Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
84|Kalian Berjodoh


__ADS_3

“Apa kamu sudah gila!?” seru Kak Jericho dengan wajah memerah. Dia melempar kedua tangannya ke udara. “Kami sedang berusaha mencari cara yang keren untuk menjelaskan keadaanmu kepada Mama, kamu malah membuat skandal!”


Mereka menjemput aku di halte, lalu membeli es krim dan beberapa camilan sebelum membawa aku ke sebuah taman. Kak Jericho sengaja memakai topi dan kacamata hitam untuk menyamar. Padahal taman ini tidak seramai yang kami duga.


“Kakak seperti tidak pernah pacaran saja. Lagi pula, bukan aku yang memposting foto atau video itu,” kataku, membela diri.


“Benar. Tetapi apa kalian tidak bisa berciuman di tempat tertutup tanpa ada yang menonton? Apa harus di lobi hotel terkenal di ibu kota??” protes Kak Jericho lagi.


Aku tersenyum lega mendengar ucapan kakakku itu. Dia tidak punya pendapat yang sama dengan Chika. Setelah melihat foto dan video kami, Kakak tidak memarahi atau menyebut aku murahan. Dia bisa memahami cara kami mengekspresikan rasa sayang.


“Jadi, kamu dan Theo berpacaran?” tanya Kak Nolan dengan nada suara lebih tenang. Aku hanya mengangguk sambil menikmati es krimku. “Luar biasa. Kalian benar-benar berjodoh. Baik kamu sebagai Kat atau Riris, kalian bersama lagi.”


“Kak, bisa serius sedikit, tidak? Ini masalah yang genting,” tegur Kak Jericho resah.


“Yang sudah terjadi tidak bisa kita ulang, Jericho. Kamu bisa tenang sedikit, tidak?” balas Kak Nolan yang masih tetap santai saja.


“Bagaimana aku bisa tenang mendengar Mama meneriaki aku setiap hari di telepon?”


“Mengapa Mama berteriak?” tanyaku khawatir.


“Karena kamu merebut Theo dari Kat.” Kak Jericho menggeleng-gelengkan kepalanya. “Andai Mama tahu kalian adalah orang yang sama.”


“Jiwa yang sama,” ralat Kak Nolan. “Mereka jelas dua orang yang berbeda.”


“Apa Kakak tidak—” kata Kak Jericho. Dia berhenti melihat Kak Nolan mengangkat tangannya.


“Aku harus kembali ke Medan besok pagi, jadi aku tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi. Ris, kamu perlu menjauh sejenak dari media. Tolong, jangan pancing wartawan untuk meliput kamu atau pacarmu itu. Kami sedang berusaha mencari cara dan waktu yang tepat untuk bicara dengan Mama.”

__ADS_1


“Bukan aku yang sengaja—” kataku, membela diri. Aku terpaksa berhenti melihat dia mengangkat tangannya. Menjengkelkan sekali.


“Kamu bisa, tidak, jawab iya tanpa embel-embel? Aku sudah bilang, aku tidak punya waktu untuk basa-basi.” Kak Nolan menoleh ke arah Kak Jericho. “Kalau kamu sudah luang, pulang. Aku butuh teman untuk menjelaskan keanehan ini.”


“Jadwalku penuh sampai tahun depan, Kak. Aku sudah bukan mahasiswa biasa lagi. Aku sekarang model profesional. Ini pekerjaan penuh waktuku.” Kak Jericho memandang aku dan Kak Nolan secara bergantian. “Lagi pula, kita butuh kehadiran Riris juga untuk menjelaskan ini kepada Mama.”


“Tidak, terima kasih.” Aku menyentuh pipi kiriku, rasa sakit tamparan Mama masih terasa walau sudah lama tidak aku alami lagi.


Kami berpisah setelah mereka mengantar aku pulang. Walau hanya beberapa jam, aku senang bisa menghabiskan waktu bersama kedua kakakku. Sisa hari itu aku gunakan untuk mengolah data dan beristirahat. Namun pada hari Minggu, aku fokus pada data tersebut dan lega aku tidak kekurangan apa pun. Semua data yang Mas Norman berikan sangat lengkap.


Bekerja pada hari Senin, aku menjaga jarak dari atasanku. Kami pindah ke ruang kerja yang baru, karena dia yang kini mengisi posisi ayahnya. Semua barang pribadi dari atas mejaku sudah dipindah ke meja yang baru. Aku tidak percaya aku bisa berada di lantai teratas hotel mewah ini.


Ketika Mas Norman pergi makan siang di luar bersama sekretarisnya, aku merasa sangat lega hanya sendirian di ruangan itu. Aku menyelesaikan semua tugas yang diberikan kepadaku secepat mungkin dan pulang bersama karyawan lain.


“Itu karyawan magang di ruang pak direktur, ‘kan?” bisik seseorang yang berdiri di sisiku saat aku berada di dalam lift menuju lantai dasar.


