Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
90|Keputusan Besar


__ADS_3

~Altheo~


Aku benci dengan amarah yang aku rasakan bergejolak di dadaku setiap kali mengetahui dia dekat dengan laki-laki lain. Perasaan itu datang begitu saja tanpa aku rencanakan. Aku tidak menyukainya, karena itu aku memutuskan hubungan dengan Amarilis.


Mengakhiri ikatan tak kasatmata di antara kami tidak menjadikan segalanya lebih baik. Namun aku bisa sedikit lebih tenang mendampingi Papa dan menyiapkan lamaranku ke kampus baru. Desember semakin mendekat dan aku harus mendaftarkan diri untuk melanjutkan studi.


Bukannya memahami kesibukanku, Chika tidak henti-hentinya hadir di tempat yang tidak tepat. Dia juga tidak berhenti berusaha menyentuh aku dan memotretnya. Entah untuk apa dia memamerkan hubungan dingin di antara kami. Apa dia tidak sadar, semua pengikutnya mulai curiga melihat aku tidak pernah tersenyum atau membalas sentuhannya pada setiap foto itu?


Laporan yang aku terima dari pengawal pribadinya tidak aku masukkan ke hati. Dia boleh menemui pria mana pun yang dia mau. Berduaan dengan Norman atau laki-laki lain tidak lagi mengganggu kepalaku. Berat untuk menyangkal perasaanku, tetapi aku berhasil.


Herannya, Mama masih saja mendatangi dia. Memang aku tidak memberi tahu siapa pun mengenai hubungan kami yang sudah putus, aku juga sengaja tidak mengganti foto profilku, semua itu karena aku tidak mau baik Mama maupun Chika merasa mereka menang.


“Kamu perlu mengakhiri perang antara kamu dan mamamu, Theo,” kata Papa saat kami berada di dalam elevator. Kami hanya berdua saja tanpa kehadiran orang lain di dalam lift eksekutif.


“Pernikahan gue adalah tanggung jawab gue, maka gue yang berhak memilih calon istri gue.” Aku tidak bosan-bosannya menyebut alasanku menentang pilihan mereka.


“Benar. Lalu pilihlah yang lebih baik dari Jessica.”


“Kekurangan Amarilis hanya satu. Dia berasal dari keluarga biasa, tetapi itu justru menjadi masalah besar bagi kalian. Chika yang punya begitu banyak keburukan, kalian malah menutup mata.” Aku tertawa kecil. “Gue penasaran. Apa Keluarga Winara mengancam kalian dengan sebuah rahasia?”


“Hati-hati menuduh kami, Theo.”


“Gue enggak menuduh kalau itu sesuai fakta, Pa. Kalian adalah orang baik dan terhormat, tetapi baru kali ini kalian memutuskan sesuatu dengan gegabah. Jangan korbankan kebahagiaan gue demi reputasi kalian. Masa Nenek lebih memahami gue daripada orang tua gue. Itu, ‘kan, alasan Nenek tidak memberikan cincinnya kepada Mama, melainkan aku?”


Pintu elevator terbuka, Papa langsung keluar, tidak menjawab pertanyaanku. Cara yang selalu dia lakukan setiap kali tidak mau bicara dengan jujur. Sikapnya itu membuat aku semakin yakin ada yang salah dengan kesepakatan mereka menikahkan aku dengan Chika.

__ADS_1


Masa tukang rundung begitu mereka pasangkan denganku? Apa mereka tidak peduli jika nanti ada yang tahu sifat buruknya di sekolah? Bagaimana kalau teman-teman buka mulut saat aku dan dia sudah menikah? Nama baik keluarga kami akan ikut terseret.


Sampai di rumah, aku melihat ada mobil yang sudah aku kenal di pekarangan depan kami. Tidak mau bertemu dengan mereka, aku langsung ke kamar dan melewatkan makan malam. Sebagai pelayan yang baik, salah satu dari pekerja di rumah kami mengantarkan makanan untukku.


Pintu kamar diketuk, aku tahu siapa yang datang. “Tumben,” kata Matt yang masuk dan duduk di sisiku. “Lo sudah mulai menentang ortu kita?” Dia tertawa kecil.


“Lo pikir ini lucu, ya?”


“Lucu banget. Gara-gara perempuan, lo jauh dari ortu kita. Lalu karena ulah orang lain, lo terancam tidak bisa jadi pengganti Papa.” Dia mencomot kerupuk dari atas piringku.


“Mereka sudah pulang?”


“Mana gue tahu. Gue juga ogah makan dengan mereka.” Pintu kamarku diketuk, aku pun mengerti. Pelayan datang lagi membawakan makanan bagian adikku. “Terima kasih. Mari makan!”


“Seharusnya lo jangan ikuti gue. Masalah ini masalah gue, lo jangan ikut campur.”


