
Tante Wibowo semakin salah tingkah dan perhatiannya juga Chika teralihkan dariku. Kesempatan itu aku gunakan untuk kabur dan memasuki sebuah bilik yang kosong. Gila saja. Aku harus menahan diri untuk buang air demi mendengar amarah Mama.
Aku menyentuh pipiku yang nyeri. Seumur hidupku sebagai Katelia, Mama tidak pernah memukul aku. Sejak menjadi Amarilis, aku sudah berulang kali mendapat tamparan keras darinya. Aku tahu dia marah dan aku mengerti, tetapi bukan begini caranya melampiaskan amarah.
Chika, dia akan mendapatkan balasan dariku atas setiap tamparan yang mamaku berikan kepadaku. Dia masih saja memanas-manasinya sehingga semarah itu. Katelia meninggal nyaris dua tahun yang lalu, tetapi emosi Mama masih sama. Entah provokasi apa lagi yang keluar dari mulut kotor gadis itu.
Aku membuka pintu bilik dengan hati-hati walau sudah tidak terdengar lagi suara Mama dan Theo. Syukurlah, tidak ada orang selain wanita yang tidak aku kenal. Aku mencuci dan mengeringkan tangan, lalu bergegas keluar dari toilet. Theo berdiri menunggu di luar.
“Lo baik-baik saja?” tanyanya melirik ke arah pipi kiriku.
“Iya.” Aku melihat ke sekeliling kami. Mama maupun Chika tidak terlihat di mana pun.
“Mereka sudah pergi. Tetapi kita harus berhati-hati, siapa tahu mereka menunggu di tempat parkir untuk membuat perhitungan lagi dengan lo.” Dia menyentuh pipiku yang sakit. Aku meringis. “Gue punya salep di kotak P3K.”
Dia menggandeng tanganku menuju mobilnya. Aku mendesah lega melihat sudah tidak ada antrian mobil lagi yang keluar dari pekarangan hotel. Kami akhirnya bisa pulang tanpa harus menunggu lama untuk tiba di pos pembayaran parkir.
“Duduk.” Theo membukakan pintu depan mobilnya.
Aku menurut dengan duduk manis, tanpa membantah. Dia membuka kotak obat, lalu mengeluarkan sebuah salep. Setelah memeriksa kemasannya, barulah dia mengolesi salep yang terasa dingin di pipiku. Melihat dia dari jarak begitu dekat dan memperhatikan kedua matanya yang prihatin dengan keadaanku, mendadak jantungku berdebar-debar.
“Jangan bergerak,” katanya ketika aku mundur sedikit, memberi jarak di antara kami. “Apa lo tidak bisa menahan sakit sebentar saja?”
Mendengar kalimat menjengkelkannya itu, apa yang aku rasakan tadi langsung buyar. Jantungku berdebar kencang, karena menahan emosi, bukan karena … entahlah. Aku tidak tahu mengapa aku deg-degan saat jarak kami begitu dekat.
Tiba di kamar, aku tidak berdiam diri memikirkan apa yang baru terjadi. Aku lebih baik tidur dan menghimpun tenaga untuk mengamen pada keesokan harinya. Aku tidak punya waktu untuk merasa sedih atau menyesali hidupku. Seluruh waktuku adalah uang.
Aku joging pada pagi harinya, lalu mengabaikan air mata yang mengalir membasahi wajahku. Tidak apa-apa. Badai pasti berlalu. Ini semua hanya ujian untuk menempa sekuat apa aku berusaha untuk meraih semua impianku. Aku tidak akan kalah di sini.
“Theo?” Aku terkejut melihat dia ada di depan rumah tempat tinggalku. “Apa yang kamu lakukan di sini?” Tidak ada orang lain selain dia dan sepeda motornya.
“Mandi dan ganti pakaian lo. Gue temani beraktivitas hari ini,” perintahnya.
__ADS_1
“Aku tidak—” kataku, menolak.
“Lo mandi sendiri atau gue yang mandikan?” ancamnya. Cowok ini benar-benar sudah tidak waras.
Tiga puluh menit kemudian, aku keluar dari rumah itu dan menemukan dia masih ada di tempatnya semula. Dia tidak mau masuk untuk menunggu aku di teras, maka aku tidak memaksa. Jika dia lebih suka berdiri berpanas ria, ya, silakan.
Dia memakaikan helm di kepalaku, lalu menolong aku duduk di jok belakang sepeda motornya. Aku segera menyebut tempat tujuanku ketika dia bertanya. Malas sekali mendengar dia mengancam lagi, jadi aku lebih baik jujur saja.
Taman itu sudah ramai dengan orang-orang yang berolahraga, maka aku mencari tempat dan mulai bermain biola. Aku tidak tahu Theo berada di mana dan tidak mau tahu juga. Aku fokus bermain untuk menghibur setiap orang yang mendengarkan.
“Makan,” kata Theo saat aku baru menyelesaikan sebuah lagu.
Aku menoleh ke arah kotak makanan yang dia sodorkan kepadaku, lalu melirik jam tangan. Ah, sudah jam makan siang. Aku menurut dengan duduk di batu yang ada di belakangku. Kami makan siang bersama di bawah naungan pohon rindang. Aku melihat beberapa pedagang lain juga makan sambil melayani konsumen mereka.
“Lo selalu melakukan ini pada setiap hari Minggu?” tanya Theo.
“Juga pada hari Sabtu,” jawabku. Dia mengangguk pelan. “Ada apa? Kamu malu punya pacar yang mengamen di depan banyak orang?”
“Gue lebih malu punya tunangan yang suka merundung orang yang lebih lemah,” ujarnya.
