Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
192|Pemuja Rahasia


__ADS_3

~Amarilis~


Aku tidak tahu apa yang terjadi dalam ruangan itu sehingga Edrick dan Theo terperangah. Karena perhatian suamiku sedang teralihkan, aku melepaskan pegangan tangannya dan mendekati pintu yang masih terbuka lebar itu. Begitu melihat kejadian di dalamnya, aku menyesal.


Tanganku ditarik dan aku dibawa memasuki sebuah ruangan. Sebelum aku bisa mencerna apa yang terjadi, pintu dikunci dan tubuhku didorong menutupinya. Wewangian yang memasuki penciumanku bukanlah milik Theo, jadi aku mengangkat wajahku dan bertemu pandang dengan pria lain.


Aku benci, sangat benci setiap kali aku salah menilai orang. Yang paling tidak aku sukai, kalau Theo yang benar. Bastian menatap aku dengan penuh kekaguman. Tangannya membelai pipiku, membuat aku jijik. Pembohong tidak tahu diri ini perlu diberi pelajaran.


Dia sudah melaporkan sepupunya sendiri, memanfaatkan aku dan Theo untuk merusak hubungan Nisa dengan Edrick, lalu dia berani menyentuh aku. Apa dia pikir setelah melihat semua orang yang berbuat gila dengan orang yang bukan pasangannya tadi membuat aku tertarik untuk melakukannya?


“Arghh!!” Dia meringis tertahan saat aku memegang tangan yang ada di pipiku dan menekuknya. Semoga saja ada tulang jemarinya yang patah.


“Aku percaya kepadamu, tetapi begini balasanmu.” Aku menekuk jarinya semakin bengkok.


“Cu-cukup,” rintihnya. Ya ampun. Pria lemah ini untuk apa mencoba mengurung aku di sini? Aku pikir dia adalah lawan yang tangguh.


“Aku menghargai kamu sebagai teman. Apa yang mau kamu lakukan kepadaku di kamar ini? Jawab!” Aku mencengkeram pipinya dengan tangan kananku.


“Kat ….” Dia menatap aku dengan mata memelas.


Apa? Dia tahu tentang itu? Pasti Nisa yang memberi tahu hal itu kepadanya atau dia keceplosan. Perempuan bodoh. Apa dia tidak bisa menjaga rahasia dengan baik? Melihat dia kesulitan bicara, maka aku melonggarkan peganganku pada tangan kanannya.


Dia mendesah lega. “Kamu harus tahu aku tidak pernah berhenti mencintai kamu, Katelia. Aku sangat bahagia saat tahu kamu sekarang ada di tubuh ini.”


Aku tertawa terkejut. “Kamu bahagia aku ada di tubuh ini. Tentu saja. Setelah aku tidak gendut dan jelek lagi, ‘kan? Jangan bicara cinta. Mulut kotormu itu tidak pantas untuk menyebutnya. Bukannya menolong sepupumu, kamu membiarkan dia semakin terjerumus ke dunia kelam ini.”


“Dia pantas hancur setelah penghinaan yang dia lakukan kepadaku.” Matanya yang berapi itu berubah lembut. “Kat, jadilah milikku. Aku bisa membahagiakan kamu lebih dari dia. Pria itu sangat dingin kepadamu, tetapi aku … Aku akan membuat kamu layaknya ratu setiap waktu.”


“Sepupumu saja kamu sia-siakan. Bagaimana kamu bisa memperlakukan aku bagai seorang ratu? Aku, orang asing yang tidak kamu kenal sama sekali,” tantangku.


“Tidak aku kenal?” Dia melebarkan tangan kirinya. “Lihat sekitarmu baik-baik.”


Aku melihat ke arah dinding di depanku. Mataku membulat melihat sebuah lukisan besar di sana. Lalu ada banyak sekali bingkai foto di semua dinding, di atas bufet, nakas, juga meja. Semuanya adalah foto Katelia semasih hidup dan Amarilis yang sudah berubah cantik. Laki-laki ini gila.

__ADS_1


“Amarilis! Sayang? Apa lo di dalam?” Terdengar teriakan diikuti ketukan pada pintu.


“Aku pikir kamu adalah temanku. Ternyata kamu sama busuknya dengan Nisa.” Aku melepaskan tangannya dengan tiba-tiba agar dia merasa kesakitan.


