Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
189|Urusan Suamiku


__ADS_3

“Apa yang Mama bahas dengan lo kemarin?” tanya Theo.


Kami sedang sarapan bersama. Dia sangat bijak menunggu sampai aku menghabiskan satu porsi nasi goreng sebelum bertanya. Aku tahu dia sudah menunggu sejak semalam, tetapi menahan diri untuk melakukannya. Dia pasti tidak mau aku kesulitan tidur bila membahasnya saat itu juga.


“Daisy pasti sudah cerita.” Aku melirik pengawalku yang selalu ada di dekatku itu.


“Gue mau dengar langsung dari mulut lo,” desaknya.


“Tante meminta aku meninggalkan kamu dan dia memberi waktu selama dua minggu. Jika aku tidak melakukannya, maka dia sendiri yang akan memisahkan kita,” jawabku dengan santai.


“Dua minggu. Pas sekali. Mungkin mereka mau beri kejutan pada hari ulang tahun gue.” Dia kembali melanjutkan makannya.


Benar juga. Dua minggu itu bertepatan dengan ulang tahun Theo. Hm. Beberapa kali dia berulang tahun, hal terbesar yang aku tahu adalah mereka mengumumkan pertunangannya dengan Chika. Acara dengan Venny dilakukan setelah Matt wisuda dan itu bulan Agustus.


Apa mungkin mereka akan memilih wanita lain yang sederajat untuk disandingkan dengan Theo? Bagaimana bisa? Orang-orang pasti sudah tahu aku adalah istri sahnya. Walau beritanya tidak heboh, aku tidak percaya awak media tidak menciumnya. Mereka diam sudah pasti karena satu hal, Om Azarya membayar mereka untuk tutup mulut.


Sentuhan pada tanganku membuyarkan lamunanku. “Jangan dipikirkan. Mereka tidak akan bisa memisahkan kita. Gue janji.” Theo menatap aku dengan serius.


Aku tersenyum, mengangkat tangannya itu, lalu mengecupnya. “Aku juga janji. Mereka tidak akan bisa memisahkan kita.” Dia membelai pipiku, lalu mengajak aku menghabiskan sarapan kami.


Aku mengantar dia sampai ke teras seperti biasanya. Dia menghadiahi aku dengan cîúman singkat yang membuat aku berat melepasnya pergi. Perempuan bodoh sekalipun tidak akan melepas pria tampan, kaya raya, cerdas, plus pencium hebat seperti dia. Tante Ruth tidak tahu rasanya, sih.


Perasaan bersalah menyusup di dadaku melihat dia pergi dengan sepeda motornya, tetapi aku segera menepisnya. Aku tidak berbohong. Aku memang pergi menemui Kakak untuk membahas pekerjaan sehingga membutuhkan mobil. Tidak mau berurusan dengan Rahma agar aku tidak keceplosan, aku langsung pergi dari tempat itu.


Tujuanku berikutnya yang tidak Theo ketahui. Aku yakin dia sudah mengetahuinya sekarang dari ekspresi Daisy yang sedang bicara dengan seseorang lewat ponselnya. Aku tidak bisa menahan rasa penasaran terlalu lama. Aku mau tahu apa yang Pak Norman inginkan.


“Terima kasih sudah bersedia datang menemui aku,” sapa pria itu, tetapi aku mengabaikan uluran tangannya. “Ah, silakan duduk. Aku sudah memesan makanan, silakan kamu pesan bagianmu.”


“Tidak, Pak. Terima kasih. Bapak langsung bicara saja,” tolakku, maka pelayan yang berdiri di sisiku pamit. Nyawaku dalam bahaya, jadi, lebih cepat kami berpisah, lebih baik.


Dia tertawa kecil. “Ini pasti ada hubungannya dengan suamimu. Aku juga heran kamu akhirnya mau menemui aku setelah beberapa kali aku bujuk, kamu menolak.”

__ADS_1


“Pak.” Aku menatapnya dengan serius agar berhenti berbasa-basi.


