
Petugas membukakan pintu untuk kami, lalu mempersilakan kami masuk. Ada meja dan kursi dalam ruangan itu. Tidak ada siapa pun di sekitar kami, maka kami bisa memilih tempat sesukanya. Kami baru saja duduk ketika pintu di depan kami terbuka.
“Edrick!” seru Nisa terharu. Dia berlari mendekat, tetapi pria itu mengangkat tangan, memberi sinyal agar dia tidak menyentuhnya. “Sayang, aku sangat merindukan kamu.” Dia terlihat terluka dengan penolakan itu. Memangnya dia sudi andai Edrick melakukan hal yang sama kepadanya?
“Duduklah, Nisa,” ucapku, mempersilakan.
“Aku tidak punya urusan lagi denganmu. Apa kamu lupa dengan kesepakatan kita?” ucapnya dengan nada arogan. “Kita tidak saling mengenal.”
Tentu saja dia benar. Itu adalah kesepakatan kami. Namun aku sangat menyayangkan sikapnya yang tidak juga berubah. Aku pikir beberapa hari berada di tahanan akan membuat dia sedikit lebih rendah hati dan menyadari kesalahannya. Ternyata dia masih sama saja.
“Baik. Kalau begitu, urusanku di sini sudah selesai.” Aku berdiri dan tersenyum manis kepadanya. “Semoga kamu mendekam lama di penjara atas ganjaran perbuatanmu kepadaku.”
Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. “Aku tidak melakukan apa pun terhadapmu.” Dia mendengus, mengejek aku.
“Kamu yang mendorong aku di geladak kapal hingga jatuh ke danau.” Aku menatapnya dengan serius. Berani sekali dia mengatakan dia tidak melakukan apa pun terhadap aku.
Dia melihat ke arah Edrick dengan gugup. “Jangan menuduh aku tanpa bukti.” Dia pasti tidak mau Edrick tahu perbuatannya itu.
“Sampai hari ini pun kamu masih tidak mau mengakuinya?” Aku tertawa kecil, tidak percaya. “Kamu bertingkah lugu, lalu memanfaatkan rasa iri Chika agar memprovokasi mama Katelia untuk menuntut aku. Padahal kamu yang membuat aku dan Katelia tercebur.”
Aku selangkah lebih dekat kepadanya. “Bukan aku yang sudah mêmbúnuh Katelia, tetapi kamu. Aku berharap kamu akan menggunakan waktumu di penjara untuk memperbaiki diri. Karena Nisa, kamu tidak akan keluar dalam waktu dekat.”
Dia melewati aku agar bisa berdiri di hadapan Edrick. “Jangan dengarkan dia, sayang. Aku tidak akan melakukan itu kepada sahabatku sendiri,” katanya kepada pria itu dengan nada memelas.
“Kamu tidur dengan banyak laki-laki di belakangku. Apa kamu pikir aku akan percaya lagi kepadamu?” Edrick menatapnya dengan dingin.
__ADS_1
“Sayang, biar aku jelaskan.” Dia berusaha untuk menyentuhnya lagi, tetapi pria itu mundur.
“Aku akan pastikan kamu mendapat hukuman maksimal atas penghinaanmu terhadap keluargaku. Beraninya kamu menyeret nama baik kami beserta berita buruk tentangmu. Untung saja aku tidak pernah tidur denganmu. Menjijikkan.” Dia bergidik melihat mantan tunangannya itu.
Edrick menoleh kepadaku, maka aku mengangguk mengerti. Aku berjalan dahulu menuju pintu. Nisa memanggil namanya, membujuk dia untuk mendengarkan, tetapi Edrick mengabaikannya. Kami tidak berhenti melangkah sampai tiba di luar kawasan tahanan itu.
Aku berterima kasih kepada petugas yang melayani kami, lalu menuju tempat parkir. Aku berterima kasih juga atas kebaikan Edrick yang mau memenuhi permintaanku untuk datang. Pasti sulit baginya melihat orang yang sudah menyakiti hatinya itu. Pria itu hanya tersenyum.
Kedua mamaku tertawa geli melihat aku pulang bersama Antonio. Mereka tahu benar bahwa Theo akan sangat marah mengetahui aku menemui orang yang dilarangnya. Apa boleh buat? Aku harus melakukan ini atau akan ada yang mengganjal hatiku seumur hidupku.
Lagi pula, dia melarang lewat mulutnya, tetapi setuju melalui tindakannya. Dia tidak mengikat aku di tempat tidur seperti biasanya jika aku melakukan kesalahan besar. Jadi, aku tahu. Dia mendukung aku menyelesaikan masalah antara aku dan ketiga mantan sahabatku itu.
Pada keesokan harinya, Chika tidak ditemani oleh siapa pun di kamar rawatnya. Dia sudah duduk rapi dengan bersandar di kepala tempat tidurnya. Tangan kanannya dipasang gips, pasti itu tangan yang patah. Kakinya tertutup selimut, jadi aku tidak tahu sebelah mana yang patah.
“Kamu begitu gigih datang setiap hari, apa mau memberikan undangan?” tanyanya dengan sinis. Ah, baguslah. Kabar mengenai acara besar itu sudah sampai ke telinganya.
“Lalu apa maumu?” Dia melirik ke arah pintu. “Sebaiknya kamu cepat, sebelum mamaku datang.”