“Aku tidak memberikan tubuhku kepada siapa pun seperti dia. Aku menunggu kamu dengan sabar, Kat. Untuk apa kamu terus bersama pria yang keluarganya tidak akan pernah mau menerima kamu menjadi menantu mereka? Lebih baik kamu tinggalkan dia dan menikah denganku!”


Karena dia tidak berhenti bicara, aku menendang bagian di antara pahanya. Mukanya membiru dan dia berlutut di lantai. Akhirnya, dia diam juga. Hanya terdengar rîntihan menahan sakit.


“Berdoalah.” Aku memegang kunci pada kenop pintu. “Semoga Theo tidak merusak wajahmu, aset berhargamu sebagai model.” Aku memutar kuncinya dan Theo segera membuka pintu.


Dia melihat ke arah ruangan dan bertemu pandang dengan Bastian yang menatapnya dengan kecut. Dia menoleh kepadaku dan memperhatikan keadaanku sesaat. Tanpa bicara lagi, dia mendekati Bastian, tetapi dihalangi oleh pengawalnya. Mereka yang mengambil alih menghajar pria itu.


Pukulan pertama mendarat di wajahnya. Aku tersenyum puas melihatnya. Theo mengajak aku dan Edrick keluar dari rumah itu. Semua orang yang kami lewati tidak peduli sama sekali dengan kami. Mereka sudah sibuk dengan dunia mereka masing-masing.


Mobil Edrick berhenti tidak jauh dari gerbang rumah tadi. Melihat dia keluar, kami melakukan hal yang sama. Barulah kami mengerti apa yang terjadi ketika mendengar bunyi sirene yang mendekat. Polisi datang dari arah yang berlawanan menuju rumah itu.


“Apa lo yakin dengan ini?” tanya Theo.


“Ini satu-satunya cara agar dia tidak akan pernah mengulanginya lagi.” Dia menghela napas panjang. Ooo. Dia yang sudah menelepon polisi. Sadis juga. Aku tidak berpikir sampai sejauh itu. Hanya mau hubungan mereka putus dan Nisa patah hati.


Malam itu, kami tidak membahas kejadian tersebut, tetapi sama-sama tidak bisa tidur. Aku yakin Theo juga tidak bisa mengeluarkan kejadian yang disaksikannya tadi dari kepalanya. Aku masih bisa menerima jika dia tidur dengan laki-laki yang bukan pacar, tunangan, atau suaminya. Namun yang Nisa lakukan lebih mengerikan. Dia mèmbagi tubuhnya dengan dua laki-laki sekaligus.


Edrick tidak menangis di depan kami, tetapi aku yakin dia sedang mengasihani diri saat sendirian saja di kamarnya. Laki-laki yang malang. Dia begitu bahagia saat menceritakan niatnya untuk mengajak Nisa menikah pada akhir tahun ini. Hatinya pasti sangat hancur sekarang.


Berita mengenai polisi yang menggerebek pesta sêkś di sebuah wastu di pinggir kota viral di setiap media daring. Foto terduga Nisa menjadi perhatian, karena dia adalah tunangan Edrick. Pria itu kelihatannya tidak peduli namanya terbawa-bawa. Berita itu sama sekali tidak dilarang terbit.


Pada hari ulang tahun Theo, aku mengadakan perayaan kecil di kamar. Aku membangunkan dia dengan sepotong kue dengan sebuah lilin menyala di atasnya. Dia meniup lilin itu hingga padam, lalu memberi aku ciuman selamat pagi.


Sayangnya, dia akan lembur, jadi kami tidak bisa makan malam bersama. Namun atas sarannya, aku makan bersama Sonata. Hiburan yang menyenangkan, karena aku juga melakukan panggilan video dengan Meghan agar kami bisa mengobrol bertiga. Hanya mereka sahabat terbaikku.


“Ya, sudah. Kalian bisa bermesraan malam ini di rumah,” kata Meghan, memberi saran. “Ulang tahun itu hanya hari. Kamu tidak perlu sampai kecewa seharian.”


“Aku sudah mengatakan hal yang sama, dia masih saja cemberut,” adu Sonata. Aku mencibir.

__ADS_1


“Maafkan aku. Aku harus bersiap-siap untuk bekerja,” pamit Meghan.


“Ah, tunggu. Kamu harus mendengarkan ini supaya harimu lebih bersemangat,” kataku misterius. Mereka berdua menatap aku tidak sabar. Aku mengeluarkan foto USG pertamaku dan menunjukkan kepada mereka. “Aku hamil. Dua hari lagi usianya tepat empat belas minggu.”