“Hentikan apa pun yang sedang kamu lakukan,” katanya. Dia melipat kedua tangannya di atas meja dan membalas tatapan seriusku. “Hiduplah seperti biasanya. Kamu selama ini menjauhi media sosial, tetap lakukan itu. Aku tahu kamu sengaja berbagi kemesraan untuk memanas-manasi istriku.”


Aku mencerna ucapannya sesaat, lalu tertawa kecil. “Apa Bapak tidak salah bicara? Yang seharusnya Bapak nasihati itu istri Bapak, bukan saya. Hanya Theo yang punya hak mengatakan apa yang boleh dan tidak boleh saya lakukan.”


“Komunikasi tidak bisa dilakukan hanya satu arah. Aku bicara dengan istriku, tetapi juga perlu bicara denganmu. Aku tahu dia sudah berbuat jahat kepadamu semasa kalian sekolah. Bukankah dia sudah meminta maaf? Mengapa kamu masih saja mengusik hidupnya?”


Aku tertawa terkejut. “Apa? Dia bilang, dia sudah meminta maaf kepada saya? Kapan, Pak?” Aku tersenyum melihat dia ikut kaget. “Chika itu orang yang manipulatif. Wajahnya bisa saja terlihat tulus saat bicara, tetapi Bapak perlu cek ulang setiap pengakuannya.


“Apa menurut Bapak, saya akan mengusik hidup seseorang yang tidak punya masalah dengan saya? Dia mengajak Bapak bekerja sama dengannya untuk memisahkan saya dari Theo. Apa Bapak sudah lupa dengan itu? Pak, Chika akan melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginannya, termasuk dengan berbohong. Jadi, urus saja istri Anda. Apa yang saya lakukan, biar itu jadi urusan suami saya.”


Pantas saja dia mau menikah dengan Chika. Orang tuanya juga mudah saja memberi restu mereka. Padahal skandalnya dengan Theo tidak main-main. Puluhan orang mengaku sebagai korbannya saat di sekolah maupun kampus. Hanya segelintir orang di tempat kerja yang berani mengaku pernah dirundung. Aku yakin yang lainnya tidak berani, karena takut dipecat.


Mungkinkah mereka memilih untuk menikah dan mengadakan resepsi di Medan untuk menghindari kejaran wartawan? Berita mengenai pernikahan mereka memang tidak heboh, hanya sambil lalu. Yang viral itu justru aku dan keluargaku di media sosial. Namun wartawan kurang tertarik atau bisa jadi Om Azarya yang lagi-lagi membayar mereka agar tidak memberitakannya.


Aku jadi teringat dengan ucapan Tante Ruth. Semua berita tentang aku bisa baik kalau mereka mau. Apa yang ditampilkan di publik bisa dibeli, jadi yang punya uang yang punya berita. Theo menikah dengan yang sederajat juga bisa bawa reputasi buruk kalau berita bohong disebarkan. Apa dia pikir aku tidak tahu uang bisa membeli kebenaran?


Pada malam itu, Theo pulang terlambat seperti biasanya, tetapi aku sudah siap untuk menghadapi amarahnya. Dia memandang aku dengan tatapan dingin yang sedetik kemudian berubah ketika matanya turun menatap tubuhku. Dia bisa melihat dengan jelas setiap lekukan di balik kain tipis dan transparan yang aku kenakan.


“Dasar curang,” umpatnya sebelum mendekati aku.


Walau dia sedang marah, dia memperlakukan aku dengan lembut. Gaya kami bercinta berubah total sejak aku mengandung. Anak kami benar-benar beruntung mendapatkan seorang ayah yang sangat peduli dan sayang kepadanya, bahkan sebelum dia lahir.


Aku tidur pulas malam itu dan tertawa mendapati aku dalam keadaan terbungkus selimut pada pagi hari. Oh, Tuhan. Sampai kapan dia menggunakan cara ini untuk menghukum dan mengurung aku di rumah? Entah mengapa, aku sedikit pun tidak merasa kesal.


“Berani sekali lo menemui laki-laki lain di belakang gue.” Dia keluar dari ruang pakaian dengan baju rapi. Penampilannya itu membuat aku menginginkan dia lagi.


“Kami hanya bicara,” balasku.


