Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
187|Tenang Saja


__ADS_3

Aku merasakan perutku bergejolak mendengar nama pesta yang mereka lakukan di rumah itu. Aku sungguh tidak tahu mereka bertindak sejauh itu. Yang aku pikirkan, mereka hanya berpesta seperti biasanya orang muda lakukan. Berkumpul, minum, màbúk, dan bermesraan hanya efeknya.


Ternyata mereka melakukan lebih dari itu. Mengapa Nisa berteman dengan orang-orang yang sudah menjerumuskan dia ke dunia sekelam itu? Apa mungkin Theo benar, Bastian tidak sebaik yang aku duga? Dia ada di sana, tetapi diam saja tidak berniat menolong.


Ah, aku lupa. Dia dendam kepada Nisa dan mau membalas perbuatannya yang telah menghina dia sejak mereka masih muda. Aku hanyalah alat untuk mencapai tujuannya itu. Dia tidak mau nama baiknya hancur, maka dia membutuhkan bantuan orang lain.


Bodoh. Aku masih saja naif dengan percaya begitu saja kepada orang asing. Lalu apa hubungannya dengan Kak Jericho? Apa yang dia inginkan dari kakakku? Semoga saja dia tidak punya niat buruk terhadap orang yang sudah menyelamatkan dia dari keterpurukan.


“Lo baik-baik saja?” tanya Theo yang sudah merangkul bahuku. “Muka lo pucat.”


“Aku baik. Aku hanya tidak menyangka dia akan melakukan itu,” akuku.


“Kenapa tidak? Lo sudah rasakan sendiri. Siapa yang tidak mau mengalami rasa nikmat itu setiap saat setiap waktu?” Dia mengusap-usap punggungku.


“Itukah sebabnya mereka membutuhkan àlkôhol?” tanyaku pelan.


“Dan juga obat untuk membantu mereka lebih puas. Tetapi tidak semua orang membutuhkan itu. Apalagi lo lihat sendiri, mereka semua masih sangat muda. Gue yakin kalau air séni Nisa diperiksa, bukan hanya kadar àlkôholnya yang tinggi, pasti mereka juga menemukan ada kandungan dari obat terlarang yang dia konsumsi. Itu yang membuat kêtàgihan.”


Aneh. Yang dahulu menyentuh nàrkoba adalah Chika, bukan Nisa. Kami sama-sama melihat dampak buruk dari kebiasaan itu, lalu berjanji tidak akan pernah menyentuhnya. Mengapa Nisa cepat sekali lupa dengan hal itu? Apa dia tidak takut mati sia-sia?


Pesta itu kami lewatkan karena Edrich keluar kota. Kami sudah melihat apa yang Nisa lakukan di acara itu, jadi rencana selanjutnya hanya menunjukkan kepada tunangannya siapa wanita itu saat dia tidak melihatnya. Edrick yang malang. Aku semakin kasihan kepadanya.


Kami menghadiri undangan dari orang penting pada akhir pekan. Walau tidak banyak orang yang aku kenal, aku sudah puas bisa menikmati makanan enak. Sayangnya, aku tidak bisa memilih lauk dan sayur sesukaku, terutama yang mentah. Hanya buah yang boleh mentah, selebihnya, harus dimasak.

__ADS_1


Theo memang sangat rewel untuk setiap hal yang ada hubungannya dengan anaknya. Aku biasanya menurut, tetapi kalau sudah keterlaluan, aku tidak segan melawan. Masa makan mentimun, daun selada, dan tomat segar pun tidak boleh?


Dua kali sudah Rahma selalu ada saat aku datang ke tempat kerja Kak Jericho, maka aku putuskan untuk bicara dengannya lewat telepon. Padahal aku berharap bisa membahas hal itu sambil bertatap muka dengannya. Namun perempuan itu seolah menghalangi kami untuk berkomunikasi.


“Jangan khawatir. Apa kamu tidak percaya kepadaku?” ucap Kakak dengan santai.


“Aku percaya, tetapi aku tidak mau Kakak bertindak bodoh. Rahma tidak akan diam saja jika Kakak memutuskan dia secara sepihak nanti,” kataku sedikit takut.


“Memangnya apa yang bisa dia lakukan? Menyebarkan identitasmu?” Dia tertawa kecil. “Paling juga orang-orang menganggap dia gila. Sudah, kamu tenang saja. Jaga kandunganmu. Kamu mau balas perbuatannya, maka ini pembalasan yang menyakitkan.”


“Apa dia sudah menyinggung perasaan Kakak, makanya Kakak menerima jadi pacarnya?” tanyaku curiga. “Kalau Bunda sampai tahu—” Aku akhirnya mengerti maksudnya melakukan semua ini.


“Sepertinya kamu sudah dapat petunjuknya. Bagus. Aku mau siap-siap kerja. Kamu juga. Kerja yang baik, ya. Sampai nanti.” Dia mengakhiri hubungan telepon kami. Wow. Jadi, itu maksudnya.


