Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
76|Meyakinkan Kamu


__ADS_3

“Selamat pagi,” sapa Theo, bukan lagi di depan tembok, tetapi di depan pagar. Jadi, aku melompat terkejut melihat dia berdiri tepat di depanku.


“Theo!” pekikku terkejut.


“Bagus kalau lo terkejut. Senam jantung di pagi hari.” Dia tertawa senang.


“Dasar aneh.” Aku menutup pagar dan memasang gemboknya kembali. “Ada apa pagi-pagi kamu datang ke sini? Belum cukup derita yang aku alami setelah melihat foto mesra kamu dengan Chika?”


Mereka makan malam berdua pada akhir pekan lalu di Labuan Bajo. Entah siapa yang mengambil foto itu, tetapi Chika tepat sekali sedang tertawa bahagia sambil memegang tangan Theo. Pacar mana yang tidak akan cemburu melihatnya?


Dia memeluk aku dari belakang setelah aku memasukkan kunci rumah di tas. Aku mendesah pelan karena dia tidak bergerak sama sekali saat aku berusaha untuk melepaskan diri dari dekapannya. Dia hanya diam, tidak mengatakan apa pun untuk beberapa waktu.


“Gue senang melihat lo cemburu,” katanya pelan. “Itu artinya lo masih sayang sama gue.”


“Untuk mencari bukti aku sayang kamu, maka kamu sengaja membuat aku cemburu. Begitu?” tanyaku, mengonfirmasi.


“Bukan begitu, sayang,” tuturnya dengan lembut. Hilang sudah sikap dingin dan menjengkelkannya yang selama ini aku kenal.


“Aku tidak punya waktu untuk ini. Aku harus ke kampus untuk kuliah.” Aku kembali berusaha untuk melepaskan pelukannya dariku.


“Gue antar, ya. Lalu sore nanti gue jemput. Temani gue menghadiri sebuah acara,” bujuknya, tanpa melepaskan dekapannya.


“Kamu mau memamerkan selingkuhanmu kepada semua orang lagi?” tanyaku tidak suka.


“Gue menghadiri acara itu bersama calon istri gue. Lo bukan selingkuhan gue,” ungkapnya dengan tegas. “Tolong, jangan pancing pertengkaran satu kali saja.”


“Kalau begitu, kamu datang saja bersama tunanganmu yang penurut itu. Kalian pasti tidak pernah bertengkar.” Aku segera menyesali ucapanku itu, tetapi aku sudah telanjur mengatakannya.


“Jangan uji kesabaran gue, Amarilis,” bisiknya dengan geram. “Lo tahu gue bukan penyabar. Bantah gue lagi, maka lo akan menyesal.” Mendengar ancaman seriusnya itu, aku diam.


Dia mampir ke warung nasi gurih kesukaan kami, lalu membelikan bekal makan siang untukku. Walau aku masih kesal, aku berterima kasih saat dia memberikan makanan itu kepadaku. Kami hanya diam sepanjang perjalanan sampai di depan gerbang kampus.


Setelah berjanji akan bertemu di depan tempat tinggalku pada sore nanti, aku keluar dari mobilnya. Kebetulan Sonata juga baru datang, jadi kami bisa berjalan bersama menuju ruang kuliah. Dia menggoda aku yang makin lengket dengan Theo. Andai saja dia tahu.


Acara yang dia maksudkan adalah perayaan ulang tahun Tante Ruth yang kelima puluh. Sepertinya ulang tahun pernikahan mereka dirayakan hanya bersama keluarga demi acara ini. Tentu saja Tante tidak senang melihat putra sulungnya datang menggandeng tanganku.

__ADS_1


Namun dia tetap menyambut uluran tangan Theo dan aku yang mengucapkan selamat. Tempat duduk Theo sama dengan keluarganya, tetapi dia memilih meja lain agar bisa duduk bersamaku. Jadi, ada satu kursi yang kosong di meja Keluarga Husada bersama Keluarga Winara.


“Mamamu akan semakin membenci aku,” bisikku ketika makanan disajikan di meja kami.


