
“Kebiasaan lo enggak berubah, ya. Gue menunggu lama sampai jamuran. Apa lo salonan dahulu di dalam?” omelnya sambil mengembalikan ponselku.
Aku mengedip-ngedipkan mataku, masih tidak percaya dia ada di hadapanku. Aku melihat ke sekitar, mencari kamera tersembunyi. Apa aku sedang dikerjai oleh sebuah stasiun televisi? Zaman sekarang ada banyak sekali pemengaruh yang merekam apa saja demi konten.
“Lo cari apa? Ayo, cepat. Gue masih punya banyak kerjaan.” Dia mengambil alih troliku, lalu berjalan dahulu di depanku.
Aku mengikutinya masih percaya tak percaya. Negara ini sangat besar, bagaimana dia bisa ada di sini juga? Kami sudah satu tahun lebih tidak berkomunikasi, bagaimana dia bisa tahu aku akan ada di kota ini. Amerika Serikat sangat besar dan terdiri dari lima puluh negara bagian. Bagaimana bisa dia kebetulan ada di negara bagian yang ini?
“Ayo, masuk.” Dia membukakan pintu untukku, sedangkan seorang pria menolong memasukkan koperku ke dalam bagasi mobil.
Namun saat kami sudah dekat, aku tidak menurutinya. Kami berpisah terlalu lama dan aku hanya punya satu hal yang ingin sekali aku lakukan jika bertemu dengannya. Maka itu yang aku lakukan. Aku memeluk tubuhnya dengan erat ketika kami sudah dekat.
Aku menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam, mengingat wewangian baru yang dia pakai. Awalnya dia hanya diam, tetapi dia membalas pelukanku setelah beberapa saat. Aku tersenyum merasakan ciumannya di kepalaku. Dia masih menyukai aku.
Satu gerakan manis itu meyakinkan aku untuk melakukan hal kedua yang aku inginkan, maka aku melonggarkan pelukanku, lalu berjinjit. Dia malah berdiri tegak sehingga aku tidak bisa meraih targetku. Aku mencibir melihat tindakannya itu.
“Pelit,” keluhku.
“Masuk. Perjalanan kita hanya sebentar, tetapi gue sudah lapar.” Dia melepaskan pelukannya dan mendorong aku agar masuk ke mobil.
Dia benar. Kami hanya berada di dalam mobil sekitar dua puluh menit, tidak sampai setengah jam. Mobil berhenti di depan sebuah bangunan besar yang berderet dengan rapi dengan tetangganya. Sepertinya sebuah apartemen.
Sopir itu memberikan koperku kepada Theo, maka aku mengambil tas ranselku. Dia berjalan dahulu mendekati pintu yang dibuka dengan kode. Lobi gedung itu tidak besar, tetapi ada orang yang berjaga yang menyapa kami dengan ramah.
Dia mendekati sebuah elevator, maka aku mengikutinya. Melihat angka yang dia pilih, aku tidak sabar menunggu sampai kami tiba di lantai tujuan. Kami berada di lantai teratas gedung, jadi aku akan bisa melihat pemandangan di ketinggian.
__ADS_1
Pintu apartemen dibuka dengan kode juga, lalu dia membuka pintunya dan mempersilakan aku masuk dahulu. Dugaanku benar. Ini sebuah apartemen. Ruangannya luas tetapi sudah terbagi menjadi beberapa ruangan, ruang duduk, ruang makan, dapur, dan sofa santai dekat jendela.
Aku mengikuti dia berjalan mendekati pintu di sebelah kiri. Sebuah kamar lengkap dengan ranjang, nakas, lemari pakaian, bufet, juga meja belajar, kursi, dan rak buku di sisi serta atas meja. Aku lega melihat jendela besar yang ada di kamar itu.
“Theo, ini—” Aku menoleh ke arahnya, senang dengan kamar yang bagus itu. Namun aku tidak bisa melanjutkan kalimatku, karena dia mencium aku.
Setelah rasa terkejutku hilang, aku melingkarkan tanganku di badannya dan membalas ciumannya. Bibirnya masih selembut yang aku ingat. Usapan penuh sayangnya di rambutku masih sama. Dampak sentuhannya pun tetap memacu jantungku berdebar seirama dengan jantungnya.