“Iya, benar. Enak sekali dia bisa duduk satu meja dengan Pak Bos pada acara itu,” jawab yang lain.


“Kamu serius?”


“Altheo suka dengannya, lalu dia mengincar Pak Norman. Apalagi yang dia pakai kalau bukan ilmu hitam? Mana ada laki-laki waras yang tertarik dengan perempuan jelek begitu.”


Waktu berjalan sangat lambat ketika aku berharap bisa segera tiba di suatu tempat. Aku ingin sekali membalas ucapan mereka, tetapi aku sadar posisiku saat ini. Aku hanya karyawan magang. Kalau aku membuat masalah, aku bisa dapat nilai buruk. Jadi, aku menahan diri mendengar hinaan mereka.


Ilmu hitam. Selalu saja itu alasan yang mereka pakai untuk mendiskreditkan aku. Apa tidak ada alasan lain yang lebih elit untuk menuduh aku? Aku paham mereka tidak percaya aku bisa membuat pria tertarik kepadaku dengan kualitas yang ada pada diriku. Karena aku pun masih tidak percaya.


Satu minggu itu aku berhasil menghindari Mas Norman karena dia sibuk dengan tugas barunya sebagai direktur utama. Namun orang yang aku harap-harapkan pada pagi hari akan memberi aku kejutan dengan kehadirannya malah tidak pernah terkabul.

__ADS_1


“Aku rindu kamu.” Kalimat itu sudah aku ketik pada layar, tetapi aku ragu-ragu untuk menyentuh tombol kirim. Setelah berpikir ulang, maka aku putuskan untuk menghapusnya.


Aku joging mengelilingi lingkungan tempat tinggalku, menyapa semua orang yang aku kenal, lalu kembali setelah beberapa putaran. Sabtu pagi itu aku awali dengan membereskan kamar dan mencuci pakaian seperti biasanya. Ingin mencari suasana yang berbeda, aku makan siang di luar.


Namun aku melihat mobil yang tidak aku duga-duga parkir di depan tempat tinggalku. Pemiliknya segera keluar dari kendaraan itu dan tersenyum kepadaku. “Makan bersamaku, yuk. Please?”


Mendengar kata itu, aku merasa tidak enak menolaknya. Aku kembali ke kamar untuk mengambil tas sebelum ikut dengannya. Kami hanya diam sepanjang perjalanan, menikmati musik yang dia pasang. Sesuai dengan usianya, dia menyukai lagu-lagu dari tahun dua ribuan awal. Bahkan untuk selera musik, kami sudah berbeda.


Dia membawa aku ke sebuah rumah makan yang tidak jauh dari tempat tinggalku. Jadi, kami tidak berlama-lama bergelut dengan padatnya lalu lintas. Aku melihat ke sekelilingku saat keluar dari mobil. Gawat. Aku lupa dengan satu hal. Theo mempekerjakan orang untuk mengawasi aku.


Matilah aku.


“Ada apa?” tanya Mas Norman. Dia ikut melihat ke arah jendela. “Apa kamu melihat orang yang kamu kenal?”


“Ah, tidak, Mas.” Aku tersenyum, lalu kembali melihat buku menu di depanku. “Saya pesan nasi goreng spesial dengan jus jeruk saja, tanpa gula dan es. Terima kasih.”


Pelayan itu pun meninggalkan kami setelah meminta kami bersabar menunggu pesanan diantar. Aku tidak tahu harus melihat ke mana, jadi aku hanya menunduk melihat kedua tanganku yang ada di atas meja. Sejak pengakuannya pada malam itu, aku tidak bisa lagi bersikap sama.


“Maafkan sikap ibuku,” katanya, membuka pembicaraan. “Aku tidak tahu bagaimana dia bisa tahu nomor teleponmu, tetapi aku tidak meminta Ibu untuk menemui kamu.”


“Saya tahu, Mas.”


Dia tertawa gugup. “Kalau boleh tahu, apa yang ibuku bicarakan denganmu? Tolong, katakan Ibu tidak membahas hal yang memalukan.”


“Maaf, Mas. Saya tidak bisa memberi tahu percakapan antara wanita. Itu rahasia kami.” Ibunya tidak mengatakan hal itu sebagai rahasia, tetapi jika dia tidak memberi tahu putranya, maka aku pun tidak.


“Baiklah.” Bukannya protes atau mendesak aku untuk bicara jujur, dia malah tersenyum bahagia. “Aku senang melihat kamu akrab dengan ibuku. Itu akan mempermudah segalanya.”

__ADS_1


“Apa maksud Mas?” tanyaku tidak mengerti.


“Aku serius dengan ucapanku beberapa hari yang lalu, Amarilis.” Dia mendekatkan tubuhnya ke meja. “Walau aku sudah menjadi dirut, aku masih Norman yang sama. Aku menyukai kamu dan berharap kamu tidak memandang aku sebagai atasanmu semata.”


__ADS_2