“Aku tidak mau melanjutkan ini. Sudah cukup, Chika.” Aku menatapnya dengan serius. “Kamu sudah dapatkan balasanmu, jadi aku tidak akan menuntut perbuatanmu di mal.” Aku melirik tangannya.
Dia mendengus keras. “Kamu yang memulai. Aku sudah bilang, hentikan postingan itu.”
“Kamu yang berhenti mencintai suamiku. Mengapa aku harus berhenti membagi kebahagiaan kami? Apa hanya kamu yang boleh berbagi kemesraan di media sosial?” ejekku.
Dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Walau awalnya aku aktif menggunakan media sosial untuk memanas-manasi dia, apa yang salah dengan postinganku? Aku membagikan hal yang normal, sama seperti pengguna lainnya. Tidak berlebihan seperti dia yang detail kecil pun dibukakan ke publik.
__ADS_1
Aku akan tetap berhati-hati memilih foto dan kata-kata, karena aku tahu Theo mulai tidak nyaman. Dia tidak suka hal pribadi dijadikan konsumsi publik. Aku juga akan berhenti berbagi bila saatnya tiba. Setidaknya, sampai aku yakin aku sudah cukup mematahkan hati perempuan ini.
“Kamu sebaiknya berhati-hati. Kamu ada dalam tubuh orang lain. Bisa jadi jiwanya datang suatu hari nanti dan meminta badannya kembali." Salah satu sudut bibirnya melebar ke samping. "Kamu tidak akan bisa bersama Theo lagi. Aku yakin dia juga tidak akan tahu bedanya. Katelia atau Amarilis yang ada dalam tubuh itu.” Dia menyapukan padangannya ke badanku.
“Sepertinya kamu tidak tertolong lagi. Sama dengan Nisa. Urus saja hidupmu sendiri, Chika. Biar aku yang menjalani masalahku. Obsesimu terhadap aku mulai membuat aku tidak nyaman. Aku sudah menikah dan tidak tertarik dengan hubungan sesama jenis.” Aku mengangkat alisku.
Dia tertawa terkejut, lalu terbahak-bahak. “Apa kamu pikir aku sudah gila? Aku tidak terobsesi kepadamu,” bantahnya. “Jangan besar kepala. Aku tidak akan mengganggu kamu lagi dan setuju untuk saling menjauh. Yang aku katakan tadi hanya pesan terakhir dariku. Karena kamu memang harus berhati-hati. Semua yang kamu miliki bisa saja diambil darimu dalam sekejap.”
“Oh. Aku tidak takut dengan itu. Theo berjanji akan bersamaku sampai mati nanti. Dia juga sangat mencintai aku dan selalu lebih memilih aku, bahkan dari orang tuanya sendiri.” Aku tersenyum lugu. “Apa Pak Norman juga menjanjikan hal yang sama kepadamu?”
Bibirnya terkatup rapat, menahan amarah. “Semoga bayi itu gugur dan kamu tidak pernah menjadi seorang ibu,” kutuknya tanpa perasaan.
Aku meletakkan tangan kananku di perutku, melindungi bayiku. “Hati-hati dengan ucapanmu, Chika. Kutukanmu itu bisa saja kembali kepadamu. Aku datang untuk menyelesaikan masalah di antara kita, bukan memperpanjang perseteruan yang tidak berguna ini.”
“Munafik!” serunya, tidak menahan dirinya lagi. Aku sampai mundur satu langkah, terkejut dengan suaranya yang menggelegar itu.
“Berhenti berpura-pura jadi orang lain! Kamu Kat, bukan Amarilis! Kamu bisa membohongi Theo dan semua orang dengan sandiwaramu, aku tidak. Kamu membuat aku jijik dengan sikapmu yang bak malaikat itu! Sekali iblis, selamanya kamu adalah iblis! Keluar! Aku tidak sudi melihat mukamu lagi di depanku! Keluar!” teriaknya sekuat tenaga.
Aku menatapnya tidak percaya. Walau ada hal yang mau aku sampaikan, aku menahan diri. Tidak ada gunanya terus bicara, karena dia sudah punya pendapatnya sendiri mengenai aku. Hal yang justru membuat aku semakin yakin untuk meneruskan godaanku terhadapnya.
Hanya Rahma yang menunjukkan penyesalan seperti yang pernah aku rasakan. Dia akan hidup bahagia kelak, bertemu dengan pria baik yang bisa menerima dia apa adanya. Nisa dan Chika memang sudah jahat dari hati mereka. Aku tenang karena mereka sudah mendapat ganjaran atas perbuatan mereka kepadaku.
Antonio menanyakan keadaanku. Melihat wajah khawatirnya, aku tersenyum. Dia tidak perlu ikut cemas dengan masalah yang aku hadapi. Kami segera pergi dari tempat itu sebelum mama Chika datang. Aku tidak mau Antonio mendengar dia mengomeli aku lagi.
Theo pulang untuk makan malam bersama kami. Seluruh keluarga kami berkumpul untuk makan bersama sembari mendiskusikan persiapan terakhir untuk acara besar kami pada keesokan hari. Aku senang melihat ketiga ibuku menjadi akrab sejak beberapa hari terakhir.
__ADS_1
“Kita perlu bicara,” kata Theo ketika kami berdua saja di kamar. Dia duduk di sofa dengan muka serius, maka aku menurut dengan duduk di sisinya. “Jangan tersinggung, tetapi kita perlu melakukan hal ini.” Dia mengulurkan sebuah map kepadaku.
Aku menerimanya dan menatapnya dengan bingung. “Apa ini?”