
“Jangan dipikirkan. Aku saja butuh waktu empat tahun untuk bisa menerima kamu bukanlah Amarilis, tetapi gadis lain,” kata Mama, menghibur aku saat kami sarapan.
“Aku malah belum bisa menerimanya sampai sekarang,” aku Papa.
“Aku tahu Kakak bukan kakakku saat Kakak memukul aku di kamar.” Hercules mengusap-usap kepala dengan tangannya seolah baru saja aku jitak. “Kak Amarilis asli tidak akan pernah melakukan itu.”
“Karena dia pengecut,” tambahku.
“Karena dia takut kepadaku.” Dia membusungkan dadanya.
“Aku tidak pernah takut kepada siapa pun.” Aku mendengus keras.
“Mengenai itu,” kata Papa, “jangan dibiasakan, Nak. Aku tahu kamu belum pernah kalah, tetapi kamu tetap harus bisa menakar kemampuan lawan. Jangan semua preman kamu tantang.”
“Papa lebih suka mereka memalak kita setiap kali mengantar kue? Aku mana mau. Papa dan Mama kerja keras setiap hari berharap dapat uang, masa mereka tinggal ambil saja?” bantahku. “Aku akan pergi, jadi aku harap Papa akan melakukan sesuatu dengan itu. Aku tidak bisa membantu lagi.”
“Tidak usah pikirkan itu. Kamu fokus dengan kuliahmu saja,” lerai Mama.
Usai sarapan, kami bertiga pergi ke toko, sedangkan Hercules berangkat ke kampusnya. Begitu pintu terbuka, aroma sedap kue dan roti menyambut kami. Mama mempekerjakan lima orang khusus untuk memasak, jadi kami tinggal datang pada waktu toko buka dan semua jajaan sudah tersedia.
Papa, Mama, dan karyawan yang mengurus pembeli, sedangkan aku fokus pada media sosial kami. Aku memotret satu kue dan membuat kata pengantar yang menarik, lalu memostingnya. Barulah aku memeriksa komentar dan kotak masuk, lalu membalas seperlunya.
Saat jam makan siang, aku tinggal menyantap bagianku di posku. Papa dan Mama makan bergantian agar tetap ada yang menjaga kasir. Jadi, setiap kali giliran mereka, maka Papa atau Mama akan duduk di sebelahku saat menikmati makanan mereka.
“Ah, aku terlambat,” ucap suara yang tidak asing dari arah kananku.
Aku menoleh dan melihat Mama berdiri dengan senyum menghiasi wajahnya. “Mama?”
Dia mengangkat kantong yang dia bawa. “Aku membawakan makan siang untuk kalian semua.”
“Silakan duduk, Bu,” ucap Mama yang mendekatkan sebuah kursi kepada Mama. Ng, maksudku, mama Amarilis mempersilakan mama Katelia untuk duduk. Benar-benar membingungkan.
“Apakah aku mengganggu?” tanya mama Katelia.
“Tidak,” jawabku dan mama Amarilis serentak.
Mama Katelia tersenyum, lalu duduk. Dia melihat ke sekeliling kami. “Toko ini lebih kecil dari toko sebelumnya. Aku jadi merasa tidak enak.”
“Merasa tidak enak?” tanyaku bingung.
__ADS_1
“Ah, itu ….” Mama meringis pelan. “Aku yang dahulu menyebarkan gosip buruk mengenai toko lama kalian. Aku ingin memberi pelajaran kepada Amarilis yang hidup bahagia saat aku menghadiri suatu acara di ibu kota. Aku benar-benar minta maaf sudah berbuat jahat.”
Aku tertegun mendengarnya. Mengapa aku tidak terpikir bahwa bisa saja mama Katelia pelakunya? Benar juga. Waktunya pas sekali dengan kejadian itu. Kami bertemu di acara ulang tahun pernikahan orang tua Theo, dan bertengkar di toilet.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Mama membuyarkan lamunanku. Aku segera menggeleng pelan. “Aku minta maaf sudah kasar kepadamu. Aku merasa bersalah setiap kali mengingatnya.”
