Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
12|Musuh Bebuyutan


__ADS_3

Mendengar sebuah tawa diikuti dengan dua tawa khas lainnya, aku langsung tahu siapa yang sudah berbuat jahat. Dadaku sakit, bajuku juga kotor karena tengkurap di atas lantai koridor menuju ruang kuliah. Orang-orang yang lewat tidak ada yang berniat untuk menolong.


Jadi, aku sekuat tenaga berusaha untuk bangun, tetapi ada kaki di punggungku yang memaksa aku untuk terbaring lagi. Sial. Kalau bukan karena aku tidak mau dianggap gila, aku sudah memukul mereka bertiga pada detik ini juga. Sayangnya, itu bukan sifat Amarilis.


“Heh, Gendut! Ayo, bangun! Mengapa hanya berbaring di lantai kotor ini? Kamu suka, ya, tiduran di tempat jorok begini?” ejek Chika, menekan keras kakinya di punggungku.


“Lantai kampus ini mungkin lebih bersih daripada kasurnya, makanya dia betah.” Nisa tertawa keras.


“Iih, jangan katakan kasurnya penuh dengan kecoa.” Rahma merinding. “Hii, pantas saja mukanya jorok penuh jerawat.” Mereka serentak bergidik, mengejek aku.


“Apa kalian sudah gila!?” Terdengar suara penyelamat yang akhir-akhir ini tidak segan membantu aku lepas dari tiga perempuan penyihir itu.


“Jangan ikut campur kalau kamu tidak mau keluargamu mendapat masalah, Theo,” ancam Chika yang dengan sengaja menekan kakinya lagi.


“Memangnya apa yang bisa lo lakukan terhadap keluarga gue?” Kaki yang ada di atas punggungku menghilang, dan dua tangan memegang lenganku. “Ayo. Lo bisa berdiri?”


“Iya. Terima kasih.” Aku menolak pertolongannya dan berusaha untuk bangun sendiri. Tubuhku berat, dia tidak akan sanggup menahannya. Aku mengibas-ibas baju dan celanaku yang kotor karena debu, lalu melanjutkan langkahku yang sempat terhenti.


“Amarilis, lo mau ke mana?” tanya Theo.


“Aku tidak mau terlambat masuk kuliah,” jawabku, tanpa menghentikan langkahku.


Tempat pertama yang aku datangi adalah toilet. Aku memeriksa pakaianku yang kotor, tetapi debu yang menempel bisa dibersihkan. Bagian lutut celanaku yang abunya sulit dihilangkan. Merasakan perih pada salah satu lututku, pasti ada yang lecet. Aku tidak punya waktu untuk memeriksanya.


Syukurlah, aku tiba di ruang kuliah sebelum dosen datang. Aku tidak mau memberi kesan buruk pada pertemuan pertama. Rasa sakit pada lutut, aku abaikan. Walau awalnya sulit, lama-kelamaan aku terbiasa dan bisa mengikuti perkuliahan hingga jam terakhir.


Melihat ketiga perempuan jahat itu berdiri di dekat jalan keluar, aku membalikkan badan, berniat untuk keluar lewat ujung koridor yang lain. Aku malas berurusan dengan mereka, tetapi aku tidak berhati-hati sehingga menabrak seseorang. Mengapa aku selalu sial begini?


“Ah, maafkan aku. Aku tidak sengaja,” ucapku, tanpa melihat siapa yang aku tabrak dan bergegas pergi lewat jalan lain.


Namun tanganku dipegang dan ditarik ke arah sebuah ruang kuliah yang sudah kosong. Aku melihat Theo berjalan di depanku. Apa yang sedang dia lakukan? Kalau Chika dan teman-temannya tahu aku ada di ruangan ini, mereka akan datang menyakiti aku.


“Lo harusnya tidak membiarkan luka terlalu lama atau lutut lo akan penuh bekas luka.” Dia melepas tanganku, lalu memerintahkan aku untuk duduk.


“Aku mau pulang cepat karena akan mengurus luka ini,” kataku, membela diri.


“Jalan lo sampai pincang begitu menahan sakit, memangnya berapa jauh lo kuat berjalan?” Dia berlurut di depanku. “Ayo, angkat ujung celana lo.”


Apa dia selalu melakukan ini kepada Amarilis? Ah, maksudku, kepadaku sebelumnya? Dia memang selalu membela gadis gendut ini, ah, maksudku … ah, sudahlah. Aku baru tahu setiap kali membela aku, dia juga merawat lukaku. Masa iya, pemuda tampan dan kaya ini menaksir gadis gendut?


