Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
75|Foto Mesra


__ADS_3

Dia melarang aku dekat dengan laki-laki lain, tetapi apa yang dia lakukan di sana? Berpelukan dengan Chika. Apa dia tidak bisa menjauh dari perempuan itu? Mengapa dia tidak dorong saja tubuhnya supaya jatuh? Biar dia kapok dan tidak menyentuh badannya lagi.


Jika pada foto itu mereka berpelukan, bagaimana lagi pose mereka pada foto yang tidak boleh aku lihat? Jangan-jangan, mereka berciuman. Kalau itu benar, aku tidak akan pernah memaafkan Theo. Aku menjaga diriku dengan baik selama dia jauh, bagaimana bisa dia tidak melakukan hal yang sama?


Setiap kali ada fotoku bersamanya, orang-orang selalu melabeli aku sebagai selingkuhannya. Namun bukan foto pada postinganku atau Theo, melainkan di media daring yang mengambilnya secara diam-diam. Kami tidak pernah mengunggah foto apa pun mengenai kebersamaan kami.


“Jangan berpikir berlebihan, Kak. Fotonya tidak seburuk yang ada dalam kepala Kakak,” hibur Matt. “Gue melarang bukan karena fotonya lebih mesra, tetapi untuk menjaga hati Kakak. Terlalu sering melihat foto yang tidak benar akan menimbulkan rasa curiga.


“Theo tidak selingkuh. Yang selalu dia pikirkan hanya Kakak,” pungkasnya. Dia tidak perlu memberi tahu aku mengenai itu, Theo sudah mengatakannya.


“Siapa pun yang melihat foto itu akan berpikir yang sebaliknya,” kataku, berdalih.


“Itu kesan yang ingin Chika berikan kepada semua teman dan pengikutnya.” Dia mengarahkan layar ponselnya kepadaku. Aku terkejut melihat wajah Theo di sana. “Lo enggak bisa marah. Gue sedang sama Kak Amarilis dan lo harus beri dia penjelasan.”


“Penjelasan apa?” tanyanya heran. “Lo fitnah gue?”


“Siapa yang fitnah lo? Memang kenyataannya lo pelukan dengan Chika di sana,” ujar Matt.


“Nah, itu fitnah. Siapa yang berpelukan dengan dia?” protesnya. “Sayang, jangan percaya pada apa pun yang adik gue katakan. Dia suka bohong.”


“Oh. Setelah bertengkar dengan adikmu, kamu baru ingat ada aku juga di sini.” Aku sebenarnya senang bisa menatap wajahnya lagi, tetapi amarahku kali ini menang.


Melihat satu foto itu saja sudah membuat aku kesal dengannya, apalagi jika aku memandang foto lainnya. Wajah bahagia Chika yang menempelkan tubuhnya kepada Theo tidak bisa keluar dari kepalaku. Seharusnya, hanya aku yang bisa sedekat itu dengannya.


Theo saat ini mungkin tidak punya perasaan apa-apa untuknya. Namun jika mereka terus bertemu dan bersama, bisa saja hatinya akan berpaling kepada Chika. Bukan hal yang mustahil cinta akan tumbuh seiring dengan seringnya mereka bersama. Karena itu juga yang kami alami.


“Jangan marah. Gue sedang menghindari seseorang ketika Matt menghubungi gue. Kalau dia sampai tahu gue ada di mana, usaha gue akan sia-sia,” tuturnya.

__ADS_1


“Chika maksud kamu? Enak juga kamu liburan berdua dengannya di Bali,” sindirku, tidak menutupi kemarahanku lagi.


“Kami tidak liburan berdua,” ralatnya. Dia menoleh ke arah kanannya. “Maaf, gue harus pergi. Gue hubungi lo nanti, ya. Daah, sayang.” Dia memberi aku sebuah kecupan.


Wajah tampannya itu lenyap diganti dengan tampilan pesan antara Matt dengan kakaknya itu. Aku mendesah pelan. Setidaknya, dia jujur. Matanya tidak berbohong ketika menyebut tentang Chika, juga dari caranya melihat ke sekitarnya seperti sedang menghindari seseorang.


“Dih, pakai cium segala. Apa dia tidak bisa memikirkan perasaan gue yang jomlo ini?” protes Matt sambil mengarahkan layar ponselnya kembali kepadanya.


“Makanya, jangan tunda lagi. Cepat nyatakan cinta.” Aku balas mengejek, dia malah tertawa.


Matt mengantar aku pulang, tetapi aku tidak bisa segera tidur. Foto yang aku lihat itu mengganggu sekali. Mantan muridku itu lagi-lagi benar. Kalau aku melihat semua foto yang Chika posting, aku sendiri yang akan susah dan mulai berpikir yang tidak-tidak mengenai Theo.


Aku tidak bisa tidur karena memikirkan dia bersama perempuan itu selama berada di luar kota. Aku tahu Om Azarya juga ada di sana, tetapi untuk apa Chika ikut pergi ke Bali? Setahuku, dia sedang menyelesaikan skripsinya. Apa dia tidak peduli dia sudah berada di semester delapan?


