ganti.

__ADS_1


Setelah mengenakan pakaianku semula, aku bergabung bersama kedua mamaku. Mama Theo yang membayar semuanya. Theo sudah menitipkan kartunya kepadaku, tetapi kalah berdebat dengan mamanya. Aku pun mengalah dan berterima kasih atas kebaikannya itu.


“Ini adalah ideku, maka aku yang menanggung semua biayanya. Aku tidak akan membiarkan kalian mengeluarkan uang sepeser pun.” Mama memegang daguku dengan gemas. “Apa kamu lapar?”


“Sangat,” jawabku dan mamaku serentak. Kami saling bertukar pandang, lalu tertawa bersama.


Kami makan siang di salah satu restoran yang menyajikan menu makanan nusantara. Seperti Theo, Mama hanya mengizinkan aku makan makanan yang aman untuk kandunganku. Padahal kalau mau aman, ya, makan di rumah. Namun aku menurut dan tidak membantah perintahnya.


Mama Theo membuka catatannya dan memeriksa hal apa lagi yang belum kami kerjakan. Undangan, pakaian, seragam keluarga, katering, tempat, dan detail lainnya ternyata sudah bisa dicentang. Kami sudah menyelesaikan hampir tujuh puluh lima persen dari hal yang ada pada daftar.


“Sisanya akan diselesaikan oleh event organizer.” Mama Theo memasukkan buku itu ke tasnya. Dia tersenyum kepadaku, lalu meraih tanganku. “Aku bahagia sekali, Amarilis! Apa kamu juga senang? Aku tidak sabar menunggu akhir pekan ini!”


“Tentu saja aku senang, Ma! Jantungku tidak berhenti berdebar-debar,” akuku.


“Kalau jantungmu berhenti berdebar, itu justru pertanda bahaya,” canda mamaku. Kami tertawa bersama. “Amarilis sebaiknya tidak ikut bersama kita pada hari Jumat. Dia butuh istirahat agar tidak kelelahan pada hari bahagianya.”


“Itu harus. Kita hanya membutuhkan dia pada hari ini. Mulai besok, dia bisa di rumah saja.” Mama Theo mengangguk setuju. “Ah, makanan kita sudah datang.”


Pelayan menyajikan makanan pesanan kami di atas meja. Setelah mama Theo memimpin doa makan, kami tidak menunggu lagi untuk menyantapnya. Bunda dan Mama bergantian memberi nasihat agar aku dan Theo bisa menjalani pernikahan yang bahagia. Topik yang aku suka.


Mereka sama-sama sudah lama menikah, menghadapi banyak hal bersama suami mereka, tetapi bertahan. Tidak seperti kebanyakan pernikahan lainnya yang berakhir saat diterpa masalah. Aku sedikit banyak tahu masalah yang dihadapi papa dan mamaku, walau tidak sebaik yang aku lihat sendiri pada pernikahan Ayah dan Bunda.


“Oh, lihat! Foto perlengkapan bayi!” seru mama Theo. Dia menarik tanganku dan Mama agar ikut bersamanya memasuki toko itu. “Apakah sudah saatnya kita membeli ini?”


“Terlalu cepat, Ruth. Sebaiknya kita tunggu sampai masuk trimester ketiga,” saran mamaku. “Tetapi tidak ada salahnya kita melihat-lihat.” Dia menyentuh sebuah sepatu bayi dari wol.


“Ini godaan besar, Ma. Sebaiknya kita jangan lama-lama di sini,” ucapku keberatan.


“Kamu jadi tergoda untuk membelinya, ‘kan?” Mama Theo mengedipkan sebelah matanya. Aku memasang wajah memelas. Mereka berdua tertawa geli.


Puas melihat-lihat dan menyentuh barang yang menarik perhatian, kami keluar dari tempat itu. Akan ada waktunya untuk menyiapkan segala perlengkapan si kecil. Kami saja belum menentukan kamar mana yang akan menjadi kamarnya nanti. Karena kami menunggu sampai segalanya pasti.


Merasakan ada orang yang mengikuti kami, aku melihat ke belakang. Tidak ada seorang pun yang aku kenal berjalan di belakangku. Aneh. Apa aku yang berlebihan? Kami menuju eskalator, tidak mau menunggu terlalu lama di depan lift.

__ADS_1


Aku dan mama Theo yang terlebih dahulu menginjak eskalator, lalu mamaku menyusul di belakang kami. Perasaan itu kembali muncul. Bulu roma di belakang leherku serasa berdiri membenarkan firasat tidak enakku. Siapa yang mengikuti kami?


“Amarilis,” jerit mamaku dengan suara ketakutan, “awas, Nak!”


__ADS_2