Aku pun bisa tenang dan menjalani hari tanpa memikirkan tindakan bodohnya itu lagi. Aku melirik kalender. Bulan ini adalah bulan Juni, bulan ulang tahunku dan Theo. Dia tidak mengatakan apa pun tentang rencananya pada kedua hari besar itu. Apa aku saja yang membuat rencana?


Dia selalu mengeluh kami puasa satu minggu, padahal pekerjaannya yang membuat kami tidak bisa sekadar bercumbu pada malam hari atau baru bangun tidur pada pagi hari. Namun aku bahagia, kami saling menjaga pernikahan kami. Semoga saja akan terus begini.


“Kenapa lo senyum-senyum begitu?” kata Theo dengan nada tidak suka. “Lo kepikiran Bastian?”


Aku menoleh ke arahnya. Mau marah, terpaksa batal melihat betapa tampannya dia dengan setelan kerjanya yang rapi dan pas di tubuhnya. “Kamu mau ke mana? Ada rapat dengan orang penting?”


“Lo belum jawab pertanyaan gue.”

__ADS_1


“Aku memikirkan akan melakukan apa pada hari ulang tahun kita.” Aku menyilangkan kedua tangan di depan dadaku. “Kamu ini selalu saja berpikir yang buruk tentang aku.”


“Enggak perlu menyiapkan apa pun. Gue akan lembur pada hari ulang tahun gue.” Dia berjalan menuju pintu, tidak mengajak aku keluar kamar bersamanya.


Aku mendesah keras, lalu berdiri dari sofa dan menyusulnya. “Apa kamu tidak bisa mendelegasikan tugasmu kepada Matt? Dia masih bekerja di kantor keluargamu, ‘kan?”


Theo menunggu di puncak tangga, lalu menggandeng tanganku saat menuruninya. “Enggak bisa. Apa lo bisa menyerahkan tugas lo kepada Gino?” Aku mencibir. “Kalau gue sudah senggang, kita akan liburan. Tunggu keadaan kandungan lo aman dahulu.”


“Sungguh??” tanyaku penuh harap. Dia mengangguk. “Hoorree …!!”


Dia memeluk tubuhku, menahan aku melompat bahagia di tempat. “Lo bisa pelan-pelan, enggak? Kita sedang menuruni tangga. Lo ini sering sekali lupa sedang hamil,” omelnya yang tidak berhenti sampai kami selesai sarapan.


Kalau bukan karena anak ini adalah anak pertama, aku pasti membalas omelannya itu. Padahal aku terbiasa olahraga pagi dengannya. Dia tidak marah ketika aku joging. Mengapa aku lompat sedikit saja dia begitu khawatir seolah aku akan melukai kami berdua? Menjengkelkan sekali.


Namun aku tidak marah lagi ketika dia mênciúm aku sebelum berangkat. Aku memeluk pinggangnya dengan erat agar dia tidak terlalu cepat mengakhiri cîúman kami. Aku bisa merasakan bibirnya tersenyum. Hal yang sangat jarang dia lakukan.


Dia membingkai wajahku dengan kedua tangannya saat menjauhkan wajahku darinya. Padahal aku masih menginginkannya. “Gue bisa terlambat, Kat. Kita lanjutkan nanti kalau lo enggak ketiduran.”


Aku melepaskan pelukanku dengan enggan. “Baiklah.”


Dia mengecup keningku, lalu mendekati mobilnya. Karena aku tidak ada rencana keluar rumah, dia tidak perlu ke kantor dengan sepeda motornya. Kadang-kadang aku bertanya, apa yang membuat dia sedingin itu? Apa karena beratnya beban sebagai anak pertama? Hidupnya bisa disebut bahagia, tidak ada masalah yang berarti. Buktinya, Matt adalah orang yang ramah.


Ah, iya. Aku tidak tahu apa-apa mengenai rahasia orang tuanya yang masih misteri bagiku. Mungkin itu adalah salah satu penyebab dia sulit percaya kepada orang lain, termasuk istrinya sendiri. Bisa jadi itu juga yang membuat dia kurang ramah kepada semua orang, juga terhadap keluarganya.

__ADS_1


Menunggu jam kerjaku dimulai, aku memeriksa media sosial. Chika memamerkan fotonya yang melayani suami sebelum berangkat kerja, Nisa membuat siaran langsung tutorial riasannya pada pagi hari, sedangkan Rahma mulai berani memberi petunjuk mengenai pacarnya. Dia pasti takut dengan reaksi fan Kakak, makanya dia belum berani mengunggah foto berdua.


Melihat ada tanda pesan baru masuk di akunku, aku memeriksanya. Dari Pak Norman. Kami tidak berteman, jadi pesannya berada di kotak khusus. Aku membuka dan membaca isinya. Dia meminta bertemu untuk bicara. Aneh. Apa yang mau dia bahas denganku?


__ADS_2