Baru beberapa detik, dia sudah menjauhkan dirinya dariku. Aku mengeluh pelan, belum mau ciuman itu diakhiri. Aku tahu aku bersikap kekanak-kanakan, tetapi bukan salahku kami berpisah sangat lama. Wajar aku rindu dengan calon suami, ah, pacar, ah, tidak. Aku tidak tahu apa hubungan kami.
“Gue sudah bilang, gue lapar.” Dia menggandeng tanganku dan mengajak aku keluar dari kamar.
Kami keluar dari gedung itu, lalu berjalan kaki beberapa menit. Dia berbelok ke kanan dan ada begitu banyak toko di kanan dan kiri kami. Aku memperhatikan sekitarku dan mengingat toko apa saja yang kami lewati. Bisa saja aku akan membutuhkannya nanti.
“Apa kamu juga tinggal di gedung tadi? Apartemen nomor berapa?” tanyaku setelah pelayan pergi, membuka pembicaraan.
“Gue tinggal di tempat yang sama dengan lo,” jawabnya, mengejutkan aku.
“Apa? Kita tidur satu kamar?”
“Lo pikir gue mau tidur sama lo? Gue tidur di kamar sebelah, tetapi di apartemen yang sama. Itu jauh lebih hemat daripada lo dan gue tinggal di apartemen yang berbeda.”
“Tapi, laki-laki dan perempuan ….”
“Tidak ada larangan di sini. Semuanya bebas. Gue juga baru pindah. Sebelumnya, gua tinggal sendiri. Supaya lo enggak satu apartemen dengan orang yang menjengkelkan, jadi gue mengalah.”
__ADS_1
Orang yang menjengkelkan. Dia adalah juara satunya dalam hal itu. Mana ada orang di dunia ini yang lebih menyebalkan dari dia? Namun aku memilih diam dan tidak menanggapinya. Idenya boleh juga. Daripada aku menyesuaikan diri lagi dengan orang baru, tinggal bersamanya adalah solusi yang baik.
Dia meletakkan sebuah notes dan pulpen di depanku, lalu untuknya juga. Aku mengerutkan kening melihat buku baru yang masih kosong dan alat tulis yang dia letakkan itu.
“Kita akan tinggal bersama, jadi kita perlu punya beberapa kesepakatan. Gue sebentar lagi sibuk dengan tesis dan butuh ketenangan.”
“Untuk apa ditulis segala? Aku tidak akan macam-macam. Yang akan aku lakukan di apartemen hanya makan, tidur, dan belajar.”
“Lo enggak mandi dan mengeringkan rambut dengan mesin yang berisik itu?” tanyanya.
“Aku hanya akan keramas setelah selesai beraktivitas, jadi aku tidak butuh pengering. Theo, aku tidak akan mengadakan pesta atau apalah di apartemen itu. Kamu tenang saja.” Aku menggeser buku dan pulpen itu ke arahnya lagi.
“Tulis,” perintahnya. “Gue butuh bukti kalau lo pernah berjanji tidak akan berisik di apartemen kita.” Dia segera menulis entah apa di bukunya.
Kita. Aku tersenyum mendengar kata itu. Kami akan tinggal bersama di apartemen bersama, bukan apartemen dia atau aku. Dua tahun berpisah dan menahan rindu serasa tidak menyakitkan lagi. Kami akan bersama mulai dari hari ini.
Aku tidak tahu sampai kapan, tetapi aku akan berada di kota ini selama dua tahun. Theo sudah satu tahun dahulu, jadi dia akan tamat dalam waktu satu tahun lagi. Apakah dia masih di sini ketika aku menyelesaikan satu tahun terakhirku?
“Kamu kelihatannya tidak senang bertemu lagi denganku?” tanyaku penuh selidik.
“Lo mau gue memeluk lo lalu lompat-lompat di tempat karena kita bertemu lagi?” katanya sarkas.
Gambaran itu terdengar akrab. Siapa yang dia maksud? Aku menganga mengingat siapa saja yang aku temui selama beberapa hari terakhir. Aku melihat ke sekeliling kami, mencari sosok yang sudah aku hafal. Mereka selalu pandai bersembunyi, jadi aku tidak heran aku tidak menemukan mereka.
“Kamu melihat aku bertemu Matt dan Sonata?” tanyaku tidak percaya. “Jadi, selama kita berpisah, kamu masih mengawasi aku dari jauh?”
__ADS_1