Dia menatap aku dengan saksama. Aku mengerutkan kening melihat dia hanya diam. Apa yang sedang dia pikirkan? Ah, mungkin dia mencari balasan yang cocok yang akan membuat aku jengkel kepadanya. Hanya itu yang selalu dia lakukan saat bersamaku.
Aku melanjutkan makanku dan terkejut ketika dia mendekatkan wajahnya. Aku tertegun, karena dia mencium pipiku. Dia menjauhkan wajahnya lagi dan kembali menyantap nasi kotaknya. Aku sampai mengedipkan mata, tidak percaya dengan apa yang baru terjadi.
Dia tadi benaran mencium aku?
“Mengapa kamu—” tanyaku ingin tahu.
“Lo sudah selesai makan?” Dia melihat nasi kotakku yang sudah kosong. “Sini, biar gue yang buang kotaknya.” Tanpa menunggu responsku, dia mengambil kotak itu dan pergi.
Aku hanya bengong melihat sikap anehnya itu. Tidak bisa melihat wajahnya dari belakang, aku tidak tahu ekspresinya setelah mencium aku tadi. Aku memegang pipi kiriku, pasti warnanya merah sekali karena aku merasakan mukaku panas.
__ADS_1
Dia tidak hanya memberi aku makan siang, tetapi juga makan malam. Anehnya, dia tidak protes sama sekali melihat aku bekerja seharian di tempat itu. Dia juga setia menemani dari aku datang hingga pulang. Sikap yang tidak pernah aku duga akan aku saksikan dari seorang Theo.
“Apa kamu tidak akan dimarahi mamamu menemani aku seharian begini?” tanyaku heran sambil mengembalikan helmnya kepadanya.
“Keluarga gue punya urusan masing-masing, kami tidak saling mencari tahu. Orang tua gue percaya sama apa pun kegiatan gue, jadi siapa yang akan marah?” jawabnya dengan santai.
“Ah, iya. Kamu laki-laki. Orang tua biasanya tidak peduli. Aku mana bisa pergi seharian begini tanpa pengawalan siapa pun,” keluhku. Lalu aku menyadari kesalahanku. “Ah, maksudku dahulu, bukan sekarang.” Aku bukan lagi Katelia, melainkan Amarilis.
“Siapa bilang gue tidak dikawal siapa pun?” katanya dengan santai. Kalimatnya itu membuat aku melihat ke sekitar kami. “Masuklah. Besok lo harus bangun pagi untuk mengikuti kuliah.”
Karena dia benar, aku menurut. Namun aku tidak bisa lelap saat berbaring di tempat tidur. Pipiku memanas mengingat kejadian tadi ketika dia menciumnya. Cowok yang tidak terduga itu sering membuat aku bingung harus menganggap hubungan kami serius atau sementara saja.
Mengapa dia tidak seperti laki-laki normal lainnya? Ah, iya. Bagaimana dia bisa bersikap normal. Aku saja tidak normal. Tubuh dan jiwaku tertukar. Mungkin terlalu lama bergaul denganku membuat dia juga jadi orang aneh. Dia tidak tahu harus menganggap aku Amarilis atau Katelia.
Aku tahu dia sengaja memanggil aku Katelia pada waktu-waktu tertentu. Terutama saat dia sedang menggoda aku. Yang dia katakan benar. Bagaimana rasanya seandainya aku mengetahui dia adalah tunanganku? Apakah kami akan menjalin hubungan layaknya orang pacaran pada umumnya atau hanya ribut seperti kebiasaan kami selama ini.
Tanpa aku sadari, air mata membasahi bantalku. Aku menutup mulut, menahan isak yang nyaris keluar dari mulutku. Penghuni kamar yang lain pasti sudah tidur. Aku tidak mau mengganggu mereka. Namun air mata itu tidak bisa aku bendung.
Aku merindukan Katelia. Walau aku sudah berusaha, tidak mudah bagiku menerima tubuh, takdir, dan identitas Amarilis menjadi bagian dari diriku juga. Aku juga lelah harus berhadapan dengan amarah Mama setiap kali kami bertemu. Aku sangat ingin memeluknya.
Kami sudah bertemu beberapa kali, tetapi yang dia lakukan hanya marah. Padahal selama aku hidup, Mama tidak pernah memukul aku. Dia sangat sayang kepadaku dan menjaga aku laksana kaca yang bisa pecah sewaktu-waktu. Sampai aku takut Mama tidak akan sayang lagi kalau tahu aku sangat jahat terhadap teman-temanku di sekolah.
Karena itu, kedua kakakku sangat iri kepadaku. Mama tidak segan marah dan menghukum mereka secara fisik, berbeda sekali denganku. Meskipun begitu, mereka tidak pernah menyakiti aku dengan sengaja, malah ikut menjaga aku dengan berlebihan. Aku merindukan mereka semua.
“Selamat pagi,” sapa Theo.
“Ya, ampun!” pekikku terkejut. Dia sudah berada di depan gerbang ketika aku keluar dari rumah.
“Lo baik-baik saja?” Dia menatap wajahku dengan saksama.
“Ah, iya.” Aku memalingkan wajah agar dia tidak memperhatikan keadaan mataku. “Ayo, kita pergi. Jangan sampai kita terlambat tiba di kampus.”
__ADS_1
Dia menahan tubuhku yang berniat mendekati sepeda motornya. Aku menolak saat dia memegang pipiku, berusaha untuk menghadapkan wajahku kepadanya. Sikapnya ini mulai membuat aku jengkel. Mengapa dia tidak mengerti aku sedang tidak mau dikasihani?
“Akhirnya, lo menangis. Gue pikir lo alien yang tidak punya perasaan.” Dia menatap kedua mataku. Aku mencibir mendengar label yang dia berikan kepadaku. “Gue tahu bagaimana mengatasi masalah lo, tetapi apa lo percaya sama gue?”