Dia menyodorkan segelas air kepadaku. Aku menurut dengan meminumnya menggunakan sedotan. “Lagi. Sekalian kumur mulut lo,” perintahnya. Meski tidak mengerti, aku menurutinya.

__ADS_1


“Pak Norman bilang—” kataku usai minum, berusaha untuk menjelaskan.


Namun aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku itu karena dia menutup mulutku dengan bibirnya. Ah, jadi ini maksudnya menyuruh aku minum dan berkumur. Aku membalas ciúmannya dengan senang hati. Sayangnya, aku tidak bisa memeluk dia. Bêrciúman dalam keadaan terikat sangat tidak enak.


Dia menjauhkan wajahnya, lalu menatap aku dengan kening berkerut. “Kenapa lo enggak marah?”


Aku tertawa kecil. “Mengapa aku harus marah? Aku suka dîciúm.”


“Lo dalam keadaan terikat.” Dia melihat selimut yang menutupi badanku. “Biasanya lo teriak minta dilepaskan.” Dia terlihat manis sekali ketika bingung.


“Jika suamiku menganggap perbuatanku pantas untuk dihukum, maka aku akan menjalaninya tanpa mengeluh.” Aku memasang wajah memelas.


“Ketemu laki-laki lain buat lo enggak waras.” Dia pergi begitu saja, keluar kamar tanpa mengatakan apa pun. Aku tertawa kecil.


Setelah dia pergi ke kantor, aku meminta pelayan untuk menelepon Kak Jericho. Dia datang satu jam kemudian dan membantu melepas ikatanku. Mudah. Jadi, aku tidak mau buang tenaga dan waktu dengan marah-marah kepada suamiku.


“Perempuan itu tidak mengekori Kakak ke rumah ini?” sindirku. Kami menuruni tangga menuju ruang makan. Aku lapar sekali.


“Sabar. Sebentar lagi juga kamu tahu rencanaku,” kata Kakak dengan santai. Dia merangkul bahuku. “Bagaimana kabar keponakanku? Apa dia buat ulah beberapa hari ini?”


“Tidak. Dia sangat baik. Persis seperti mamanya.” Aku mengusap perutku.


“Oh, Tuhan. Kalau dia seperti kamu, habislah aku,” keluhnya. Aku tertawa geli.


Semua orang sepertinya punya rencana dan kejutan untuk satu sama lain. Yang paling mengganggu adalah rencana yang sudah disiapkan oleh Tante Ruth. Aku penasaran apa yang akan dia lakukan kepadaku atau Theo dalam dua minggu ke depan.


Aku tahu bahwa suasana tenang dan damai ini hanya ilusi. Mereka diam bukan berarti mereka setuju dengan pernikahanku dan Theo. Mereka tidak menghalangi terbitnya akta perkawinan kami juga bukan karena mereka merestui hubungan kami. Namun karena mereka sudah punya rencana.


Hari itu aku sedang sibuk mengatur jadwal Kakak ketika ponsel pribadiku bergetar. Aku melirik layar dan melihat ada pesan baru dari suami kesayanganku. Aku membuka dan membacanya. Ternyata ada undangan makan malam bersama Edrick dan Nisa.


Hebat juga Theo bisa mendekati Edrick secepat ini. Kalau makan malam untuk urusan kerja, itu hal biasa. Namun bersama pasangan, maka dia sudah menganggap suamiku sebagai temannya. Kami selangkah lebih dekat ke tujuan dari misi kami.

__ADS_1


Theo menyuruh sopirnya menjemput aku dahulu. Jadi, saat dia selesai bekerja, aku bisa menjemput dia dan kami langsung ke lokasi restoran. Dengan begitu, kami tidak perlu bergelut lama menghadapi padatnya lalu lintas usai jam kantor.


Pria itu sudah menunggu bersama Nisa. Aku cukup terkejut dia tidak memilih satu ruangan, tetapi bergabung dengan tamu lain di ruang makan. Dia menyambut kami dengan ramah, membuat aku tidak enak. Apa kami akan sanggup membuka skandal tunangannya dan menghancurkan hatinya?


__ADS_2