“Aku mengerti, Ma. Ibu mana yang tidak berang melihat orang yang terduga membúnuh anaknya ada di depannya? Yang penting, Mama sudah tahu segalanya sekarang,” hiburku.
“Mengenai toko, apa yang Ibu lakukan bukan masalah besar. Kami justru menemukan solusi terbaik agar gosip serupa tidak muncul lagi,” kata mama Amarilis, menimpali.
“Ah, tentang itu ….” Mama menoleh ke arah orang yang berdiri di dekatnya. Aku dan mama Amarilis sampai menarik napas terkejut, tidak melihat dia ada di sana tadi. Mama Katelia tertawa kecil. “Dia memang begitu. Datang dan pergi tanpa terdengar.”
“Asisten Mama?” tanyaku penasaran.
Mama mengangguk, lalu memberikan sebuah amplop berwarna cokelat kepada mama Amarilis. “Ini sebagai permintaan maafku. Waktu aku tahu kamu bangkrut dan kehilangan segalanya, aku sangat senang. Untuk memastikan kamu tidak akan bisa memiliki toko itu lagi, aku membelinya.”
“Oh, Tuhan,” gumam mama Amarilis terkejut. Aku mendekat untuk melihat isi dalam amplop itu. Sebuah surat hak milik atas sebuah ruko. “Tidak. Aku tidak bisa menerima ini.”
“Tolong, jangan ditolak,” bujuk mama Katelia. “Kapan kamu luang, kita bisa pergi bersama untuk mengurus balik namanya. Aku akan terus merasa bersalah sudah berbuat jahat kalau kamu tolak.”
Aku melihat mama Amarilis bergumul sendiri untuk menerima serifikat tersebut. Dia menoleh ke arahku, lalu melirik Papa yang sedang melayani pelanggan. Aku mengerti mengapa dia khawatir. Ini adalah sebuah hadiah yang sangat mahal.
“Tetapi—” kata mama Katelia, tidak mau menerima amplopnya kembali.
“Sifat kalian berdua sama, Ma,” godaku, melerai mereka yang saling dorong amplop. “Jadi, lebih baik Mama menerima tawaran mama Amarilis.”
“Mengapa kamu memanggil aku mama Amarilis?” tanya Mama.
“Iya. Nama itu terdengar aneh.” Mama Katelia mengangguk setuju.
“Mau bagaimana lagi? Aku memanggil mama berdua dengan mama.”
Mereka berdua saling pandang dan terdiam. Mama Katelia duduk dengan tegak dan tidak menolak amplop miliknya lagi. Mereka terlihat sedang sibuk berpikir. Mungkin mencari solusi atas panggilan yang sama itu. Aku membiarkan mereka yang menemukan jalan keluarnya.
“Panggil aku bunda saja,” kata mama Katelia dengan senyum manisnya. “Dari dahulu aku ingin sekali mendengar panggilan itu.”
“Itu ide yang bagus. Jadi, kita tidak perlu bingung mama yang mana yang dia maksud,” ucap mama Amarilis, menyetujuinya.
“Mengenai toko, baiklah. Kita tidak perlu balik nama dan aku setuju kalian tidak perlu membayar uang sewa. Aku akan menyiapkan surat perjanjiannya agar tidak ada masalah di kemudian hari,” kata Bunda dengan profesional.
__ADS_1
Aku senang mendengar cara berpikir Bunda. Namanya manusia, kami bisa saja berubah pikiran suatu hari nanti. Dengan adanya surat perjanjian, maka masalah pribadi tidak akan memengaruhi urusan pekerjaan. Malapetaka yang sebelumnya terjadi, tidak akan menimpa toko lagi.