Aku meringis pelan ketika obat yang dia oleskan ke lukaku terasa menyengat. Karena hanya lecet dan tidak ada luka besar, dia tidak perlu menutupnya dengan perban. Sayangnya, aku harus pulang dengan celana tetap terlipat agar tidak melukainya lebih parah.

__ADS_1


Dia mengantar aku sampai tempat tinggalku. Benar-benar pemuda yang baik hati. Merasakan perhatiannya, aku tidak menyangka bahwa dia yang selalu bersikap dingin, bisa melakukan hal yang membuat hatiku hangat. Belum ada orang yang perhatian kepada Amarilis sejak aku ada dalam tubuh gendut ini, hanya dia.


Aku tidak pernah menyukai dia semasa sekolah, karena dia munafik. Dia selalu saja membela orang-orang yang aku sakiti, padahal aku berkata jujur. Mereka memang jelek, bodoh, bau, dan lambat. Apa salahku? Karena mereka menangis dan murung, maka kejujuranku adalah dosa, begitu?


“Lo? Kata Theo kamu sedang sakit, mengapa kamu datang, Amarilis?” sambut Tante Ruth yang terkejut menerima kedatanganku.


“Saya tidak apa-apa, Tante. Hanya lecet di lutut,” kataku, meralat. Mengapa dia bilang aku sakit kepada mamanya? Lututku hanya lecet dan aku bisa berjalan dengan normal.


“Benar, kamu tidak sakit?” tanyanya dengan nada khawatir.


“Tidak, Tante,” kataku, mengusir kekhawatirannya.


“Baiklah, kalau begitu. Ayo, masuk. Aku akan panggilkan Matt.” Dia menyingkir agar aku bisa lewat. “Matt!! Gurumu sudah datang!!” teriaknya sekuat tenaga,


Jantungku berdebar cepat karena terkejut. Aku harus membiasakan diri dengan caranya memanggil putra keduanya itu. Dia tidak melakukan hal yang sama terhadap Theo. Mungkin dia lebih patuh dibandingkan adiknya, jadi tidak perlu diteriaki.


Kami belajar dengan santai disuguhi camilan dan minuman dingin. Bagian yang paling aku suka dari mengajar pemuda ini. Dia menatap aku yang lahap dengan satu alis terangkat, lalu kembali fokus pada tugasnya. Mamanya yang menyajikan semua makanan ini, mengapa aku harus menolak?


Dia tidak tahu rasanya tidak bisa menikmati makanan kesukaan selama satu tahun dua bulan. Jadi, aku santai saja melihat dia heran melihat aku tidak berhenti mengambil satu per satu kue itu sampai tidak bersisa lagi. Koki mereka boleh juga. Kemampuan memasaknya sama dengan koki di rumahku, ah, maksudku, rumah Katelia.


“Kak, gue besok mau belajar bahasa Inggris. Kita pakai bahasa itu saat bicara, ya,” kata pemuda itu dengan mata licik.


“Boleh,” balasku dengan santai.


Usai makan malam, aku bergegas pergi sebelum Tante meminta siapa pun untuk mengantar aku pulang. Theo tidak ada di rumah, tetapi aku yakin dia akan menyuruh siapa saja untuk mengganti tugasnya. Aku perlu secepatnya membeli sepeda sebagai alat transportasi.


Karena aku sudah belajar di sela-sela jam pergantian mata kuliah, aku tidak membuka buku lagi dan lebih memilih untuk tidur. Barulah pada pagi harinya, aku membaca ulang catatanku dan apa yang sudah dibagikan dosen pada hari sebelumnya.


“Pagi,” sapa Theo saat aku memasuki gerbang kampus.


Aku menatapnya dengan bingung. Apa yang dia lakukan di tempat ini? Aku mengikuti pandangan matanya yang tertuju pada kakiku. Aku sengaja mengenakan rok sedikit di atas lutut agar lecet itu tidak tertutupi kain dan obatnya tidak menodai kainnya.


“Baguslah, lo pakai rok supaya luka lo tidak makin parah,” ucapnya lega.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyaku bingung.


“Memastikan lo tidak memperparah luka itu,” jawabnya dengan santai. “Ayo, gue enggak mau telat ikut kuliah.”


