Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
150|Ini Nyata


__ADS_3

Aku mengucek-ucek mataku, tetapi dia tetap ada di sana. Aku kadang-kadang berhalusinasi dan menemukan dia ada di dapur sedang memasak atau di sofa sedang memperhatikan tabletnya dengan serius. Namun yang ini nyata. Dia tidak hilang setelah aku mengusap mata.


“Theo!” Aku segera berlari mendekat dan melompat ke tubuhnya.


“Apa yang lo—” Dia menangkap tubuhku, tetapi dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Karena aku mencium bibirnya yang sangat aku rindukan itu.


Iya. Ini nyata! Bibirnya yang lembut, aroma kolonyenya yang maskulin, pelukannya yang hangat. Theo kembali! Dia datang ke sini untukku! Terima kasih, Tuhan. Akhirnya, dia bisa mengingat semua dan pulang kepadaku! Aku tidak akan menyia-nyiakan dia lagi.


Dia membingkai pipiku dan menjauhkan aku darinya. “Lo ini siapa!? Berani sekali lo melakukan ini sama gue! Turun!” hardiknya. Matanya menatap aku dengan tajam.


“A, Theo? Ini aku, sayang.” Aku melepaskan pelukanku dan meluncur turun dari tubuhnya.


“Sayang?” Dia mengerutkan kening dan memandang tubuhku, lalu melihat wajahku. “Oh. Lo yang bernama Amarilis. Apa yang terjadi dengan diri gue dahulu? Bagaimana bisa gue suka sama cewek jelek kayak lo? Mata lo kebesaran, hidung lo pesek, bibir lo ketebalan, belum lagi lo cebol.”


Dia menutup mata sambil mengusap wajahnya. “Theo, Theo, masa depan keturunan kita bisa hancur gara-gara lo.” Dia membuka mata dan memandang aku dengan dagu terangkat. “Heh, lo pelet gue, ya? Ini junior gue, kok, bereaksi sama lo? Dekat dengan wanita lain dia malah diam sampai gue pikir gue împöten. Tolong, cabut susuk lo.”


Aku tertawa terkejut mendengar semua hinaannya itu. “Matt benar. Mulut lo tajam sekarang.”


“Jadi, lo kenal juga dengan Matt? Sedekat apa lo dengan adik gue? Apa lo juga pelet dia?” tuduhnya tanpa perasaan. “Mana lo seenaknya saja mencium gue. Apa lo mau gue lapor polisi?”


Dia belum mengingat aku. Lalu apa yang dia lakukan di sini? Dia juga memasak. Hal yang mulai Theo lakukan ketika dia hidup sendiri di Amerika. Jika dia masih sakit, apa alasan dia datang? Apa Tante Ruth tidak khawatir melihat putranya yang hilang ingatan ini berkeliaran di negeri asing?


“Ada apa? Kenapa lo lihat gue kayak begitu?” tanyanya sinis. Terdengar bunyi benda bergetar. “Sial. Lama-lama gue bisa gila mengurus benda ini!” Dia mendekati konter dan mengambil ponselnya.


Lo? Matt bilang, ponsel Theo hilang. Dari mana dia menemukan gadget itu? Kepalaku sakit melihat semua hal yang membingungkan ini. Aku mendekati sofa, lalu duduk. Sebaiknya aku tanya Matt saja. Berpikir sendiri seperti ini hanya membuat aku ikut gila.


“Kenapa Theo ngebet banget menikahi lo?” tanya Theo seolah sedang membicarakan orang lain.


“Apa?” tanyaku tidak mengerti. Aku terpaksa membatalkan niatku menelepon Matt.


Dia menunjukkan layar ponselnya kepadaku. Dengan jarak di antara kami, apa dia pikir aku bisa membacanya? Mengerti masalahku, dia mendekat dan duduk di sisiku. Barulah aku bisa membaca tulisan yang tertera pada layar itu. Menikah dengan Amarilis.


Oh, Tuhan. Dia sampai membuat pengingat khusus agar tidak lupa dengan rencana pernikahan kami pada tahun ini. Aku semakin merasa bersalah setiap kali rahasia demi rahasia terungkap. Bagaimana kami bisa menikah? Aku tidak tahu caranya.


“Alarm ini tidak berhenti berbunyi sejak awal bulan. Dia melindunginya dengan kode dan gue enggak ingat sama sekali. Gue nyaris gila karena pengingat ini.” Dia meletakkan ponselnya di atas meja. “Jadi, apa yang membuat Theo ngebet menikah dengan wanita sejelek lo?”

__ADS_1


“Aku tidak jelek. Apa menurutmu, kamu akan jatuh cinta kepada perempuan yang tidak menarik?” Aku tidak tahan lagi dengan semua hinaannya itu.


“Seharusnya enggak,” jawabnya cepat. Dia mengamati aku dengan saksama.


“Kita bicara nanti saja. Kepalaku sakit.” Aku berdiri tetapi dia menahan dengan memegang lenganku.


“Tutup mata lo,” perintahnya.


“Kamu mau apa?” tanyaku curiga.


“Tutup mata lo,” tukasnya.


Aku merapatkan bibirku, menahan diri untuk melawan. Aku memejamkan mataku dan menunggu dengan tidak sabar apa yang hendak dia lakukan. Tangannya yang ada di lenganku berpindah ke pinggangku, lalu tangannya yang lain membelai pipiku. Jantungku mulai berdebar lebih cepat.