“Dia akan mencintai wanita yang gue sayang. Lo hanya perlu memberi mama gue waktu,” hiburnya. Dia mengusap kepalaku, tidak peduli dengan tatapan orang ke arah kami.


Mereka memandang sinis pasti karena mereka pikir aku adalah perempuan tidak tahu diri yang mau saja jadi selingkuhan Theo. Aku sudah bisa membayangkan postingan orang-orang yang mengambil foto kami secara diam-diam. Mereka tentu menyebut aku sebagai perusak hubungan dia dan Chika.


Jika aku adalah Katelia, mereka tidak akan berani melakukan itu. Karena Papa dan Kakak tidak akan membiarkan siapa pun menghina keluarga kami di muka publik, baik secara daring atau luring. Namun sebagai Amarilis, aku hanya bisa menelan semua tatapan merendahkan mereka kepadaku.


Pada puncak acara, Theo meninggalkan aku untuk bergabung bersama keluarganya di panggung. Aku yang dia sebut sebagai calon istrinya hanya bisa duduk diam ketika tunangan resminya berdiri bersamanya di depan semua orang.


“Benar-benar gadis yang tidak tahu malu, ya. Ini sudah kesekian kalinya dia datang ke acara di mana dia tidak diundang,” ucap seorang wanita dari meja di belakangku.


“Peletnya kuat juga. Sudah satu tahun dan Theo masih saja terpikat dengan perempuan jelek itu,” kata yang lain. “Amit-amit, jangan sampai putraku kena ilmu hitam.”


“Benar. Jessica begitu sempurna, masa Theo maunya dengan cewek jelek begitu. Sudah pasti dia kena pelet.” Wanita pertama itu bergidik.


Percakapan mereka terhenti karena pembawa acara mengajak kami untuk menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Tante Ruth meniup lilin yang menyala di atas kue yang bertingkat itu, lalu memberikan potongan pertama kepada suaminya. Setelah keluarga, dia memberikan potongan berikutnya kepada Chika. Orang pertama di luar keluarga intinya.


Sebuah deklarasi darinya di depan semua undangan bahwa Chika yang akan menjadi menantunya kelak. Beberapa orang yang memahami kode itu melirik aku sambil berbisik dengan orang-orang di dekatnya. Perhatian yang biasanya aku sukai itu, aku kali ini sangat membencinya.


“Kalau aku jawab aku tidak apa-apa, maka aku berbohong.” Aku tersenyum tipis.


“Gadis pintar. Jadi, jangan berbohong.” Dia memegang tanganku yang ada di atas pahaku. “Jangan masukkan ke hati. Lo yang kelak akan gue nikahi apa pun yang Mama lakukan di depan semua orang.”


“Apa kamu tidak bosan mengucapkan kalimat yang sama setiap waktu?” tanyaku heran.


“Tidak. Lo perlu diyakinkan setiap detik, maka gue akan ucapkan kalimat itu setiap detik.”


Bila dipikir-pikir, Theo tidak salah dengan keadaan yang sedang kami hadapi. Dia punya tanggung jawab atas keluarga dan perusahaan mereka. Sebagai penerus papanya, dia tidak mungkin tidak ikut mengurusi bisnisnya. Apalagi perusahaan mereka sudah berdiri selama puluhan tahun.


Persaingan bisnis kian ketat karena semakin banyak orang yang memulai usaha serupa dengan harga lebih murah dan menjanjikan kualitas yang setara. Hal yang mereka lebih-lebihkan. Karena kualitas yang mereka maksudkan tidak mungkin bisa dibeli dengan harga murah.


Aku tidak merasa kesepian saat Theo kembali sibuk dengan pekerjaannya sehingga mengingkari janjinya untuk kencan pada akhir pekan, karena seminar proposalku sudah di depan mata. Sonata tidak berhenti menggoda aku yang ingin cepat tamat, begitu juga dengan Matt.

__ADS_1


Walau Theo tidak bisa datang menghadiri seminar tersebut, aku puas dengan kehadiran mantan murid dan sahabat baikku. Usai acara, aku mentraktir mereka makan siang bersama. Matt berusaha untuk menelepon atau melakukan panggilan video, Theo tidak menjawab.