Aku terpaksa mengikutinya. Padahal kami hanya diam saja. Apa gunanya berjalan bersama begini? Namun melihat Chika dan kedua temannya berhenti di tempat melihat aku bersama Theo, aku tersenyum puas. Boleh juga caranya. Dia bermaksud melindungi aku dari ketiga gadis itu.


Perkuliahan berjalan dengan lancar, dosen baru yang aku kenal sangat cerdas sampai kami sulit memahami bahasanya. Mungkin aku hanya butuh waktu untuk terbiasa dengan sistem kampus yang rumit: mahasiswa dituntut untuk aktif mencari informasi.

__ADS_1


Maka aku menggunakan kesempatan itu untuk mampir ke perpustakaan jurusan. Ada banyak juga mahasiswa dari jurusan serupa yang melihat koleksi buku di dalamnya. Ketika aku sedang duduk dan membaca buku menarik yang aku temukan, Chika dan kedua temannya masuk.


Dengan badan sebesar ini, aku tahu mustahil untuk bersembunyi. Jadi, aku berusaha untuk bersikap santai dan membaca buku itu. Setiap kali menemukan hal yang menarik, aku mencatatnya pada bukuku. Aku begitu terhanyut sampai tidak sadar jam kuliah berikutnya hampir dimulai.


“Terima kasih sudah mengingatkan aku,” ucapku kepada teman yang menegur aku.


“Sama-sama. Nama kamu Amarilis, ‘kan?” tanyanya. Aku mengangguk cepat. “Nama kamu unik, jadi kamu lebih mudah dikenal.”


“Terima kasih. Maaf, aku lupa nama kamu,” ucapku, merasa tidak enak.


“Sonata,” jawabnya dengan ramah.


Kami berjalan bersama menuju ruang kuliah. Chika tahu dia tidak bisa mengganggu aku di ruangan tadi, jadi aku tidak terkejut melihat dia ada di koridor. Mereka hanya menatap aku dengan tajam, karena ada orang lain yang berjalan bersamaku.


“Siapa mereka?” tanya Sonata bingung dengan mata tertuju kepada ketiga wanita muda itu. “Aku sudah beberapa kali melihat mereka sangat marah kepadamu. Apa kalian saling mengenal?”


“Kamu tidak kenal dengan senior kita?” Aku balik bertanya.


“Hanya tahu mereka adalah senior, tetapi aku tidak mengingat namanya.” Dia menggeleng pelan.


“Mereka teman sekelasku di SMU. Karena aku gendut, jelek, dan lambat, mereka merundung aku. Kalau aku tahu mereka juga kuliah di sini—” kataku, sengaja tidak menyelesaikan kalimatku.


“Sebaiknya kamu laporkan kepada dosen kita,” ucapnya memberi saran.


“Tidak akan ada gunanya. Mereka anak orang kaya, masalahnya pasti akan diselesaikan dengan bicara. Lalu aku malah akan semakin mereka sakiti.” Menyadari hal itu, aku mulai merasa malu pernah bertingkah sejahat itu kepada banyak teman di sekolah.


Saat aku masih Katelia, aku melakukan hal yang sama, termasuk terhadap Amarilis. Makanya gadis malang ini menjadi bulan-bulanan Chika dan kedua temannya itu, ya, karena kesalahan aku juga. Ternyata tidak enak rasanya dikerjai begini.


“Tunggu, Amarilis!” kata Chika ketika kami baru saja melewati mereka. Aku terpaksa berhenti.


“Ada apa?” tanyaku heran melihat dia menyodorkan tangannya.


“Kembalikan dompetku. Aku tahu kamu yang mencurinya.” Dia menggerakkan tangannya, memberi sinyal agar aku memberi apa yang dia minta.


“Dompet? Aku tidak mencuri dompetmu,” kataku, membela diri.


“Hati-hati menuduh, Mbak. Tidak baik,” kata Sonata tanpa gentar.


“Aku tidak menuduh sembarangan. Kalau dia memang tidak mencuri harusnya dia tidak takut menunjukkan isi tasnya,” tantang Chika.


“Sini!” Rahma menarik paksa ranselku dari bahuku, tetapi sebuah tangan menghalanginya.

__ADS_1


“Gue sudah bilang, jangan ganggu dia lagi,” kata Theo yang datang membela aku.


Rahma segera menepis tangannya, dibantu oleh Nisa. “Kamu akan mengerti mengapa kami tidak menyukai gadis miskin ini setelah melihat aslinya.” Nisa membuka tasku dan menuang isinya ke lantai. Perasaanku segera tidak enak karena kalimatnya itu.


__ADS_2