Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
214|Menepati Janji


__ADS_3

Rahma menjalani hidup yang lebih baik. Walau kami tidak bertemu lagi, kami tetap berteman di media sosial. Jadi, kami saling mengetahui perkembangan hidup masing-masing. Dia membantu ayahnya dengan bekerja di hotel mereka yang ada di Medan. Hidupnya kini lebih tenang dan damai tanpa mengejar cinta Kak Jericho lagi.


Nisa sudah menjalani sidang dan mendapatkan hukuman penjara selama enam bulan. Itu tidak ada apa-apanya dibandingkan reputasinya yang hancur karena pêrzinàan yang dia lakukan dengan pria yang bukan suaminya. Jadi, saat dia bebas pada bulan Desember nanti, dia belum bisa hidup tenang.


Orang tuanya ikut menuntut perbuatannya itu bersama Edrick. Mereka telanjur malu atas perbuatan putri mereka yang diketahui oleh publik. Walau tidak bisa memutuskan hubungan darah, mereka bersumpah akan menolak kedatangannya ke rumah mereka. Nisa benar-benar sendirian sekarang.


Chika masih menjadi seorang Chika. Dia tidak berhenti berusaha untuk memperbaiki citra dirinya yang sudah rusak itu dengan postingan positif. Beberapa kali dia melakukan aksi sosial yang tidak hanya diposting secara pribadi, tetapi juga diliput oleh media.


Aku tidak peduli apa yang dia lakukan dalam hidupnya, selama dia menjauh dariku. Aku masih suka menggoda dia dengan mengunggah fotoku bersama Theo di media sosialku. Foto terakhirku yang disukai begitu banyak orang adalah saat mengumumkan kehamilanku.


Kami dibanjiri ucapan selamat dari teman-teman daring. Mereka yang mengenal Theo pun berebut menambah akunku sebagai teman. Aku terpaksa membuat akun kedua demi menerima mereka jadi teman daringku. Berbeda dengan aku yang sebelumnya, sebagai istri Theo, kami membutuhkan semua bentuk promosi positif demi kemajuan usahanya juga.


Rencanaku berjalan lebih dari yang aku siapkan. Maka sudah waktunya bagiku untuk mengucapkan selamat tinggal dengan benar. Bila aku masih Katelia, aku tidak akan bisa menikah dengan Theo. Reputasiku juga akan sama seperti ketiga temanku karena kenakalanku semasa sekolah. Dan yang paling ajaib, aku mungkin tidak akan pernah merasakan menjadi seorang ibu.


Jadi, aku harus melakukan ini. “Ayo, aku sudah siap.”


Tanpa ada sedikit pun keraguan, aku melangkahkan kakiku memasuki tempat pemakaman umum itu. Theo memegang tanganku di sisi kiriku, sedangkan Bunda di sebelah kananku. Kak Nolan dan Kak Jericho berjalan di depan. Padahal aku tahu di mana posisi makam Katelia, karena aku hadir pada hari pemakaman. Jika aku tidak melakukan itu, aku tidak akan percaya tubuhku sudah tiada.


Kakiku semakin berat melangkah semakin dekat dari kuburannya. Entah mengapa aku takut sekali jiwaku akan meninggalkan tubuh ini begitu berada di dekat rumah yang sebenarnya. Aku sangat berharap hal itu terjadi ketika Amarilis baru meninggal, karena tubuhku masih utuh.


Setelah tahun demi tahun, aku tidak mau membayangkan seperti apa bentuk badanku itu sekarang. Lebih tepatnya, delapan tahun lima bulan tiga hari sudah jasadku berada di dalam tanah. Pasti sudah tinggal tulang-belulang. Aku menghentikan langkahku sejenak untuk menenangkan diri.


“Sayang, lo tidak harus melakukan ini,” kata Theo dengan nada khawatir.


“Aku tidak apa-apa. Aku hanya takut sesuatu yang buruk terjadi pada jiwaku,” akuku.

__ADS_1


“Tidak akan terjadi apa-apa, Nak.” Bunda memegang tanganku dengan kedua tangannya. “Apa yang menimpa kamu ini tidak akan terulang. Amarilis sudah pergi dan tubuh Katelia sudah tinggal tulang. Lagi pula, kalian bertukar tubuh di dalam air, bukan di darat.”


“Bunda benar,” gumamku. Aku kembali menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Baik. Aku benar-benar sudah siap sekarang.”


Aku tidak membiarkan ketakutanku menang dan terus berjalan sampai aku berdiri di depan nisan itu. Aku membaca nama pada batu pualam hitam yang indah itu. Katelia Wulan Wibowo. Air mata jatuh membasahi pipiku melihat nama itu terukir di sana. Delapan tahun, tetapi aku masih bersedih setiap mengingat Katelia sudah tiada. Orang-orang mengenal aku sebagai Amarilis.


“Maafkan aku, Amarilis. Aku sangat bersalah kepadamu. Perbuatan jahatku itu telah membuat aku dan keluargaku tidak berhenti mengalami kemalangan. Mungkin kami akan terus mengalami ini karena aku tidak sempat memohon maafmu sebelum kamu pergi untuk selamanya.”