Saat merasakan bibirnya di bibirku, aku menahan diri sekuat tenaga untuk tidak mendorong dia menjauh dariku. Walau tubuhnya adalah Theo, dia tidak mengingat aku. Bahkan caranya mênciúm juga berbeda. Dia mendadak menjadi pemuda ingusan yang belum punya pengalaman apa pun.


Dia mengakhiri ciumannya. “Kenapa lo hanya diam? Apa cara gue salah?”


Tanpa membuka mata, aku meraih bibirnya. Tidak apa-apa. Dia mengingat aku atau tidak, dia adalah Theo yang aku sayang. Karena dia ingin belajar, maka aku mengajari semua yang pernah dia ajarkan kepadaku dalam ciúman kami.


“Pantas saja Theo suka banget sama lo,” katanya pelan. “Baiklah. Bukti ini sudah cukup.”


Syukurlah. Aku bisa lepas sejenak dari keanehan ini. Dia melepaskan pelukannya, lalu berdiri. Aku merapikan penampilanku sebelum bangkit dari dudukku. Luar biasa. Dia bisa berjalan, sedangkan kakiku goyah akibat bercumbu dengannya.


“Lo mau ke mana?” tanyanya saat aku melangkah menjauhinya.


“Ke kamar. Aku mau tidur.” Aku tidak berhenti berjalan.


“Lo bisa tidur di pesawat. Ayo, cepat. Kita harus pergi.”


Aku menghentikan langkah dan membalikkan badanku. “Pergi? Ke mana?” tanyaku bingung.


“Lo dari tadi enggak menyimak apa pun, ya?” Dia mendekat, lalu meraih tanganku. “Kita harus cepat.”


Kami keluar dari apartemen dan kedua pengawalnya sudah menunggu di depan pintu. Tidak seperti biasanya, mereka mengekori kami dari unit sampai ke mobil. Apa mereka melakukan ini karena Theo hilang ingatan atau prosedur kerja mereka berubah karena penembakan itu?

__ADS_1


Aku tidur selama dalam perjalanan, jadi aku belum sepenuhnya sadar ketika kami tiba di bandara. Padahal jarak apartemen dan tujuan kami tidak jauh. Dia menggandeng tanganku dan setengah menarik aku memasuki bagian pemeriksaan.


Dia tidak membawa koper, apa kami tidak akan menginap di kota tujuan? Seorang pria menyambut kedatangan kami, lalu menuntun kami melewati tempat yang tidak ramai. Kami mau ke mana? Arah yang kami lalui tidak dilewati oleh penumpang lainnya.


Begitu kami melangkah di jembatan menuju kabin pesawat, aku mengerti. Dari ukurannya, itu bukan pesawat komersial, melainkan jet pribadi. Aku baru tahu Keluarga Husada punya pesawat terbang sendiri. Aku jadi tidak percaya diri berada di sisinya.


“Akhirnya! Mengapa kalian lama sekali!?” keluh orang yang tidak aku duga-duga ada dalam kabin.


“Matt!?” seruku tidak percaya.


“Aku sudah bilang, mereka pasti bermesraan dahulu sebelum ke sini.” Antonio tertawa kecil diikuti oleh salakan Buddy.


“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanyaku bingung.


“Apa Kakak pikir ortu kami akan mengizinkan Theo terbang ke sini seorang diri dengan kondisinya itu?” tanya Matt retorik.


“Duduk. Pesawat akan segera lepas landas,” perintah Theo.


Aku berniat mendekati Matt, tetapi dia menahan aku untuk duduk di dekatnya. “Aku mau di sana.”


“Lo pacar dia atau gue?” tantangnya. Dia memasang sabuk pengamanku sebelum aku menjawab.


Terdengar pengumuman dari pilot yang memperkenalkan dirinya dan seluruh krunya. Aku pun tidak bisa berpindah tempat duduk. Karena kepalaku benar-benar sakit, aku tertidur setelah beberapa saat pesawat lepas landas. Apalagi suhu di kabin sangat nyaman, membuat aku mengantuk.


Ketika bangun, aku sedang berbaring di tempat tidur. Aku berusaha untuk mengingat aku berada di mana, karena itu jelas bukan ranjangku. Setelah mengingat segalanya, aku mendesah pelan. Theo. Aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga dia datang, juga tidak tahu kami akan ke mana.


Aku keluar dari ruangan itu dan menemukan mereka sedang makan. Seorang pramugari menyapa aku dan menanyakan makanan yang aku mau. Karena aku suka semua jenis makanan, aku menjawab menu yang tidak butuh banyak waktu untuk menyiapkannya.


“Syukurlah, kita masih bisa mengejar jadwal kalian.” Antonio melirik jam tangannya. “Sebaiknya, kita ke hotel dahulu. Satu tim sudah menunggu di sana.”


“Jadwal? Jadwal apa?” tanyaku bingung.


Kami baru saja mendarat dan mereka terus membicarakan hal yang tidak aku pahami. Mobil sudah menunggu di tempat aman untuk jemputan. Sebentar saja, kami sudah tiba di hotel dan tim yang Antonio maksud adalah penata rias dan rambut.


Begitu Daisy mendekatkan sebuah gaun untuk aku kenakan, aku memandang Antonio dan Matt dengan mata membulat. “Ini pasti lelucon. Kalian tidak serius menyuruh aku melakukan ini, ‘kan?”

__ADS_1


__ADS_2