Theo juga tidak menepati janji. Katanya, dia akan menghubungi aku. Mengapa aku tunggu sampai lewat tengah malam, dia tidak juga menelepon? Apa dia melupakan aku karena sibuk menghabiskan waktu dengan tunangan pilihan orang tuanya itu?


“Selamat pagi,” sapa seseorang yang membuat aku melompat terkejut.


Aku baru saja keluar dari pekarangan ketika dia menyapa. Melihat senyum langkanya, aku tidak merasa bahagia mengingat apa yang dia lakukan semalam. Jadi, aku menutup pagar dan memasang gemboknya kembali, lalu membalikkan badan.


“Wah, ada yang marah,” godanya sambil menyejajarkan langkahnya denganku.


“Kalau tidak bisa menepati, lebih tidak usah berjanji,” protesku, tidak menyembunyikan amarahku.


“Gue sampai di rumah sudah tengah malam, sayang. Gue enggak mau ganggu istirahat atau belajar lo.” Dia meletakkan tangannya di depanku sehingga aku harus berhenti. “Jangan marah.”


“Aku menunggu sampai kamu menelepon aku. Kalau memang tidak jadi, mengapa tidak mengirim pesan?” Aku memalingkan wajah saat merasakan mataku memanas. Aku tidak mau dia melihat aku menangis lagi. “Apa melakukan itu pun kamu tidak bisa?”

__ADS_1


“Maafkan gue.” Dia mendekat, lalu memeluk tubuhku. “Foto itu tidak ada artinya, sayang. Gue enggak menyentuh dia atau apa pun yang lo pikirkan. Itu hanya tipuan dari sudut pengambilan foto. Sudah, ya, jangan menangis. Gue enggak suka lihat lo sedih.”


“Aku sudah bilang, hubungan kita tidak akan berhasil. Kamu tidak pernah mau percaya,” tukasku.


“Berhenti, Kat. Gue enggak suka lo bahas itu lagi. Masa setiap ada masalah, lo bicara begini?” Dia mempererat pelukannya. “Tolong, jangan bicara putus lagi.”


“Kamu keluar kota setiap akhir pekan, apa lagi namanya kalau bukan orang tua kamu berencana untuk memisahkan kita?” Walau dia memeluk aku sangat erat, aku tidak melakukan hal yang sama. Kedua tanganku tetap berada di kedua sisi tubuhku.


“Biar saja mereka coba memisahkan kita. Lo jangan lemah begini. Lo harus kuat. Gue juga berusaha untuk tegar dengan jalan pilihan kita. Jangan menyerah, Amarilis,” mohonnya.


Aku terenyuh mendengarnya sehingga aku tidak lagi menahan tangisku dan memeluknya dengan erat. Bukannya aku menyerah, tetapi aku belajar menerima bahwa ada keadaan yang tidak akan bisa diubah. Sekeras apa pun aku berusaha. Belajar menjadi Amarilis adalah salah satu pelajaran hidup yang sangat berharga bagiku. Ada situasi yang tidak bisa aku ubah, termasuk hubungan kami.


Mau bagaimana pun dia mengubah aku, statusku tetap sama. Aku adalah anak orang miskin, bukan dari keluarga terpandang yang punya banyak uang. Orang tuanya adalah orang kaya turun-temurun. Mana mungkin mereka mau ahli waris utama mereka menikah dengan gadis miskin seperti aku?


Walau dia sudah datang untuk menjelaskan segalanya, aku menyadari bahwa dugaanku benar. Mau sampai kapan dia bertahan dengan keadaan kami, aku tidak tahu. Orang tuanya tidak akan pernah berubah pikiran. Namun aku tidak sampai hati meminta putus lagi darinya.


Belum menikah saja kami sudah menghadapi begitu banyak tantangan. Restu orang tuanya, usaha Chika yang ingin mendapatkan hatinya, ditambah lagi ejekan dari orang lain yang menyebut aku sebagai selingkuhannya. Padahal aku adalah pacar aslinya.


“Gue pergi, ya,” pamitnya setelah kami berada di depan gerbang kampus. Aku mengangguk. “Jangan pikirkan hal yang buruk. Konsentrasi pada proposal lo.”


“Iya. Hati-hati,” kataku sambil memegang kenop pintu.


“Kat,” panggilnya.


Aku paling lemah setiap kali dia menyebut aku dengan nama asliku. “Ya?” Aku menoleh dan segera menutup mata melihat wajahnya begitu dekat.


Dia mencium bibirku. Bukan sebuah ciuman singkat, tetapi dia meluapkan rasa rindu dan sayangnya lewat ciuman itu. Dia menarik tubuhku dalam pelukannya. Aku tidak bisa menahan perasaan yang sama yang aku miliki untuknya, jadi aku tidak menolak atau menjauh darinya.

__ADS_1


Aku melepaskan kenop pintu dan memeluknya. Dia membujuk, maka aku membalas ciumannya. Air mata pun tidak bisa aku bendung lagi. Mengapa ciuman ini terasa seperti ucapan perpisahan?


__ADS_2