Aku tidak bangga dengan semua yang sudah aku lakukan terhadapnya selama tiga tahun kami duduk di bangku SMU. Aku menghina fisiknya, menyakiti tubuhnya, bahkan merendahkan keluarganya yang kini justru jadi bagian dari hidupku. Ironis.


“Tidak, Nak.” Mama memeluk aku dari belakang. “Riris bukan anak yang pendendam. Aku percaya dia sudah memaafkan semua kesalahanmu. Sama seperti kami juga sudah memaafkan kamu. Hal buruk yang kita alami bukan karena perbuatanmu. Selama masih ada orang jahat, maka kita akan ditimpa kemalangan, tidak peduli sebaik apa pun kita memperlakukan mereka.”


“Mamamu benar. Kamu sudah membayar mahal semua perbuatanmu dahulu. Jangan menyalahkan diri lagi, Nak. Kamu menyatukan dua keluarga yang berbeda status adalah keajaiban yang hanya bisa kamu dan Amarilis lakukan,” hibur Papa. Hercules yang berdiri di sisinya mengangguk.


“Jangan bahas status,” tegur Bunda. “Kalian pengusaha sukses sekarang. Tingkat sosial kita sudah sama. Beberapa tahun lagi aku yakin, kalian punya cabang yang lebih banyak dari hotel kami.”


Semoga ini membantu dia beristirahat dengan tenang dalam keabadian. Karena hal ini menolong aku menjalani hidup lebih damai. Perasaan bersalahku berkurang, terutama karena keluarga Amarilis sudah memaafkan dan menerima aku sepenuhnya menjadi bagian dari mereka.


Kami membersihkan makam itu, lalu mengisi potnya dengan bunga segar yang kami bawa. Ayah dan Bunda sangat baik telah memberikan makam yang sangat cantik. Selama aku hidup, mereka selalu memberikan yang terbaik untukku. Ketika aku pergi pun, mereka masih melakukan hal yang sama.


Aku melangkah dengan ringan saat pergi dari tempat itu. Bunda dan Mama bercerita mereka rajin ziarah untuk membersihkan tempat itu. Awalnya, mereka datang kapan saja mereka sempat, tetapi selanjutnya, mereka janjian untuk berkunjung bersama.


Orang-orang yang mengenal kami pasti melihat tingkah kami sangat aneh. Yang dimakamkan di sini adalah Katelia, tetapi Mama justru sama rajinnya berziarah dengan Bunda. Padahal Katelia adalah anak yang sudah jahat terhadap putrinya. Ini akan menjadi rahasia yang kami bawa màtî.


“Nah, kita ke mana sekarang?” tanya Kak Jericho sambil menepuk perutnya.

__ADS_1


“Kamu saja yang pilih tempat,” kata Ayah.


“Sungguh?” ucap Kak Jericho senang. “Oke. Kita makan di restoran milik Husada saja supaya gratis!” Mertuaku tertawa mendengar ucapannya itu.


Usai makan siang, kami meneruskan perjalanan ke tujuan keduaku. Lima jam perjalanan darat itu aku lewatkan dengan tidur pulas. Saat tiba, hari sudah gelap, jadi kami langsung ke penginapan. Ayah dengan bangganya menunjukkan hotel miliknya itu kepada rombongan kami.


Kami makan malam setelah menaruh barang-barang kami di kamar. Suasana malam minggu sangat terasa dengan penuhnya ruang makan tersebut. Aku turut bahagia atas keberhasilan keluargaku menjaga hotel kami tetap ramai pada akhir pekan. Padahal ada banyak sekali saingan di sekitarnya.


“Lo yakin siap untuk melakukan ini?” tanya Theo saat kami sudah ada di kamar.


“Aku harus melakukannya, sayang. Ini adalah hal terakhir yang masih mengganjal. Aku tidak mau selamanya merasakan ini. Sudah saatnya bagiku untuk menghadapi ketakutanku sendiri. Delapan tahun adalah waktu yang sangat lama tidak bisa melakukan hal yang paling aku suka.”


“Lo bisa mencari hobi yang lain, Kat. Ada ratusan, tidak, ribuan aktivitas yang ada yang bisa lo coba. Gue enggak percaya tidak ada satu pun yang akan cocok dengan selera lo,” bujuknya.


“Sayang,” aku membingkai wajahnya dengan kedua tanganku, “aku janji aku akan baik-baik saja. Jika aku merasa tidak nyaman, aku akan mundur. Aku janji aku tidak akan memaksakan diri.”


Dia menatap aku tanpa emosi. “Baik. Satu kali saja lo urung, gue enggak akan bersikap seperti saat di makam Katelia. Gue langsung bopong lo pulang. Lo mengerti?”


___


~Author's Note~


Teman-teman, mohon maaf, ya. Bab 213 tersangkut lama di pengulasan. Semoga saja bab ini tidak lama lolosnya. Terima kasih atas pengertiannya. Terima kasih juga sudah membaca.


Salam sayang,

__ADS_1


Meina H.


__ADS_2