“Lo pikir kalau dia jadi kakak ipar gue, hanya lo yang menderita? Gue juga,” katanya, tidak mau kalah.


“Dia tidak akan menjadi kakak ipar lo. Percaya sama gue.”


“Lo saja enggak bisa percaya sama pacar lo. Enggak usah bahas soal kepercayaan sama gue.”


“Amarilis mengadu sama lo?”


Dia malah tutup mulut, tidak mau menjawab pertanyaanku itu. Aku suka kedekatannya dengan guru privatnya itu. Jadi, saat aku tidak ada, dia yang akan menjaganya. Entah mengapa aku tidak merasa cemburu sedikit pun melihat mereka dekat. Hanya kalau dengan laki-laki lain.

__ADS_1


Adikku juga cepat akrab dengan banyak orang, tetapi hanya sedikit yang bisa intim dengannya. Amarilis adalah orang yang hebat bisa memenangkan hati Matt. Sebenarnya, Mama juga sayang kepadanya. Kalau bukan karena racun yang disebarkan Chika, Mama tidak akan membenci dia.


Kami berkumpul untuk sarapan bersama pada pagi harinya dan Mama memasang wajah yang tidak enak untuk dilihat. Sejak video ciumanku dengan Amarilis menyebar, dia tidak pernah tersenyum lagi kepadaku. Seolah-olah aku sengaja melakukannya. Padahal targetku Norman, bukan merekam aktivitas mesra kami lalu dijadikan konsumsi publik.


Walau aku tidak keberatan dengan itu. Aku senang semua orang tahu bahwa hatiku hanya milik Amarilis, tidak akan pernah berpaling kepada Chika. Biar saja mereka menghina secara fisik kami tidak serasi, derajat kami tidak sama, dan omong kosong lainnya. Aku tidak akan menikahi Chika.


“Yang kamu lakukan kepada Chika itu tidak benar,” kata Mama, mulai lagi dengan nasihat usangnya. “Dia adalah tunanganmu. Kamu akan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studi, seharusnya kamu memanfaatkan waktu yang tersisa untuk saling mengenal.


“Kamu suka atau tidak, kalian akan menikah begitu kamu kembali ke Indonesia. Lebih cepat kamu menerima kenyataan itu akan lebih baik bagi kita semua. Amarilis tidak akan kami terima masuk dalam keluarga kita, Theo.”


“Mama tidak akan melakukan ini jika mereka cuma menawarkan sejumlah uang atau properti. Apa Tante Winara mengancam Mama mengenai sesuatu? Apa ini ada hubungannya dengan kesalahan kalian berdua di masa lalu?” tanyaku tidak tahan lagi.


Aku masih percaya kedua orang tuaku adalah orang baik. Mereka tidak akan melakukan ini juga bukan karena terpaksa. Walau mereka tersenyum dan bahagia setiap kali kami bersama keluarga itu, aku tidak bisa ditipu. Ada yang aneh di sini.


“Theo,” tegur Papa.


“Stephanie tidak mengancam aku. Kami berdua berteman, karena itu kami sepakat mempererat hubungan di antara kami. Apalagi mereka tidak punya penerus. Apa kamu tidak mau memimpin sebuah hotel besar seperti milik mereka? Itu semua akan menjadi milikmu,” kata Mama.


Mama tidak berteman dengan Tante Winara. Aku tahu siapa saja orang-orang dekatnya. Mama bisa mengenal perempuan itu karena Tante Wibowo. Aku yakin hubungan mama Richo dan Chika itu juga sedang renggang karena pertunanganku. Jadi, mamaku berbohong.


“Kesalahan di masa lalu?” tanya Matt. Dia memandang kami bertiga. “Apa yang tidak aku ketahui mengenai Papa dan Mama di masa lalu?”


“Kami manusia biasa.” Papa memegang tangan Mama yang ada di atas meja. “Tentu saja kami juga melakukan banyak kesalahan, tetapi tidak ada yang mengancam kami.”


“Jadi, begini cara gadis itu meracuni pikiranmu? Dia menuduh kami dan kamu percaya begitu saja?” tanya Mama geram. “Chika berasal dari keluarga baik-baik, hanya itu alasan aku setuju dengan usul Stephanie untuk menikahkan kalian.”

__ADS_1


“Mama perlu bertanya kepada orang lain di luar keluarganya untuk tahu dia gadis baik-baik atau tidak. Ibu mana yang tidak akan memuji putrinya secara berlebihan dan menutupi kesalahannya?” tanyaku retorik. “Aku pamit. Ada rapat yang perlu aku awasi pagi ini.”


“Gadis itu sedang menyusun skripsi,” kata Mama dengan nada serius. “Apa kamu pikir aku tidak bisa membuat dia menjadi mahasiswa abadi?”


__ADS_2