Mereka berdua tertegun sejenak. Sonata yang pertama bersorak dan mengambil foto itu dari tanganku. “Oh, Amarilis! Aku sangat bahagia mendengarnya! Selamat, ya!”


Mereka berebut bicara sampai aku tidak tahu harus mendengarkan siapa. Setelah mengucapkan selamat dan berjanji akan menelepon lagi, Meghan mengakhiri panggilan video kami. Sonata dan aku melanjutkan percakapan kami. Dia sangat berharap anakku adalah laki-laki, tetapi aku tidak mau. Aku menginginkan anak pertamaku perempuan.


“Aku pikir aku salah dengar.” Terdengar suara seorang pria dari belakangku. “Ternyata benar ada kamu di sini, Amarilis.”


“Oh! Hai, Edrick!” Aku berdiri dan mengulurkan tanganku, tetapi dia mendekat untuk memeluk dan mencium pipiku. “Kamu tidak pernah melakukan ini sebelumnya.” Aku menatapnya dengan heran.


“Aku belum mau màti dibunuh suamimu.” Dia mengedipkan sebelah matanya. “Aku sudah lama ingin memeluk kamu yang imut-imut. Wanita bertubuh pendek adalah kelemahanku.”


“Aku senang melihat kamu bahagia. Aku pikir kamu akan mengurung diri di rumah dan—” kataku, menggodanya. Aku terpaksa berhenti melihat dia meletakkan telunjuk di depan bibirnya.


“Kita lupakan kejadian memalukan itu. Aku tidak mau semua orang di sini sadar aku yang sedang jadi bahan pemberitaan hangat itu.” Dia menyapukan pandangan ke sekeliling kami, lalu melihat kepada Sonata. “Siapa perempuan cebol ini? Temanmu?”


“Cebol, katamu?” ucap Sonata tersinggung. Dia berdiri. “Heh, lihat baik-baik! Aku lebih tinggi dari Amarilis. Enak saja menyebut aku cebol.”


“Kamu cebol karena jauh lebih pendek dariku.” Edrick membusungkan dadanya.


Aku tertawa kecil melihat tingkah mereka berdua. “Kamu datang sendiri? Duduk di sini saja bersama kami. Aku yang traktir. Hari ini ada perayaan khusus.” Aku mengambil tasku yang ada di kursi kosong di sisiku itu. Dia mengangguk setuju.


“Wow.” Dia mengambil foto USG yang ada di atas meja. “Kamu hamil?” Aku mengangguk senang. “Kalau begitu, aku yang akan mentraktir kalian, wanita imut-imut dan cebol.”


“Aku tidak cebol!” protes Sonata.


Aku memperkenalkan mereka berdua agar kami bisa mengobrol dengan leluasa. Mereka malah tidak berhenti berdebat mengenai tinggi badan Sonata. Pertengkaran mereka justru memberi aku sebuah ide. Benar juga. Mereka sama-sama anak orang berada, jadi mereka sederajat. Kesan pertama saja sudah akrab begini, mereka pasti bisa jadi pasangan yang serasi.


Edrick bisa segera melupakan Nisa dan pengkhianatannya, serta Sonata adalah wanita baik yang selalu menjaga reputasi dan pekerja keras. Mereka sama-sama anak dari keluarga kaya raya, tetapi tidak tampil berlebihan apalagi memamerkan harta orang tua mereka. Wah! Aku ternyata bisa juga jadi Mak Comblang.


Kami bersiap pulang tepat pada pukul sepuluh. Edrick menepati janjinya dengan membayar tagihan kami. Benar-benar seorang pria yang sejati. Aku tersenyum penuh arti kepada Sonata, tetapi dia memicingkan matanya kepadaku. Memang apa salahnya? Edrick sangat baik.

__ADS_1


Aku sengaja memosisikan diri dengan membiarkan pria itu berjalan di antara kami. Mereka kembali berdebat mengenai tinggi badan tadi. Aku hanya tertawa kecil. Suasana bahagia itu rusak seketika saat kami berada di teras. Wartawan menghujani aku dengan pertanyaan.


Edrick dan Sonata membantu melindungi aku dari kerubungan mereka. Apa maksud mereka dengan aku selingkuh? Foto apa yang mereka maksudkan sebagai buktinya?


__ADS_2