Bunda tidak bisa singgah terlalu lama, jadi dia pun pamit. Mama memberi sinyal dengan matanya agar aku mengantar dia keluar. Aku menurut dengan berdiri dan berjalan keluar melewati pintu kecil di konter. Bunda tersenyum, lalu menggandeng tanganku.
Mataku memanas merasakan sentuhan itu. Lama sekali aku menunggu, hampir enam tahun untuk bisa dekat dengan mamaku lagi. Jadi, aku tidak menahan diri untuk bergelayut manja di lengannya. Bunda menoleh dan tersenyum kepadaku.
“Sesekali datanglah menginap di rumah. Kamarmu masih sama, tidak pernah diubah. Kamu boleh mengganti apa pun karena kamu sudah bukan remaja lagi,” ucapnya pelan.
“Baik, Ma, ah, maksudku, Bunda. Aku akan datang akhir pekan ini,” kataku.
“Jaga dirimu baik-baik.” Kami sudah sampai di dekat mobil, jadi aku menegakkan tubuhku. Dia membelai pipiku. “Aku akan menjemput besok sore. Kamu perlu memeriksakan diri ke dermatolog.”
“Ah, tidak usah, Bunda,” tolakku. Dia pasti membahas jerawat yang menghiasi wajahku.
“Aku mamamu. Tugasmu menuruti aku, bukan melawan,” katanya, menggunakan omelan khasnya.
“Aku akan pergi, Ma, ah, Bunda. Apa gunanya aku ke dokter sekarang, lalu menghentikan perawatan selama dua tahun di luar negeri?” keluhku.
“Tidak masalah. Yang penting, penyebab jerawatmu diketahui, lalu dermatolog di sini bisa memberi resep krim atau apalah untuk kamu konsultasikan dengan dokter di sana. Aku akan kirim uang untuk membeli obatmu.” Dia menyentuh rambutku. “Kamu juga perlu ke salon.”
“Tidak perlu, Bunda.”
“Senyum,” perintahnya yang terpaksa aku turuti. “Kita tidak akan sempat ke spesialis ortodontik, tetapi belum terlambat untuk memulainya ketika kamu sudah pulang.”
“Yang benar saja,” keluhku. “Aku bisa membiayai semua kebutuhanku nanti saat aku sudah bekerja. Bunda tidak perlu memikirkan semua itu.”
“Kamu putriku. Apa salahnya aku memperhatikan keadaanmu?” balasnya.
“Masalahnya, aku sudah bukan anak-anak lagi.” Bunda malah menangis, membuat aku merasa bersalah. “Ng, Bunda, maafkan aku. Aku tidak bermaksud ….”
“Ya, ampun, Kat. Aku rindu bertengkar seperti ini denganmu. Mengapa kamu datang lama sekali, Nak? Apa kamu tidak tahu aku menangisi kematianmu setiap malam? Aku tahu aku selalu marah setiap melihat tubuh barumu ini, tetapi kamu bisa gunakan cara kemarin. Mengapa menunggu begitu lama untuk mengatakannya kepada kami?”
“Maafkan aku, Ma,” ucapku lirih.
“Aku beberapa kali ingin pergi menyusul kamu. Ada banyak sekali hal yang belum aku katakan, kamu bukannya pulang dalam keadaan sehat, malah tanpa nyawa. Apa kamu pikir aku tidak akan bahagia mengetahui kamu masih hidup? Walau ada di tubuh orang lain, kamu tetap putriku.
“Baru saja tahu kamu di dunia ini bersama kami, kamu hanya memberi aku waktu satu bulan untuk melepas rindu. Kamu dari dahulu memang selalu saja membantah. Anak manja.” Mama memukul lenganku. “Kamu pasti sering menahan lapar sampai badan gemukmu jadi kurus begini. Tanganmu juga kapalan.” Dia terisak. “Padahal mamamu ini punya banyak uang.”
“Tante Wibowo?” tanya seseorang dari belakang Bunda. “Mengapa Tante memeluk pembunuh putri Tante?” Mulai lagi. Mengapa dia ada di sini?
__ADS_1