“Dih, jam makan siang juga tidak bisa diganggu. Mereka melakukan apa, sih?” gerutunya.


“Pertemuan dengan kolega atau rekan bisnis, dong. Apa lagi?” goda Sonata. “Papaku yang hanya punya usaha kecil-kecilan saja tidak pernah luang pada jam makan siang. Apalagi papa kamu yang punya perusahaan sebesar itu. Kakakmu pasti ikut menemaninya.”


“Tuh, dengar,” sambungku. “Kamu tidak pernah mau ikut mereka ke perusahaan, makanya kamu tidak tahu repotnya mereka di sana.”


“Aku tidak tertarik. Apa kalian tidak tahu?” Dia mendekatkan wajahnya kepada kami. “Aku tidak pernah mau menginjakkan kaki di perusahaan itu supaya tidak ada yang memecah belah antara aku dan Theo. Keluarga lain berebut jabatan, aku tidak mau.”


“Lalu mengapa kamu mengambil jurusan ini kalau tidak berniat bekerja di perusahaan yang sama?” tanya Sonata heran.


“Karena aku mau buka usaha sendiri. Aku suka main gim, jadi suatu hari nanti, aku mau buka kafe tempat berkumpul anak-anak gim. Bukan hanya tempat kumpul, tetapi aku juga akan buat event dengan hadiah menarik supaya mereka rajin datang,” kata Matt panjang lebar.


Aku tersenyum mendengar dia menceritakan impiannya. Terdengar sederhana, tetapi meraihnya tidak akan mudah. Mimpiku juga sederhana. Hanya rencanaku untuk Chika, Nisa, dan Rahma yang tidak sederhana. Namun aku yakin, aku akan bisa membalas perbuatan mereka kelak.


Perusahaan pemberi beasiswa puas dengan nilai akademikku, membuat aku lega masih mendapat bantuan sampai wisuda nanti. Aku memanfaatkan liburan semester itu dengan magang di sebuah perusahaan yang dimiliki oleh Keluarga Wiryawan. Pria yang pernah meminta aku bermain biola pada perayaan yang diadakan keluarganya.


“Kamu Amarilis Josepha?” tanyanya tidak percaya. Dia memandang aku dan sekretarisnya secara bergantian. “Kamu yakin kamu tidak salah orang?”


“Tidak, Pak. Ini benar Mbak Amarilis,” jawab wanita cantik itu dengan sopan.


“Kamu berubah sekali.” Dia mengedip-ngedipkan matanya, tidak percaya.


“Ah, karena saya sudah tidak gemuk lagi, ya?” ucapku mengerti.


“Iya. Aku sampai pangling.” Dia berdehem. “Baiklah. Kamu bisa mulai bekerja pada hari ini. Tentang data yang kamu butuhkan itu, kamu bisa minta pada sekretarisku.”


“Data yang itu, Pak?” tanya wanita itu terkejut. “Tetapi Pak Wiryawan bilang tidak boleh, Pak.”


“Bukan hanya ayahku yang memegang kunci ke ruangan itu. Aku juga. Jadi, aku punya hak untuk memutuskan siapa yang boleh dan tidak boleh melihatnya,” kata pria itu bersikeras.


“Ng,” kataku, mencoba untuk melerai.


“Pak Dirut sudah berkata dengan tegas, tidak boleh, Pak. Saya bisa dipecat kalau saya melanggar perintah beliau,” ucap wanita itu khawatir.

__ADS_1


Data yang aku butuhkan untuk penelitianku memang sensitif. Karena itu, aku terkejut ada yang mau memberikannya. Aku tidak pernah menduga perusahaan itu adalah milik Keluarga Wiryawan. Pantas saja mereka menjawab iya. Ternyata, jawaban itu tanpa persetujuan direktur utama.


Melihat mereka ribut begini, aku jadi tidak enak. Namun kalau aku tidak wisuda sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, beasiswaku akan dicabut. Aku harus bagaimana sekarang?


__ADS_2